Setelah
seminggu berada dirumah sakit, alyssa diperbolehkan pulang. Mereka-mama , papa dan alyssa- sampai disebuah
rumah yang sejuk dengan taman yang luas dikawasan perumahan elit yang berada
ditengah kota. Alyssa melihat sekelilingnya, menghirup udara yang sejuk. Ia
heran ada rumah yang sejuk di daerah kota yang panas.
Mamanya menatap alyssa
dengan tersenyum
“kau
heran mengapa ada rumah sejuk padahal kita berada ditengah kota?” kata-kata mama
alyssa membuat alyssa kaget kemudian menggangguk pelan.
“dulu
waktu kita pertama pindah kesini, kau juga merasakan hal yang sama lyssa” jelas
mama alyssa. Alyssa hanya mengganggukkan kepala.
“disini
kamarmu” mama alyssa membuka pintu kamar, mempersilahkan alyssa masuk. Begitu
memasuki kamarnya hal yang pertama dilihat oleh alyssa adalah ruangan kamar
yang serba pink, dari mulai cat tembok, lemari sampai seprei tempat tidurnya
Pink
expert? Benaknya bertanya. Matanya meringis membayangkan ia harus
tidur diruangan yang serba pink.
“kau
menyukai warna merah muda lyssa” mama alyssa kembali menjawab kebingungan alyssa.
“sebelum
kau hilang ingatan, kau anak yang manja, bertingkah seperti remaja dengan
menyukai apapun yang berhubungan dengan warna pink, itu.. itu masa-masa yang
indah” mama alyssa menerawang ke depan. Mengenang kebersamaan mereka.
“ma,
kalau alyssa mengganti warnanya tidak apa-apa kan?” tanya alyssa hati-hati
“ini
kamarmu kau berhak menggantinya” setelah itu mama alyssa keluar kamar,
membiarkan putrinya membiasakan diri dengan kamarnya.
@@@
Rama
berjalan dengan tergesa menuju apartemen yang berada dipinggiran kota, ia
melangkah lebar dengan tangan yang terkepal kuat, sehingga buku-buku jarinya
memutih. Dengan tatapan datar ia mendobrak pintu salah satu apartemen dengan
satu tendangan yang keras. Aura yang dipancarnya begitu mengerikan. Pasangan
yang sedang asyik memadu kasih terkejut dengan kedatangan rama. Terlebih lagi
seorang pemuda yang dalam keadaan topless. Ia langsung berdiri dan menyuruh
sang wanita untuk keluar.
Kemudian
tersenyum kearah rama sambil merenggangkan tangan hendak memeluk rekannya. Bukannya
membalas pelukan pemuda tersebut rama langsung menghujaninya dengan pukulan
bertubi-tubi. Tingkat kewarasan yang rama miliki menguap entah, ia tidak
mendengar nada sakit dari pemuda dibawahnya. Terus memukul sampai wajah pemuda
tersebut babak belur.
“aku
minta ampun ethan, aku tau aku salah, aku minta ampun” kata pemuda tersebut
sambil berteriak kesakitan. Tetapi tidak dihiraukan oleh rama, langkah terakhir
rama adalah mengambil pisau dari balik jaketnya dan ketika ia arahkan ke pemuda
tersebut, bayangan alyssa tiba-tiba memenuhi pikirannya. Membuat tubuh rama
menjadi kaku beberapa saat, namun perlahan melempar pisau tersebut,
mencengkeram leher pemuda tersebut dan menghujaninya dengan tatapan yang
menakutkan, aura rama saja sudah membuat ruangan menjadi dingin apalagi
ditambah dengan tatapannya yang mengerikan. Seakan-akan mengatakan’aku tidak
segan-segan membunuhmu’. Membuat pemuda tersebut menelan ludah dengan susah
payah.
“dengar
bryan, aku tidak akan memaafkan perbuatanmu, aku tidak pernah menyuruhmu untuk
membunuhnya kan? Mengapa kau lakukan itu?” tanya rama dengan suara rendah penuh
tekanan. Tangan yang mencengkeram leher bryan semakin kuat, membuat bryan susah
bernapas.
“aku
mi-minta ma-maaf ethan” kata bryan dengan susah payah
Rama membanting kepala
bryan dengan marah.
“aku
minta kau menjauh dari kehidupan alyssa, kalau perlu keluar negeri sekalipun,
karena kalau kita bertemu lagi, itu akan menjadi hari terakhirmu melihat dunia.
Kau mengerti?” suara rama terdengar rendah dan tajam. Nada tersebut jelas-jelas
memerintah bukan meminta.
Bryan
hanya menggangguk kepala dengan patuh. Tidak pernah menyangka akan melihat rama
kalap seperti ini. rama mendengus. ‘ethan’, nama itu membuatnya muak. dengan
wajah datar rama meninggalkan apartemen bryan.
@@@
Alyssa
membalik-balik badan sambil melihat langit-langit kamarnya. Sudah hampir
seminggu ia tidak mendengar kabar rama, apa rama tidak tau kalau ia sudah
keluar rumah sakit? Apa rama tidak tau rumahnya? Dan banyak lagi pertanyaan
yang memenuhi benak alyssa.
“hah... bagus. Aku
lupa bertanya nomor teleponnya” gumannya kepada dirinya sendiri.
Ia
melihat nomor kontak di telepon genggamnya tetapi tidak ada nomor handphone
rama. Kata mamanya telepon genggamnya sudah ada sebelum dia kecelakaan. Tapi mengapa
tidak ada nama rama di kontak teleponnya..?
Alyssa
akhirnya bangkit dari tempat tidur, menuruni tangga dan melihat mamanya yang
sedang memasak. Langkah kakinya membawa alyssa mendekat kearah mamanya dan
kemudian memeluk mamanya dari belakang. Mama alyssa sempat kaget kemudian menoleh
kesamping dan mendapati wajah putrinya lalu tersenyum.
Dia
masih seperti dulu.. gumannya dalam hati.
“kenapa?
Ada apa dengan wajahmu?” tanya mama alyssa sambil tersenyum.
“ma..
aku kangen rama” kata-kata alyssa membuat kegiatan mama alyssa berhenti
kemudian berbalik arah menghadap putrinya. “apa yang kau rasakan alyssa?” tanya
mama alyssa dengan dahi yang berkerut. Alyssa masih menunggu kata-kata mamanya.
“bagaimana perasaanmu terhadap rama?” tanya mama alyssa kembali.
Alyssa menerungkan
kalimat mamanya.
“entahlah
ma, aku merasa nyaman ketika bersamanya” jawab alyssa sambil mengangkat
bahunya.
Mama
alyssa hanya tersenyum samar. Perasaannya ada yang janggal ketika melihat rama.
Ia tau pasti perasaan apa itu. Perasaan dimana seseorang akan merasa bahwa ia akan kehilangan harta
yang paling berharga dalam hidupnya. Entahlah, ia sendiri tidak tau mengapa ia
merasakan hal tersebut. Tapi biasanya perasaan seorang ibu tidak pernah salah
bukan?
“mungkin
dia lagi sibuk. Oh ya mama memasak masakan kesukaan kamu, ayo kita makan” mama
alyssa mengalihkan pembicaraan kemudian beranjak ke ruang makan.
@@@
Ketika
memandangi langit-langit kamarnya yang sekarang berubah menjadi warna coklat terang.
teleponnya bergetar. Nomor asing?
“halo”
“bagaimana
keadaanmu? Maaf.. tidak bisa menjemputmu sewaktu keluar dari rumah sakit” suara
rama terdengar di telepon.
Alyssa
hampir memekik kegirangan mendengar suara namun ditahan ketika mengingat mereka
hanya berteman.
“baik,
tidak apa-apa” alyssa sengaja membuat suara seperti orang ketus, tapi tetap
tidak bisa menahan senyumnya.
“suaramu
terdengar marah, aku minta maaf” suara rama terdengar geli
“aku tidak marah” ucap
alyssa cepat.. terlalu cepat.
“baiklah-baiklah,
aku mengerti, bagaimana kalau makan malam?” ajak rama
Senyum
alyssa semakin lebar, ia tidak bisa menahan rasa yang bergejolak dihatinya.
“benarkah?”
tanya alyssa memastikan, walaupun ia sendiri tau akan jawaban rama.
“hm,,
sebentar lagi aku jemput, dan... dandan yang cantik” ucap rama, setelah itu
alyssa langsung
terbirit-birit membuka lemari pakaiannya.
@@@
Rama
menatap alyssa dengan senyum yang lembut, tatapan seperti seorang kekasih
terhadap miliknya. Hal itu membuat alyssa merona. Restoran sunyi karena hanya
terdapat beberapa pasangan membuat suasana menjadi romantis ditambah dengan
lagu klasik yang membuat malam mereka menjadi lebih sempurna. Alyssa menyesap
wine dengan perasaan gugup, mengapa ia gugup ditatap oleh rama?. Sedangkan rama
hanya tersenyum geli melihat rona merah yang kontras dengan wajah alyssa
berkulit putih.
“kau suka?” tanya
rama.
Alyssa hanya
menggangguk malu.
Ketika
musik berubah menjadi lebih melow. Rama bangkit dari tempat duduknya menghampiri
alyssa kemudian membungkuk seraya mengulurkan tangannya kearah alyssa dan
tersenyum lembut.
“ayo
berdansa”. bukan ajakan yang terdengar , tetapi lebih kepada perintah.
Alyssa
hanya tersenyum seraya menyambut uluran tangan rama, kemudian berdansa di lantai
dansa yang berada ditengah-tengah restaurat tersebut. Sepanjang dansa alyssa
terus tersenyum bahagia, ia tidak tahu mengapa perasaannya seperti ini? semua
mengalir begitu saja.
“apa
kita pernah berdansa sebelumnya?” tanya alyssa sambil mengerjap matanya
Rama menggangguk.
“sering malah” kata-kata rama penuh arti.
Rama mendekat ke
telinga alyssa kemudian berbisik
“apa
aku sudah bilang kalau kau sangat cantik malam ini?” mendengar pujian tersebut
membuat wajah alyssa semakin merona. Tidak tahu mau merespon seperti apa,
alyssa memilih menundukkan wajahnya.
@@@
Sarapan
adalah saat terindah bersama keluarga, seperti halnya keluarga brown. Mereka
sarapan sambil berbincang-bincang ringan, sesekali tertawa dan menanggapinya
dengan lelucon ringan. Menjadikan suasana pagi menjadi lebih berarti.
Alyssa
menghentikan kegiatannya dan menatap kedua orangtuanya.
“ma,
pa, lyssa boleh meminta sesuatu?” suara alyssa terdengar ragu, tetapi ia tetap
memantapkan hatinya. “anything princess” kata papa alyssa sambil tersenyum.
“kamu mau minta apa
ssa?” tanya mama alyssa.
“bolehkah...
bolehkah alyssa tinggal diluar misalnya di apartemen, maksudnya ... Alyssa
ingin tinggal bersama rama” kata-kata alyssa membuat ruangan menjadi hening. Mama
dan papa alyssa tidak pernah menyangka
putri mereka satu-satunya ingin tinggal bersama laki-laki yang mereka tidak
percayai.
“ma,
pa alyssa sudah dewasa, alyssa ingin mengurus diri alyssa sendiri” jelas alyssa
hati-hati.
Papa
alyssa tersenyum samar kemudian menggangguk pelan membuat istrinya memandang
kearah suaminya dengan terkejut, apa-apaan ini? tanyanya dalam hati. Batinnya
berkecamuk, mungkin ia akan memaklumi apabila alyssa meminta tinggal di
apartemen, tapi tinggal bersama dengan laki-laki? Pertanyaan tersebut membuat
mama alyssa susah bernapas ditambah dengan suaminya yang mengiyakan permintaan
alyssa dengan begitu mudahnya.
“bagaimana
kau ...” suara mama alyssa tercekat ketika suaminya menggenggam jemarinya
dengan lembut. Ia tahu jika suaminya berbuat seperti itu, maka keputusannya
sudah mutlak.
Alyssa
menatap mamanya dengan penuh harap, satu anggukan lagi ia akan bisa tinggal
bersama rama. Pemuda yang ia cintai.
Mamanya
menghela napas dengan keras dan mau tidak mau mama alyssa mengangguk lemah.
Alyssa tersenyum. Akhirnya ia dapat tinggal bersama rama. Sebenarnya alyssa
belum meminta izin terlebih dahulu kepada rama, ini murni keputusan satu pihak,
tetapi entah kenapa ia merasa yakin kalau rama akan menyetujuinya.
Bersambung ke Part 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar