/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Senin, 29 Juli 2013

Name In My Heart Part 3

P.S : Mohon Tinggalin Jejak ya.. Trims , Love You All.

Alyssa menyeret kopernya dengan perasaan senang, tidak menyangka bahwa orangtuanya akan semudah ini menyetujui permintaannya kemudian berhenti di depan apartemen mewah yang berada di pusat kota. Setelah menghirup napas kemudian melepasnya dengan pelan alyssa naik ke apartemen tersebut dengan hati yang mantap.
Alyssa berhenti disalah satu apartemen kemudian ketika hendak memencet bel interkom pintu apartemen tiba-tiba terbuka. Senyum alyssa yang mengembang menghilang ketika mendapat seorang wanita keluar dari apartemen rama. Seorang wanita yang memakai pakaian minim, sangat minim malah, memandang alyssa dengan penuh penilaian dan tersenyum menyeringai. Dan ketika alyssa melihat rama berada di belakang wanita tersebut, mata alyssa berkaca-kaca. Rama membawa wanita ke apartemennya?
Rama menatap alyssa kaget, namun kembali memasang wajah datarnya. Ketika wanita berpakaian minin tadi menghilang di ujung koridor apartemen. Suasana menjadi sunyi.

Jumat, 26 Juli 2013

Name In My Heart Part 2

Setelah seminggu berada dirumah sakit, alyssa diperbolehkan pulang.  Mereka-mama , papa dan alyssa- sampai disebuah rumah yang sejuk dengan taman yang luas dikawasan perumahan elit yang berada ditengah kota. Alyssa melihat sekelilingnya, menghirup udara yang sejuk. Ia heran ada rumah yang sejuk di daerah kota yang panas.
Mamanya menatap alyssa dengan tersenyum
“kau heran mengapa ada rumah sejuk padahal kita berada ditengah kota?” kata-kata mama alyssa membuat alyssa kaget kemudian menggangguk pelan.
“dulu waktu kita pertama pindah kesini, kau juga merasakan hal yang sama lyssa” jelas mama alyssa. Alyssa hanya mengganggukkan kepala.

Selasa, 23 Juli 2013

Name In My Heart Part 1

Bau rumah sakit sangat menyengat di indra penciuman, tetapi tidak menyurutkan rama untuk datang ke tempat tersebut, dengan langkah yang tergesa-gesa rama langsung memasuki ruangan untuk pasien. Tujuannya hanya satu.
Alyssa.
Ketika membuka pintu, pemandangan pertama yang rama lihat adalah seorang gadis terbaring lemah yang dibantu dengan peralatan medis untuk membuatnya tetap bertahan hidup. Rama duduk disamping tempat tidur alyssa, menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan.  Seakan tangan ditengah digenggamnya akan merasa tersakiti oleh hal sekecil apapun.

Minggu, 21 Juli 2013

Name in My Heart Prolog

Sebuah mobil melintasi kegelapan malam dengan kecepatan maksimum, gelapnya malam membuat mata alyssa kesusahan melihat jalan raya, dengan tangan yang bergetar alyssa tetap memacu mobilnya membelah jalan yang sunyi. Di belakang mobil alyssa terdapat beberapa mobil yang mengejar alyssa dengan kecepatan yang sama.
Alyssa terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi walaupun disamping kiri kanannya terdapat jurang yang terjal. Satu mobil berhasil menyamai mobil alyssa dan sebuah peluru mengenai kaca alyssa membuat alyssa memekik ketakutan.
Tubuh alyssa bergetar ketakutan, pandangannya mulai tidak fokus ketika mendengar suara-suara tembakan di belakangnya.
Satu peluru mengenai ban mobil alyssa yang membuat mobil alyssa oleng kemudian menabrak trotoar jalan dengan keras, mobil berbalik, terseret beberapa meter ke depan.
Alyssa membuka matanya, badannya terbalik dikarenakan alyssa memasang sabuk pengaman, darah mengalir pelan dari kepalanya membuat pandangan alyssa mulai mengabur.

“rama” guman alyssa lirih kemudian pandangannya mengabur dan gelap.

Rabu, 10 Juli 2013

Falls To the Troblemaker Part 3

Evan duduk di bangku lorong rumah sakit dengan perasaan campur aduk, ia tidak menyangka reyna bakal menyakiti dirinya sendiri.

Perasaan takut kehilangan memenuhi benak evan, ia tidak tau mengapa, yang evan tau gadis itu harus selamat.

Jonathan yang juga duduk di lorong rumah sakit menghela napas panjang, ingin rasanya memukul keponakannnya, namun melihat keponakananya merasa sangat bersalah dan sangat cemas membuat jonathan mengurungkan niatnya.

 Berjam-jam telah berlalu, tetapi dokter tidak juga keluar dari ruang UGD, membuat evan mengepal kuat tangannya.

Tidak, gadis itu harus selamat, guman evan dalam hati  

Dokter keluar dari ruangan dan menghela napas lega, evan dan jonathan segera menghampiri dokter.

“bagaimana keadaannya dok?” tanya evan dengan cemas

“kondisinya baik-baik saja, luka dipergelangan tangannya tidak sampai memutuskan nadi sehingga gadis itu selamat”

Evan menghela napas lega. Syukurlah gadis itu baik-baik saja. Namun dahi even mengernyit. Bagaimana ia akan menghadapi gadis itu?

Reyna dipindahkan ke ruangan biasa, kesadaran reyna masih belum pulih akibat obat yang disuntikkan dokter.

Evan melangkah masuk, dan memandang reyna yang terbaring lemah dengan pandangan nanar, lelaki itu duduk di kursi samping reyna dan menggengam lembut jemari reyna.

“aku minta maaf, aku menyesal rey” ujar evan dengan bersungguh-sungguh.

“aku... aku tidak tau kau berbeda dengan stephanie” ujar evan pelan, airmata evan mengalir pelan.

“aku minta maaf, aku menyesal karena telah menyakitimu sampai seperti ini” ujar evan.

Evan menatap reyna dengan pandangan lembut. Ia memutuskan akan menjaga reyna apapun yang terjadi. Walaupun gadis itu menolaknya, ia tetap bertekad menjaga reyna dengan sepenuh hatinya.

Selasa, 09 Juli 2013

Falls To the Troblemaker Part 2

Evan kembali ke restoran itu keesokan paginya, restoran tempat reyna mencari nafkah. Restoran kecil itu memang selalu ramai dengan pengunjung, tampak dari bangku kosong yang sedikit, seorang pelayan menyambutnya, dan mempersilahkan evan duduk disamping dinding restoran , mata evan berjelajah, mencari-cari sosok reyna.

Gadis itu sedang membawakan nampan yang berisi sarapan ke pengunjung yang berada di sudut restoran dan tersenyum lebar. Ketika sedang meletakkan sarapan dari nampannya, seorang pengunjung menggenggam lembut tangan reyna seraya menatap reyna dengan tatapan intens. Reyna segera menampihkan tangan pengunjung itu dengan pelan seraya tersenyum sambil mengernyit risih. Dan itu di lihat oleh evan, seringaian evan bertambah lebar ketika melihat kejadian itu.

“gadis murahan” guman evan pelan sambil tersenyum sinis.

Evan mengangkat tangannya, memanggil pelayan. Kebetulan reyna yang sedang berada di dekat evan, reyna berpamitan ke pengunjung yang sedang dilayaninya, memeluk nampannya sembari menghampiri evan, dan sedikit terkejut melihat evan yang memanggilnya.

Falls To the Troblemaker Part 1

Reyna duduk gelisah di kursi lorong rumah sakit, sesekali memandang ke ruang pasien tempat laki-laki yang ditolongnya diperiksa, belum ada tanda-tanda dokter akan keluar ruangan membuat reyna menggenggam erat tangannya sendiri.

Reyna begitu cemas, kejadian ini sama persis seperti kejadian yang menimpa orangtuanya dulu, tubuh reyna gemetar mengingat masa lalunya. Reyna memilih menundukkan kepalanya menatap lantai rumah sakit.

Sebuah sentuhan di pundak membuat reyna mendongak dan melihat seorang pria tersenyum padanya.

“kau yang menelponku tadi?” tanya pria itu
“benar paman” kata reyna pelan
“terima kasih telah menolong keponakan saya”. Reyna membungkukkan kepala.
“saya permisi paman”. Reyna melangkah pelan menjauhi pria tersebut dengan langkah pelan.

Reyna terduduk dibangku taman rumah sakit, tangannya masih bergetar. Reyna bernapas dengan tersendat-sendat, kecelakaan itu tepat di depannya. Luka lama yang reyna tutupi dengan baik menguak kembali. Kecelakaan orangtuanya. Ingatan tentang kecelakaan itu masih jelas di otak reyna  seperti baru terjadi kemarin hari.

Tidak kuat menahan luka dihatinya, reyna menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sendirian di taman rumah sakit.