/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 09 Juli 2013

Falls To the Troblemaker Part 2

Evan kembali ke restoran itu keesokan paginya, restoran tempat reyna mencari nafkah. Restoran kecil itu memang selalu ramai dengan pengunjung, tampak dari bangku kosong yang sedikit, seorang pelayan menyambutnya, dan mempersilahkan evan duduk disamping dinding restoran , mata evan berjelajah, mencari-cari sosok reyna.

Gadis itu sedang membawakan nampan yang berisi sarapan ke pengunjung yang berada di sudut restoran dan tersenyum lebar. Ketika sedang meletakkan sarapan dari nampannya, seorang pengunjung menggenggam lembut tangan reyna seraya menatap reyna dengan tatapan intens. Reyna segera menampihkan tangan pengunjung itu dengan pelan seraya tersenyum sambil mengernyit risih. Dan itu di lihat oleh evan, seringaian evan bertambah lebar ketika melihat kejadian itu.

“gadis murahan” guman evan pelan sambil tersenyum sinis.

Evan mengangkat tangannya, memanggil pelayan. Kebetulan reyna yang sedang berada di dekat evan, reyna berpamitan ke pengunjung yang sedang dilayaninya, memeluk nampannya sembari menghampiri evan, dan sedikit terkejut melihat evan yang memanggilnya.


“aku ingin pesan sarapan” ujar evan tenang tanpa memandangi reyna.

Reyna mencoba bersikap profesional dengan tersenyum dan menanyakan pesanan evan, mencatatnya dan kemudian melangkah ke dapur. Beberapa saat kemudian reyna keluar dari dapur sembari membawa pesanan evan, meletakkankannya di meja satu persatu. Evan memegangi paha reyna yang sedang sibuk meletakan sarapan membuat gadis itu memekik dan gelas yang sedang ia pegangi jatuh dan pecah.

Tiba-tiba semua mata memandangi reyna dan evan, ingin tahu apa yang terjadi. Reyna buru-buru membungkuk ke arah pengunjung sambil mengatakan tidak terjadi apa-apa, kemudian berjongkok memunguti pecahan kaca di lantai. Evan hanya mendengus pelan.

Gadis itu bahkan tidak memarahinya, dan itu jelas menunjukkan bahwa dia seorang gadis murahan, pikir evan.

Setelah selesai memunguti pecahan kaca, reyna melangkah menuju dapur dan menggantinya dengan gelas baru, sepanjang jalan reyna menahan kuat dorongan untuk tidak menampar lelaki bermata biru itu. lelaki itu melecehkannya dengan begitu mudahnya.

Reyna meletakkan gelas yang baru di meja evan dan melangkah pergi namun lengannya dicekal oleh tangan evan. Lelaki bermata biru itu memandang reyna dengan tatapan intens, berlahan evan menarik tangan reyna untuk mendekat, wajahnya memiring ke samping telinga reyna.

“aku bisa membayarmu dua kali lipat jika kau mau tidur denganku” ucapan evan membuat amarah yang sekuat tenaga di reyna menyeruak keluar.

Reyna mengerjap ke arah evan dengan wajah datar, melepaskan cekalan evan dengan pelan dan tersenyum datar.

Kemudian dengan cepat reyna melayangkan satu tamparannya ke arah evan tanpa bisa laki-laki itu cegah. Suasana resto kembali hening, mereka menatap reyna dengan pandangan tidak percaya.

Reyna sendiri sudah tidak bisa berpikir jernih, lelaki dihadapannya benar-benar kurang ajar. Digulungnya kemeja putihnya yang sudah lusuh dimakan waktu, kemudian dicengkeram kuat kerah baju evan.

Wajah reyna mendekat ke arah evan, memiringkan kepalanya ke samping telinga evan dan membisikkan sesuatu.

“maaf tuan, anda salah orang. Aku bukan orang seperti itu” ujar reyna penuh penekanan dalam setiap katanya.

Dilepasnya cengkraman pada kerah baju evan dan melangkah menuju dapur dengan tangan yang sedikit bergetar, sewaktu mencengkeram kerah evan, reyna sebenarnya takut melakukannya, ia belum pernah terlibat perkelahian selama ini,tetapi karena dorongan hatinya yang memanas, ia bergerak begitu tanpa bisa ia cegah, langkah reyna terhenti ketika melihat bosnya menatap dirinya dengan tatapan tajam.

“ikut ke ruanganku” ucap bos reyna kemudian pergi.

Reyna menghela napas panjang kemudian mengikuti langkah bosnya. Ia sudah tau apa yang akan dikatakan oleh bosnya.

Evan yang sedari tadi menjadi pusat perhatian, menatap reyna dengan tatapan membunuh, gadis itu berani mempermalukannya. Sambil membetulkan kemejanya, evan melangkah keluar restoran dengan tangan yang terkepal.

***

Bos reyna menatap reyna dengan mata yang disipitkan. Reyna menelan ludahnya, ia sudah mempersiapkan dirinya menghadapi hal terburuk yang akan ia dengar.

“kau tau apa kesalahanmu?” tanya bos reyna dengan tajam

“tapi laki-laki itu yang ...”

“aku tanya, kau tau apa kesalahanmu?” potong bos reyna dengan pertanyaan yang sama.

Reyna menganggguk kepalanya.

“maafkan aku tuan” ujar reyna pelan

“kau di pecat reyna”. Ucapan bosnya membuat reyna menatap tidak percaya ke arah bosnya. Matanya mulai mengabur karena airmata yang mengenang.

“aku minta maaf, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi, aku...”

“kau dipecat”. Setelah mengatakan itu bos reyna melangkah keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan reyna yang mematung di tempat duduknya, matanya tetap memandang ke depan meskipun bosya tidak lagi berada didepannya, airmata reyna mengalir pelan di pipinya, gadis itu hanya berpikir bagaimana ia dapat melanjutkan hidupnya tanpa pekerjaan ini.

***

Evan membanting pintu mobilnya dengan kesal, memarahi semua pelayan yang berpapasan dengannya, moodnya benar-benar buruk.

Jonathan yang melihatnya mengernyitkan dahi.

“ada apa denganmu?” tanya jonathan sambil menyesap kopinya.

“gadis itu membuatku malu, berani-beraninya ia melakukan itu padaku” ujar evan hampir bernada teriak. Evan menghempas tubuhnya di sofa panjang yang terletak di ruang tamu.

“apa yang terjadi sebenarnya?” tanya jonathan ingin tahu.

Mengalirlah cerita evan, dari mulai ia melihat pengunjung yang melecehkan reyna tetapi gadis itu hanya diam saja sampai ia ditampar oleh gadis itu karena mengatakan akan membayar reyna dengan harga tinggi jika gadis itu mau tidur dengannya.

Jonathan terkekeh mendengar cerita evan.

“kau dipukuli seorang gadis? Itu berita yang menarik” ujar jonathan dengan tertawa pelan.

“bisakah paman diam, bagaimana pun juga gadis itu harus mendapatkan pelajaran karena berani berurusan denganku” guman evan pelan.

Kekehan jonathan menghilang ketika mendengar nada dingin evan.

“lupakan saja, gadis itu tidak sama dengan stephanie” ujar jonathan.

Stephanie!

Setiap mendengar nama itu kebencian evan terhadap wanita kembali memuncak. Tidak ada gadis yang menerima dirinya dengan apa adanya, tetapi karena ada apanya. Stephanie, gadis itu yang membuat evan membenci wanita miskin.

Ingatan evan kembali ke masa lalu, stephanie adalah tunangannya sekaligus wanita yang sangat dicintai evan. Seorang gadis yang sederhana, mencintainya dengan penuh ketulusan, Namun semuanya berubah ketika stephanie membatalkan tunangannya bersama evan, dan mengatakan bahwa ia akan menikahi duda kaya yang jatuh cinta kepadanya. Mendengar kenyataan itu, membuat hati evan hancur dan dalam sekejap cintanya kepada stephanie berubah menjadi kebencian yang mendalam. Bahkan ketika mendengar bahwa mamanya menyuap stephanie dengan uang yang sangat banyak dengan syarat bahwa gadis itu harus menjauhi evan, tanpa pikir panjang stephanie langsung menyetujui persyaratan itu dengan begitu mudahnya membuat kebencian evan semakin menjadi-jadi. Berlahan rasa bencinya terhadap mantan tunangannya meluas kepada wanita lainnya. Wanita yang ia temui rata-rata hanya menginginkan harta atau derajat dari keluarganya.

Dan dari wanita itulah, evan berpikir tidak ada wanita tulus di dunia ini, yang ada hanya wanita materialitas tinggi.

Ingatan evan kembali ke masa sekarang, ia mengingat reyna dengan penuh kebencian.

“aku akan membuatnya mengerti, bagaimana rasanya berterima kasih” kata-kata evan penuh arti membuat jonathan terdiam.

***

Reyna duduk  di sofa flatnya, menghela napas. Diliriknya uang pesangon yang diberikan oleh bosnya. Uang itu hanya berjumlah sedikit, bagaimana reyna akan membayar kontrakan flatnya. Gaji sebagai pemain piano hanya cukup untuk kebutuhan reyna sehari-hari. Namun teringat uang pemberian penggemarnya, itulah istilah yang digunakan oleh pelayan restoran, dengan uang itu reyna dapat melanjutkan hidupnya, membayar kontrakan dan memberikan sebahagian uang itu pada carolina. Lelah dengan pikirannya, reyna memilih mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, menembus alam mimpi.

***

Jam weker membangunkan reyna dari mimpinya, setengah menyeret tubunya ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan mulai berias natural. Setelah memastikan semuanya lengkap. Reyna melajukan skuternya dengan kecepatan sedang.

Malam minggu membuat keadaan restoran sedikit ramai dari biasanya, restoran itu penuh dengan pasangan yang remaja atau keluarga yang ingin menikmati malam minggu mereka dengan melodi indah reyna.

Evan juga melihat pertunjukkan kecil yang reyna bawakan setiap malam, memandang gadis itu dengan pandangan penuh arti.

Reyna memenjamkan matanya, berusaha menikmati dentingan melodi yang ia mainkan, beberapa saat berlalu, reyna tetap memainkan melodi lainnya dengan lembut. Ia tidak ingin berhenti memainkan piano itu, dentingan piano itu membuat perasaan reyna sedikit menjadi tenang, dapat melihat sisi positif dari kehidupan yang sedang ia jalani.

Piano memberikan ketenangan pada diri reyna.

Setelah beberapa jam berlalu, reyna baru mengakhiri pertunjukkan dengan dentingan lembut, kemudian membungkuk hormat ke arah pengunjung dan turun melangkah tempat favoritnya. Ruangan sudut yang menghadap ke arah taman restoran, menyesap cuppucinonya sambil memandangi taman yang diterpa cahaya bulan.

Setelah beberapa lama evan mengamati gerak-gerik reyna, evan memilih keluar restoran sambil menekan beberapa nomor di handphone.

“sekarang saatnya” ujar evan pada seseorang diseberang telepon kemudian menutup telepon dan menyeringai.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, reyna beranjak dari tempat duduknya, menghampiri emma yang sedang memerhatikan pengunjung.

“nyonya emma, aku akan pulang” ujar reyna memohon diri seraya tersenyum manis .

“baiklah, hati-hati dijalan” ujar emma sambil memeluk reyna sekilas.

Reyna melangkah ke parkiran, menstarter skuternya dan mulai melajukan skuternya. Malam terasa sunyi ketika ia melewati sebuah jalan sepi, sebuah mobil melajukan kencang disamping reyna dan berhenti tepat di depan jalanya, membuat reyna terkejut dan memberhentikan skuter dengan tiba-tiba.

Reyna melihat beberapa orang memakai jas hitam keluar dari mobilnya, reyna mulai ketakutan, belum sempat ia kembali melajukan skuternya, salah satu dari mereka menyergap reyna dan menutup hidung reyna dengan sebuah kain yang sudah dibubuhi dengan alkohol.

Mencium bau yang sangat menyengat membuat kesadaran reyna hilang berlahan-lahan. Tubuh reyna yang terkulai segera dibawa oleh mereka ke dalam mobil, mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi dan menghilang di kegelapan malam.

***

Reyna membuka matanya dengan perlahan, tangannya memegangi kepala yang sakit, kemudian tersentak ketika mendapati dirinya berada di ruangan luas yang terdapat beberapa perabotan yang mahal.

“kau sudah bangun” suara di sudut ruangan membuat reyna menoleh dengan cepat. Evan sedang duduk di sofa, memakai baju rajutan yang berleher rendah.

Reyna hendak meringsut dari tempat tidur namun terkejut melihat ia tidak mengenakan satu helai benang pun di tubuhnya.

“apa yang kau lakukan padaku?” tanya reyna dengan suara bergetar.

“aku hanya memandangi tubuhmu saja, tidak perlu sampai terkejut seperti itu” ujar evan datar sambil tersenyum sinis.

Reyna menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, airmatanya mengenang di pelupuk mata siap untuk dialirkan. Evan melangkah keluar kamar dan segera mengkunci pintu kamarnya.

Airmata yang ditahan reyna mengalir dipipinya membentuk aliran sungai kecil, ia menangis sesegukan. ia sudah tidak suci lagi, kesucian yang selama ini ia jaga dengan baik-baik hancur dalam semalam.

Reyna tersentak ketika mengingat kembali kata-kata evan, tunggu! lelaki itu mengatakan bahwa ia hanya memandangi tubuh reyna, dan reyna juga tidak merasakan sakit di daerah intim, reyna menghela napas lega, walaupun ia sangat malu karena tubuhnya sudah dilihat oleh laki-laki yang bukan suaminya. Namun setidaknya ia masih suci.

Reyna melihat ke sekeliling ruangan mencari pakaiannya, namun tidak ada. Melihat kemeja putih yang berada di sofa yang ditempati evan tadi, reyna memutuskan untuk memakai kemeja itu saja untuk menutupi tubuhnya

***

Jonathan melangkah masuk ke ruang makan tempat evan berada, dan duduk di hadapan evan yang sedang mengunyah pelan sarapannya.

“apa yang kau lakukan pada reyna?” tanya jonathan dengan mata yang dipicingkan.

“menculiknya” jawab evan tenang

Rahang jonathan mengeras.

“jangan samakan dia dengan stephanie, dia bukan stephanie evan” ujar jonathan dengan nada tinggi.

Evan menatap tajam ke arah jonathan, pamannya sangat membela gadis miskin itu.

“aku tidak menyamakannya dengan stephanie, mereka memang sama” ujar evan

“mereka tidak sama evan, jangan lakukan hal yang akan membuatmu menyesal” ujar jonathan kemudian melangkah keluar.

***

Evan masuk ke dalam kamarnya, duduk di ujung tempat tidur sambil memandang cermin dihadapannya. Di dalam cermin Evan melihat, ia dirangkul mesra oleh stephanie, tersenyum manis kepadanya. Evan beranjak ke lemari, membukanya dan mengambil sebuah kotar besar dari lemari itu. ia membuka kotak tersebut dan mengeluarkan beberapa barang pemberian stephanie kepada dirinya. Sebuah jam, evan ingat, stephanie memberikan jam itu pada ulang tahun evan yang ke dua puluh. Tepat pada pukul dua belas malam.

Malam itu adalah malam terindah evan bersama stephanie, malam dimana stephanie masih menjadi gadis polos dimata evan. Evan mengeluarkan sepucuk surat yang pita rapi, membukanya.

Evan
Aku rasa pertunangan kita tidak dapat dilanjutkan lagi
Rasa cintaku kepadamu sudah hilang
Aku mencintai lelaki lain
Lelaki itu lebih bisa menghidupiku
Aku minta maaf evan
Selamat tinggal

Kalimat demi kalimat evan baca dengan perasaan hancur. Gadis itu mengkhianatinya hanya demi uang seorang duda kaya raya, diremasnya surat itu dengan amarah yang membara.

***

Reyna menolak semua makanan yang dibawa oleh pelayan, ia hanya ingin pulang ke flatnya yang nyaman, tidak disini., gadis itu hanya meringkuk di balik tempat tidurnya, menangis atau pun diam sambil menerawang ke depan.

Jonathan yang menyuruh pelayan membawakan makanan kepada reyna hanya menghela napas ketika pelayan kembali ke dapur dengan makanan yang masih utuh. Ia mengerti mengapa gadis itu tidak sedikitpun menyentuh makanan yang ia berikan. Jonathan memutukan untuk membawa sendiri nampan yang berisi makanan kepada reyna.

Reyna mendongak ketika mendengar suara pintu terbuka, jonathan masuk sambil membawa nampan kemudian meletakkannya di atas meja rias.

“makanlah walaupun sedikit, nanti kau bisa sakit”ujar jonathan

“lepaskan aku, tolong lepaskan aku paman” ujar reyna sambil menatap jonathan dengan pandangan memohon

Jonathan menggelengkan kepalanya.

“maaf aku tidak bisa, aku akan meningggalkan buah ini untuk kau makan” ujar jonathan sambil melangkah keluar.

Reyna segera berlari menyusul jonathan ke pintu, namun terlambat, pintu sudah ditutup.

“aku mohon paman, tolong lepaskan aku” teriak reyna sambil mengedor pintu dengan kuat.

“paman, aku mohon tolong lepaskan aku” reyna terus berteriak minta dilepaskan.

Setelah beberapa lama, reyna lelah berteriak, ia hanya menangis sesegukan sambil duduk berlutut di balik pintu.

***

Evan sedang makan malam sendirian, beberapa pelayan melaporkan bahwa reyna tidak makan sedikit pun. Sudah dua berlalu, ia salut dengan kekuatan gadis itu.

Evan menyudahi makan malamnya kemudian melangkah menuju ruangan reyna di sekap sambil membawa segelas air yang sudah ia campurkan dengan obat perangsa, ia membuka pintu pelan dan heran melihat ruangan yang gelap gulita, instingnya langsung mengatakan ada yang tidak beres, dengan hati-hati evan menutup pintu kamar, tidak ada suara apapun. Tangan evan menyentuh saklar lampu dan cahaya terang memenuhi ruangan tersebut kemudian meletakkan gelas di atas meja hias.

Reyna tidak ada di tempat tidur, evan segera mencari ke kamar mandi, tidak ada juga. Pikiran evan langsung panik, ketika hendak melangkah keluar ia melihat reyna tergelatak di lantai di sebelah tempat tidur.

Evan mematung melihat reyna, gadis itu sungguh seksi dengan kemeja putihnya yang hanya menutupi setengah pahanya. Gairah evan berlahan bangkit ketika melihat reyna berbaring dengan posisi miring.

Evan menghampiri reyna, menyentuh dahi gadis itu, tidak demam. Reyna mulai membuka matanya ketika mendapati sentuhan tangan di dahinya dan beringsut menjauh ketika melihat evan sangat dekat dengannya.

Evan tersenyum miring sambil menatap reyna dengan intens. Reyna yang ditatap itu sontak menutupi pahanya dengan kemeja yang dipakainya, walaupun usahanya sia-sia.

Evan mengambil minuman yang tadi ia letakkan di meja rias, menyodorkan kepada reyna.

Reyna hanya diam.

Evan mulai melangkah mendekati reyna kembali, menyodorkan minuman yang dipengangnya. Reyna kembali meringsut menjauh, dan langkahnya terhenti ketika punggungnya menyentuh dinding kamar.

“kau minta dipaksa rupanya” ujar evan sambil tersenyum sinis.

Dengan gerakan cepat, evan mengcekal tangan reyna kemudian mengikatnya dengan seutas tali dari atas meja. Airmata reyna kembali mengalir, dan menggelengkan kepalanya ketika melihat evan kembali menghampirinya.

Evan menghampiri reyna di sudut ruangan, menutup hidung reyna dengan tangan kirinya dan meminum paksa reyna ketika gadis itu membuka mulutnya untuk bernapas.

Beberapa tegukan berhasil ditelan oleh reyna walaupun dengan terbatuk-batuk, evan melepaskan ikatan pada tangan reyna dan menjauhi gadis itu, menunggu reaksi yang dihasilkan oleh obat perangsang itu.

Berlahan reyna mengerjap matanya yang berkunang-kunang, dan menatap evan dengan pandangan yang sedikit mengabur. Ketika reyna bangkit dari duduknya, ia merasakan tubuhnya mulai memanas.

“apa yang kau taruh dalam minuman itu?” tanya reyna dengan gemetar.

“obat perangsang” ujar evan dengan tenang.

Tubuh reyna semakin memanas dari dalam, dan memusat pada daerah intimnya, membuat gairah reyna meningkat.

Daerah intimnya meminta untuk dipuaskan, mata reyna bergerak gelisah, napasnya mulai memburu, tanpa bisa reyna cegah, tubuhnya berjalan pelan ke arah evan. Evan tersenyum menyeringai.

Dengan sekuat tenaga, reyna mencoba kembali mundur, tangannya terkepal kuat menahan gairah yang semakin memuncak. Daerah intimnya semakin panas, terasa seperti dibakar. Mata reyna menatap sekeliling ruangan, mencari sesuatu. Mata reyna menangkap pisau buah yang berada di meja disamping tempat tidur, lalu mengambilnya dengan cepat.

Evan terkejut ketika reyna mengambil pisau buah itu, namun berusaha menampakkan wajah datar.

Reyna tidak bisa berpikir jernih, tangannya bergetar memegang pisau buah, ia hanya tau pikiran seseorang akan teralihkan ketika rasa sakit menyergapnya. Dengan tangan yang masih bergetar, reyna menggoreskan lengan atasnya dengan pisau.

Reyna mengigit kuat bibirnya menahan sakit di tangannya, gairahnya tetap memuncak membuat reyna kembali menggores lengannya dengan pisau.

Even terbelalak melihat perbuatan reyna, gadis itu mencoba mengalihkan gairahnya dengan rasa sakit.

“mengapa tidak bisa?” tanya reyna pelan lebih kepada dirinya sendiri.

“apa yang kau lakukan? Lepaskan pisau itu” seru evan berusaha terdengar tenang.

“jangan mendekat” teriak reyna serak, napas reyna semakin memburu dan tatapannya meredup.

“jangan mendekat atau aku mencoba membunuh diriku sendiri” mendengar ancaman reyna membuat evan merasa takut, takut apabila gadis itu benar-benar nekad.

“jangan bodoh rey” ucap evan dengan nada sedikit meninggi.

Reyna kembali menggoreskan lengannya dengan pisau dan memekik kesakitan, darah mengalir dari lengan reyna, menetes ke lantai.

Jonathan masuk ketika mendengar pekikan reyna dan terkejut melihat reyna berdarah sambil memegangi pisau buah.

“ya tuhan, lepaskan pisau itu reyna, apa yang kau lakukan?” ujar jonathan panik.

“aku tidak bisa mengalihkan gairahku” guman pelan reyna sambil meringis sakit.

Evan melangkah mendekati reyna.

“jangan mendekatiku”.


Reyna memotong pergelangan tangannya dan darah segar memuncrat keluar. Evan segera memegangi pisau itu dengan tangannya lalu membuangnya. Kesadaran reyna berlahan menghilang dan gelap, reyna terkulai di pelukan evan.

Bersambung ke Part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar