/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Jumat, 26 Juli 2013

Name In My Heart Part 2

Setelah seminggu berada dirumah sakit, alyssa diperbolehkan pulang.  Mereka-mama , papa dan alyssa- sampai disebuah rumah yang sejuk dengan taman yang luas dikawasan perumahan elit yang berada ditengah kota. Alyssa melihat sekelilingnya, menghirup udara yang sejuk. Ia heran ada rumah yang sejuk di daerah kota yang panas.
Mamanya menatap alyssa dengan tersenyum
“kau heran mengapa ada rumah sejuk padahal kita berada ditengah kota?” kata-kata mama alyssa membuat alyssa kaget kemudian menggangguk pelan.
“dulu waktu kita pertama pindah kesini, kau juga merasakan hal yang sama lyssa” jelas mama alyssa. Alyssa hanya mengganggukkan kepala.

“disini kamarmu” mama alyssa membuka pintu kamar, mempersilahkan alyssa masuk. Begitu memasuki kamarnya hal yang pertama dilihat oleh alyssa adalah ruangan kamar yang serba pink, dari mulai cat tembok, lemari sampai seprei tempat tidurnya
Pink expert? Benaknya bertanya. Matanya meringis membayangkan ia harus tidur diruangan yang serba pink.
“kau menyukai warna merah muda lyssa” mama alyssa kembali menjawab kebingungan alyssa.
“sebelum kau hilang ingatan, kau anak yang manja, bertingkah seperti remaja dengan menyukai apapun yang berhubungan dengan warna pink, itu.. itu masa-masa yang indah” mama alyssa menerawang ke depan. Mengenang kebersamaan mereka.
“ma, kalau alyssa mengganti warnanya tidak apa-apa kan?” tanya alyssa hati-hati
“ini kamarmu kau berhak menggantinya” setelah itu mama alyssa keluar kamar, membiarkan putrinya membiasakan diri dengan kamarnya.

@@@

Rama berjalan dengan tergesa menuju apartemen yang berada dipinggiran kota, ia melangkah lebar dengan tangan yang terkepal kuat, sehingga buku-buku jarinya memutih. Dengan tatapan datar ia mendobrak pintu salah satu apartemen dengan satu tendangan yang keras. Aura yang dipancarnya begitu mengerikan. Pasangan yang sedang asyik memadu kasih terkejut dengan kedatangan rama. Terlebih lagi seorang pemuda yang dalam keadaan topless. Ia langsung berdiri dan menyuruh sang wanita untuk keluar.
Kemudian tersenyum kearah rama sambil merenggangkan tangan hendak memeluk rekannya. Bukannya membalas pelukan pemuda tersebut rama langsung menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi. Tingkat kewarasan yang rama miliki menguap entah, ia tidak mendengar nada sakit dari pemuda dibawahnya. Terus memukul sampai wajah pemuda tersebut babak belur.
“aku minta ampun ethan, aku tau aku salah, aku minta ampun” kata pemuda tersebut sambil berteriak kesakitan. Tetapi tidak dihiraukan oleh rama, langkah terakhir rama adalah mengambil pisau dari balik jaketnya dan ketika ia arahkan ke pemuda tersebut, bayangan alyssa tiba-tiba memenuhi pikirannya. Membuat tubuh rama menjadi kaku beberapa saat, namun perlahan melempar pisau tersebut, mencengkeram leher pemuda tersebut dan menghujaninya dengan tatapan yang menakutkan, aura rama saja sudah membuat ruangan menjadi dingin apalagi ditambah dengan tatapannya yang mengerikan. Seakan-akan mengatakan’aku tidak segan-segan membunuhmu’. Membuat pemuda tersebut menelan ludah dengan susah payah.
“dengar bryan, aku tidak akan memaafkan perbuatanmu, aku tidak pernah menyuruhmu untuk membunuhnya kan? Mengapa kau lakukan itu?” tanya rama dengan suara rendah penuh tekanan. Tangan yang mencengkeram leher bryan semakin kuat, membuat bryan susah bernapas.
“aku mi-minta ma-maaf ethan” kata bryan dengan susah payah
Rama membanting kepala bryan dengan marah.
“aku minta kau menjauh dari kehidupan alyssa, kalau perlu keluar negeri sekalipun, karena kalau kita bertemu lagi, itu akan menjadi hari terakhirmu melihat dunia. Kau mengerti?” suara rama terdengar rendah dan tajam. Nada tersebut jelas-jelas memerintah bukan meminta.
Bryan hanya menggangguk kepala dengan patuh. Tidak pernah menyangka akan melihat rama kalap seperti ini. rama mendengus. ‘ethan’, nama itu membuatnya muak. dengan wajah datar rama meninggalkan apartemen bryan.

@@@

Alyssa membalik-balik badan sambil melihat langit-langit kamarnya. Sudah hampir seminggu ia tidak mendengar kabar rama, apa rama tidak tau kalau ia sudah keluar rumah sakit? Apa rama tidak tau rumahnya? Dan banyak lagi pertanyaan yang memenuhi benak alyssa.
“hah... bagus. Aku lupa bertanya nomor teleponnya” gumannya kepada dirinya sendiri.
Ia melihat nomor kontak di telepon genggamnya tetapi tidak ada nomor handphone rama. Kata mamanya telepon genggamnya sudah ada sebelum dia kecelakaan. Tapi mengapa tidak ada nama rama di kontak teleponnya..?
Alyssa akhirnya bangkit dari tempat tidur, menuruni tangga dan melihat mamanya yang sedang memasak. Langkah kakinya membawa alyssa mendekat kearah mamanya dan kemudian memeluk mamanya dari belakang. Mama alyssa sempat kaget kemudian menoleh kesamping dan mendapati wajah putrinya lalu tersenyum.
Dia masih seperti dulu.. gumannya dalam hati.
“kenapa? Ada apa dengan wajahmu?” tanya mama alyssa sambil tersenyum.
“ma.. aku kangen rama” kata-kata alyssa membuat kegiatan mama alyssa berhenti kemudian berbalik arah menghadap putrinya. “apa yang kau rasakan alyssa?” tanya mama alyssa dengan dahi yang berkerut. Alyssa masih menunggu kata-kata mamanya. “bagaimana perasaanmu terhadap rama?” tanya mama alyssa kembali.
Alyssa menerungkan kalimat mamanya.
“entahlah ma, aku merasa nyaman ketika bersamanya” jawab alyssa sambil mengangkat bahunya.
Mama alyssa hanya tersenyum samar. Perasaannya ada yang janggal ketika melihat rama. Ia tau pasti perasaan apa itu. Perasaan dimana seseorang  akan merasa bahwa ia akan kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya. Entahlah, ia sendiri tidak tau mengapa ia merasakan hal tersebut. Tapi biasanya perasaan seorang ibu tidak pernah salah bukan?
“mungkin dia lagi sibuk. Oh ya mama memasak masakan kesukaan kamu, ayo kita makan” mama alyssa mengalihkan pembicaraan kemudian beranjak ke ruang makan.

@@@

Ketika memandangi langit-langit kamarnya yang sekarang berubah menjadi warna coklat terang. teleponnya bergetar. Nomor asing?
“halo”
“bagaimana keadaanmu? Maaf.. tidak bisa menjemputmu sewaktu keluar dari rumah sakit” suara rama terdengar di telepon.
Alyssa hampir memekik kegirangan mendengar suara namun ditahan ketika mengingat mereka hanya berteman.
“baik, tidak apa-apa” alyssa sengaja membuat suara seperti orang ketus, tapi tetap tidak bisa menahan senyumnya.
“suaramu terdengar marah, aku minta maaf” suara rama terdengar geli
“aku tidak marah” ucap alyssa cepat.. terlalu cepat.
“baiklah-baiklah, aku mengerti, bagaimana kalau makan malam?” ajak rama
Senyum alyssa semakin lebar, ia tidak bisa menahan rasa yang bergejolak dihatinya.
“benarkah?” tanya alyssa memastikan, walaupun ia sendiri tau akan jawaban rama.
“hm,, sebentar lagi aku jemput, dan... dandan yang cantik” ucap rama, setelah itu
alyssa langsung terbirit-birit membuka lemari pakaiannya.

@@@

Rama menatap alyssa dengan senyum yang lembut, tatapan seperti seorang kekasih terhadap miliknya. Hal itu membuat alyssa merona. Restoran sunyi karena hanya terdapat beberapa pasangan membuat suasana menjadi romantis ditambah dengan lagu klasik yang membuat malam mereka menjadi lebih sempurna. Alyssa menyesap wine dengan perasaan gugup, mengapa ia gugup ditatap oleh rama?. Sedangkan rama hanya tersenyum geli melihat rona merah yang kontras dengan wajah alyssa berkulit putih.
“kau suka?” tanya rama.
Alyssa hanya menggangguk malu.
Ketika musik berubah menjadi lebih melow. Rama bangkit dari tempat duduknya menghampiri alyssa kemudian membungkuk seraya mengulurkan tangannya kearah alyssa dan tersenyum lembut.
“ayo berdansa”. bukan ajakan yang terdengar , tetapi lebih kepada perintah.
Alyssa hanya tersenyum seraya menyambut uluran tangan rama, kemudian berdansa di lantai dansa yang berada ditengah-tengah restaurat tersebut. Sepanjang dansa alyssa terus tersenyum bahagia, ia tidak tahu mengapa perasaannya seperti ini? semua mengalir begitu saja.
“apa kita pernah berdansa sebelumnya?” tanya alyssa sambil mengerjap matanya
Rama menggangguk. “sering malah” kata-kata rama penuh arti.
Rama mendekat ke telinga alyssa kemudian berbisik
“apa aku sudah bilang kalau kau sangat cantik malam ini?” mendengar pujian tersebut membuat wajah alyssa semakin merona. Tidak tahu mau merespon seperti apa, alyssa memilih menundukkan wajahnya.

@@@

Sarapan adalah saat terindah bersama keluarga, seperti halnya keluarga brown. Mereka sarapan sambil berbincang-bincang ringan, sesekali tertawa dan menanggapinya dengan lelucon ringan. Menjadikan suasana pagi menjadi lebih berarti.
Alyssa menghentikan kegiatannya dan menatap kedua orangtuanya.
“ma, pa, lyssa boleh meminta sesuatu?” suara alyssa terdengar ragu, tetapi ia tetap memantapkan hatinya. “anything princess” kata papa alyssa sambil tersenyum.
“kamu mau minta apa ssa?” tanya mama alyssa.
“bolehkah... bolehkah alyssa tinggal diluar misalnya di apartemen, maksudnya ... Alyssa ingin tinggal bersama rama” kata-kata alyssa membuat ruangan menjadi hening. Mama dan papa alyssa tidak pernah  menyangka putri mereka satu-satunya ingin tinggal bersama laki-laki yang mereka tidak percayai.
“ma, pa alyssa sudah dewasa, alyssa ingin mengurus diri alyssa sendiri” jelas alyssa hati-hati.
Papa alyssa tersenyum samar kemudian menggangguk pelan membuat istrinya memandang kearah suaminya dengan terkejut, apa-apaan ini? tanyanya dalam hati. Batinnya berkecamuk, mungkin ia akan memaklumi apabila alyssa meminta tinggal di apartemen, tapi tinggal bersama dengan laki-laki? Pertanyaan tersebut membuat mama alyssa susah bernapas ditambah dengan suaminya yang mengiyakan permintaan alyssa dengan begitu mudahnya.
“bagaimana kau ...” suara mama alyssa tercekat ketika suaminya menggenggam jemarinya dengan lembut. Ia tahu jika suaminya berbuat seperti itu, maka keputusannya sudah mutlak.
Alyssa menatap mamanya dengan penuh harap, satu anggukan lagi ia akan bisa tinggal bersama rama. Pemuda yang ia cintai.

Mamanya menghela napas dengan keras dan mau tidak mau mama alyssa mengangguk lemah. Alyssa tersenyum. Akhirnya ia dapat tinggal bersama rama. Sebenarnya alyssa belum meminta izin terlebih dahulu kepada rama, ini murni keputusan satu pihak, tetapi entah kenapa ia merasa yakin kalau rama akan menyetujuinya.

Bersambung ke Part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar