Reyna duduk gelisah di kursi lorong
rumah sakit, sesekali memandang ke ruang pasien tempat laki-laki yang
ditolongnya diperiksa, belum ada tanda-tanda dokter akan keluar ruangan membuat
reyna menggenggam erat tangannya sendiri.
Reyna begitu cemas, kejadian ini sama
persis seperti kejadian yang menimpa orangtuanya dulu, tubuh reyna gemetar
mengingat masa lalunya. Reyna memilih menundukkan kepalanya menatap lantai
rumah sakit.
Sebuah sentuhan di pundak membuat reyna
mendongak dan melihat seorang pria tersenyum padanya.
“kau yang menelponku tadi?” tanya pria
itu
“benar paman” kata reyna pelan
“terima kasih telah menolong keponakan
saya”. Reyna membungkukkan kepala.
“saya permisi paman”. Reyna melangkah
pelan menjauhi pria tersebut dengan langkah pelan.
Reyna terduduk dibangku taman rumah
sakit, tangannya masih bergetar. Reyna bernapas dengan tersendat-sendat,
kecelakaan itu tepat di depannya. Luka lama yang reyna tutupi dengan baik
menguak kembali. Kecelakaan orangtuanya. Ingatan tentang kecelakaan itu masih
jelas di otak reyna seperti baru terjadi
kemarin hari.
Tidak kuat menahan luka dihatinya, reyna
menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sendirian di
taman rumah sakit.
***
Evan membuka matanya dengan perlahan,
menyesuaikan kornea mata dengan cahaya terang ruangan yang serba berwarna
putih.
“kau sudah sadar evan” kata pria
disampingnya.
Jonathan-paman evan-melihat evan dengan
cemas. Evan mencoba untuk duduk ditempat tidur yang dibantu oleh pamannya.
“apa yang terjadi?” tanya evan pelan
“kau kecelakaan, apa yang kau pikirkan
sampai menabrak pohon?” tanya jonathan dengan pandangan kesal
Evan hanya menggelengkan kepalanya.
“beruntung kau ditolong cepat oleh
seorang gadis... ya tuhan, aku lupa menanyakan namanya” ujar jonathan sambil
menepuk dahinya.
“seorang gadis?” tanya evan bingung
Jonathan mengangguk.
“gadis itu melihatmu kecelakaan dan
langsung membawamu ke rumah sakit, dia benar-benar gadis yang baik” ujar
jonathan sambil tersenyum lembut
Evan hanya tertawa mendengus mendengar
kata-kata pamannya. Wanita baik. Tidak
ada wanita baik di dunia. Guman evan dalam hati
“setelah sembuh nanti, kau harus
mengucapkan terima kasih kepada gadis itu karena telah menolongmu” ujar
jonathan kemudian mulai menekan tombol di teleponnya dan menjauhi evan untuk
berbicara.
Evan menyeringai. “tentu saja” ucap evan
sambil tertawa sinis
***
Reyna menghela napas. Gara-gara ia
menolong lelaki yang kecelakaan itu, reyna sangat terlambat masuk kerja yang
otomatis membuat sang pemilik resto langsung memarahinya. Beruntung gaji reyna
tidak dipotong.
Reyna melirik jam ditangannya kemudian
bangkit dari tempat duduknya melangkah ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya
lalu memakai pakaian feminim yang sederhana. Reyna menatap dirinya di cermin,
gadis itu memiliki bentuk tubuh yang mungil, bibir tipis dan sedikit lesung
pipit di pipinya. Setelah selesai berias seadanya. Reyna melangkah keluar dari
flat kecilnya menuju sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Pekerjaan keduanya.
Pemain piano.
Sesampainya di cafe, reyna disambut
hangat oleh pemilik cafe. Seorang wanita yang sudah berumur empat puluhan
tersenyum ke arah reyna.
“kau datang juga, mereka sudah tidak
sabar ingin melihatmu perform reyna” ucap wanita itu dengan semangat.
Reyna melangkah masuk ke ruang khusus
pegawai, membuka loker, meletakkan tasnya kemudian melangkah masuk ke panggung.
Suara tepuk tangan memenuhi restoran tersebut, reyna duduk di bangku piano,
mengambil napas pelan kemudian menempatkan jari-jarinya di tuts tuts piano dan
mulai memainkan nada.
Suara dentingan piano terdengar lembut
di jari reyna, semua pengunjung restoran menikmati pertunjukan piano yang reyna
bawakan. Reyna sendiri sangat senang dengan pekerjaan ini, memainkan piano
dihadapan banyak orang adalah impiannya. Bahkan reyna bermimpi duduk di depan
piano klasik disebuah panggung besar. Memainkan piano dengan handal.
Reyna mengakhiri pertunjukannya dengan
nada pelan yang lembut, terdengar tepuk tangan dari para pengunjung. Reyna
bangkit dari bangku piano dan membungkuk ke arah pengunjung restoran kemudian
turun dari panggung.
“kau selalu menjadi yang terhebat” puji
pemilik cafe
“terima kasih nyonya emma” ujar reyna
sambil tersenyum.
Reyna duduk sambil menyesap kopinya,
menatap ke luar cafe memandang gelapnya malam yang diterangi oleh beberapa
lampu kecil.
***
Jonathan melihat pertunjukan reyna dari
awal dengan tersenyum bangga. Gadis baik itu rupanya sangat jenius, memainkan
melodi-melodi sederhana yang terdengar lembut ditelinga. Jonathan meneliti
dengan baik kehidupan reyna. Jonathan menghampiri seorang pelayan yang sedang
sibuk membersihkan meja, memanggil pelayan itu kemudian menyerahkan amplop
putih untuk diserahkan kepada reyna.
“katakan ini dari penggemarnya” ujar
jonathan sambil memberi tips kepada pelayan.
Sang pelayan tersenyum dan mengangguk,
menghampiri reyna yang sedang memandang ke taman di luar cafe.
“nona reyna” panggilan pelayan itu
membuat pandangan reyna teralihkan.
“ada yang bisa dibantu?” tanya reyna
Sang pelayan menyerahkan amplop putih
yang diberikan jonathan dan mengatakan bahwa itu dari penggemarnya seraya
menunjukkan ke tempat jonathan berada, reyna bingung. Tidak ada siapa-siapa di
tempat yang ditunjukkan oleh sang pelayan.
“maaf, tadi ada seorang pria umur tiga
puluhan berdiri disana” jelas sang pelayan dengan salah tingkah.
Reyna hanya tersenyum dan mengangguk.
Sepeninggal pelayan itu, mata reyna
menatap amplop di tangannya, membukanya dan terkejut melihat isi amplop.
“ini uang yang sangat banyak” guman
reyna pelan
Tangan reyna memegang cek yang terisi
dengan delapan digit angka. Mata reyna menjelajahi cafe dengan cepat, namun
tidak ada ciri-ciri pria yang disebutkan oleh pelayan tadi.
Dengan hati-hati reyna kembali
memasukkan cek tersebut ke dalam amplop kemudian beranjak dari tempat duduknya.
***
Evan melirik jamnya dengan tidak sabar,
orang yang ditunggu-tunggunya belum juga muncul membuat evan mengerang pelan. Jonathan
berjalan dengan tenang tanpa rasa bersalah ke arah evan, tidak peduli dengan
tatapan evan yang menatap tajam ke arahnya.
“bagus, terlambat tiga puluh menit” ujar
evan dengan sinis
Jonathan mengangkat bahunya dengan acuh.
“aku ada urusan” kata jonathan singkat
Evan mendengus pelan dan mulai masuk ke
mobil duduk di samping bangku kemudi. Jonathan melajukan mobilnya.
“di sana ada informasi tentang gadis
yang menolongmu” kata jonathan tanpa memandang evan.
Evan mengambil beberapa berkas diatas
dashboard yang jonathan maksud dan mulai membacanya kemudian tersenyum sinis.
“dia anak yatim piatu dan sekarang
tinggal di flat kecil?” tanya evan dengan nada ejekan.
Jonathan mengangguk seraya memandang
lurus ke depan.
“Jelas apa niatnya” guman evan pelan,
matanya menyusuri kembali berkas yang sedari ia baca. Dahinya berkerut.
“disini tidak disebutkan namanya” ujar
evan heran
“namanya reyna” ujar jonathan
Reyna, ulang evan
dalam hati.
***
Reyna menghempas tubuhnya di atas tempat
tidur single, tulangnya terasa seperti dilolosi dari tubuhnya. Menjadi
pramusaji di restoran membuat badan reyna terasa remuk, meskipun resto tersebut
kecil namun pelanggan yang datang seakan tidak ada habisnya. Diliriknya jam
dinding. Sudah siang hari, waktunya reyna mengajar di panti asuhan tempat reyna
tinggal dulu. Mengajar apapun yang ia bisa, mulai dari menggambar ataupun
bernyanyi bersama. Semua ia lakukan dengan sukarela.
Dilajukannya skuter kesayangannya dengan
kecepatan sedang, sepanjang perjalanan reyna terus mengingat kenangannya
bersama dengan anak panti lainnya, hampir semua anak panti bernasib sama
dengannya, membuat reyna berpikir bahwa tidak ada kebahagian tanpa adanya
penderitaan.
Carolina, sang pemilik panti tersenyum
melihat reyna. Anak kesayangannya itu tumbuh menjadi wanita cantik dan manis.
“apa kabar rey?” tanya carolina dengan
hangat
“baik mama” ucap reyna sambil memeluk
carolina.
Mereka berangkulan memasuki panti.
***
Evan sedang mengamati seluruh ruangan
resto tempat reyna bekerja. Sebuah resto yang menyajikan sarapan pagi untuk
orang-orang yang tidak sempat memasak atau sekedar ingin mencoba kuliner yang
dihidangkan oleh resto tersebut. Dilirik jamnya, jam masih menunjukkan pukul
tujuh pagi, evan mengernyit. Sepagi ini sudah ada yang bekerja mencari nafkah. Evan
orang yang pekerja keras, oleh karena itu ia merasa sedikit mengerti bagaimana
orang-orang rela bangun pagi hanya untuk mencari sesuap nasi.
Sang gadis mulai menampakkan dirinya,
evan menatap dan terus menatap reyna yang sedang menghidangkan sarapan untuk
sebuah keluarga seraya tersenyum manis. Evan kembali mengernyitkan dahinya.
manis
?
Setelah ditelusiri kembali, reyna memang
gadis yang manis. Rambutnya digulung ke atas tengkuk yang dijepit dengan tusuk
konde membuatnya tampak dewasa.
Reyna mengangkat piring-piring kotor
diatas meja, berjalan melewati beberapa pelanggan dengan langkah hati-hati,
menjaga piring-piring yang sedang dibawanya tetap seimbang. Sebuah tangan
mencekal lengan reyna, membuat reyna hampir menjatuhkan piringnya dan memekik
ringan. Ditolehnya ke samping dan melihat seorang pemuda dengan kemeja santai
sedang menatap intens kepadanya.
Laki-laki
itu!
Seorang pemuda yang ditolong reyna sewaktu
kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Reyna melepaskan cekalan evan dan kemudian
membungkuk pelan.
“permisi” ujar reyna pelan sambil
tersenyum.
Namun evan kembali mencekal lengan
reyna, membuat reyna menghela napas dan menoleh kembali ke arah lelaki itu.
“maaf, biarkan aku bawakan piring-piring
ini dulu ke belakang, ini berat” ujar reyna membuat cekalan evan terlepas.
Lelaki itu baru menyadari piring-piring itu.
Reyna melangkah dengan buru-buru menuju
belakang resto dan meletakkan piring-piring itu di tempat cucu piring,
menggulung kemeja lusuhnya dan mulai mencuci piring satu persatu.
Evan berdecak pelan dan melirik jamnya.
Gadis itu bilang sebentar namun evan sudah menunggu hampir satu jam. Evan
kembali menoleh ke belakang resto menunggu reyna kembali ke tempatnya, namun
yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya membuat evan emosi.
Dia
kira siapa dirinya, berani-beraninya membuat aku menunggu, guman kesal
evan dalam hati.
Evan bangkit dari tempat duduknya menghampiri salah satu pelayan resto dan
menanyakan dimana reyna berada. Sang pelayan menunjuk ke belakang resto, tanpa
pikir panjang evan langsung melangkah menuju belakang resto dengan langkah
lebar. Beberapa pelayan saling berpandangan melihat evan. Namun memilih
mengangkat bahu dengan acuh seraya melanjutkan pekerjaan mereka.
***
“apa yang kau lakukan?” suara tempat
dibelakang membuat reyna menjatuhkan gelas yang sedang dicucinya, beruntung
sang gelas tidak pecah. Reyna menghela napas panjang, gadis itu paling tidak
suka dikejuti membuat emosi yang sedari tadi ditahannya menyeruak keluar.
Reyna membersihkan tangannya dan menoleh
ke arah evan.
“ada yang bisa dibantu?” tanya reyna
berusaha sesopan mungkin.
Evan tersenyum mengejek. Gadis itu pura-pura tidak tahu,
pikirnya.
“jelas, aku kesini untuk membalas atas
kebaikanmu padaku, aku tidak suka berhutang budi terhadap orang lain”. Ujar
evan sambil menyusupkan tangannya ke saku celana.
Evan mengeluarkan amplop berwarna putih
dan menyodorkannya ke arah reyna. Gadis itu mengernyit.
“apa ini?” tanya reyna bingung.
Masih
pura-pura,
guman evan dalam hati dengan nada mengejek.
“tentu saja imbalanmu, bukankah kau
menolongku untuk mengharapkan ini?” tanya evan sambil tersenyum mengejek.
Akhirnya reyna mengerti. Gadis tersenyum
ke arah evan, menampakkan lesung pipitnya yang sedikit dalam.
“maaf, aku menolongmu tulus, tidak
mengharapkan apapun” ujar reyna.
“kau merasa kurang? Aku bisa memberikan
lebih banyak lagi, ayolah... jangan munafik”. Ucapan evan membuat reyna
menggertakkan giginya dengan kesal.
“aku merasa tersanjung karena kau mau
mengeluarkan uangmu lebih banyak lagi, namun aku tidak membutuhkannya, mungkin
ada satu...” ujar reyna sambil mengetuk-ngetukkan dagunya sambil memandang ke
arah evan.
Evan menyeringai. Akhirnya sifat aslinya keluar, pikir evan
“kau hanya perlu mengucapkan terima
kasih dan tersenyum, itu saja”. Kalimat reyna membuat senyuman menyeringai evan
menghilang.
Beberapa saat evan kembali tersenyum
sinis.
“aku tidak terbiasa dengan ucapan itu.
Ucapan itu hanya untuk orang lemah” ujar evan tenang.
Reyna yang mendengarnya memandang evan
dengan tatapan tajam. Apa maksudnya? Laki-laki ini sangat angkuh, reyna mengomeli
evan diam-diam dalam hati.
“baiklah, tidak ucapkan terima kasih
juga tidak apa-apa, permisi”. Reyna memilih untuk tidak berdebat dengan evan karena masih menjadi pengunjung di restonya. Ia hanya tidak ingin mendapatkan
masalah lagi dari bosnya.
Reyna melangkah, namun lagi-lagi
lengannya kembali dicekal membuat reyna muak, ditepisnya tangan evan dengan
kasar.
“maafkan aku” ucap reyna ketika
menyadari perbuatannya. Pelanggan adalah
raja, pelanggan adalah raja, reyna mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.
“aku harus pergi, masih banyak pekerjaan
yang belum aku selesaikan” ujar reyna seraya melangkah ke depan resto.
“berhenti bersikap sok tulus, aku muak
melihatnya”. Kata-kata evan membuat reyna terpaku. Tangan reyna terkepal kuat
menahan emosinya.
Reyna membalikkan tubuhnya dan berjalan
kembali ke arah evan, berdiri tepat di depan evan sembari menatap evan dengan
tatapan tajam.
“aku tidak tahu apa masalahmu, aku
benar-benar tidak membutuhkan uangmu, jadi jika kau ingin menghambur-hamburkan
uangmu. Bukan aku tempatnya, karena masih banyak di luar sana yang lebih
membutuhkan uangmu dari pada aku, permisi” setelah mengatakannya, reyna
melangkah lebar ke depan resto, meninggalkan evan yang mematung karena ucapan
reyna.
***
Reyna melangkah ke panggung kecil di
restoran tempatnya bekerja, duduk dan menempatkan sepuluh jari-jarinya di atas
tuts piano dengan pelan, memainkan nada-nada dengan sepenuh hati, melodi-melodi
hangat terdengar seantero restoran dengan lembut, sesekali reyna memenjamkan
matanya menikmati melodi tersebut dengan tersenyum manis. Setelah beberapa lama
reyna mengakhiri pertunjukkan kecilnya dengan nada akhiran pelan dan suara
tepuk tangan meramaikan restoran ketika reyna membungkuk hormat ke arah
pengunjung restoran. Ketika badannya kembali tegak, tatapan reyna langsung
bertemu dengan mata biru evan yang sedari awal menonton pertunjukkan reyna.
Lelaki itu duduk di sudut ruangan, menatap reyna sambil tersenyum sinis, reyna
mengeryitkan dahinya.
Untuk
apa lelaki itu menemuinya lagi, pikir reyna
Emma menghampiri reyna dengan senyuman
lebar, reyna juga tersenyum, wanita yang hampir paruh baya ini hangat dan ramah
padanya, setidaknya membuat reyna dapat sedikit melupakan kekesalannya selama
satu hari ini ia rasakan.
Emma sendiri menganggap reyna sebagai
teman dan anaknya sendiri, semenjak gadis itu datang ke restoran, dengan
polosnya meminta emma supaya bisa mempekerjakan dirinya, bahkan rela menjadi
tukang cuci piring, namun ketika waktu itu tidak ada penghibur di restoran,
reyna mengatakan bahwa ia bisa bermain piano, ajaibnya persentase pengunjung
semenjak reyna tampil di pangggung kecilnya meningkat seiring dengan
berjalannya waktu. Gadis di depannya itu mempunyai bakat yang istimewa.
Terbukti ketika reyna pertama kali memainkan piano dihadapan dirinya dan
pengunjung, semuanya tersihir oleh melodi yang dimainkan oleh reyna. Dan ketika
itu dengan optimis emma meminta reyna untuk bekerja untuknya.
“ada yang ingin bertemu denganmu” ujar
emma sambil tersenyum.
Reyna hanya tersenyum, ia sudah tahu
siapa yang ingin bertemu dengannya, siapa lagi kalau bukan laki-laki bermata
biru itu, pikirnya. Reyna melangkah menghampiri evan yang sedang menikmati
kopinya dengan tatapan datar. Secara fisik lelaki itu sangat menarik di mata
reyna, wajah, mata dan tubuh laki-laki itu yang atletis menjadikannya sebagai
tolak ukur bagi wanita manapun dalam memilih pasangan, namun mengingatkan
betapa angkuhnya lelaki bermata biru itu membuat penilaian reyna jatuh di angka
5. Angka standar bukan?. Mungkin ia, tetapi cukup buruk untuk suatu penilaian.
“ada yang bisa di ban...” ucapan reyna
berhenti ketika evan melemparkan segepok uang ke atas meja, beberapa lembar
uang keluar dari amplop. Memperlihatkan bahwa lelaki itu hanya tau, uang dapat menyelesaikan semua masalah.
“itu sudah ku tambahkan, dan kalau kau
masih kekurangan kau bisa menghubungiku” ujar evan tenang.
Reyna memenjamkan matanya seraya menahan
kuat amarah yang sedang membara dalam hatinya, menarik napas pelan dan menghela
napas panjang. Bagaimana mungkin ada lelaki seperti ini, pikir reyna.
“maaf sekali lagi, aku benar-benar tidak
membutuhkan uangmu tuan, bisa kah kau mengerti itu?” ujar reyna denga nada
sindiran halus.
Evan hanya tertawa pelan. Gadis itu
menyindirnya dengan baik. Terdengar jelas dari kata-kata yang diucapkannya.
“kau bekerja di dua tempat dalam sehari,
menurutku kau sangat membutuhkan uangku” ujar evan dengan nada datar namun
tersirat cemoohan di dalamnya.
“terima kasih, tapi aku...”
“kau yatim piatu bukan? Mengapa kau
begitu keras kepala, kau hanya perlu mengambil uang itu dan urusan kita
selesai” evan memotong kata-kata reyna dengan pandangan yang mencemooh.
Reyna mematung mendengar kata-kata evan,
apa maksudnya? orangtuanya tidak ada hubungannya dengan ini. rasa kesal yang
reyna tahan selama dari tadi pagi berubah menjadi sedikit kebencian terhadap
evan. Tau apa laki-laki itu pada kehidupannya?.
Reyna mengambil uang itu, sedikit
meremasnya dengan kesal, mengambil tangan evan dan meletakkan uang itu ke
genggaman evan, kemudian tanpa kata reyna melangkah pergi.
Evan kembali mematung pada perlakuan
reyna, ada perasaan berdesir dalam hati evan sewaktu gadis itu memegang
tangannya. Ia sendiri tidak tau perasaan apa itu. evan hanya mengangkat acuh
bahunya.
***
Evan memandangi langit-langit kamarnya
dengan pandangan menerawang, gadis itu, bagaimana bisa gadis itu mengacuhkan
uangnya yang begitu banyak dengan tenang dan tersenyum seperti itu, tidak.
Tidak mungkin ada orang yang tulus di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang
tamak yang selalu mengharapkan uangnya. Evan tidak menduga ada orang yang
mengacuhkan uangnya begitu saja, selama ini begitulah caranya berterima kasih.
Memberikan segepok uang kepada orang-orang yang membantunya ataupun menolong
nyawanya seperti yang reyna lakukan. Mereka pun menerimanya dengan senang hati
karena memang itulah yang diharapkan oleh mereka. Tetapi gadis berlesung pipit
itu mengabaikannya begitu saja, evan berpikir uang yang diberikan olehnya sudah
cukup banyak untuk gadis miskin seperti reyna bahkan beberapa pasang mata
teralihkan ke tempat uang itu berada, namun tidak dengan gadis itu.
Apakah
gadis itu tidak mau menerimanya dengan Cuma-Cuma?, pikir evan
Senyum evan mengembang mendapatkan
solusi itu, ia menyeringai ke arah langit-langit kamar sambil menjetikkan
jarinya.
Pasti,
pasti begitu,
benak evan dalam hati
Bersambung ke Part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar