/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Rabu, 10 Juli 2013

Falls To the Troblemaker Part 3

Evan duduk di bangku lorong rumah sakit dengan perasaan campur aduk, ia tidak menyangka reyna bakal menyakiti dirinya sendiri.

Perasaan takut kehilangan memenuhi benak evan, ia tidak tau mengapa, yang evan tau gadis itu harus selamat.

Jonathan yang juga duduk di lorong rumah sakit menghela napas panjang, ingin rasanya memukul keponakannnya, namun melihat keponakananya merasa sangat bersalah dan sangat cemas membuat jonathan mengurungkan niatnya.

 Berjam-jam telah berlalu, tetapi dokter tidak juga keluar dari ruang UGD, membuat evan mengepal kuat tangannya.

Tidak, gadis itu harus selamat, guman evan dalam hati  

Dokter keluar dari ruangan dan menghela napas lega, evan dan jonathan segera menghampiri dokter.

“bagaimana keadaannya dok?” tanya evan dengan cemas

“kondisinya baik-baik saja, luka dipergelangan tangannya tidak sampai memutuskan nadi sehingga gadis itu selamat”

Evan menghela napas lega. Syukurlah gadis itu baik-baik saja. Namun dahi even mengernyit. Bagaimana ia akan menghadapi gadis itu?

Reyna dipindahkan ke ruangan biasa, kesadaran reyna masih belum pulih akibat obat yang disuntikkan dokter.

Evan melangkah masuk, dan memandang reyna yang terbaring lemah dengan pandangan nanar, lelaki itu duduk di kursi samping reyna dan menggengam lembut jemari reyna.

“aku minta maaf, aku menyesal rey” ujar evan dengan bersungguh-sungguh.

“aku... aku tidak tau kau berbeda dengan stephanie” ujar evan pelan, airmata evan mengalir pelan.

“aku minta maaf, aku menyesal karena telah menyakitimu sampai seperti ini” ujar evan.

Evan menatap reyna dengan pandangan lembut. Ia memutuskan akan menjaga reyna apapun yang terjadi. Walaupun gadis itu menolaknya, ia tetap bertekad menjaga reyna dengan sepenuh hatinya.


***

Reyna membuka matanya dengan perlahan, matanya menyusuri ruangan serba putih dengan berlahan, ia ada di rumah sakit. Tangan kanannya memegangi tangan kirinya yang dibalut perban, reyna tersentak ketika ingatan tentang kejadian sebelum ia pingsan memenuhi pikirannya. Mata reyna bergerak gelisah mencari sosok evan dan kemudian menghela napas karena lelaki yang ia takuti tidak ada di sana.

Reyna menghela napas, sudah seminggu lebih ia tidak masuk kerja, jelas itu menjadi beban buat reyna, gadis berlesung pipit itu tidak ingin dipecat juga dari kerjaan sebagai pemain piano.

Diliriknya jam, pukul dua siang hari. Setelah dikumpulkannya tenaga, reyna  bangkit dari tempat tidurnya, mencoba berdiri. Sakit menyerang pergelangan tangan reyna sewaktu mencoba menopang tubuhnya dengan tangan. Tidak tahan reyna memilih untuk duduk di tempat tidur.

Pintu ruangan dibuka dari luar, reyna melihat evan yang terkejut melihat dirinya. Tubuh reyna bergetar, mengapa lelaki itu disini? Apakah untuk mencelakainya lagi? Berbagai pertanyaan memenuhi benak reyna.

Reyna beringsut takut ke atas tempat tidur, tidak diperdulikan pergelangan tangannya yang sakit akibat topangan tubuhnya. Reyna terus beringsut dengan ketakutan.

Evan mematung ketika melihat kilatan ketakutan di mata reyna, ya tuhan... gadis itu trauma dengan kejadian semalam. Evan mengulurkan tangannya hendak menyentuh gadis itu untuk menenangkannya.

“jangan, ku mohon jangan dekati aku” ujar reyna sambil menggelengkan kepalanya dengan ketakutan.

Tangan evan mematung di udara mendengar lirihan reyna, dan memutuskan untuk berdiri sedikit menjauh dari gadis itu

“kau baik-baik saja?” tanya evan dengan lembut

Reyna menggelengkan kepalanya.

Evan menghela napas panjang.

“aku minta maaf rey, aku benar-benar menyesal” ucap evan bersungguh-sungguh.

Reyna hanya diam sambil memandang penuh ketakutan ke arah evan.

“aku tau, kau sekarang takut kepadaku, tapi aku janji tidak akan menyakitimu lagi, aku ke sini hanya untuk meminta maaf”. Evan kembali menghela napas.

Reyna masih ketakutan, ruangan tempat reyna dirawat tidak begitu luas, membuat reyna susah bernapas apabila dia seruang dengan evan. Kejadian semalam membuatnya trauma dan ketakutan terhadap evan.

Tidak ada reaksi dari reyna. Gadis masih tetap diam.

“baiklah, jaga dirimu baik-baik ya” . evan memilih untuk keluar, hatinya sakit melihat reyna ketakutan terhadapnya.

Setelah pintu kembali ditutup, reyna menghela napas lega, ia begitu ketakutan melihat evan, takut kejadian semalam akan terulang kembali.

Reyna membaringkan tubuhnya dan memandangi langit-langit ruangan seraya merenung. Airmata reyna mengalir pelan dari sudut mata, reyna mengingat kembali bagaimana intensnya evan memandanginya, lelaki itu begitu kejam sampai ingin menghancurkan satu-satunya harta berharga milik reyna.

***

Jonathan masuk ke kamar reyna dan melihat gadis itu sedang disuapi bubur oleh perawat, reyna menoleh dan bertemu pandang dengan jonathan, segera tangannya terkepal mengingat hubungan paman itu dengan laki-laki bermata biru.

“bagaimana keadaanmu?” tanya jonathan sambil tersenyum

“aku baik-baik saja”, walaupun ketakutan reyna merasa paman ini tidak ada niat jahat terhadap dirinya.

“aku membawakan barang-barang milikmu”. Jonathan meletakkan barang-barang milik reyna di atas meja.

“oa, kita belum berkenalan, namaku jonathan” ucap jonathan seraya mengulurkan tangannya.

Reyna melihat uluran tangan jonathan, gadis itu diam sejenak, dengan ragu-ragu reyna menjabat tangan jonathan.

“reyna, reyna aurelia” ujar reyna pelan.

“maafkan atas kesalahan keponakanku” jonathan membungkuk ke arah reyna.

Reyna hanya diam.

Setelah meminta maaf jonathan melangkah keluar kamar.

***

Reyna mengemasi barang-barangnya dan berpamitan kepada suster yang merawatnya, hari ini ia diperbolehkan pulang, walaupun dengan sedikit paksaan dari reyna. Segera gadis itu keluar rumah sakit, menyetop bus dan duduk di bangku belakang seraya melamun.

Jalanan sedikit macet, sepanjang perjalanan reyna menyusuri jalan raya yang dilewati bus dengan tatapan menerawang.

Setelah menempuh beberapa waktu, bus berhenti di halte bus, reyna melangkah keluar dan menyusuri jalan setapak menuju flatnya.

Sesampainya di flat, dahi reyna berkerut melihat sebuah skuter baru terparkir di halaman. Reyna mengambil secarik kertas yang ditempelkan di setir skuter.

Maafkan aku
Skutermu rusak,
Jadi aku menggantinya
Semoga kau suka dengan skuter barumu
Evan williams

Reyna menghela napas, skuter yang penuh kenangan itu dengan mudah diganti oleh lelaki itu, namun jika mengingat ia tidak bisa bepergian tanpa kendaraan, dengan berat hati reyna menerima skuter pemberian evan, kemudian mendorong skuter itu masuk ke dalam flatnya.

Dari kejauhan evan melihat semuanya, senyumnya mengembang, gadis itu menerima barang pemberiannya. Suatu kemajuan. Skuter pemberiannya memang model terbaru, evan sudah menyuruh pelayannya untuk mencarikan yang sama persis dengan skuter milik reyna, namun kata kepala pelayan, skuter itu keluaran lama dan sekarang hanya sedikit orang yang memiliki skuter itu. evan hanya mengangguk ketika kepala pelayan menampakkan skuter yang hampir sama dengan milik reyna.

Setelah melihat reyna masuk ke flat, evan melajukan mobil dengan pelan.

***

Reyna menelpon emma menggunakan telepon umum dan meminta maaf atas ketidakhadirannya selama seminggu lebih, reyna beralasan sakit, dan mengatakan bahwa malam ini ia akan bekerja kembali. Reyna menghela napas, beruntung emma seorang yang baik hati, jadi mengerti keadaannya.

Tinggal menelpon panti, guman reyna pada dirinya

“halo” terdengar suara carolina di telepon

“hai mama, ini aku” ujar reyna dengan suara cerah

“kemana saja kau reyna? Aku mengkhawatirkanmu?” suara carolina terdengar cemas

“aku baik-baik saja mama, seminggu  ini aku.. aku sedikit sibuk, jadi  tidak bisa menelponmu” ujar reyna sedikit terbata-bata.

“syukurlah, kau baik-baik saja”

Setelah berbincang-bincang sejenak, reyna menutup teleponnya. Hari hampir petang, reyna menyusuri jalan setapa menuju flat untuk berias dan menuju tempat kerjanya.

Reyna sengaja datang cepat ke tempat kerja untuk meminta maaf kepada emma karena cuti dan  tidak ada kabar selama tiga hari ini.

Reyna memarkirkan skuternya di parkiran khusus karyawan dan melangkah masuk ke restoran. Emma menyambut reyna seperti biasa, dan itu membuat reyna menghela napas tenang.

“bagaimana kabarmu rey?” tanya emma dengan tersenyum.

“saya baik-baik nyonya emma” ujar reyna

Emma melihat perban di pergelangan tangan reyna dan wajahnya langsung panik.

“apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dengan tanganmu?” tanya emma cemas.

“tidak apa-apa, tanganku hanya terkilir, tetapi masih bisa digerakkan” jelas reyna dengan tenang.

Emma menghela napas lega.

“syukurlah, kau istirahat saja dulu, malam ini tidak banyak pengunjung karena ada tamu yang khusus mereservasi tempat ini” setelah mengatakan itu emma pergi menyambut tamu yang khusus reservasi restoran untuk malam ini.

Reyna mengangguk, melangkah menuju ruangan khusus karyawan dan menyimpan tasnya di loker.

Reyna menunggu di ruangan karyawan, menunggu gilirannya untuk tampil pada malam ini. matanya melihat lantai ruangan seraya menyesap cuppucino hangatnya dengan berlahan.

Seorang pelayan memanggilnya untuk tampil di panggung kecil, reyna menggangguk dan tersenyum ke arah sang pelayan kemudian melangkah pelan menuju panggung.

Memang tidak banyak pengunjung malam ini, hanya beberapa dan mata reyna melebar melihat evan duduk di kursi paling depan, ternyata laki-laki itu yang telah mereservasi khusus malam ini.

Reyna duduk di bangku piano dengan tangan yang sedikit bergetar, walaupun mata biru itu memangdang dengan lembut, reyna tetap ketakutan pada evan. Lelaki itu adalah lelaki jahat. Benak reyna berkecamuk.

Reyna menghela napas, meletakkan jari-jarinya dan melodi mengalun pelan memenuhi restoran, evan sangat menikmati permainan piano reyna, jari-jari reyna begitu lincah menari di atas piano, memainkan melodi dengan lembut.

Reyna merasakan tatapan evan mengarah ke arahnya, membuat jari-jarinya salah menekan tuts piano, suara dentingan piano terdengar sumbang namun reyna segera memperbaiki kesalahannya.

Evan yang mendengar nada sumbang dari melodi yang dimainkan reyna hanya menghela napas, gadis itu pasti risih terhadapnya, membuat napas evan menjadi berat, seperti ada beban yang mengantung di tenggorokannya.

Beberapa reyna selesai memainkan piano, suara tepuk tangannya memenuhi ruangan restoran, reyna membungkuk ke arah pengunjung, tatapannya bertemu dengan mata evan yang tersenyum pada reyna, namun di acuhkan oleh reyna.

Reyna turun dari panggung, melangkah ke arah taman kemudian duduk di sebuah bangku panjang yang mengarah ke arah luar restoran. Bulan bersinar terang yang ditemani oleh banyak bintang membuat malam menjadi terang benderang.

Reyna mendongakkan wajahnya menatap sinar bintang yang berkelipan di atas langit, sangat indah. Ada yang berwarna merah dan putih, saling mengerlipkan cahaya membuat malam menjadi hangat.

       “apa yang sedang kau lihat?” suara evan menghentakkan reyna, ditolehnya ke samping tempat evan duduk dan secara naluriah reyna beringsut menjauh.

“aku tidak akan menyakitimu, tolong jangan menjauhiku rey, itu sangat sakit” ujar evan pelan seraya menatap reyna dengan tatapan serius.

Reyna memandang mata biru evan sejenah, lelaki itu benar-benar serius membuat reyna sedikit merasa lega.

“apa maumu?” tanya reyna dengan takut-takut.

“aku hanya ingin meminta maaf”  ujar evan dengan mata yang bersungguh-sungguh.

Reyna mendengus.

“bukankah kau bilang kata-kata itu untuk orang yang lemah” ujar reyna sinis.

“kau benar, aku sekarang memang orang lemah”, kata-kata evan membuat tatapan reyna terpusat pada evan.

“untuk apa kau minta maaf, aku mengangggap tidak ada yang terjadi di antara kita” ujar reyna dengan suara yang sedikit ketus.

“tapi aku tidak menganggapnya seperti itu, karena itu aku meminta maaf rey” ujar evan pelan.

“jangan pernah memanggil namaku dan simpan saja permintaan maafmu itu” setelah mengatakan itu reyna bangkit dari duduknya masuk ke restoran.

Evan menghela napas dengan berat. Ia bisa mengerti mengapa reyna tidak memaafkannya, melihat kilatan di mata reyna, gadis itu begitu membencinya, membuat evan memegangi dadanya yang berdenyut sakit.

Reyna berpamitan dengan emma dan segera melajukan skuternya menembus malam dengan kecepatan sedikit tinggi, reyna teringat ketika malam ia diculik ada beberapa mobil yang menghalau jalannya, membuat reyna ketakutan jika harus mengendarai kendaraannya sendirian.

Evan ikut mengantar reyna menuju flat, Evan memacu mobil dengan kecepatan sedang, sedikit menjaga jarak agar reyna tidak curiga.

Reyna masuk flatnya dengan lega, namun di pintu ia merenung. Setiap malam ia pasti akan melewati jalan itu, malam ini mungkin ia selamat, tetapi bagaimana dengan malam berikutnya? Apakah ia akan terus-terusan takut ketika melewati jalan itu?, reyna menggelengkan kepalanya, mengenyah pikiran yang mulai berpikiran buruk. Reyna mendorong skuternya masuk ke dalam flat.

Evan tersenyum lembut ketika reyna sudah memasuki flat, kemudian melajukan mobilnya di tengah kegelapan malam.

***

“ya tuhan” reyna hampir menjatuhkan tasnya ketika mendapati evan berada di flatnya pagi-pagi buta.

Evan hanya menyengir.

“selamat pagi rey” ucap evan sambil tersenyum manis.

Reyna menghela napas, memakai tasnya kemudian menutup pintu flatnya.

“untuk kau kemari?” tanya reyna dengan ketus.

“aku ingin meminta maaf” ujar evan tenang seraya menggangkat bahunya dengan acuh.

Reyna memenjam matanya melihat kelakuan evan, lelaki itu sudah beberapa hari ini mengikuti kemanapun reyna pergi, tempat kerja, panti sampai ke flatnya, membuat reyna mencap evan sebagai lelaki penguntit, walaupun tujuan evan baik, ingin meminta maaf, tetapi reyna merasa terganggu dengan kehadiran evan yang seperti sengaja ingin mengusik hidupnya.

“sudah ku bilang beberapa kali, simpan saja permintaan maafmu itu, aku tidak sudi memaafkan orang jahat sepertimu” ujar reyna dengan wajah datar. Kata-kata reyna membuat luka bersalah dihati evan menjadi menganga, seperti luka yang disirami garam. Begitulah perumpaan sakit yang sedang evan rasakan.

“kalau begitu, aku akan ada dimanapun kau memandang” ujar evan tenang.

Reyna tidak menjawab, gadis itu memilih untuk tidak sering  berkomunikasi dengan evan, lama-lama lelaki itu pasti akan merasa bosan dan pergi, benak reyna berguman.

Reyna melangkah ke pasar dengan langkah tenang, hari ini jadwal ia belanja bulanan, reyna membeli bahan-bahan yang dikiranya sangat penting, karena reyna uang reyna hanya cukup membeli bahan-bahan penting, seperti sayuran, beras atau bumbu masakan.

Selesai berbelanja, reyna menuju minimarket yang tidak jauh dari flatnya, sang kasir menyambutnya dengan ramah. Evan mengikuti reyna dari belakang. Melihat-lihat ke sekeliling minimarket dan meneliti kegiatan reyna.

Reyna mengambil beberapa mie instan dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Kemudian melihat-lihat ke sekeliling rak, apa yang kira-kira ingin ia beli lagi.

“mie instan tidak bagus untuk kesehatanmu” ujar evan dibelakang reyna.

Reyna mengacuhkan evan, menganggap lelaki itu tidak disekitarnya.

Reyna kembali memasukkan beberapa barang lainnya ke keranjang belanjaan. Kemudian membawa keranjang ke tempat kasir untuk membayar.

Evan melihat reyna dengan tatapan redup, gadis tidak menganggapnya ada. Evan kembali menghela napas, dan mengenyahkan perasaannya dan kembali memasang ekspresi tenang.

Reyna menyusuri jalan setapak dengan langkah tenang seakan hanya ia sendiri yang berjalan di jalan itu. evan masih mengikuti reyna di belakang, meniru langkah reyna yang mengayun-ayunkan belanjaan kedepan dan belakang membuat Evan tersenyum sendiri.

Sesampainya di flat, reyna langsung masuk dan mengunci pintu, tidak peduli dengan evan dengan tangan tergantung di depan pintu flat ingin memanggil dirinya.

Dihempasnya tubuh di sofa, dan melirik ke arah jendela, evan masih menunggunya. Lelaki itu berubah, tidak pernah lagi memandang remeh ke arahnya, tersenyum sinis ataupun memandang intens pada reyna, membuat reyna sedikit percaya bahwa laki-laki itu sungguh-sungguh ingin meminta maaf.

Namun ketika reyna mengingat malam itu, kebencian reyna kepada evan kembali hadir, malam itu reyna yang begitu ketakutan diacuhkan dengan tenang oleh evan, seakan ketakutan reyna merupakan hiburan tersendiri terhadap evan. Laki-laki itu jahat. Kalimat itu yang ditanamkan reyna dalam hatinya.

Evan melihat ke arah pintu flat reyna, tidak ada tanda-tanda gadis itu akan membukakan pintunya, evan memutuskan untuk meninggalkan flat reyna sambil menghela napas.

***

Reyna ketiduran sewaktu melamunkan tentang kejadian yang menimpanya. Direnggangkan tubuhnya yang terasa pegal akibat tertidur dalam keadaan meringkuk di sofa.

Diliriknya jam, sudah menjelang siang reyna bangkit sofa menuju dapur, menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya dengan perlahan. Teringat sesuatu reyna bergegas menuju ke ruang depan flat, menyibakan gordennya dan tidak melihat siapa-siapa di teras depan membuat reyna bernapas lega.

Perut reyna berbunyi pelan, reyna baru ingat ia belum mengisi perutnya dari tadi pagi, reyna melangkah kembali ke dapur dan mulai menyiapkan makan siangnya sendirian.

***

Evan duduk merenung dari balkon kamarnya yang luas, tangannya memegang gelas berisi wine seraya mengaduk pelan. Pikiran evan melayang ke reyna, sedang apa gadis itu? tanya evan dalam hati.

Evan menghela napas panjang, matanya menyusuri pemandangan kota yang padat. Evan kembali melamun.

Jonathan masuk ke kamar evan dan melangkah menuju balkon kemudian duduk di besi pembatas balkon, matanya memandang keponakannya dengan perasaan nanar, semenjak kejadian malam itu evan berubah menjadi pendiam, suka menyendiri dan suka minum.

“kau sudah melakukan semuanya evan, biarkan reyna yang memutuskannya” ujar jonathan seraya memandang kota yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang.

“aku tidak bisa paman, gadis itu sedikit trauma kepadaku, aku benar-benar menyakiti sampai akhir” ujar evan pelan.

“tapi sudah sudah meminta maaf, dan melakukan apapun yang seharusnya kau lakukan, aku rasa itu cukup, jangan siksa dirimu sendiri” ujar jonathan memberi nasehat kepada evan.

Evan menggelengkan kepalanya.

“aku belum melakukan semuanya” hanya itu yang evan katakan. Suasana mendadak hening karena tidak ada yang ingin memecahkan kesunyian .

***
Reyna memarkirkan skuter, memakai tas selempangnya dan masuk ke restoran dengan langkah riang, malam ini entah mengapa, reyna merasa gembira tanpa alasan.

Reyna menyapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya sambil tersenyum. Emma yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. reyna memang gadis yang periang, namun peliknya hidup membuat gadis itu menutupi kepribadiannya yang sebenarnya.

Reyna memainkan piano dengan riang, melodi ringan terdengar memenuhi restoran dan pengunjung menikmatinya, menikmati melodi yang dibawakan reyna maupun menikmati wajah reyna tersenyum cerah.

Selesai memainkan beberapa lagu piano, reyna duduk di bangku panjang taman sambil mendongak melihat bintang, iseng-iseng gadis itu mencoba menghitung bintang yang ada di langit sembil tersenyum.

Evan tersenyum lembut, malam ini reyna begitu bahagia, jelas dari wajah gadis itu yang cerah. Senyum evan semakin mengembang ketika melihat reyna sedang menghitung bintang sambil tersenyum.

“kau suka menghitung bintang?” tanya evan sambil tersenyum.

Reyna hampir melompat dari tempat duduknya, menoleh ke arah evan dan memutarkan bola matanya dengan malas.

“berhenti menguntitku” ujar reyna dingin.

“kau belum memaafkanku, makanya aku terus menguntitmu” evan sedikit geli dengan istilah yang dipakai reyna.

Reyna terdiam sejenak, memikirkan bagaimana caranya menjauh evan dari hidupnya, setelah beberapa saat berpikir, reyna menoleh kembali ke arah evan. 
    
“baiklah, aku akan memaafkanmu” ujar reyna dengan wajah datar.

Evan tersenyum lebar, akhirnya semua yang dilakukannya beberapa hari ini membuahkan hasil.

“tapi dengan satu syarat” ujar reyna kembali ketika melihat senyum evan.

“apa?” tanya evan dengan tidak sabar

“menjauh dari kehidupanku”


Kata-kata reyna membuat senyum evan menghilang dan memandangi gadis itu dengan mengernyitkan dahi. Namun reyna tidak peduli, ia bangkit dari bangku dan melangkah masuk ke restoran.

Bersambung ke Part 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar