Evan duduk di bangku lorong rumah sakit
dengan perasaan campur aduk, ia tidak menyangka reyna bakal menyakiti dirinya
sendiri.
Perasaan takut kehilangan memenuhi benak
evan, ia tidak tau mengapa, yang evan tau gadis itu harus selamat.
Jonathan yang juga duduk di lorong rumah
sakit menghela napas panjang, ingin rasanya memukul keponakannnya, namun
melihat keponakananya merasa sangat bersalah dan sangat cemas membuat jonathan
mengurungkan niatnya.
Berjam-jam
telah berlalu, tetapi dokter tidak juga keluar dari ruang UGD, membuat evan
mengepal kuat tangannya.
Tidak,
gadis itu harus selamat, guman evan dalam hati
Dokter keluar dari ruangan dan menghela
napas lega, evan dan jonathan segera menghampiri dokter.
“bagaimana keadaannya dok?” tanya evan
dengan cemas
“kondisinya baik-baik saja, luka
dipergelangan tangannya tidak sampai memutuskan nadi sehingga gadis itu
selamat”
Evan menghela napas lega. Syukurlah
gadis itu baik-baik saja. Namun dahi even mengernyit. Bagaimana ia akan
menghadapi gadis itu?
Reyna dipindahkan ke ruangan biasa,
kesadaran reyna masih belum pulih akibat obat yang disuntikkan dokter.
Evan melangkah masuk, dan memandang
reyna yang terbaring lemah dengan pandangan nanar, lelaki itu duduk di kursi
samping reyna dan menggengam lembut jemari reyna.
“aku minta maaf, aku menyesal rey” ujar
evan dengan bersungguh-sungguh.
“aku... aku tidak tau kau berbeda dengan
stephanie” ujar evan pelan, airmata evan mengalir pelan.
“aku minta maaf, aku menyesal karena
telah menyakitimu sampai seperti ini” ujar evan.
Evan
menatap reyna dengan pandangan lembut. Ia memutuskan akan menjaga reyna apapun
yang terjadi. Walaupun gadis itu menolaknya, ia tetap bertekad menjaga reyna dengan
sepenuh hatinya.
***
Reyna membuka matanya dengan perlahan,
matanya menyusuri ruangan serba putih dengan berlahan, ia ada di rumah sakit. Tangan
kanannya memegangi tangan kirinya yang dibalut perban, reyna tersentak ketika
ingatan tentang kejadian sebelum ia pingsan memenuhi pikirannya. Mata reyna
bergerak gelisah mencari sosok evan dan kemudian menghela napas karena lelaki
yang ia takuti tidak ada di sana.
Reyna menghela napas, sudah seminggu
lebih ia tidak masuk kerja, jelas itu menjadi beban buat reyna, gadis berlesung
pipit itu tidak ingin dipecat juga dari kerjaan sebagai pemain piano.
Diliriknya jam, pukul dua siang hari.
Setelah dikumpulkannya tenaga, reyna
bangkit dari tempat tidurnya, mencoba berdiri. Sakit menyerang
pergelangan tangan reyna sewaktu mencoba menopang tubuhnya dengan tangan. Tidak
tahan reyna memilih untuk duduk di tempat tidur.
Pintu ruangan dibuka dari luar, reyna
melihat evan yang terkejut melihat dirinya. Tubuh reyna bergetar, mengapa
lelaki itu disini? Apakah untuk mencelakainya lagi? Berbagai pertanyaan
memenuhi benak reyna.
Reyna beringsut takut ke atas tempat
tidur, tidak diperdulikan pergelangan tangannya yang sakit akibat topangan
tubuhnya. Reyna terus beringsut dengan ketakutan.
Evan mematung ketika melihat kilatan
ketakutan di mata reyna, ya tuhan... gadis itu trauma dengan kejadian semalam.
Evan mengulurkan tangannya hendak menyentuh gadis itu untuk menenangkannya.
“jangan, ku mohon jangan dekati aku”
ujar reyna sambil menggelengkan kepalanya dengan ketakutan.
Tangan evan mematung di udara mendengar
lirihan reyna, dan memutuskan untuk berdiri sedikit menjauh dari gadis itu
“kau baik-baik saja?” tanya evan dengan
lembut
Reyna menggelengkan kepalanya.
Evan menghela napas panjang.
“aku minta maaf rey, aku benar-benar
menyesal” ucap evan bersungguh-sungguh.
Reyna hanya diam sambil memandang penuh
ketakutan ke arah evan.
“aku tau, kau sekarang takut kepadaku,
tapi aku janji tidak akan menyakitimu lagi, aku ke sini hanya untuk meminta
maaf”. Evan kembali menghela napas.
Reyna masih ketakutan, ruangan tempat
reyna dirawat tidak begitu luas, membuat reyna susah bernapas apabila dia
seruang dengan evan. Kejadian semalam membuatnya trauma dan ketakutan terhadap
evan.
Tidak ada reaksi dari reyna. Gadis masih
tetap diam.
“baiklah, jaga dirimu baik-baik ya” .
evan memilih untuk keluar, hatinya sakit melihat reyna ketakutan terhadapnya.
Setelah pintu kembali ditutup, reyna
menghela napas lega, ia begitu ketakutan melihat evan, takut kejadian semalam
akan terulang kembali.
Reyna membaringkan tubuhnya dan
memandangi langit-langit ruangan seraya merenung. Airmata reyna mengalir pelan
dari sudut mata, reyna mengingat kembali bagaimana intensnya evan
memandanginya, lelaki itu begitu kejam sampai ingin menghancurkan satu-satunya
harta berharga milik reyna.
***
Jonathan masuk ke kamar reyna dan
melihat gadis itu sedang disuapi bubur oleh perawat, reyna menoleh dan bertemu
pandang dengan jonathan, segera tangannya terkepal mengingat hubungan paman itu
dengan laki-laki bermata biru.
“bagaimana keadaanmu?” tanya jonathan
sambil tersenyum
“aku baik-baik saja”, walaupun ketakutan
reyna merasa paman ini tidak ada niat jahat terhadap dirinya.
“aku membawakan barang-barang milikmu”.
Jonathan meletakkan barang-barang milik reyna di atas meja.
“oa, kita belum berkenalan, namaku
jonathan” ucap jonathan seraya mengulurkan tangannya.
Reyna melihat uluran tangan jonathan,
gadis itu diam sejenak, dengan ragu-ragu reyna menjabat tangan jonathan.
“reyna, reyna aurelia” ujar reyna pelan.
“maafkan atas kesalahan keponakanku”
jonathan membungkuk ke arah reyna.
Reyna hanya diam.
Setelah meminta maaf jonathan melangkah
keluar kamar.
***
Reyna mengemasi barang-barangnya dan
berpamitan kepada suster yang merawatnya, hari ini ia diperbolehkan pulang,
walaupun dengan sedikit paksaan dari reyna. Segera gadis itu keluar rumah
sakit, menyetop bus dan duduk di bangku belakang seraya melamun.
Jalanan sedikit macet, sepanjang
perjalanan reyna menyusuri jalan raya yang dilewati bus dengan tatapan
menerawang.
Setelah menempuh beberapa waktu, bus
berhenti di halte bus, reyna melangkah keluar dan menyusuri jalan setapak
menuju flatnya.
Sesampainya di flat, dahi reyna berkerut
melihat sebuah skuter baru terparkir di halaman. Reyna mengambil secarik kertas
yang ditempelkan di setir skuter.
Maafkan
aku
Skutermu
rusak,
Jadi
aku menggantinya
Semoga
kau suka dengan skuter barumu
Evan
williams
Reyna menghela napas, skuter yang penuh
kenangan itu dengan mudah diganti oleh lelaki itu, namun jika mengingat ia
tidak bisa bepergian tanpa kendaraan, dengan berat hati reyna menerima skuter
pemberian evan, kemudian mendorong skuter itu masuk ke dalam flatnya.
Dari kejauhan evan melihat semuanya,
senyumnya mengembang, gadis itu menerima barang pemberiannya. Suatu kemajuan.
Skuter pemberiannya memang model terbaru, evan sudah menyuruh pelayannya untuk
mencarikan yang sama persis dengan skuter milik reyna, namun kata kepala
pelayan, skuter itu keluaran lama dan sekarang hanya sedikit orang yang
memiliki skuter itu. evan hanya mengangguk ketika kepala pelayan menampakkan
skuter yang hampir sama dengan milik reyna.
Setelah melihat reyna masuk ke flat,
evan melajukan mobil dengan pelan.
***
Reyna menelpon emma menggunakan telepon
umum dan meminta maaf atas ketidakhadirannya selama seminggu lebih, reyna
beralasan sakit, dan mengatakan bahwa malam ini ia akan bekerja kembali. Reyna
menghela napas, beruntung emma seorang yang baik hati, jadi mengerti
keadaannya.
Tinggal
menelpon panti,
guman reyna pada dirinya
“halo” terdengar suara carolina di
telepon
“hai mama, ini aku” ujar reyna dengan
suara cerah
“kemana saja kau reyna? Aku
mengkhawatirkanmu?” suara carolina terdengar cemas
“aku baik-baik saja mama, seminggu ini aku.. aku sedikit sibuk, jadi tidak bisa menelponmu” ujar reyna sedikit
terbata-bata.
“syukurlah, kau baik-baik saja”
Setelah berbincang-bincang sejenak,
reyna menutup teleponnya. Hari hampir petang, reyna menyusuri jalan setapa
menuju flat untuk berias dan menuju tempat kerjanya.
Reyna sengaja datang cepat ke tempat
kerja untuk meminta maaf kepada emma karena cuti dan tidak ada kabar selama tiga hari ini.
Reyna memarkirkan skuternya di parkiran
khusus karyawan dan melangkah masuk ke restoran. Emma menyambut reyna seperti
biasa, dan itu membuat reyna menghela napas tenang.
“bagaimana kabarmu rey?” tanya emma
dengan tersenyum.
“saya baik-baik nyonya emma” ujar reyna
Emma melihat perban di pergelangan
tangan reyna dan wajahnya langsung panik.
“apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa
dengan tanganmu?” tanya emma cemas.
“tidak apa-apa, tanganku hanya terkilir,
tetapi masih bisa digerakkan” jelas reyna dengan tenang.
Emma menghela napas lega.
“syukurlah, kau istirahat saja dulu,
malam ini tidak banyak pengunjung karena ada tamu yang khusus mereservasi
tempat ini” setelah mengatakan itu emma pergi menyambut tamu yang khusus
reservasi restoran untuk malam ini.
Reyna mengangguk, melangkah menuju
ruangan khusus karyawan dan menyimpan tasnya di loker.
Reyna menunggu di ruangan karyawan,
menunggu gilirannya untuk tampil pada malam ini. matanya melihat lantai ruangan
seraya menyesap cuppucino hangatnya dengan berlahan.
Seorang pelayan memanggilnya untuk
tampil di panggung kecil, reyna menggangguk dan tersenyum ke arah sang pelayan
kemudian melangkah pelan menuju panggung.
Memang tidak banyak pengunjung malam
ini, hanya beberapa dan mata reyna melebar melihat evan duduk di kursi paling
depan, ternyata laki-laki itu yang telah mereservasi khusus malam ini.
Reyna duduk di bangku piano dengan
tangan yang sedikit bergetar, walaupun mata biru itu memangdang dengan lembut,
reyna tetap ketakutan pada evan. Lelaki itu adalah lelaki jahat. Benak reyna
berkecamuk.
Reyna menghela napas, meletakkan
jari-jarinya dan melodi mengalun pelan memenuhi restoran, evan sangat menikmati
permainan piano reyna, jari-jari reyna begitu lincah menari di atas piano,
memainkan melodi dengan lembut.
Reyna merasakan tatapan evan mengarah ke
arahnya, membuat jari-jarinya salah menekan tuts piano, suara dentingan piano
terdengar sumbang namun reyna segera memperbaiki kesalahannya.
Evan yang mendengar nada sumbang dari
melodi yang dimainkan reyna hanya menghela napas, gadis itu pasti risih
terhadapnya, membuat napas evan menjadi berat, seperti ada beban yang
mengantung di tenggorokannya.
Beberapa reyna selesai memainkan piano,
suara tepuk tangannya memenuhi ruangan restoran, reyna membungkuk ke arah
pengunjung, tatapannya bertemu dengan mata evan yang tersenyum pada reyna,
namun di acuhkan oleh reyna.
Reyna turun dari panggung, melangkah ke
arah taman kemudian duduk di sebuah bangku panjang yang mengarah ke arah luar
restoran. Bulan bersinar terang yang ditemani oleh banyak bintang membuat malam
menjadi terang benderang.
Reyna mendongakkan wajahnya menatap
sinar bintang yang berkelipan di atas langit, sangat indah. Ada yang berwarna
merah dan putih, saling mengerlipkan cahaya membuat malam menjadi hangat.
“apa
yang sedang kau lihat?” suara evan menghentakkan reyna, ditolehnya ke samping
tempat evan duduk dan secara naluriah reyna beringsut menjauh.
“aku tidak akan menyakitimu, tolong
jangan menjauhiku rey, itu sangat sakit” ujar evan pelan seraya menatap reyna dengan
tatapan serius.
Reyna memandang mata biru evan sejenah,
lelaki itu benar-benar serius membuat reyna sedikit merasa lega.
“apa maumu?” tanya reyna dengan
takut-takut.
“aku hanya ingin meminta maaf” ujar evan dengan mata yang
bersungguh-sungguh.
Reyna mendengus.
“bukankah kau bilang kata-kata itu untuk
orang yang lemah” ujar reyna sinis.
“kau benar, aku sekarang memang orang lemah”,
kata-kata evan membuat tatapan reyna terpusat pada evan.
“untuk apa kau minta maaf, aku
mengangggap tidak ada yang terjadi di antara kita” ujar reyna dengan suara yang
sedikit ketus.
“tapi aku tidak menganggapnya seperti
itu, karena itu aku meminta maaf rey” ujar evan pelan.
“jangan pernah memanggil namaku dan
simpan saja permintaan maafmu itu” setelah mengatakan itu reyna bangkit dari
duduknya masuk ke restoran.
Evan menghela napas dengan berat. Ia
bisa mengerti mengapa reyna tidak memaafkannya, melihat kilatan di mata reyna,
gadis itu begitu membencinya, membuat evan memegangi dadanya yang berdenyut
sakit.
Reyna berpamitan dengan emma dan segera
melajukan skuternya menembus malam dengan kecepatan sedikit tinggi, reyna
teringat ketika malam ia diculik ada beberapa mobil yang menghalau jalannya,
membuat reyna ketakutan jika harus mengendarai kendaraannya sendirian.
Evan ikut mengantar reyna menuju flat, Evan
memacu mobil dengan kecepatan sedang, sedikit menjaga jarak agar reyna tidak
curiga.
Reyna masuk flatnya dengan lega, namun
di pintu ia merenung. Setiap malam ia pasti akan melewati jalan itu, malam ini
mungkin ia selamat, tetapi bagaimana dengan malam berikutnya? Apakah ia akan
terus-terusan takut ketika melewati jalan itu?, reyna menggelengkan kepalanya,
mengenyah pikiran yang mulai berpikiran buruk. Reyna mendorong skuternya masuk
ke dalam flat.
Evan tersenyum lembut ketika reyna sudah
memasuki flat, kemudian melajukan mobilnya di tengah kegelapan malam.
***
“ya tuhan” reyna hampir menjatuhkan
tasnya ketika mendapati evan berada di flatnya pagi-pagi buta.
Evan hanya menyengir.
“selamat pagi rey” ucap evan sambil
tersenyum manis.
Reyna menghela napas, memakai tasnya
kemudian menutup pintu flatnya.
“untuk kau kemari?” tanya reyna dengan
ketus.
“aku ingin meminta maaf” ujar evan
tenang seraya menggangkat bahunya dengan acuh.
Reyna memenjam matanya melihat kelakuan
evan, lelaki itu sudah beberapa hari ini mengikuti kemanapun reyna pergi,
tempat kerja, panti sampai ke flatnya, membuat reyna mencap evan sebagai lelaki
penguntit, walaupun tujuan evan baik, ingin meminta maaf, tetapi reyna merasa
terganggu dengan kehadiran evan yang seperti sengaja ingin mengusik hidupnya.
“sudah ku bilang beberapa kali, simpan
saja permintaan maafmu itu, aku tidak sudi memaafkan orang jahat sepertimu”
ujar reyna dengan wajah datar. Kata-kata reyna membuat luka bersalah dihati
evan menjadi menganga, seperti luka yang disirami garam. Begitulah perumpaan
sakit yang sedang evan rasakan.
“kalau begitu, aku akan ada dimanapun
kau memandang” ujar evan tenang.
Reyna tidak menjawab, gadis itu memilih
untuk tidak sering berkomunikasi dengan
evan, lama-lama lelaki itu pasti akan merasa bosan dan pergi, benak reyna
berguman.
Reyna melangkah ke pasar dengan langkah
tenang, hari ini jadwal ia belanja bulanan, reyna membeli bahan-bahan yang
dikiranya sangat penting, karena reyna uang reyna hanya cukup membeli
bahan-bahan penting, seperti sayuran, beras atau bumbu masakan.
Selesai berbelanja, reyna menuju
minimarket yang tidak jauh dari flatnya, sang kasir menyambutnya dengan ramah.
Evan mengikuti reyna dari belakang. Melihat-lihat ke sekeliling minimarket dan
meneliti kegiatan reyna.
Reyna mengambil beberapa mie instan dan
memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Kemudian melihat-lihat ke
sekeliling rak, apa yang kira-kira ingin ia beli lagi.
“mie instan tidak bagus untuk
kesehatanmu” ujar evan dibelakang reyna.
Reyna mengacuhkan evan, menganggap
lelaki itu tidak disekitarnya.
Reyna kembali memasukkan beberapa barang
lainnya ke keranjang belanjaan. Kemudian membawa keranjang ke tempat kasir
untuk membayar.
Evan melihat reyna dengan tatapan redup,
gadis tidak menganggapnya ada. Evan kembali menghela napas, dan mengenyahkan
perasaannya dan kembali memasang ekspresi tenang.
Reyna menyusuri jalan setapak dengan
langkah tenang seakan hanya ia sendiri yang berjalan di jalan itu. evan masih
mengikuti reyna di belakang, meniru langkah reyna yang mengayun-ayunkan belanjaan
kedepan dan belakang membuat Evan tersenyum sendiri.
Sesampainya di flat, reyna langsung
masuk dan mengunci pintu, tidak peduli dengan evan dengan tangan tergantung di
depan pintu flat ingin memanggil dirinya.
Dihempasnya tubuh di sofa, dan melirik
ke arah jendela, evan masih menunggunya. Lelaki itu berubah, tidak pernah lagi
memandang remeh ke arahnya, tersenyum sinis ataupun memandang intens pada
reyna, membuat reyna sedikit percaya bahwa laki-laki itu sungguh-sungguh ingin
meminta maaf.
Namun ketika reyna mengingat malam itu,
kebencian reyna kepada evan kembali hadir, malam itu reyna yang begitu
ketakutan diacuhkan dengan tenang oleh evan, seakan ketakutan reyna merupakan
hiburan tersendiri terhadap evan. Laki-laki itu jahat. Kalimat itu yang
ditanamkan reyna dalam hatinya.
Evan melihat ke arah pintu flat reyna,
tidak ada tanda-tanda gadis itu akan membukakan pintunya, evan memutuskan untuk
meninggalkan flat reyna sambil menghela napas.
***
Reyna ketiduran sewaktu melamunkan
tentang kejadian yang menimpanya. Direnggangkan tubuhnya yang terasa pegal
akibat tertidur dalam keadaan meringkuk di sofa.
Diliriknya jam, sudah menjelang siang
reyna bangkit sofa menuju dapur, menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya
dengan perlahan. Teringat sesuatu reyna bergegas menuju ke ruang depan flat,
menyibakan gordennya dan tidak melihat siapa-siapa di teras depan membuat reyna
bernapas lega.
Perut reyna berbunyi pelan, reyna baru
ingat ia belum mengisi perutnya dari tadi pagi, reyna melangkah kembali ke
dapur dan mulai menyiapkan makan siangnya sendirian.
***
Evan duduk merenung dari balkon kamarnya
yang luas, tangannya memegang gelas berisi wine seraya mengaduk pelan. Pikiran evan
melayang ke reyna, sedang apa gadis itu? tanya evan dalam hati.
Evan menghela napas panjang, matanya
menyusuri pemandangan kota yang padat. Evan kembali melamun.
Jonathan masuk ke kamar evan dan
melangkah menuju balkon kemudian duduk di besi pembatas balkon, matanya
memandang keponakannya dengan perasaan nanar, semenjak kejadian malam itu evan
berubah menjadi pendiam, suka menyendiri dan suka minum.
“kau sudah melakukan semuanya evan,
biarkan reyna yang memutuskannya” ujar jonathan seraya memandang kota yang
dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang.
“aku tidak bisa paman, gadis itu sedikit
trauma kepadaku, aku benar-benar menyakiti sampai akhir” ujar evan pelan.
“tapi sudah sudah meminta maaf, dan
melakukan apapun yang seharusnya kau lakukan, aku rasa itu cukup, jangan siksa
dirimu sendiri” ujar jonathan memberi nasehat kepada evan.
Evan menggelengkan kepalanya.
“aku belum melakukan semuanya” hanya itu
yang evan katakan. Suasana mendadak hening karena tidak ada yang ingin
memecahkan kesunyian .
***
Reyna memarkirkan skuter, memakai tas
selempangnya dan masuk ke restoran dengan langkah riang, malam ini entah
mengapa, reyna merasa gembira tanpa alasan.
Reyna menyapa beberapa karyawan yang
berpapasan dengannya sambil tersenyum. Emma yang melihatnya hanya menggelengkan
kepalanya. reyna memang gadis yang periang, namun peliknya hidup membuat gadis
itu menutupi kepribadiannya yang sebenarnya.
Reyna memainkan piano dengan riang,
melodi ringan terdengar memenuhi restoran dan pengunjung menikmatinya, menikmati
melodi yang dibawakan reyna maupun menikmati wajah reyna tersenyum cerah.
Selesai memainkan beberapa lagu piano,
reyna duduk di bangku panjang taman sambil mendongak melihat bintang,
iseng-iseng gadis itu mencoba menghitung bintang yang ada di langit sembil
tersenyum.
Evan tersenyum lembut, malam ini reyna
begitu bahagia, jelas dari wajah gadis itu yang cerah. Senyum evan semakin
mengembang ketika melihat reyna sedang menghitung bintang sambil tersenyum.
“kau suka menghitung bintang?” tanya
evan sambil tersenyum.
Reyna hampir melompat dari tempat
duduknya, menoleh ke arah evan dan memutarkan bola matanya dengan malas.
“berhenti menguntitku” ujar reyna dingin.
“kau belum memaafkanku, makanya aku terus
menguntitmu” evan sedikit geli dengan istilah yang dipakai reyna.
Reyna terdiam sejenak, memikirkan
bagaimana caranya menjauh evan dari hidupnya, setelah beberapa saat berpikir,
reyna menoleh kembali ke arah evan.
“baiklah, aku akan memaafkanmu” ujar
reyna dengan wajah datar.
Evan tersenyum lebar, akhirnya semua
yang dilakukannya beberapa hari ini membuahkan hasil.
“tapi dengan satu syarat” ujar reyna
kembali ketika melihat senyum evan.
“apa?” tanya evan dengan tidak sabar
“menjauh dari kehidupanku”
Kata-kata reyna membuat senyum evan
menghilang dan memandangi gadis itu dengan mengernyitkan dahi. Namun reyna
tidak peduli, ia bangkit dari bangku dan melangkah masuk ke restoran.
Bersambung ke Part 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar