Evan kembali ke restoran itu keesokan
paginya, restoran tempat reyna mencari nafkah. Restoran kecil itu memang selalu
ramai dengan pengunjung, tampak dari bangku kosong yang sedikit, seorang
pelayan menyambutnya, dan mempersilahkan evan duduk disamping dinding restoran ,
mata evan berjelajah, mencari-cari sosok reyna.
Gadis itu sedang membawakan nampan yang
berisi sarapan ke pengunjung yang berada di sudut restoran dan tersenyum lebar.
Ketika sedang meletakkan sarapan dari nampannya, seorang pengunjung menggenggam
lembut tangan reyna seraya menatap reyna dengan tatapan intens. Reyna segera
menampihkan tangan pengunjung itu dengan pelan seraya tersenyum sambil
mengernyit risih. Dan itu di lihat oleh evan, seringaian evan bertambah lebar
ketika melihat kejadian itu.
“gadis murahan” guman evan pelan sambil
tersenyum sinis.
Evan mengangkat tangannya, memanggil
pelayan. Kebetulan reyna yang sedang berada di dekat evan, reyna berpamitan ke
pengunjung yang sedang dilayaninya, memeluk nampannya sembari menghampiri evan,
dan sedikit terkejut melihat evan yang memanggilnya.
“aku ingin pesan sarapan” ujar evan
tenang tanpa memandangi reyna.
Reyna mencoba bersikap profesional
dengan tersenyum dan menanyakan pesanan evan, mencatatnya dan kemudian
melangkah ke dapur. Beberapa saat kemudian reyna keluar dari dapur sembari
membawa pesanan evan, meletakkankannya di meja satu persatu. Evan memegangi
paha reyna yang sedang sibuk meletakan sarapan membuat gadis itu memekik dan
gelas yang sedang ia pegangi jatuh dan pecah.
Tiba-tiba semua mata memandangi reyna
dan evan, ingin tahu apa yang terjadi. Reyna buru-buru membungkuk ke arah
pengunjung sambil mengatakan tidak terjadi apa-apa, kemudian berjongkok
memunguti pecahan kaca di lantai. Evan hanya mendengus pelan.
Gadis
itu bahkan tidak memarahinya, dan itu jelas menunjukkan bahwa dia seorang gadis
murahan, pikir
evan.
Setelah selesai memunguti pecahan kaca,
reyna melangkah menuju dapur dan menggantinya dengan gelas baru, sepanjang
jalan reyna menahan kuat dorongan untuk tidak menampar lelaki bermata biru itu.
lelaki itu melecehkannya dengan begitu mudahnya.
Reyna meletakkan gelas yang baru di meja
evan dan melangkah pergi namun lengannya dicekal oleh tangan evan. Lelaki
bermata biru itu memandang reyna dengan tatapan intens, berlahan evan menarik
tangan reyna untuk mendekat, wajahnya memiring ke samping telinga reyna.
“aku bisa membayarmu dua kali lipat jika
kau mau tidur denganku” ucapan evan membuat amarah yang sekuat tenaga di reyna
menyeruak keluar.
Reyna mengerjap ke arah evan dengan
wajah datar, melepaskan cekalan evan dengan pelan dan tersenyum datar.
Kemudian dengan cepat reyna melayangkan
satu tamparannya ke arah evan tanpa bisa laki-laki itu cegah. Suasana resto
kembali hening, mereka menatap reyna dengan pandangan tidak percaya.
Reyna sendiri sudah tidak bisa berpikir
jernih, lelaki dihadapannya benar-benar kurang ajar. Digulungnya kemeja
putihnya yang sudah lusuh dimakan waktu, kemudian dicengkeram kuat kerah baju
evan.
Wajah reyna mendekat ke arah evan,
memiringkan kepalanya ke samping telinga evan dan membisikkan sesuatu.
“maaf tuan, anda salah orang. Aku bukan
orang seperti itu” ujar reyna penuh penekanan dalam setiap katanya.
Dilepasnya cengkraman pada kerah baju
evan dan melangkah menuju dapur dengan tangan yang sedikit bergetar, sewaktu
mencengkeram kerah evan, reyna sebenarnya takut melakukannya, ia belum pernah
terlibat perkelahian selama ini,tetapi karena dorongan hatinya yang memanas, ia
bergerak begitu tanpa bisa ia cegah, langkah reyna terhenti ketika melihat bosnya
menatap dirinya dengan tatapan tajam.
“ikut ke ruanganku” ucap bos reyna
kemudian pergi.
Reyna menghela napas panjang kemudian
mengikuti langkah bosnya. Ia sudah tau apa yang akan dikatakan oleh bosnya.
Evan yang sedari tadi menjadi pusat
perhatian, menatap reyna dengan tatapan membunuh, gadis itu berani
mempermalukannya. Sambil membetulkan kemejanya, evan melangkah keluar restoran
dengan tangan yang terkepal.
***
Bos reyna menatap reyna dengan mata yang
disipitkan. Reyna menelan ludahnya, ia sudah mempersiapkan dirinya menghadapi
hal terburuk yang akan ia dengar.
“kau tau apa kesalahanmu?” tanya bos
reyna dengan tajam
“tapi laki-laki itu yang ...”
“aku tanya, kau tau apa kesalahanmu?”
potong bos reyna dengan pertanyaan yang sama.
Reyna menganggguk kepalanya.
“maafkan aku tuan” ujar reyna pelan
“kau di pecat reyna”. Ucapan bosnya
membuat reyna menatap tidak percaya ke arah bosnya. Matanya mulai mengabur
karena airmata yang mengenang.
“aku minta maaf, aku janji aku tidak
akan mengulanginya lagi, aku...”
“kau dipecat”. Setelah mengatakan itu
bos reyna melangkah keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan reyna yang
mematung di tempat duduknya, matanya tetap memandang ke depan meskipun bosya tidak
lagi berada didepannya, airmata reyna mengalir pelan di pipinya, gadis itu
hanya berpikir bagaimana ia dapat melanjutkan hidupnya tanpa pekerjaan ini.
***
Evan membanting pintu mobilnya dengan
kesal, memarahi semua pelayan yang berpapasan dengannya, moodnya benar-benar
buruk.
Jonathan yang melihatnya mengernyitkan
dahi.
“ada apa denganmu?” tanya jonathan
sambil menyesap kopinya.
“gadis itu membuatku malu,
berani-beraninya ia melakukan itu padaku” ujar evan hampir bernada teriak. Evan
menghempas tubuhnya di sofa panjang yang terletak di ruang tamu.
“apa yang terjadi sebenarnya?” tanya
jonathan ingin tahu.
Mengalirlah cerita evan, dari mulai ia
melihat pengunjung yang melecehkan reyna tetapi gadis itu hanya diam saja
sampai ia ditampar oleh gadis itu karena mengatakan akan membayar reyna dengan
harga tinggi jika gadis itu mau tidur dengannya.
Jonathan terkekeh mendengar cerita evan.
“kau dipukuli seorang gadis? Itu berita
yang menarik” ujar jonathan dengan tertawa pelan.
“bisakah paman diam, bagaimana pun juga
gadis itu harus mendapatkan pelajaran karena berani berurusan denganku” guman
evan pelan.
Kekehan jonathan menghilang ketika
mendengar nada dingin evan.
“lupakan saja, gadis itu tidak sama
dengan stephanie” ujar jonathan.
Stephanie!
Setiap mendengar nama itu kebencian evan
terhadap wanita kembali memuncak. Tidak ada gadis yang menerima dirinya dengan
apa adanya, tetapi karena ada apanya. Stephanie, gadis itu yang membuat evan
membenci wanita miskin.
Ingatan evan kembali ke masa lalu,
stephanie adalah tunangannya sekaligus wanita yang sangat dicintai evan.
Seorang gadis yang sederhana, mencintainya dengan penuh ketulusan, Namun
semuanya berubah ketika stephanie membatalkan tunangannya bersama evan, dan
mengatakan bahwa ia akan menikahi duda kaya yang jatuh cinta kepadanya. Mendengar
kenyataan itu, membuat hati evan hancur dan dalam sekejap cintanya kepada
stephanie berubah menjadi kebencian yang mendalam. Bahkan ketika mendengar
bahwa mamanya menyuap stephanie dengan uang yang sangat banyak dengan syarat
bahwa gadis itu harus menjauhi evan, tanpa pikir panjang stephanie langsung
menyetujui persyaratan itu dengan begitu mudahnya membuat kebencian evan
semakin menjadi-jadi. Berlahan rasa bencinya terhadap mantan tunangannya meluas
kepada wanita lainnya. Wanita yang ia temui rata-rata hanya menginginkan harta
atau derajat dari keluarganya.
Dan dari wanita itulah, evan berpikir
tidak ada wanita tulus di dunia ini, yang ada hanya wanita materialitas tinggi.
Ingatan evan kembali ke masa sekarang,
ia mengingat reyna dengan penuh kebencian.
“aku akan membuatnya mengerti, bagaimana
rasanya berterima kasih” kata-kata evan penuh arti membuat jonathan terdiam.
***
Reyna duduk di sofa flatnya, menghela napas. Diliriknya
uang pesangon yang diberikan oleh bosnya. Uang itu hanya berjumlah sedikit,
bagaimana reyna akan membayar kontrakan flatnya. Gaji sebagai pemain piano
hanya cukup untuk kebutuhan reyna sehari-hari. Namun teringat uang pemberian
penggemarnya, itulah istilah yang digunakan oleh pelayan restoran, dengan uang
itu reyna dapat melanjutkan hidupnya, membayar kontrakan dan memberikan
sebahagian uang itu pada carolina. Lelah dengan pikirannya, reyna memilih
mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, menembus alam mimpi.
***
Jam weker membangunkan reyna dari
mimpinya, setengah menyeret tubunya ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan
mulai berias natural. Setelah memastikan semuanya lengkap. Reyna melajukan
skuternya dengan kecepatan sedang.
Malam minggu membuat keadaan restoran
sedikit ramai dari biasanya, restoran itu penuh dengan pasangan yang remaja
atau keluarga yang ingin menikmati malam minggu mereka dengan melodi indah
reyna.
Evan juga melihat pertunjukkan kecil
yang reyna bawakan setiap malam, memandang gadis itu dengan pandangan penuh
arti.
Reyna memenjamkan matanya, berusaha
menikmati dentingan melodi yang ia mainkan, beberapa saat berlalu, reyna tetap
memainkan melodi lainnya dengan lembut. Ia tidak ingin berhenti memainkan piano
itu, dentingan piano itu membuat perasaan reyna sedikit menjadi tenang, dapat
melihat sisi positif dari kehidupan yang sedang ia jalani.
Piano memberikan ketenangan pada diri reyna.
Setelah beberapa jam berlalu, reyna baru
mengakhiri pertunjukkan dengan dentingan lembut, kemudian membungkuk hormat ke
arah pengunjung dan turun melangkah tempat favoritnya. Ruangan sudut yang
menghadap ke arah taman restoran, menyesap cuppucinonya sambil memandangi taman
yang diterpa cahaya bulan.
Setelah beberapa lama evan mengamati
gerak-gerik reyna, evan memilih keluar restoran sambil menekan beberapa nomor
di handphone.
“sekarang saatnya” ujar evan pada
seseorang diseberang telepon kemudian menutup telepon dan menyeringai.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh
malam, reyna beranjak dari tempat duduknya, menghampiri emma yang sedang
memerhatikan pengunjung.
“nyonya emma, aku akan pulang” ujar
reyna memohon diri seraya tersenyum manis .
“baiklah, hati-hati dijalan” ujar emma
sambil memeluk reyna sekilas.
Reyna melangkah ke parkiran, menstarter
skuternya dan mulai melajukan skuternya. Malam terasa sunyi ketika ia melewati
sebuah jalan sepi, sebuah mobil melajukan kencang disamping reyna dan berhenti
tepat di depan jalanya, membuat reyna terkejut dan memberhentikan skuter dengan
tiba-tiba.
Reyna melihat beberapa orang memakai jas
hitam keluar dari mobilnya, reyna mulai ketakutan, belum sempat ia kembali
melajukan skuternya, salah satu dari mereka menyergap reyna dan menutup hidung
reyna dengan sebuah kain yang sudah dibubuhi dengan alkohol.
Mencium bau yang sangat menyengat
membuat kesadaran reyna hilang berlahan-lahan. Tubuh reyna yang terkulai segera
dibawa oleh mereka ke dalam mobil, mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi dan
menghilang di kegelapan malam.
***
Reyna membuka matanya dengan perlahan,
tangannya memegangi kepala yang sakit, kemudian tersentak ketika mendapati
dirinya berada di ruangan luas yang terdapat beberapa perabotan yang mahal.
“kau sudah bangun” suara di sudut
ruangan membuat reyna menoleh dengan cepat. Evan sedang duduk di sofa, memakai
baju rajutan yang berleher rendah.
Reyna hendak meringsut dari tempat tidur
namun terkejut melihat ia tidak mengenakan satu helai benang pun di tubuhnya.
“apa yang kau lakukan padaku?” tanya
reyna dengan suara bergetar.
“aku hanya memandangi tubuhmu saja,
tidak perlu sampai terkejut seperti itu” ujar evan datar sambil tersenyum
sinis.
Reyna menarik selimut untuk menutupi
seluruh tubuhnya, airmatanya mengenang di pelupuk mata siap untuk dialirkan. Evan
melangkah keluar kamar dan segera mengkunci pintu kamarnya.
Airmata yang ditahan reyna mengalir
dipipinya membentuk aliran sungai kecil, ia menangis sesegukan. ia sudah tidak
suci lagi, kesucian yang selama ini ia jaga dengan baik-baik hancur dalam
semalam.
Reyna tersentak ketika mengingat kembali
kata-kata evan, tunggu! lelaki itu mengatakan bahwa ia hanya memandangi tubuh
reyna, dan reyna juga tidak merasakan sakit di daerah intim, reyna menghela
napas lega, walaupun ia sangat malu karena tubuhnya sudah dilihat oleh
laki-laki yang bukan suaminya. Namun setidaknya ia masih suci.
Reyna melihat ke sekeliling ruangan
mencari pakaiannya, namun tidak ada. Melihat kemeja putih yang berada di sofa
yang ditempati evan tadi, reyna memutuskan untuk memakai kemeja itu saja untuk
menutupi tubuhnya
***
Jonathan melangkah masuk ke ruang makan
tempat evan berada, dan duduk di hadapan evan yang sedang mengunyah pelan
sarapannya.
“apa yang kau lakukan pada reyna?” tanya
jonathan dengan mata yang dipicingkan.
“menculiknya” jawab evan tenang
Rahang jonathan mengeras.
“jangan samakan dia dengan stephanie,
dia bukan stephanie evan” ujar jonathan dengan nada tinggi.
Evan menatap tajam ke arah jonathan,
pamannya sangat membela gadis miskin itu.
“aku tidak menyamakannya dengan
stephanie, mereka memang sama” ujar evan
“mereka tidak sama evan, jangan lakukan
hal yang akan membuatmu menyesal” ujar jonathan kemudian melangkah keluar.
***
Evan masuk ke dalam kamarnya, duduk di
ujung tempat tidur sambil memandang cermin dihadapannya. Di dalam cermin Evan
melihat, ia dirangkul mesra oleh stephanie, tersenyum manis kepadanya. Evan
beranjak ke lemari, membukanya dan mengambil sebuah kotar besar dari lemari
itu. ia membuka kotak tersebut dan mengeluarkan beberapa barang pemberian
stephanie kepada dirinya. Sebuah jam, evan ingat, stephanie memberikan jam itu
pada ulang tahun evan yang ke dua puluh. Tepat pada pukul dua belas malam.
Malam itu adalah malam terindah evan
bersama stephanie, malam dimana stephanie masih menjadi gadis polos dimata
evan. Evan mengeluarkan sepucuk surat yang pita rapi, membukanya.
Evan
Aku
rasa pertunangan kita tidak dapat dilanjutkan lagi
Rasa
cintaku kepadamu sudah hilang
Aku
mencintai lelaki lain
Lelaki
itu lebih bisa menghidupiku
Aku
minta maaf evan
Selamat
tinggal
Kalimat demi kalimat evan baca dengan
perasaan hancur. Gadis itu mengkhianatinya hanya demi uang seorang duda kaya
raya, diremasnya surat itu dengan amarah yang membara.
***
Reyna menolak semua makanan yang dibawa
oleh pelayan, ia hanya ingin pulang ke flatnya yang nyaman, tidak disini.,
gadis itu hanya meringkuk di balik tempat tidurnya, menangis atau pun diam
sambil menerawang ke depan.
Jonathan yang menyuruh pelayan
membawakan makanan kepada reyna hanya menghela napas ketika pelayan kembali ke
dapur dengan makanan yang masih utuh. Ia mengerti mengapa gadis itu tidak
sedikitpun menyentuh makanan yang ia berikan. Jonathan memutukan untuk membawa
sendiri nampan yang berisi makanan kepada reyna.
Reyna mendongak ketika mendengar suara
pintu terbuka, jonathan masuk sambil membawa nampan kemudian meletakkannya di
atas meja rias.
“makanlah walaupun sedikit, nanti kau
bisa sakit”ujar jonathan
“lepaskan aku, tolong lepaskan aku
paman” ujar reyna sambil menatap jonathan dengan pandangan memohon
Jonathan menggelengkan kepalanya.
“maaf aku tidak bisa, aku akan
meningggalkan buah ini untuk kau makan” ujar jonathan sambil melangkah keluar.
Reyna segera berlari menyusul jonathan
ke pintu, namun terlambat, pintu sudah ditutup.
“aku mohon paman, tolong lepaskan aku”
teriak reyna sambil mengedor pintu dengan kuat.
“paman, aku mohon tolong lepaskan aku”
reyna terus berteriak minta dilepaskan.
Setelah beberapa lama, reyna lelah
berteriak, ia hanya menangis sesegukan sambil duduk berlutut di balik pintu.
***
Evan sedang makan malam sendirian,
beberapa pelayan melaporkan bahwa reyna tidak makan sedikit pun. Sudah dua
berlalu, ia salut dengan kekuatan gadis itu.
Evan menyudahi makan malamnya kemudian
melangkah menuju ruangan reyna di sekap sambil membawa segelas air yang sudah
ia campurkan dengan obat perangsa, ia membuka pintu pelan dan heran melihat
ruangan yang gelap gulita, instingnya langsung mengatakan ada yang tidak beres,
dengan hati-hati evan menutup pintu kamar, tidak ada suara apapun. Tangan evan
menyentuh saklar lampu dan cahaya terang memenuhi ruangan tersebut kemudian
meletakkan gelas di atas meja hias.
Reyna tidak ada di tempat tidur, evan
segera mencari ke kamar mandi, tidak ada juga. Pikiran evan langsung panik,
ketika hendak melangkah keluar ia melihat reyna tergelatak di lantai di sebelah
tempat tidur.
Evan mematung melihat reyna, gadis itu
sungguh seksi dengan kemeja putihnya yang hanya menutupi setengah pahanya.
Gairah evan berlahan bangkit ketika melihat reyna berbaring dengan posisi
miring.
Evan menghampiri reyna, menyentuh dahi
gadis itu, tidak demam. Reyna mulai membuka matanya ketika mendapati sentuhan
tangan di dahinya dan beringsut menjauh ketika melihat evan sangat dekat
dengannya.
Evan tersenyum miring sambil menatap
reyna dengan intens. Reyna yang ditatap itu sontak menutupi pahanya dengan
kemeja yang dipakainya, walaupun usahanya sia-sia.
Evan mengambil minuman yang tadi ia
letakkan di meja rias, menyodorkan kepada reyna.
Reyna hanya diam.
Evan mulai melangkah mendekati reyna
kembali, menyodorkan minuman yang dipengangnya. Reyna kembali meringsut
menjauh, dan langkahnya terhenti ketika punggungnya menyentuh dinding kamar.
“kau minta dipaksa rupanya” ujar evan
sambil tersenyum sinis.
Dengan gerakan cepat, evan mengcekal
tangan reyna kemudian mengikatnya dengan seutas tali dari atas meja. Airmata
reyna kembali mengalir, dan menggelengkan kepalanya ketika melihat evan kembali
menghampirinya.
Evan menghampiri reyna di sudut ruangan,
menutup hidung reyna dengan tangan kirinya dan meminum paksa reyna ketika gadis
itu membuka mulutnya untuk bernapas.
Beberapa tegukan berhasil ditelan oleh
reyna walaupun dengan terbatuk-batuk, evan melepaskan ikatan pada tangan reyna
dan menjauhi gadis itu, menunggu reaksi yang dihasilkan oleh obat perangsang
itu.
Berlahan reyna mengerjap matanya yang
berkunang-kunang, dan menatap evan dengan pandangan yang sedikit mengabur.
Ketika reyna bangkit dari duduknya, ia merasakan tubuhnya mulai memanas.
“apa yang kau taruh dalam minuman itu?”
tanya reyna dengan gemetar.
“obat perangsang” ujar evan dengan
tenang.
Tubuh reyna semakin memanas dari dalam,
dan memusat pada daerah intimnya, membuat gairah reyna meningkat.
Daerah intimnya meminta untuk dipuaskan,
mata reyna bergerak gelisah, napasnya mulai memburu, tanpa bisa reyna cegah,
tubuhnya berjalan pelan ke arah evan. Evan tersenyum menyeringai.
Dengan sekuat tenaga, reyna mencoba kembali
mundur, tangannya terkepal kuat menahan gairah yang semakin memuncak. Daerah
intimnya semakin panas, terasa seperti dibakar. Mata reyna menatap sekeliling
ruangan, mencari sesuatu. Mata reyna menangkap pisau buah yang berada di meja
disamping tempat tidur, lalu mengambilnya dengan cepat.
Evan terkejut ketika reyna mengambil
pisau buah itu, namun berusaha menampakkan wajah datar.
Reyna tidak bisa berpikir jernih,
tangannya bergetar memegang pisau buah, ia hanya tau pikiran seseorang akan
teralihkan ketika rasa sakit menyergapnya. Dengan tangan yang masih bergetar,
reyna menggoreskan lengan atasnya dengan pisau.
Reyna mengigit kuat bibirnya menahan
sakit di tangannya, gairahnya tetap memuncak membuat reyna kembali menggores
lengannya dengan pisau.
Even terbelalak melihat perbuatan reyna,
gadis itu mencoba mengalihkan gairahnya dengan rasa sakit.
“mengapa tidak bisa?” tanya reyna pelan
lebih kepada dirinya sendiri.
“apa yang kau lakukan? Lepaskan pisau
itu” seru evan berusaha terdengar tenang.
“jangan mendekat” teriak reyna serak,
napas reyna semakin memburu dan tatapannya meredup.
“jangan mendekat atau aku mencoba
membunuh diriku sendiri” mendengar ancaman reyna membuat evan merasa takut,
takut apabila gadis itu benar-benar nekad.
“jangan bodoh rey” ucap evan dengan nada
sedikit meninggi.
Reyna kembali menggoreskan lengannya
dengan pisau dan memekik kesakitan, darah mengalir dari lengan reyna, menetes
ke lantai.
Jonathan masuk ketika mendengar pekikan
reyna dan terkejut melihat reyna berdarah sambil memegangi pisau buah.
“ya tuhan, lepaskan pisau itu reyna, apa
yang kau lakukan?” ujar jonathan panik.
“aku tidak bisa mengalihkan gairahku”
guman pelan reyna sambil meringis sakit.
Evan melangkah mendekati reyna.
“jangan mendekatiku”.
Reyna memotong pergelangan tangannya dan
darah segar memuncrat keluar. Evan segera memegangi pisau itu dengan tangannya
lalu membuangnya. Kesadaran reyna berlahan menghilang dan gelap, reyna terkulai
di pelukan evan.
Bersambung ke Part 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar