/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 09 Juli 2013

Falls To the Troblemaker Part 1

Reyna duduk gelisah di kursi lorong rumah sakit, sesekali memandang ke ruang pasien tempat laki-laki yang ditolongnya diperiksa, belum ada tanda-tanda dokter akan keluar ruangan membuat reyna menggenggam erat tangannya sendiri.

Reyna begitu cemas, kejadian ini sama persis seperti kejadian yang menimpa orangtuanya dulu, tubuh reyna gemetar mengingat masa lalunya. Reyna memilih menundukkan kepalanya menatap lantai rumah sakit.

Sebuah sentuhan di pundak membuat reyna mendongak dan melihat seorang pria tersenyum padanya.

“kau yang menelponku tadi?” tanya pria itu
“benar paman” kata reyna pelan
“terima kasih telah menolong keponakan saya”. Reyna membungkukkan kepala.
“saya permisi paman”. Reyna melangkah pelan menjauhi pria tersebut dengan langkah pelan.

Reyna terduduk dibangku taman rumah sakit, tangannya masih bergetar. Reyna bernapas dengan tersendat-sendat, kecelakaan itu tepat di depannya. Luka lama yang reyna tutupi dengan baik menguak kembali. Kecelakaan orangtuanya. Ingatan tentang kecelakaan itu masih jelas di otak reyna  seperti baru terjadi kemarin hari.

Tidak kuat menahan luka dihatinya, reyna menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sendirian di taman rumah sakit.


***

Evan membuka matanya dengan perlahan, menyesuaikan kornea mata dengan cahaya terang ruangan yang serba berwarna putih.

“kau sudah sadar evan” kata pria disampingnya.

Jonathan-paman evan-melihat evan dengan cemas. Evan mencoba untuk duduk ditempat tidur yang dibantu oleh pamannya.

“apa yang terjadi?” tanya evan pelan

“kau kecelakaan, apa yang kau pikirkan sampai menabrak pohon?” tanya jonathan dengan pandangan kesal

Evan hanya menggelengkan kepalanya.

“beruntung kau ditolong cepat oleh seorang gadis... ya tuhan, aku lupa menanyakan namanya” ujar jonathan sambil menepuk dahinya.

“seorang gadis?” tanya evan bingung

Jonathan mengangguk.

“gadis itu melihatmu kecelakaan dan langsung membawamu ke rumah sakit, dia benar-benar gadis yang baik” ujar jonathan sambil tersenyum lembut

Evan hanya tertawa mendengus mendengar kata-kata pamannya. Wanita baik. Tidak ada wanita baik di dunia. Guman evan dalam hati

“setelah sembuh nanti, kau harus mengucapkan terima kasih kepada gadis itu karena telah menolongmu” ujar jonathan kemudian mulai menekan tombol di teleponnya dan menjauhi evan untuk berbicara.

Evan menyeringai. “tentu saja” ucap evan sambil tertawa sinis

***

Reyna menghela napas. Gara-gara ia menolong lelaki yang kecelakaan itu, reyna sangat terlambat masuk kerja yang otomatis membuat sang pemilik resto langsung memarahinya. Beruntung gaji reyna tidak dipotong.

Reyna melirik jam ditangannya kemudian bangkit dari tempat duduknya melangkah ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu memakai pakaian feminim yang sederhana. Reyna menatap dirinya di cermin, gadis itu memiliki bentuk tubuh yang mungil, bibir tipis dan sedikit lesung pipit di pipinya. Setelah selesai berias seadanya. Reyna melangkah keluar dari flat kecilnya menuju sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Pekerjaan keduanya. Pemain piano.

Sesampainya di cafe, reyna disambut hangat oleh pemilik cafe. Seorang wanita yang sudah berumur empat puluhan tersenyum ke arah reyna.

“kau datang juga, mereka sudah tidak sabar ingin melihatmu perform reyna” ucap wanita itu dengan semangat.

Reyna melangkah masuk ke ruang khusus pegawai, membuka loker, meletakkan tasnya kemudian melangkah masuk ke panggung. Suara tepuk tangan memenuhi restoran tersebut, reyna duduk di bangku piano, mengambil napas pelan kemudian menempatkan jari-jarinya di tuts tuts piano dan mulai memainkan nada.

Suara dentingan piano terdengar lembut di jari reyna, semua pengunjung restoran menikmati pertunjukan piano yang reyna bawakan. Reyna sendiri sangat senang dengan pekerjaan ini, memainkan piano dihadapan banyak orang adalah impiannya. Bahkan reyna bermimpi duduk di depan piano klasik disebuah panggung besar. Memainkan piano dengan handal.

Reyna mengakhiri pertunjukannya dengan nada pelan yang lembut, terdengar tepuk tangan dari para pengunjung. Reyna bangkit dari bangku piano dan membungkuk ke arah pengunjung restoran kemudian turun dari panggung.

“kau selalu menjadi yang terhebat” puji pemilik cafe

“terima kasih nyonya emma” ujar reyna sambil tersenyum.

Reyna duduk sambil menyesap kopinya, menatap ke luar cafe memandang gelapnya malam yang diterangi oleh beberapa lampu kecil.

***

Jonathan melihat pertunjukan reyna dari awal dengan tersenyum bangga. Gadis baik itu rupanya sangat jenius, memainkan melodi-melodi sederhana yang terdengar lembut ditelinga. Jonathan meneliti dengan baik kehidupan reyna. Jonathan menghampiri seorang pelayan yang sedang sibuk membersihkan meja, memanggil pelayan itu kemudian menyerahkan amplop putih untuk diserahkan kepada reyna.

“katakan ini dari penggemarnya” ujar jonathan sambil memberi tips kepada pelayan.

Sang pelayan tersenyum dan mengangguk, menghampiri reyna yang sedang memandang ke taman di luar cafe.

“nona reyna” panggilan pelayan itu membuat pandangan reyna teralihkan.

“ada yang bisa dibantu?” tanya reyna

Sang pelayan menyerahkan amplop putih yang diberikan jonathan dan mengatakan bahwa itu dari penggemarnya seraya menunjukkan ke tempat jonathan berada, reyna bingung. Tidak ada siapa-siapa di tempat yang ditunjukkan oleh sang pelayan.

“maaf, tadi ada seorang pria umur tiga puluhan berdiri disana” jelas sang pelayan dengan salah tingkah.

Reyna hanya tersenyum dan mengangguk.

Sepeninggal pelayan itu, mata reyna menatap amplop di tangannya, membukanya dan terkejut melihat isi amplop.

“ini uang yang sangat banyak” guman reyna pelan

Tangan reyna memegang cek yang terisi dengan delapan digit angka. Mata reyna menjelajahi cafe dengan cepat, namun tidak ada ciri-ciri pria yang disebutkan oleh pelayan tadi.

Dengan hati-hati reyna kembali memasukkan cek tersebut ke dalam amplop kemudian beranjak dari tempat duduknya.

***

Evan melirik jamnya dengan tidak sabar, orang yang ditunggu-tunggunya belum juga muncul membuat evan mengerang pelan. Jonathan berjalan dengan tenang tanpa rasa bersalah ke arah evan, tidak peduli dengan tatapan evan yang menatap tajam ke arahnya.

“bagus, terlambat tiga puluh menit” ujar evan dengan sinis
Jonathan mengangkat bahunya dengan acuh.
“aku ada urusan” kata jonathan singkat

Evan mendengus pelan dan mulai masuk ke mobil duduk di samping bangku kemudi. Jonathan melajukan mobilnya.

“di sana ada informasi tentang gadis yang menolongmu” kata jonathan tanpa memandang evan.

Evan mengambil beberapa berkas diatas dashboard yang jonathan maksud dan mulai membacanya kemudian tersenyum sinis.

“dia anak yatim piatu dan sekarang tinggal di flat kecil?” tanya evan dengan nada ejekan.

Jonathan mengangguk seraya memandang lurus ke depan.

“Jelas apa niatnya” guman evan pelan, matanya menyusuri kembali berkas yang sedari ia baca. Dahinya berkerut.

“disini tidak disebutkan namanya” ujar evan heran

“namanya reyna” ujar jonathan

Reyna, ulang evan dalam hati.

***

Reyna menghempas tubuhnya di atas tempat tidur single, tulangnya terasa seperti dilolosi dari tubuhnya. Menjadi pramusaji di restoran membuat badan reyna terasa remuk, meskipun resto tersebut kecil namun pelanggan yang datang seakan tidak ada habisnya. Diliriknya jam dinding. Sudah siang hari, waktunya reyna mengajar di panti asuhan tempat reyna tinggal dulu. Mengajar apapun yang ia bisa, mulai dari menggambar ataupun bernyanyi bersama. Semua ia lakukan dengan sukarela.

Dilajukannya skuter kesayangannya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan reyna terus mengingat kenangannya bersama dengan anak panti lainnya, hampir semua anak panti bernasib sama dengannya, membuat reyna berpikir bahwa tidak ada kebahagian tanpa adanya penderitaan.

Carolina, sang pemilik panti tersenyum melihat reyna. Anak kesayangannya itu tumbuh menjadi wanita cantik dan manis.

“apa kabar rey?” tanya carolina dengan hangat

“baik mama” ucap reyna sambil memeluk carolina.

Mereka berangkulan memasuki panti.

***

Evan sedang mengamati seluruh ruangan resto tempat reyna bekerja. Sebuah resto yang menyajikan sarapan pagi untuk orang-orang yang tidak sempat memasak atau sekedar ingin mencoba kuliner yang dihidangkan oleh resto tersebut. Dilirik jamnya, jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, evan mengernyit. Sepagi ini sudah ada yang bekerja mencari nafkah. Evan orang yang pekerja keras, oleh karena itu ia merasa sedikit mengerti bagaimana orang-orang rela bangun pagi hanya untuk mencari sesuap nasi.

Sang gadis mulai menampakkan dirinya, evan menatap dan terus menatap reyna yang sedang menghidangkan sarapan untuk sebuah keluarga seraya tersenyum manis. Evan kembali mengernyitkan dahinya.

manis ?

Setelah ditelusiri kembali, reyna memang gadis yang manis. Rambutnya digulung ke atas tengkuk yang dijepit dengan tusuk konde membuatnya tampak dewasa.

Reyna mengangkat piring-piring kotor diatas meja, berjalan melewati beberapa pelanggan dengan langkah hati-hati, menjaga piring-piring yang sedang dibawanya tetap seimbang. Sebuah tangan mencekal lengan reyna, membuat reyna hampir menjatuhkan piringnya dan memekik ringan. Ditolehnya ke samping dan melihat seorang pemuda dengan kemeja santai sedang menatap intens kepadanya.

Laki-laki itu!

Seorang pemuda yang ditolong reyna sewaktu kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Reyna melepaskan cekalan evan dan kemudian membungkuk pelan.

“permisi” ujar reyna pelan sambil tersenyum.

Namun evan kembali mencekal lengan reyna, membuat reyna menghela napas dan menoleh kembali ke arah lelaki itu.

“maaf, biarkan aku bawakan piring-piring ini dulu ke belakang, ini berat” ujar reyna membuat cekalan evan terlepas. Lelaki itu baru menyadari piring-piring itu.

Reyna melangkah dengan buru-buru menuju belakang resto dan meletakkan piring-piring itu di tempat cucu piring, menggulung kemeja lusuhnya dan mulai mencuci piring satu persatu.

Evan berdecak pelan dan melirik jamnya. Gadis itu bilang sebentar namun evan sudah menunggu hampir satu jam. Evan kembali menoleh ke belakang resto menunggu reyna kembali ke tempatnya, namun yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya membuat evan emosi.

Dia kira siapa dirinya, berani-beraninya membuat aku menunggu, guman kesal evan dalam hati.

Evan bangkit dari tempat duduknya  menghampiri salah satu pelayan resto dan menanyakan dimana reyna berada. Sang pelayan menunjuk ke belakang resto, tanpa pikir panjang evan langsung melangkah menuju belakang resto dengan langkah lebar. Beberapa pelayan saling berpandangan melihat evan. Namun memilih mengangkat bahu dengan acuh seraya melanjutkan pekerjaan mereka.

***

“apa yang kau lakukan?” suara tempat dibelakang membuat reyna menjatuhkan gelas yang sedang dicucinya, beruntung sang gelas tidak pecah. Reyna menghela napas panjang, gadis itu paling tidak suka dikejuti membuat emosi yang sedari tadi ditahannya menyeruak keluar.

Reyna membersihkan tangannya dan menoleh ke arah evan.

“ada yang bisa dibantu?” tanya reyna berusaha sesopan mungkin.

Evan tersenyum mengejek. Gadis itu pura-pura tidak tahu, pikirnya.

“jelas, aku kesini untuk membalas atas kebaikanmu padaku, aku tidak suka berhutang budi terhadap orang lain”. Ujar evan sambil menyusupkan tangannya ke saku celana.

Evan mengeluarkan amplop berwarna putih dan menyodorkannya ke arah reyna. Gadis itu mengernyit.
“apa ini?” tanya reyna bingung.

Masih pura-pura, guman evan dalam hati dengan nada mengejek.

“tentu saja imbalanmu, bukankah kau menolongku untuk mengharapkan ini?” tanya evan sambil tersenyum mengejek.

Akhirnya reyna mengerti. Gadis tersenyum ke arah evan, menampakkan lesung pipitnya yang sedikit dalam.

“maaf, aku menolongmu tulus, tidak mengharapkan apapun” ujar reyna.

“kau merasa kurang? Aku bisa memberikan lebih banyak lagi, ayolah... jangan munafik”. Ucapan evan membuat reyna menggertakkan giginya dengan kesal.

“aku merasa tersanjung karena kau mau mengeluarkan uangmu lebih banyak lagi, namun aku tidak membutuhkannya, mungkin ada satu...” ujar reyna sambil mengetuk-ngetukkan dagunya sambil memandang ke arah evan.

Evan menyeringai. Akhirnya sifat aslinya keluar, pikir evan

“kau hanya perlu mengucapkan terima kasih dan tersenyum, itu saja”. Kalimat reyna membuat senyuman menyeringai evan menghilang.

Beberapa saat evan kembali tersenyum sinis.

“aku tidak terbiasa dengan ucapan itu. Ucapan itu hanya untuk orang lemah” ujar evan tenang.

Reyna yang mendengarnya memandang evan dengan tatapan tajam. Apa maksudnya? Laki-laki ini sangat angkuh, reyna mengomeli evan diam-diam dalam hati.

“baiklah, tidak ucapkan terima kasih juga tidak apa-apa, permisi”. Reyna memilih untuk tidak berdebat dengan evan karena masih menjadi pengunjung di restonya. Ia hanya tidak ingin mendapatkan masalah lagi dari bosnya.

Reyna melangkah, namun lagi-lagi lengannya kembali dicekal membuat reyna muak, ditepisnya tangan evan dengan kasar.

“maafkan aku” ucap reyna ketika menyadari perbuatannya. Pelanggan adalah raja, pelanggan adalah raja, reyna mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.

“aku harus pergi, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan” ujar reyna seraya melangkah ke depan resto.

“berhenti bersikap sok tulus, aku muak melihatnya”. Kata-kata evan membuat reyna terpaku. Tangan reyna terkepal kuat menahan emosinya.

Reyna membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke arah evan, berdiri tepat di depan evan sembari menatap evan dengan tatapan tajam.

“aku tidak tahu apa masalahmu, aku benar-benar tidak membutuhkan uangmu, jadi jika kau ingin menghambur-hamburkan uangmu. Bukan aku tempatnya, karena masih banyak di luar sana yang lebih membutuhkan uangmu dari pada aku, permisi” setelah mengatakannya, reyna melangkah lebar ke depan resto, meninggalkan evan yang mematung karena ucapan reyna.

***

Reyna melangkah ke panggung kecil di restoran tempatnya bekerja, duduk dan menempatkan sepuluh jari-jarinya di atas tuts piano dengan pelan, memainkan nada-nada dengan sepenuh hati, melodi-melodi hangat terdengar seantero restoran dengan lembut, sesekali reyna memenjamkan matanya menikmati melodi tersebut dengan tersenyum manis. Setelah beberapa lama reyna mengakhiri pertunjukkan kecilnya dengan nada akhiran pelan dan suara tepuk tangan meramaikan restoran ketika reyna membungkuk hormat ke arah pengunjung restoran. Ketika badannya kembali tegak, tatapan reyna langsung bertemu dengan mata biru evan yang sedari awal menonton pertunjukkan reyna. Lelaki itu duduk di sudut ruangan, menatap reyna sambil tersenyum sinis, reyna mengeryitkan dahinya.

Untuk apa lelaki itu menemuinya lagi, pikir reyna

Emma menghampiri reyna dengan senyuman lebar, reyna juga tersenyum, wanita yang hampir paruh baya ini hangat dan ramah padanya, setidaknya membuat reyna dapat sedikit melupakan kekesalannya selama satu hari ini ia rasakan.

Emma sendiri menganggap reyna sebagai teman dan anaknya sendiri, semenjak gadis itu datang ke restoran, dengan polosnya meminta emma supaya bisa mempekerjakan dirinya, bahkan rela menjadi tukang cuci piring, namun ketika waktu itu tidak ada penghibur di restoran, reyna mengatakan bahwa ia bisa bermain piano, ajaibnya persentase pengunjung semenjak reyna tampil di pangggung kecilnya meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Gadis di depannya itu mempunyai bakat yang istimewa. Terbukti ketika reyna pertama kali memainkan piano dihadapan dirinya dan pengunjung, semuanya tersihir oleh melodi yang dimainkan oleh reyna. Dan ketika itu dengan optimis emma meminta reyna untuk bekerja untuknya.

“ada yang ingin bertemu denganmu” ujar emma sambil tersenyum.

Reyna hanya tersenyum, ia sudah tahu siapa yang ingin bertemu dengannya, siapa lagi kalau bukan laki-laki bermata biru itu, pikirnya. Reyna melangkah menghampiri evan yang sedang menikmati kopinya dengan tatapan datar. Secara fisik lelaki itu sangat menarik di mata reyna, wajah, mata dan tubuh laki-laki itu yang atletis menjadikannya sebagai tolak ukur bagi wanita manapun dalam memilih pasangan, namun mengingatkan betapa angkuhnya lelaki bermata biru itu membuat penilaian reyna jatuh di angka 5. Angka standar bukan?. Mungkin ia, tetapi cukup buruk untuk suatu penilaian.

“ada yang bisa di ban...” ucapan reyna berhenti ketika evan melemparkan segepok uang ke atas meja, beberapa lembar uang keluar dari amplop. Memperlihatkan bahwa lelaki itu hanya tau,  uang dapat menyelesaikan semua masalah.

“itu sudah ku tambahkan, dan kalau kau masih kekurangan kau bisa menghubungiku” ujar evan tenang.

Reyna memenjamkan matanya seraya menahan kuat amarah yang sedang membara dalam hatinya, menarik napas pelan dan menghela napas panjang. Bagaimana mungkin ada lelaki seperti ini, pikir reyna.
“maaf sekali lagi, aku benar-benar tidak membutuhkan uangmu tuan, bisa kah kau mengerti itu?” ujar reyna denga nada sindiran halus.

Evan hanya tertawa pelan. Gadis itu menyindirnya dengan baik. Terdengar jelas dari kata-kata yang diucapkannya.

“kau bekerja di dua tempat dalam sehari, menurutku kau sangat membutuhkan uangku” ujar evan dengan nada datar namun tersirat cemoohan di dalamnya.

“terima kasih, tapi aku...”

“kau yatim piatu bukan? Mengapa kau begitu keras kepala, kau hanya perlu mengambil uang itu dan urusan kita selesai” evan memotong kata-kata reyna dengan pandangan yang mencemooh.

Reyna mematung mendengar kata-kata evan, apa maksudnya? orangtuanya tidak ada hubungannya dengan ini. rasa kesal yang reyna tahan selama dari tadi pagi berubah menjadi sedikit kebencian terhadap evan. Tau apa laki-laki itu pada kehidupannya?.

Reyna mengambil uang itu, sedikit meremasnya dengan kesal, mengambil tangan evan dan meletakkan uang itu ke genggaman evan, kemudian tanpa kata reyna melangkah pergi.

Evan kembali mematung pada perlakuan reyna, ada perasaan berdesir dalam hati evan sewaktu gadis itu memegang tangannya. Ia sendiri tidak tau perasaan apa itu. evan hanya mengangkat acuh bahunya.

***

Evan memandangi langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang, gadis itu, bagaimana bisa gadis itu mengacuhkan uangnya yang begitu banyak dengan tenang dan tersenyum seperti itu, tidak. Tidak mungkin ada orang yang tulus di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang tamak yang selalu mengharapkan uangnya. Evan tidak menduga ada orang yang mengacuhkan uangnya begitu saja, selama ini begitulah caranya berterima kasih. Memberikan segepok uang kepada orang-orang yang membantunya ataupun menolong nyawanya seperti yang reyna lakukan. Mereka pun menerimanya dengan senang hati karena memang itulah yang diharapkan oleh mereka. Tetapi gadis berlesung pipit itu mengabaikannya begitu saja, evan berpikir uang yang diberikan olehnya sudah cukup banyak untuk gadis miskin seperti reyna bahkan beberapa pasang mata teralihkan ke tempat uang itu berada, namun tidak dengan gadis itu.

Apakah gadis itu tidak mau menerimanya dengan Cuma-Cuma?, pikir evan

Senyum evan mengembang mendapatkan solusi itu, ia menyeringai ke arah langit-langit kamar sambil menjetikkan jarinya.


Pasti, pasti begitu, benak evan dalam hati

Bersambung ke Part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar