/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 23 Juli 2013

Name In My Heart Part 1

Bau rumah sakit sangat menyengat di indra penciuman, tetapi tidak menyurutkan rama untuk datang ke tempat tersebut, dengan langkah yang tergesa-gesa rama langsung memasuki ruangan untuk pasien. Tujuannya hanya satu.
Alyssa.
Ketika membuka pintu, pemandangan pertama yang rama lihat adalah seorang gadis terbaring lemah yang dibantu dengan peralatan medis untuk membuatnya tetap bertahan hidup. Rama duduk disamping tempat tidur alyssa, menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan.  Seakan tangan ditengah digenggamnya akan merasa tersakiti oleh hal sekecil apapun.

“maaf...” rama tertunduk sambil mengucapkan kata maaf berkali-kali, menyesali apapun yang telah dilakukakannya. “maafkan aku alys... aku benar-benar minta maaf” suaranya terdengar serak penuh penyesalan. Kemudian tersenyum lembut.“kau tau,, pertama mengenalmu aku langsung jatuh padamu...heh” rama mendengus pelan. “aku tau,, itu terdengar konyol, karna aku sendiri juga tidak percaya yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi...” rama menghela napasnya,, kembali menatap alyssa. matanya yang berwarna coklat terang memandang alyssa dengan kasih sayang yang tidak bisa dibendungnya.
”tapi.. memang itulah yang terjadi...aku jatuh cinta pada senyumanmu alys,,aku...” kalimat itu terhenti ketika rama merasakan pergerakan lembut pada tangannya. Kemudian mendongak melihat alyssa yang mulai menggerakkan mata dengan perlahan, menyesuaikan kornea matanya dengan sinar terang yang melingkupi ruangan tersebut.
“kau... “ suaranya tercekat. Rama menatap alyssa dengan pandangan tidak percaya. Namun tidak berlama dengan keterkejutannya rama langsung memencet tombol yang berada disamping tempat tidur alyssa. beberapa orang memasuki ruangan dengan langkah lebar,
“lyssa,, kau sudah sadar nak?” kata seorang wanita hampir separuh baya seraya menggenggam tangan alyssa dengan mata yang berkaca-kaca. Sedangkan disampingnya terdapat laki-laki yang berpenampilan wibawa yang ikut juga menggenggam tangan alyssa. takut bahwa mereka hanya bermimpi.
Beberapa orang kembali masuk,, tapi kali ini memakai jubah putih panjang sampai ke lutut, dan ada yang berpakaian perawat , rama yang sejak tadi juga berada diruangan tersebut mendadak menjadi orang asing dan memilih berdiri di sudut ruangan tersebut.
“bagaimana kabarmu alyssa?” kata dokter sambil tersenyum ramah. alyssa memegang kepalanya yang berdenyut, kemudian menatap sekeliling ruangan  dengan bingung. Dokter yang melihat tersebut langsung mengerti tatapan alyssa. “kau ada di rumah sakit, kau ingat apa yang terjadi?” kata dokter tersebut.
Tubuh rama tiba-tiba menegang mendengar kalimat tersebut, sungguh ia tidak pernah berpikir kalimat tersebut akan terucapkan, ia hanya tau ketika mendengar alyssa kecelakaan, yang ada dalam pikirannya waktu itu hanya melihat keadaan alyssa, tetapi mendengar kalimat tersebut  bagaimana respon alyssa? benak rama berkecamuk,, pikirannya panik. Namun ia tetap melihat alyssa dengan ekpresi datar. Walaupun mungkin terlihat seperti wajah yang cemas.
“aku... kepalaku berdenyut dok” suara alyssa terdengar lirih dan lemah. Dokter hanya tersenyum ramah. Alyssa kembali melihat sekeliling ruangan dengan ekspresi bingung.
“dok...” suara tercekat, matanya bergerak gelisah seraya menatap sekelilingnya dengan takut. Alyssa merasa asing dengan semuanya. Wanita itu, pria disebelahnya dan beberapa orang lainnya. Keheningan melingkupi ruangan tersebut beberapa saat.
“aku siapa?” akhirnya suara alyssa menyampaikan apa isi pikirannnya. Kening dokter berkerut ketika mendengar pertanyaan alyssa kemudian kembali memasang wajah ramah. Itu salah satu tugasnya... membuat orang percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
“apa maksudmu? Kau tidak mengenali dirimu sendiri?” tanya dokter dengan tenang. Alyssa menggelengkan kepala kemudian tertunduk karena sakit  yang kembali menyerang kepalanya,, hanya beberapa saat ia kembali  mendongak, tepatnya kearah pasangan yang melihatnya dengan terkejut. “kalian siapa?” tanya alyssa kebingungan.
“mereka orangtuamu, kau benar-benar tidak ingat?” tanya dokter kembali. Alyssa menggelengkan kepalanya sambil tetap memandang pasangan yang ada dihadapannya. Ayah dan ibunya.
Air mata yang sedari tadi ditahan oleh mama alyssa langsung tumpah tak terbendung melihat keadaan anaknya. Bahunya terguncang lembut, bahkan ia tidak mampu untuk berkata apapun.
“kau tidak ingat siapa-siapa alyssa?” dokter kembali menanyakannya dengan pertanyaan yang sudah pasti bisa tidak bisa dijawab alyssa. Alyssa memandang ke lantai seraya mengingat hal apa yang mungkin terlintas dipikirannya. Namun tetap kosong. Tidak ada apapun. Semuanya putih. Pasrah. Alyssa menggelengkan  kepalanya.
Rama yang melihat kejadian tersebut juga tercegang. Alyssa hilang ingatan. Hal itu tidak pernah terlintas dalam benaknya sedikitpun. Kemudian dengan cepat wajahnya kembali memasang ekpresi datar.
Aku sudah tamat, guman rama dalam hati.
Mungkin ini yang terbaik membiarkan semuanya kembali seperti awal walaupun dikeadaan awal yang rama pikirkan tidak ada ia didalamnya. rama menelan ludah dengan pahit kemudian meraih gagang pintu.
“rama” panggil alyssa. seketika itu tubuh rama menegang, tangannya tergantung digagang pintu. Tubuhnya mendadak kaku, perlahan rama membalikkan tubuhnya menatap alyssa.
“kau benar rama?” tanya alyssa, ia sendiri masih bingung dengan pertanyaan yang ia lontarkan, ketika tadi menggelengkan kepala, dalam pikiran alyssa terlintas satu nama. Rama. Hanya nama, kemudian ketika melihat seorang pemuda hendak keluar tiba-tiba ia memanggil. Memanggilnya begitu saja. Seolah percaya pada hati yang mendorongnya.
Kalimat alyssa membuat orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut menoleh ke arah rama. Orangtua alyssa terkejut melihat pria itu. Rama.
“kau yang namanya rama?” dokter menanyakan kembali pertanyaan alyssa karena tidak menangkap adanya respon dari orang yang ditanya oleh alyssa.
Rama hanya menggangguk kepala, dan kemudian tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat semua wanita tergila-gila padanya. Perlahan beranjak dari tempatnya berdiri menghampiri alyssa.
“hai” hanya itu yang mampu ia katakan. Keterkejutannya masih ada walaupun berhasil ia atasi. Alyssa hanya tersenyum samar. Kemudian kembali membaringkan tubuhnya.
“sebaiknya alyssa istirahat, dan kami akan menganalisa lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi” kata dokter tetap dengan senyumnya yang ramah.
Semua orang bergegas keluar ketika mendengar nada perintah dari dokter. Mama alyssa menghela napas dan memandang ke ruangan anaknya. Buah hatinya. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh papa alyssa.
Kemudian teringat sesuatu, mama alyssa menatap rama yang berada tidak jauh dari tempatnya berada. Menghampiri rama dengan mata yang menatap tajam. Kenapa pemuda tersebut yang diingat oleh alyssa? kenapa? Berbagai pertanyaan timbul dalam pikiran mama alyssa
“mengapa kau disini?” tanya mama  alyssa menyelidik.
Rama membungkukkan tubuhnya kearah mama alyssa. “aku hanya menjenguknya tante” ujar rama tenang.
“kau masih ingin menjenguknya? Setelah apa yang terjadi?” tanya mama alyssa dengan sinis.
Papa alyssa yang tidak jauh dari tempat rama menyusul istrinya, kemudian merangkul istrinya dengan lembut.
“sudahlah, yang penting sekarang alyssa sudah sadar. itu yang terpentingkan?” ujar papa alyssa dengan penuh ketenangan.
Mata mama alyssa masih menatap rama dengan tajam, walaupun tidak menjawab suaminya, mama alyssa tetap menuruti suaminya berjalan dari tempat rama berada.

@@@

Alyssa memandang langit-langit ruangan dengan kebingungan, ia sangat merasa asing dengan lingkungan ia berada. Bahkan dimanapun ia pasti merasa asing. Apa yang telah terjadi sebenarnya. Walau dokter sudah memberitahunya bahwa ia mengalami kecelakaan, ia masih tetap tidak bisa mencerna kalimat tersebut, mengapa ia bisa kecelakaan? Dan mengapa sekarang ia tidak bisa mengingat apapun, semua yang ada dalam pikirannya berwarna putih, hanya putih.
Suara pintu mengembalikan pikiran alyssa ke dunia nyata, kemudian memiringkan kepalanya melihat siapa yang datang. Rama. Ketika melihat laki-laki itu rasa nyaman tiba-tiba tercipta begitu saja. Alyssa tersenyum ke arah rama.
“hai” kata rama sambil duduk disamping alyssa. alyssa hanya tersenyum, ia menghela napas. Suara pemuda ini terasa menyenangkan, menghilangkan kecemasan yang sedari tadi alyssa rasakan. Alyssa tidak tahu mengapa? Tapi itulah yang terjadi. Suasana canggung menghinggapi ruangan tersebut.
“kau baik-baik saja?” suara rama memecahkan keheningan yang sempat melingkupi ruangan. Alyssa hanya mengangguk. Suasana kembali hening. Rama menghela napas, ia benci suasana hening yang seperti menyayat jiwa baginya. seperti orang yang yang merasa kesepian.
“aku boleh bertanya sesuatu?” kata-kata alyssa membuat lamunan rama buyar. Rama tersenyum sambil mengangguk. “bagaimana hubungan kita? Apakah kita pacaran atau kita sudah...”
“hanya berteman” rama memotong pertanyaan alyssa dengan jawaban singkat. Sekilas ada kilatan kecewa dalam mata alyssa. teman, kenapa hatinya merasa sakit dengan jawaban rama. Entahlah ia sendiri tidak tau mengapa.
“kita berteman baik” suara rama kembali terdengar. Alyssa merasa aneh. ‘teman’ kata-kata itu terasa aneh. Mengapa ia hanya mengingat rama. Mungkinkah rama seseorang yang spesial dalam hidupnya? .
Rama menatap alyssa dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tatapan kasih sayang, penyesalan dan kelegaan bercampur  menjadi satu. Alyssa mencoba untuk tersenyum ramah, walau hati menunjukkan sebaliknya. “bagaimana kita bertemu? Maksudku, bagaimana kita bisa berteman?” tanya alyssa kembali.
Tatapan rama menerawang kedepan. “beberapa bulan yang lalu, ketika aku sedang duduk menikmati kopi soreku di salah satu kafe, sambil memandangi pemandangan, aku melihat seorang gadis dengan sepatunya yang tersangkut di lubang selokan sambil menggerutu panjang” rama tersenyum mengingat pertemuan pertama mereka. “gadis itu dengan rambut panjangnya yang tergerai, wajahnya menampilkan ekpresi marah, dan mata hitamnya yang berkaca-kaca karena usahanya menyelamatkan sang sepatu tidak membuahkan hasil, namun tetap mencoba menarik sepatunya, kemudian aku menghampiri gadis itu seraya menawarkan bantuan, gadis itu hanya diam, aku berjongkok dan langsung menarik sepatu dari selokan dengan perlahan, berhasil. Aku memberikan sepatu tersebut kepada sang gadis, lalu tanpa kata setelah menerima sepatu sang gadis langsung membalikkan badan, lalu pergi begitu saja, itu pertemuan kita yang pertama” ucap rama sambil menatap alyssa.
Dahi alyssa berkerut membayangkan kejadian tersebut. “memalukan” kata alyssa sambil meringis minta maaf kepada rama
“Menurutku itu menarik, pertemuan yang menarik, kemudian kita bertemu lagi di tempat pesta salah satu teman kita, disitu kita berkenalan, waktu itu aku tidak bilang kalau aku pernah bertemu denganmu sebelumnya” rama tersenyum geli melihat ekpresi alyssa. lalu suasana kembali hening.
“kau tau, aku tidak tau mengapa aku hanya bisa mengingatmu, mungkin kau orang yang istimewa dalam hidupku ... seseorang yang spesial, maksudku aku bahkan tidak mengingat orangtuaku sendiri”. Alyssa menatap rama menunggu reaksi pemuda tersebut. Tetapi rama hanya diam.

@@@

Dokter menyerahkan hasil diagnosanya ke papa alyssa.” itu hasil dari diagnosis kami, anak anda alyssa brown mengalami amnesia permanen, seluruh ingatannya hilang akibat benturan yang terjadi saat kecelakaan. Tapi alyssa brown mengingat satu nama itu membuat saya bingung, seharusnya seseorang yang mengalami amnesia permanen akan kehilangan seluruh ingatannya, setelah ini saya akan menganalisa lebih lanjut tentang apa yang terjadi” dokter menjelaskannya dengan rinci. Mama alyssa tidak mendengar penjelasan lebih lanjut dari dokter. Hanya satu kata yang ditanggap oleh telinganya
Amnesia permanen...?bagaimana mungkin?
“Sebaiknya biarkan alyssa dekat dengan pemuda yang bernama rama, karena hanya itulah ingatannya, mungkin dengan itu alyssa bisa kembali mengingat apa yang sudah dilewatinya, walaupun kemungkinannya sangat kecil tapi kita harus tetap mencoba”
Dokter berdiri sembari menjabat tangan papa alyssa.

@@@

Rama meraih gagang pintu kemudian duduk disisi alyssa. tampaknya alyssa tidak menyadari kehadiran rama. Pikiran alyssa melayang entah kemana. Duduk di tempat tidur sambil menatap kakinya. Rama hanya tersenyum. Ketika alyssa duduk sambil menatap jari-jari kakinya berarti alyssa sedang memikirkan sesuatu dengan keras, terlihat dari keningnya yang berkerut.
“apa yang kau pikirkan?”. Alyssa hampir melompat kaget mendengar suara tepat disebelahnya.
“apa yang kau pikirkan?” rama kembali bertanya.
Alyssa kembali melihat kaki-kakinya, menghela napas dan mendongak menatap rama. Kemudian tersenyum tipis. “tidak apa-apa” jawabnya pelan.  Beberapa saat menatap rama kembali dengan kening yang dikerutkan.
“kemana saja kau dua hari ini?” tanya alyssa kesal.
                Rama terkekeh, kemudian mengangkat bahunya. “aku bekerja, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan” jawab rama.
Alyssa hanya mengangguk kepalanya dan menghela napas. Entah sudah berapa kali ia menghela napas dalam satu hari ini.
“kau bosan?” tanya rama sambil menatap alyssa.
Mata coklat terang itu membuat alyssa hanyut dalam tatapan rama. Iris mata rama begitu cantik sehingga setiap orang yang memandang mata tersebut akan betah berlama-lama. Mata yang memberikan kenyamanan. Alyssa tersenyum. Mengganggukkan kepala seraya mengerucutkan bibirnya. Rama mengacak-acak rambut alyssa dengan gemas.

 “baiklah, karena tuan putri bosan berada di kamar terus, saya sebagai pengawal yang baik dan setia akan mengajak sang putri mengelilingi rumah sakit, yah.. kedengerannya menyenangkan” ucap rama sambil mengambil kursi roda di sudut ruangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar