P.S : Tolong Tinggalin Jejak.. trims... :)
Rama
membawa alyssa ke salah satu salon terbaik di kota mereka berada. Ia hanya
mengatakan nanti malam mereka akan pergi ke pesta salah satu klien rama.
Pertama
mereka masuk ke toko baju dan melihat gaun yang kira-kira cocok untuk tubuh
alyssa. rama memilih beberapa gaun kemudian menyodorkannya kepada alyssa untuk
dicoba. Alyssa menerimanya dengan pasrah. Ia kurang setuju dengan niat rama, di
lemari apartemen rama, alyssa masih ada gaun yang pantas untuk ke pesta.
Walaupun sederhana, sehingga tidak perlu menghambur-hamburkan uang seperti ini.
alyssa masuk ke ruang ganti mencoba salah satu gaun, dan keluar untuk melihat
pendapat rama. Rama menggelengkan kepalanya. alyssa hanya memutar bola matanya
tanpa komentar. Kemudian masuk kembali ke ruang ganti mencoba yang lainnya.
Setelah beberapa kali mencoba gaun. Pilihan rama jatuh kepada gaun panjang merah
tua lembut dengan aksen backless yang terlihat kontras dengan kulitnya.
Kemudian mereka memilih sepatu hills yang dengan warna agak yang gelap. Dan
langkah terakhir mereka yaitu salon.
Dengan
setia rama menunggu alyssa yang sedang berdandan. Sambil mengulur waktu rama
melihat-lihat beberapa majalah bisnis yang terletak di meja tunggu. Membacanya
sekilas.
Setelah
beberapa saat menunggu, sang pemilik salon berdeham dan melirik ke arah alyssa.
rama mematung. Penampilan alyssa sangat feminim. Dengan rambut di gulung ke
atas tengkuk yang memperlihatkan anting-antingnya dan disempurnakan dengan
riasan yang natural. Penampilan alyssa nampak dewasa. Alyssa hanya tersenyum
manis.
Rama
mengancungi jempol ke arah alyssa. setelah membayar mereka menuju restoran
untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pergi ke pesta.
“kau sangat cantik”
ujar rama penuh pujian.
Alyssa
menggigit bibir bawahnya seraya tersenyum malu. Ia sendiri tidak menyangka
ketika melihat di cermin. Ia benar-benar tampak berbeda. Terakhir ketika ia
malam bersama rama, ia hanya mengenakan gaun biasa dan berias natural. Tapi
sekarang ia kelihatan sangat dewasa, seksi namun tetap elegan.
Selama
makan malam mereka hanya bercakap-cakap ringan. Membahas apapun yang menarik.
Rama tidak pernah kehabisan pembicaraan ketika berbicara dengan alyssa karena
sifat alyssa yang sangat easy going.
Setelah
beberapa lama, mereka akhirnya ke pesta salah satu klien rama. Rama datang
karena loyalitas sang pemilik pesta yang sangat tinggi terhadap rama. Kerjasama
yang mereka lakukan membuah hasil maksimal.
Setelah
menyerahkan kunci mobil ke pelayan untuk diparkirkan, rama dengan gentle
mengamit lengan alyssa dengan lembut seraya melangkah memasuki ruangan aula
yang besar. Beberapa orang menyambut mereka dengan ramah, beberapa hanya
mengacungkan gelasnya ke arah rama yang disambut rama dengan tersenyum. Alyssa
merasa risih dengan tempatnya berada.
Tempat
ini penuh dengan pria-pria yang memakai setelan jas mahal dan wanita yang
berdandan sangat elegan. Alyssa hanya menghela napas seraya tersenyum ke arah
pria yang sedang disapa rama. Yah... setidaknya ia tidak mempermalukan rama
dengan dandanan naturalnya yang seperti remaja. Bersyukur karena rama membawanya
ke salon terlebih dahulu. Jika tidak ia pasti terlihat seperti remaja ingusan
yang masuk ke kawasan elit wanita-wanita dewasa dengan penampilan elegan.
Alyssa kembali menghela napasnya.
Sepanjang
pesta rama selalu memegang tangan alyssa. rama mengerti alyssa tidak terbiasa
dengan pesta formal seperti ini. seraya berbincang-bincang dengan yang lainnya.
Tanpa sadar rama merangkul pinggang alyssa dengan posesif. Seakan-akan
menunjukkan bahwa ia bangga bersanding dengan alyssa sebagai pasangan pestanya.
Penampilan rama tidak kalah tampan, dibalut setelan jas hitam yang elegan,
rambut di sisir rapi ke kanan dan bunga merah kecil yang diselipkan di saku
jasnya membuat rama seperti pangeran yang turun dari khayangan. Terdengar
dramatis, tetapi begitulah sebenarnya.
Alyssa
mengambil minuman dari pelayan yang ditawarkan kepadanya. Sedikit minum membuat
alyssa menjadi tenang. Matanya menetap sekeliling ruangan yang penuh orang yang
berbincang-bincang. Namun alyssa merasa ia sedang diperhatikan oleh seseorang
dengan intens. Matanya berjelajah mencari tau, dan terhenti pada pria tampan
yang mengarah gelasnya seraya menatap alyssa dengan intens kemudian tersenyum.
Alyssa
yang ditatap seintens itu merasa risih. Namun Alyssa tetap memandang pria itu,
alyssa merasa familiar dengan pria itu. Berpikir dimana ia pernah dengan pria
itu. Namun nihil. Dengan ragu alyssa membalas sapaan pria itu dengan
mengacungkan gelasnya juga.
“alyssa” panggil rama
Tatapan
alyssa langsung teralihkan kepada rama yang tersenyum kepadanya.
“apa yang kau lihat?”
tanya rama lembut
“aku
melihat pria yang sepertinya mengenalku” jawab alyssa seraya menatap kembali ke tempat pria tadi
berada. Namun tidak ada.
“kemana dia?” tanya
alyssa kepada diri sendiri.
Rama
hanya tersenyum. Wajar jika ada pria yang menyapa alyssa dari jauh. Karena
alyssa malam ini sangat cantik. Rama kembali mengamit lengan alyssa, berjalan
ke arah sekumpulan pria yang rata-rata sudah berumur ketika melihat ada salah
satu kliennya dalam sekumpulan tersebut.
Rama
menyapa kliennya dengan tersenyum ramah, begitu juga dengan alyssa.
“suatu
kehormatan kau datang ethan” sapa seorang pria paruh baya yang memakai setelan
jas biru dongker.
Alyssa
menoleh ke arah rama. Ethan. Ia masih
belum terbiasa ketika ada orang yang memanggil rama dengan sebutan ethan. Rama
tidak menyuruhnya untuk memanggil ethan juga ketika berada di pesta. Hal itu
membuat alyssa menghela napas tenang. Karena jika rama juga menyuruhnya
memanggil dengan sebutan ethan. Alyssa menjadi orang asing. Entahlah. Alyssa
tidak begitu menyukai nama ethan. Nama itu mengingatkannya pada profesi rama
yang dulu. Pembunuh bayaran.
Mata
alyssa kembali menangkap pria yang tadi menyapanya. Tatapan pria itu masih
sama. Intens. Membuat alyssa semakin risih. Dan rama merasakannya.
“kenapa alyssa?” tanya
rama
Mata
alyssa menoleh pada rama dan kembali menatap ke tempat pria tadi berada.
Lagi-lagi pria itu menghilang. Membuat alyssa menghela napas panjang.
“kepalaku pusing.
Bisakah kita pulang sekarang?” pinta alyssa.
Rama
langsung memeriksa kening alyssa. entah kenapa alyssa tiba-tiba merasa tidak
enak badan. Permintaan tadi bukan karena ia sudah tidak betah berada di pesta.
Tapi memang badan alyssa tiba-tiba merasa tidak enak.
Rama
menggangguk. Kemudian berpamitan ke kliennya dan orang-orang yang berada
disekelilingnya. Mengamit lengan alyssa. dan membawa alyssa pulang.
@@@
Semenjak
kejadian di pesta itu. Alyssa terus memikirkan pria yang menyapanya. Tidak
biasanya ia penasaran dengan orang lain. Tetapi perasaannya mengatakan bahwa
pria itu memiliki peran yang penting dalam ingatan alyssa. walaupun alyssa
tidak bisa memastikan kejelasannya. Tetapi bukankah hati biasanya mengatakan
benar? Benak alyssa bertanya.
Alyssa
hanya duduk sambil melihat pemandangan dari balkon dari kamarnya. runitinas
yang selalu ia lakukan jika ia ingin melamun ataupun merenungkan sesuatu.
“lys”.
Mendengar suara rama membuat alyssa hampir melompat dari balkon kamarnya. lagi-lagi
rama mengejutkannya.
“bisakah
kau berhenti mengejutkanku, itu tidak baik untuk jantungku rama?” keluh alyssa
sedikit merengek.
“apa
yang kau pikirkan?” tanya rama tersenyum. Rama tidak bermaksud mengejutkan
alyssa. alyssa terkejut karena gadis itu sedang melamun. Entah apa yang ada di
pikiran alyssa?
Alyssa
menoleh ke arah rama kemudian mengangkat bahunya. “aku hanya memandangi
pemandangan sore” kata alyssa sambil kembali menatap pemandangan sunset
didepannya.
Rama
menatap alyssa, terus-menerus tanpa ada kata bosan. Gadis itu lebih indah dari
pemandangan yang tersaji di depannya. Bahkan rama sempat berpikir bahwa sinar
matahari berpindah pada alyssa. karena
menurut tatapan rama. Alyssa terlalu bersinar.
“lys”
panggil rama. Alyssa hanya berguman tanda ia mendengarkan.
Rama
tidak melanjutkan kata-katanya membuat tatapan alyssa teralihkan kepada rama.
“ada apa?” tanya
alyssa
Sekilas
ada kilatan ragu di mata rama. Masih tidak ada jawaban. Rama hanya memandangi
alyssa tanpa berniat melanjutkan
kata-katanya. Wajah alyssa mendekat ke arah rama. Meneliti lebih dekat. Tanpa
sadar wajah mereka hanya berjarak 5 cm. Rama sengaja semakin mendekat ke arah
alyssa. mengganggu alyssa menjadi hobinya akhir-akhir ini. alyssa menyadari
jarak wajah mereka yang sangat dekat segera menjauhkan wajahnya yang merona.
Rama hanya terkekeh.
Dia
sengaja mempermainkanku? Guman kesal alyssa dalam hati
“lys” panggil rama
kembali
“apa?” jawab alyssa
cepat dan ketus
Rama
hanya tersenyum. Menatap ke depan sembari menerawang keputusannya. Setelah
beberapa saat kembali menoleh ke arah alyssa.
“aku
akan pergi” ujar rama pelan tetapi sukses membuat alyssa menoleh cepat ke arah
rama. Kening alyssa berkerut.
“aku
akan ke amerika, ada urusan kantor yang harus aku selesaikan” jelas rama
“berapa
lama?” tanya alssa pelan. Mendengar rama ingin pergi, napas alyssa menjadi
berat.
“sekitar seminggu,
mungkin bisa lebih” jawab rama
Alyssa
menghela napasnya. Seraya menatap rama lama. Kemudian mengganggukkan kepalanya.
ingin rasanya melarang rama pergi, tetapi ia bisa apa. Walaupun mereka sudah
tinggal bersama dalam beberapa bulan ini, rama tetap menganggap alyssa sebagai
teman. Hanya teman, kalimat itu membuat alyssa mengerucutkan bibirnya.
Alyssa
beranjak dari balkon kamarnya dengan lemas, namun pergelangan tangannya di
tahan rama. Alyssa menoleh.
“aku belum siap
bicara” ujar rama
Alyssa
mendengarkan. Rama menarik pelan tangan alyssa supaya mendekat ke arahnya.
Kemudian tangannya terulur untuk membelai rambut panjang alyssa. tersenyum.
“setelah
aku balik dari amerika, aku akan mengatakan sesuatu padamu” terang rama. Kening
alyssa berkerut, namun masih menunggu kalimat selanjutnya dari rama.
“tentang perasaanku”
Kalimat
terakhir rama membuat jantung alyssa berdegup dengan kencang. Apa maksud rama? Benak alyssa bertanya-tanya
“tapi
sebelum itu aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, kau mau menunggu kan?”
tanya rama mengangkat alisnya.
Alyssa
tersenyum hangat dan menggangguk kepala. Tentu saja ia akan menunggu. Bahkan ia
rela menunggu seumur hidup untuk mendengar kata tersebut. Bibit harapan yang
semula ditanam dalam hatinya berlahan tumbuh menjadi tanaman kecil. Tree of
wish. Pohon harapan. Perasaan alyssa kepada rama.
@@@
Selama
rama berada di amerika, alyssa tinggal bersama orangtuanya. Mengerjakan
pekerjaan rumah, sesekali bertemu dengan anna membicarakan tentang hal apa
saja. Membuat hari alyssa yang sebenarnya merasa lebih lambat dari biasanya,
bisa sedikit menikmati hari-harinya.
Alyssa
sedang duduk sambil membaca buku fiksi yang sedang digemari di kalangan wanita.
Mama alyssa berjalan mendekati alyssa yang tidak menyadari kehadiran mamanya.
Duduk sambil tersenyum dan terdorong untuk membelai rambut buah hatinya.
Alyssa
sekarang sangat berbeda dengan yang dulu, sekarang lebih dewasa, lebih bisa
memanfaatkan waktu luangnya. Mama alyssa teringat sesuatu kemudian mengeluarkan
sebuah amplop warna merah muda lembut yang dihiasi dengan pita kecil yang manis
dengan warna senada.
“lyssa, ada surat untukmu”
ujar mama alyssa.
Alyssa
mendongak menoleh ke arah jemari mamanya yang memegang amplop merah muda seraya
mengerutkan keningnya.
Apa mungkin rama?
Batin alyssa
Senyum
alyssa mengembang dan segera menerima amplop tersebut, membolak balikkan amplop
tersebut mencari pengirimnya, namun tidak ia temukan.
“dari siapa ma?” tanya
alyssa
Mama
alyssa hanya mengangkat bahunya, dan kemudian menoleh ke amplop yang sedang
dipegang alyssa.
“coba kamu baca” ujar
mama
Alyssa
mulai membuka amplop merah muda itu, terdapat fotonya yang sedang memakai
pakaian merah muda, tersenyum indah seraya mengangkat jari telunjuk dan jarinya
manisnya membentuk huruf V. Kemudian menyerahkan ke mamanya.
Dalam amplop tersebut
juga terdapat sebuah surat yang juga berwarna senada.
Halo
cantik,,
Aku
adalah temanmu,
Yah..
bisa di bilang seperti itu.
Maukah
kau menemui temanmu yang satu ini?
Di
restoran tempatmu berkencan dengan pacarmu
Dua
hari setelah kau membaca surat ini
Pukul
19.00 pm.
Ryan
patterson
Kening
alyssa semakin berkerut setelah membaca surat tersebut. Ryan?
Seingat alyssa ia tidak pernah mempunyai teman yang bernama ryan. Dan rama juga
tidak menyinggung apapun tentang ryan. Alyssa hanya mengangkat bahunya acuh.
Mungkin akan ia tanyakan kepada anna saja, putus alyssa.
@@@
Rama
memandangi pemandangan kota las vegas dari hotel tempatnya menginap, tujuannya
datang ke negara ini adalah untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
alyssa.
Rama
berbohong pada alyssa, mengatakan akan menyelesaikan urusan kantor. Sebenarnya Cabang
perusahaan yang ada di las vegas sudah ia serahkan sepenuhnya kepada orang yang
ia percayai. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan negara ini, negara yang
telah membuat hidupnya penuh dengan darah, darah – darah orang yang tidak
bersalah.
Dulu
rama orang yang sangat dingin, hampir tidak pernah tersenyum tulus, hanya
seringaian yang mengerikan yang ia pasang pada wajah tampannya. Membunuh orang
menjadi hobinya yang menyenangkan, seperti membunuh lalat yang mengganggu
pandangannya atau membunuh nyamuk yang mengganggu pendengarannya. Semudah
itulah ia membunuh, menganggap nyawa seperti uang, yang mudah
dihambur-hamburkan. Tapi semua berubah ketika mengenal alyssa.
Rama
tersenyum ketika mengingat kenangannya bersama alyssa. gadis itu membuat
kehidupan rama berubah menjadi 180 derajat. Rama yang dingin berubah menjadi
rama yang ramah dan mudah tersenyum. Rama yang semula tidak pernah peduli
kepada lingkungan di sekitarnya berubah menjadi rama yang peduli dengan
orang-orang di sekelilingnya. Dan karena alyssa juga rama berhenti dari dunia
kelam yang selama ini ia geluti.
Walaupun
alyssa yang dulu ia kenal sangat kekanak-kanakan, manja dan suka merengek
padanya. Rama tetap jatuh cinta pada alyssa. jatuh cinta pada senyum alyssa
yang kekanak-kanakan, jatuh cinta pada rengekan alyssa. semuanya mengalir
seperti air.
Alyssa
yang masih berpikiran seperti remaja dengan mudahnya menerima rama dalam
kehidupannya. Menerima dengan hati yang masih polos. Mereka mulai berhubungan
dekat, saling mengisi satu sama lain. Ah.. itu masa-masa yang sangat indah.
Tapi
semuanya hancur ketika sebuah organisasi mafia menawarkan order terakhir kepada
rama. sebuah order kecil. Begitulah kata mereka. Tapi tidak untuk rama. karena order itulah hubungannya dengan cintanya.
Alyssa.
Beberapa
hari yang lalu rama mendapatkan informasi dari christy, orang kepercayaannya,
bahwa organisasi mafia tersebut mulai bergerak kembali membuat rama segera
melesat ke amerika untuk mencari informasi yang kiranya dapat ia gunakan jika
sesuatu yang ia tidak inginkan terjadi. Dan pekerjaan ini, ia sendiri yang
turun tangan.
Ia
tidak ingin salah prediksi, semuanya harus dipersiapkan dengan matang. Harus
tuntas sampai ke akarnya. Begitulah prinsip yang selama ini rama terapkan.
Matanya
masih memandang langit kota las vegas, namun tidak dengan hatinya. Hatinya
memikirkan alyssa. rama kembali tersenyum. Senyumannya adalah alyssa. karena
setiap mengingat alyssa, rama selalu tersenyum.
Setelah
berdiri lama di balik jendela kacanya, rama melirik jam kemudian berjalan
menjauhinya jendela kaca keluar hotel, menuju ke suatu tempat.
@@@
Alyssa
hanya berdandan natural, hanya makan malam jadi ia hanya perlu tampil sederhana
saja, putus alyssa.
Setelah
memastikan riasannya sempurna, alyssa menuruni tangga perpamitan kepada
orangtuanya kemudian masuk ke dalam taxi yang sudah ia pesan. Sebenarnya papa
alyssa berniat untuk mengantar alyssa. tapi alyssa bersikeras ingin datang
sendiri, membuat papanya mengangguk pasrah.
Setidaknya
masih ada sifat alyssa yang dulu. Keras kepala. Pikir papa alyssa dalam hati.
Setelah
sampai pada tempat perjanjian. Alyssa melangkah masuk ke restoran, tersenyum
mengingat momen indahnya bersama rama. ah.. pemuda itu benar-benar membuat
alyssa gila.
Begitu
berada di restoran tersebut, alyssa langsung disambut oleh pelayan yang
menanyakan apakah alyssa sudah reservasi tempat. Alyssa hanya menggangguk
kemudian menyebutkan nama ryan patterson.
Sang
pelayan membawa alyssa menuju tempat yang sepertinya dipesan khusus untuk
alyssa. sebuah meja bundar yang ditutupi oleh taplak meja berwarna merah muda.
Di atas meja terdapat dua mawar yang berwarna putih dan merah muda.
Banyak
pertanyaan yang memenuhi benak alyssa. sepertinya pemuda yang bernama ryan
patterson itu sangat mengenalnya. Apa
hubungan mereka?.
Alyssa
duduk di tempat yang sudah dipersilahkan oleh pelayan. Kemudian menatap ke
sekeliling ruangan. Menunggu pasangan makan malamnya.
“apa
kabar alyssa?” mendengar suara disampingnya membuat alyssa menoleh dengan
cepat. Seorang pemuda tampan dengan setelah jas putih serta mawar merah muda
yang diselipkan di saku jasnya membuatnya bersinar. Apalagi diiringan dengan
senyuman yang ramah. Seorang pemuda yang sempurna. Begitulah penilaian alyssa.
“kau?”
tanya alyssa terkejut. Pemuda pesta yang
menyapanya, lanjut alyssa dalam hati
Sang
pemuda hanya tersenyum, kemudian duduk di depan alyssa.
“kau semakin cantik”.
Pujian ryan membuat wajah alyssa merona.
“kau
yang mengirimkan surat ini?” tanya alyssa sambil memperlihatkan amplop merah
muda.
Ryan-sang
pemuda tampan-Hanya tersenyum dan
mengangguk pelan.
“maaf,
aku tidak mengingatmu. Beberapa bulan yang lalu aku mengalami kecalakaan yang
membuat ingatanku hilang” jelas alyssa dengan sikap sopan.
“bagus” respon ryan.
Alyssa mengerutkan
keningnya mendengar jawaban ryan.
“aku becanda, tidak
apa-apa” kata ryan sambil tersenyum.
Mereka
memulai makan malam dengan acara pengenalan, karena memang alyssa tidak
mengingat apapun tentang ryan. Walaupun ada sebersit penasaran pada ryan.
Alyssa segera mengenyahkan pikirannya.
Ryan
mengantar pulang alyssa, setelah berdebat panjang. Alyssa yang tidak mau di
antar mengatakan ia akan pulang dengan taxi. Ryan dengan keras kepala berniat
untuk mengantar pulang alyssa. tidak baik wanita cantik pulang sendirian,
begitulah kata ryan.
Dengan
gentle ryan membuka pintu mobil, mempersilahkan alyssa untuk turun dan
mengantar alyssa sampai ke depan pintu rumahnya, menunggu alyssa masuk baru
melajukan mobilnya.
Alyssa
merasa senang. Perasaan yang sama ketika ia baru mengetahui kalau ia mempunyai
teman seperti anna. Perasaan jika seseorang mempunyai banyak teman. Seperti
itulah yang dirasakan alyssa. tidak ada perasaan lain.
@@@
Alyssa
melirik jamnya dengan tidak sabar, ia sedang di bandara. Keadaan bandara ramai
oleh orang-orang yang ingin bepergian atau baru pulang dari tempat tujuan.
Seperti halnya dengan rama.
Hari
ini rama pulang, guman alyssa senang dalam hati
Senyum
alyssa terus mengembang sepanjang ia menunggu. Ia menunggu di pintu kedatangan
luar negeri. Matanya mencari sosok rama yang belum muncul sedari tadi. Alyssa
tidak salah jadwal. Karena ia sudah mengeceknya di FIDS[1].
Seharusnya rama sudah tiba 15 menit yang lalu. Alyssa kembali melirik jamnya.
Mungkinkah
pesawatnya delay? Guman alyssa dalam hati
Ia
memutuskan untuk tetap menunggu. Membayangkan apa yang akan dikatakan rama
membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Mungkinkah rama akan mengakui
perasaannya? Atau...?
“sudah
lama menunggu?” suara rama membuyarkan lamunan alyssa. dengan cepat alyssa
menoleh dan segera berhambur ke dalam pelukan rama. alyssa sangat merindukan
rama. walaupun rama pergi hanya sepekan, tetap saja alyssa rindu. Terbiasa akan
kehadiran rama membuat alyssa merasakan perasaan rindu yang menggebu-gebu.
“kau baik-baik saja?”
tanya rama
Setelah
melepaskan pelukan, alyssa menganggukkan kepala. Rama. pemuda yang dicintai
oleh alyssa dengan sepenuh hati kini tersenyum manis. Satu hal yang alyssa
sadari ketinggal rama pergi ke amerika. Bahwa ia tidak bisa jauh dari pemuda
itu. Salah- lebih tepatnya tidak bisa hidup tanpa pemuda itu.
Alyssa
terus tersenyum menatap rama. rama yang
ditatap seperti itu hanya tersenyum heran.
“kau kenapa?” tanya
rama sambil tersenyum geli
Alyssa melangkah mendekati rama,
kemudian memeluk lagi pemuda bermata coklat terang tersebut. Membuat rama
sempat mematung lalu membalas pelukan alyssa.
“aku merindukanmu”
Ucapan
alyssa membuat bibir rama menyunggingkan senyuman yang lebar. Perempuan ini
merindukannya?
“aku
juga merindukanmu” ujar rama pelan. Suaranya sarat akan kasih sayang.
Rama
melepaskan pelukan. Kemudian menatap alyssa dengan tatapan penuh kelembutan.
Mulai hari ini, rama bertekad akan berterus terang kepada dirinya sendiri.
Berterus terang mengatakan pada diri sendiri bahwa ia mencintai alyssa. mulai
sekarang ia tidak akan lagi mencoba menutup hatinya. Tekadnya begitu kuat.
“apa
yang kau lakukan selama aku di amerika?” tanya rama. meskipun ia sudah tau
aktifitas alyssa. karena ia memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi alyssa
dari jarak yang tidak di sadari oleh alyssa sendiri.
“aku...
yang runitas biasa. Membersihkan apartemenmu, bertemu dengan anna dan menyapa
beberapa tetangga” jelas alyssa. namun teringat sesuatu.
“ah,
ia. Aku bertemu teman baru, sebenarnya bukan teman baru, karena ia mengenalku.
Namanya ryan. Ryan patterson. Dia pemuda yang baik, enak di ajak bicara dan
humoris seperti anna” ujar alyssa, terus berjalan dan tidak sadar jika rama sudah
tertinggal di belakangnya, lelaki itu menghentikan begitu menangkap nama yang
disebutkan alyssa.
Ryan
patterson!
Tangan
rama mengepal kuat, bagaimana mungkin ia melewatkan yang satu ini, rama sengaja
menempatkan anak buahnya untuk mengawasi alyssa. untuk menjaga alyssa tepatnya.
Tapi informasi ini begitu penting dan anak buahnya melewatkannya begitu saja.
“dan...”
alyssa menatap kesamping, tidak mendapati sosok rama, lalu segera menghentikan
langkahnya, berbalik dan menatap rama yang terus berdiri dengan pandangan
menerawang.
“rama” panggil alyssa
seraya kembali ke tempat rama berada
Lamuyan
rama buyar, dan segera tersenyum. Menggenggam tangan alyssa.
“aku
lapar, Ayo kita makan” ajak khas rama – memerintah – membuat alyssa tersenyum.
Mereka keluar bandara sambil bergenggaman tangan.
[1] Flight Information Display System adalah suatu sistem
yang berfungsi untuk menampilkan informasi jadwal penerbangan baik kedatangan
pesawat (arrival) maupun keberangkatan pesawat (departure) di suatu bandar
udara
Bersambung ke Part 8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar