/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Sabtu, 31 Agustus 2013

Name In My Heart Part 7

P.S : Tolong Tinggalin Jejak.. trims... :)

Rama membawa alyssa ke salah satu salon terbaik di kota mereka berada. Ia hanya mengatakan nanti malam mereka akan pergi ke pesta salah satu klien rama.
Pertama mereka masuk ke toko baju dan melihat gaun yang kira-kira cocok untuk tubuh alyssa. rama memilih beberapa gaun kemudian menyodorkannya kepada alyssa untuk dicoba. Alyssa menerimanya dengan pasrah. Ia kurang setuju dengan niat rama, di lemari apartemen rama, alyssa masih ada gaun yang pantas untuk ke pesta. Walaupun sederhana, sehingga tidak perlu menghambur-hamburkan uang seperti ini. alyssa masuk ke ruang ganti mencoba salah satu gaun, dan keluar untuk melihat pendapat rama. Rama menggelengkan kepalanya. alyssa hanya memutar bola matanya tanpa komentar. Kemudian masuk kembali ke ruang ganti mencoba yang lainnya. Setelah beberapa kali mencoba gaun. Pilihan rama jatuh kepada gaun panjang merah tua lembut dengan aksen backless yang terlihat kontras dengan kulitnya. Kemudian mereka memilih sepatu hills yang dengan warna agak yang gelap. Dan langkah terakhir mereka yaitu salon.

Dengan setia rama menunggu alyssa yang sedang berdandan. Sambil mengulur waktu rama melihat-lihat beberapa majalah bisnis yang terletak di meja tunggu. Membacanya sekilas.
Setelah beberapa saat menunggu, sang pemilik salon berdeham dan melirik ke arah alyssa. rama mematung. Penampilan alyssa sangat feminim. Dengan rambut di gulung ke atas tengkuk yang memperlihatkan anting-antingnya dan disempurnakan dengan riasan yang natural. Penampilan alyssa nampak dewasa. Alyssa hanya tersenyum manis.
Rama mengancungi jempol ke arah alyssa. setelah membayar mereka menuju restoran untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pergi ke pesta.
“kau sangat cantik” ujar rama penuh pujian.
Alyssa menggigit bibir bawahnya seraya tersenyum malu. Ia sendiri tidak menyangka ketika melihat di cermin. Ia benar-benar tampak berbeda. Terakhir ketika ia malam bersama rama, ia hanya mengenakan gaun biasa dan berias natural. Tapi sekarang ia kelihatan sangat dewasa, seksi namun tetap elegan.
Selama makan malam mereka hanya bercakap-cakap ringan. Membahas apapun yang menarik. Rama tidak pernah kehabisan pembicaraan ketika berbicara dengan alyssa karena sifat alyssa yang sangat easy going.
Setelah beberapa lama, mereka akhirnya ke pesta salah satu klien rama. Rama datang karena loyalitas sang pemilik pesta yang sangat tinggi terhadap rama. Kerjasama yang mereka lakukan membuah hasil maksimal.
Setelah menyerahkan kunci mobil ke pelayan untuk diparkirkan, rama dengan gentle mengamit lengan alyssa dengan lembut seraya melangkah memasuki ruangan aula yang besar. Beberapa orang menyambut mereka dengan ramah, beberapa hanya mengacungkan gelasnya ke arah rama yang disambut rama dengan tersenyum. Alyssa merasa risih dengan tempatnya berada.
Tempat ini penuh dengan pria-pria yang memakai setelan jas mahal dan wanita yang berdandan sangat elegan. Alyssa hanya menghela napas seraya tersenyum ke arah pria yang sedang disapa rama. Yah... setidaknya ia tidak mempermalukan rama dengan dandanan naturalnya yang seperti remaja. Bersyukur karena rama membawanya ke salon terlebih dahulu. Jika tidak ia pasti terlihat seperti remaja ingusan yang masuk ke kawasan elit wanita-wanita dewasa dengan penampilan elegan. Alyssa kembali menghela napasnya.
Sepanjang pesta rama selalu memegang tangan alyssa. rama mengerti alyssa tidak terbiasa dengan pesta formal seperti ini. seraya berbincang-bincang dengan yang lainnya. Tanpa sadar rama merangkul pinggang alyssa dengan posesif. Seakan-akan menunjukkan bahwa ia bangga bersanding dengan alyssa sebagai pasangan pestanya. Penampilan rama tidak kalah tampan, dibalut setelan jas hitam yang elegan, rambut di sisir rapi ke kanan dan bunga merah kecil yang diselipkan di saku jasnya membuat rama seperti pangeran yang turun dari khayangan. Terdengar dramatis, tetapi begitulah sebenarnya.
Alyssa mengambil minuman dari pelayan yang ditawarkan kepadanya. Sedikit minum membuat alyssa menjadi tenang. Matanya menetap sekeliling ruangan yang penuh orang yang berbincang-bincang. Namun alyssa merasa ia sedang diperhatikan oleh seseorang dengan intens. Matanya berjelajah mencari tau, dan terhenti pada pria tampan yang mengarah gelasnya seraya menatap alyssa dengan intens kemudian tersenyum.
Alyssa yang ditatap seintens itu merasa risih. Namun Alyssa tetap memandang pria itu, alyssa merasa familiar dengan pria itu. Berpikir dimana ia pernah dengan pria itu. Namun nihil. Dengan ragu alyssa membalas sapaan pria itu dengan mengacungkan gelasnya juga.
“alyssa” panggil rama
Tatapan alyssa langsung teralihkan kepada rama yang tersenyum kepadanya.
“apa yang kau lihat?” tanya rama lembut
“aku melihat pria yang sepertinya mengenalku” jawab alyssa  seraya menatap kembali ke tempat pria tadi berada. Namun tidak ada.
“kemana dia?” tanya alyssa kepada diri sendiri.
Rama hanya tersenyum. Wajar jika ada pria yang menyapa alyssa dari jauh. Karena alyssa malam ini sangat cantik. Rama kembali mengamit lengan alyssa, berjalan ke arah sekumpulan pria yang rata-rata sudah berumur ketika melihat ada salah satu kliennya dalam sekumpulan tersebut.
Rama menyapa kliennya dengan tersenyum ramah, begitu juga dengan alyssa.
“suatu kehormatan kau datang ethan” sapa seorang pria paruh baya yang memakai setelan jas biru dongker.
Alyssa menoleh ke arah rama. Ethan. Ia  masih belum terbiasa ketika ada orang yang memanggil rama dengan sebutan ethan. Rama tidak menyuruhnya untuk memanggil ethan juga ketika berada di pesta. Hal itu membuat alyssa menghela napas tenang. Karena jika rama juga menyuruhnya memanggil dengan sebutan ethan. Alyssa menjadi orang asing. Entahlah. Alyssa tidak begitu menyukai nama ethan. Nama itu mengingatkannya pada profesi rama yang dulu. Pembunuh bayaran.
Mata alyssa kembali menangkap pria yang tadi menyapanya. Tatapan pria itu masih sama. Intens. Membuat alyssa semakin risih. Dan rama merasakannya.
“kenapa alyssa?” tanya rama
Mata alyssa menoleh pada rama dan kembali menatap ke tempat pria tadi berada. Lagi-lagi pria itu menghilang. Membuat alyssa menghela napas panjang.
“kepalaku pusing. Bisakah kita pulang sekarang?” pinta alyssa.
Rama langsung memeriksa kening alyssa. entah kenapa alyssa tiba-tiba merasa tidak enak badan. Permintaan tadi bukan karena ia sudah tidak betah berada di pesta. Tapi memang badan alyssa tiba-tiba merasa tidak enak.
Rama menggangguk. Kemudian berpamitan ke kliennya dan orang-orang yang berada disekelilingnya. Mengamit lengan alyssa. dan membawa alyssa pulang.

@@@
Semenjak kejadian di pesta itu. Alyssa terus memikirkan pria yang menyapanya. Tidak biasanya ia penasaran dengan orang lain. Tetapi perasaannya mengatakan bahwa pria itu memiliki peran yang penting dalam ingatan alyssa. walaupun alyssa tidak bisa memastikan kejelasannya. Tetapi bukankah hati biasanya mengatakan benar? Benak alyssa bertanya.
Alyssa hanya duduk sambil melihat pemandangan dari balkon dari kamarnya. runitinas yang selalu ia lakukan jika ia ingin melamun ataupun merenungkan sesuatu.
“lys”. Mendengar suara rama membuat alyssa hampir melompat dari balkon kamarnya. lagi-lagi rama mengejutkannya.
“bisakah kau berhenti mengejutkanku, itu tidak baik untuk jantungku rama?” keluh alyssa sedikit merengek.
“apa yang kau pikirkan?” tanya rama tersenyum. Rama tidak bermaksud mengejutkan alyssa. alyssa terkejut karena gadis itu sedang melamun. Entah apa yang ada di pikiran alyssa?
Alyssa menoleh ke arah rama kemudian mengangkat bahunya. “aku hanya memandangi pemandangan sore” kata alyssa sambil kembali menatap pemandangan sunset didepannya.
Rama menatap alyssa, terus-menerus tanpa ada kata bosan. Gadis itu lebih indah dari pemandangan yang tersaji di depannya. Bahkan rama sempat berpikir bahwa sinar matahari berpindah  pada alyssa. karena menurut tatapan rama. Alyssa terlalu bersinar.
“lys” panggil rama. Alyssa hanya berguman tanda ia mendengarkan.
Rama tidak melanjutkan kata-katanya membuat tatapan alyssa teralihkan kepada rama.
“ada apa?” tanya alyssa
Sekilas ada kilatan ragu di mata rama. Masih tidak ada jawaban. Rama hanya memandangi alyssa tanpa  berniat melanjutkan kata-katanya. Wajah alyssa mendekat ke arah rama. Meneliti lebih dekat. Tanpa sadar wajah mereka hanya berjarak 5 cm. Rama sengaja semakin mendekat ke arah alyssa. mengganggu alyssa menjadi hobinya akhir-akhir ini. alyssa menyadari jarak wajah mereka yang sangat dekat segera menjauhkan wajahnya yang merona. Rama hanya terkekeh.
Dia sengaja mempermainkanku? Guman kesal alyssa dalam hati
“lys” panggil rama kembali
“apa?” jawab alyssa cepat dan ketus
Rama hanya tersenyum. Menatap ke depan sembari menerawang keputusannya. Setelah beberapa saat kembali menoleh ke arah alyssa.
“aku akan pergi” ujar rama pelan tetapi sukses membuat alyssa menoleh cepat ke arah rama. Kening alyssa berkerut.
“aku akan ke amerika, ada urusan kantor yang harus aku selesaikan” jelas rama
“berapa lama?” tanya alssa pelan. Mendengar rama ingin pergi, napas alyssa menjadi berat.
“sekitar seminggu, mungkin bisa lebih” jawab rama
Alyssa menghela napasnya. Seraya menatap rama lama. Kemudian mengganggukkan kepalanya. ingin rasanya melarang rama pergi, tetapi ia bisa apa. Walaupun mereka sudah tinggal bersama dalam beberapa bulan ini, rama tetap menganggap alyssa sebagai teman. Hanya teman, kalimat itu membuat alyssa mengerucutkan bibirnya.
Alyssa beranjak dari balkon kamarnya dengan lemas, namun pergelangan tangannya di tahan rama. Alyssa menoleh.
“aku belum siap bicara” ujar rama
Alyssa mendengarkan. Rama menarik pelan tangan alyssa supaya mendekat ke arahnya. Kemudian tangannya terulur untuk membelai rambut panjang alyssa. tersenyum.
“setelah aku balik dari amerika, aku akan mengatakan sesuatu padamu” terang rama. Kening alyssa berkerut, namun masih menunggu kalimat selanjutnya dari rama.
“tentang perasaanku”
Kalimat terakhir rama membuat jantung alyssa berdegup dengan kencang. Apa maksud rama?  Benak alyssa bertanya-tanya
“tapi sebelum itu aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, kau mau menunggu kan?” tanya rama mengangkat alisnya.
Alyssa tersenyum hangat dan menggangguk kepala. Tentu saja ia akan menunggu. Bahkan ia rela menunggu seumur hidup untuk mendengar kata tersebut. Bibit harapan yang semula ditanam dalam hatinya berlahan tumbuh menjadi tanaman kecil. Tree of wish. Pohon harapan. Perasaan alyssa kepada rama.


@@@

Selama rama berada di amerika, alyssa tinggal bersama orangtuanya. Mengerjakan pekerjaan rumah, sesekali bertemu dengan anna membicarakan tentang hal apa saja. Membuat hari alyssa yang sebenarnya merasa lebih lambat dari biasanya, bisa sedikit menikmati hari-harinya.
Alyssa sedang duduk sambil membaca buku fiksi yang sedang digemari di kalangan wanita. Mama alyssa berjalan mendekati alyssa yang tidak menyadari kehadiran mamanya. Duduk sambil tersenyum dan terdorong untuk membelai rambut buah hatinya.
Alyssa sekarang sangat berbeda dengan yang dulu, sekarang lebih dewasa, lebih bisa memanfaatkan waktu luangnya. Mama alyssa teringat sesuatu kemudian mengeluarkan sebuah amplop warna merah muda lembut yang dihiasi dengan pita kecil yang manis dengan warna senada.
“lyssa, ada surat untukmu” ujar mama alyssa.
Alyssa mendongak menoleh ke arah jemari mamanya yang memegang amplop merah muda seraya mengerutkan keningnya.
Apa mungkin rama? Batin alyssa
Senyum alyssa mengembang dan segera menerima amplop tersebut, membolak balikkan amplop tersebut mencari pengirimnya, namun tidak ia temukan.
“dari siapa ma?” tanya alyssa
Mama alyssa hanya mengangkat bahunya, dan kemudian menoleh ke amplop yang sedang dipegang alyssa.
“coba kamu baca” ujar mama
Alyssa mulai membuka amplop merah muda itu, terdapat fotonya yang sedang memakai pakaian merah muda, tersenyum indah seraya mengangkat jari telunjuk dan jarinya manisnya membentuk huruf V. Kemudian menyerahkan ke mamanya.

Dalam amplop tersebut juga terdapat sebuah surat yang juga berwarna senada.

Halo cantik,,
Aku adalah temanmu,
Yah.. bisa di bilang seperti itu.
Maukah kau menemui temanmu yang satu ini?
Di restoran tempatmu berkencan dengan pacarmu
Dua hari setelah kau membaca surat ini
Pukul 19.00 pm.
Ryan patterson

Kening alyssa semakin berkerut setelah membaca surat tersebut.  Ryan? Seingat alyssa ia tidak pernah mempunyai teman yang bernama ryan. Dan rama juga tidak menyinggung apapun tentang ryan. Alyssa hanya mengangkat bahunya acuh. Mungkin akan ia tanyakan kepada anna saja, putus alyssa.

@@@

Rama memandangi pemandangan kota las vegas dari hotel tempatnya menginap, tujuannya datang ke negara ini adalah untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan alyssa.
Rama berbohong pada alyssa, mengatakan akan menyelesaikan urusan kantor. Sebenarnya Cabang perusahaan yang ada di las vegas sudah ia serahkan sepenuhnya kepada orang yang ia percayai. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan negara ini, negara yang telah membuat hidupnya penuh dengan darah, darah – darah orang yang tidak bersalah.
Dulu rama orang yang sangat dingin, hampir tidak pernah tersenyum tulus, hanya seringaian yang mengerikan yang ia pasang pada wajah tampannya. Membunuh orang menjadi hobinya yang menyenangkan, seperti membunuh lalat yang mengganggu pandangannya atau membunuh nyamuk yang mengganggu pendengarannya. Semudah itulah ia membunuh, menganggap nyawa seperti uang, yang mudah dihambur-hamburkan. Tapi semua berubah ketika mengenal alyssa.
Rama tersenyum ketika mengingat kenangannya bersama alyssa. gadis itu membuat kehidupan rama berubah menjadi 180 derajat. Rama yang dingin berubah menjadi rama yang ramah dan mudah tersenyum. Rama yang semula tidak pernah peduli kepada lingkungan di sekitarnya berubah menjadi rama yang peduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Dan karena alyssa juga rama berhenti dari dunia kelam yang selama ini ia geluti.
Walaupun alyssa yang dulu ia kenal sangat kekanak-kanakan, manja dan suka merengek padanya. Rama tetap jatuh cinta pada alyssa. jatuh cinta pada senyum alyssa yang kekanak-kanakan, jatuh cinta pada rengekan alyssa. semuanya mengalir seperti air.
Alyssa yang masih berpikiran seperti remaja dengan mudahnya menerima rama dalam kehidupannya. Menerima dengan hati yang masih polos. Mereka mulai berhubungan dekat, saling mengisi satu sama lain. Ah.. itu masa-masa yang sangat indah.
Tapi semuanya hancur ketika sebuah organisasi mafia menawarkan order terakhir kepada rama. sebuah order kecil. Begitulah kata mereka. Tapi tidak untuk rama.  karena order itulah hubungannya dengan cintanya. Alyssa.
Beberapa hari yang lalu rama mendapatkan informasi dari christy, orang kepercayaannya, bahwa organisasi mafia tersebut mulai bergerak kembali membuat rama segera melesat ke amerika untuk mencari informasi yang kiranya dapat ia gunakan jika sesuatu yang ia tidak inginkan terjadi. Dan pekerjaan ini, ia sendiri yang turun tangan.
Ia tidak ingin salah prediksi, semuanya harus dipersiapkan dengan matang. Harus tuntas sampai ke akarnya. Begitulah prinsip yang selama ini rama terapkan.
Matanya masih memandang langit kota las vegas, namun tidak dengan hatinya. Hatinya memikirkan alyssa. rama kembali tersenyum. Senyumannya adalah alyssa. karena setiap mengingat alyssa, rama selalu tersenyum.
Setelah berdiri lama di balik jendela kacanya, rama melirik jam kemudian berjalan menjauhinya jendela kaca keluar hotel, menuju ke suatu tempat.

@@@

Alyssa hanya berdandan natural, hanya makan malam jadi ia hanya perlu tampil sederhana saja, putus alyssa.
Setelah memastikan riasannya sempurna, alyssa menuruni tangga perpamitan kepada orangtuanya kemudian masuk ke dalam taxi yang sudah ia pesan. Sebenarnya papa alyssa berniat untuk mengantar alyssa. tapi alyssa bersikeras ingin datang sendiri, membuat papanya mengangguk pasrah.
Setidaknya masih ada sifat alyssa yang dulu. Keras kepala. Pikir papa alyssa dalam hati.
Setelah sampai pada tempat perjanjian. Alyssa melangkah masuk ke restoran, tersenyum mengingat momen indahnya bersama rama. ah.. pemuda itu benar-benar membuat alyssa gila.
Begitu berada di restoran tersebut, alyssa langsung disambut oleh pelayan yang menanyakan apakah alyssa sudah reservasi tempat. Alyssa hanya menggangguk kemudian menyebutkan nama ryan patterson.
Sang pelayan membawa alyssa menuju tempat yang sepertinya dipesan khusus untuk alyssa. sebuah meja bundar yang ditutupi oleh taplak meja berwarna merah muda. Di atas meja terdapat dua mawar yang berwarna putih dan merah muda.
Banyak pertanyaan yang memenuhi benak alyssa. sepertinya pemuda yang bernama ryan patterson itu sangat mengenalnya. Apa hubungan mereka?.
Alyssa duduk di tempat yang sudah dipersilahkan oleh pelayan. Kemudian menatap ke sekeliling ruangan. Menunggu pasangan makan malamnya.
“apa kabar alyssa?” mendengar suara disampingnya membuat alyssa menoleh dengan cepat. Seorang pemuda tampan dengan setelah jas putih serta mawar merah muda yang diselipkan di saku jasnya membuatnya bersinar. Apalagi diiringan dengan senyuman yang ramah. Seorang pemuda yang sempurna. Begitulah penilaian alyssa.
“kau?” tanya alyssa terkejut. Pemuda pesta yang menyapanya, lanjut alyssa dalam hati
Sang pemuda hanya tersenyum, kemudian duduk di depan alyssa.
“kau semakin cantik”. Pujian ryan membuat wajah alyssa merona.
“kau yang mengirimkan surat ini?” tanya alyssa sambil memperlihatkan amplop merah muda.
Ryan-sang pemuda tampan-Hanya tersenyum  dan mengangguk pelan.
“maaf, aku tidak mengingatmu. Beberapa bulan yang lalu aku mengalami kecalakaan yang membuat ingatanku hilang” jelas alyssa dengan sikap sopan.
“bagus” respon ryan.
Alyssa mengerutkan keningnya mendengar jawaban ryan.
“aku becanda, tidak apa-apa” kata ryan sambil tersenyum.
Mereka memulai makan malam dengan acara pengenalan, karena memang alyssa tidak mengingat apapun tentang ryan. Walaupun ada sebersit penasaran pada ryan. Alyssa segera mengenyahkan pikirannya.
Ryan mengantar pulang alyssa, setelah berdebat panjang. Alyssa yang tidak mau di antar mengatakan ia akan pulang dengan taxi. Ryan dengan keras kepala berniat untuk mengantar pulang alyssa. tidak baik wanita cantik pulang sendirian, begitulah kata ryan.
Dengan gentle ryan membuka pintu mobil, mempersilahkan alyssa untuk turun dan mengantar alyssa sampai ke depan pintu rumahnya, menunggu alyssa masuk baru melajukan mobilnya.
Alyssa merasa senang. Perasaan yang sama ketika ia baru mengetahui kalau ia mempunyai teman seperti anna. Perasaan jika seseorang mempunyai banyak teman. Seperti itulah yang dirasakan alyssa. tidak ada perasaan lain.

@@@

Alyssa melirik jamnya dengan tidak sabar, ia sedang di bandara. Keadaan bandara ramai oleh orang-orang yang ingin bepergian atau baru pulang dari tempat tujuan. Seperti halnya dengan rama.
Hari ini rama pulang, guman alyssa senang dalam hati
Senyum alyssa terus mengembang sepanjang ia menunggu. Ia menunggu di pintu kedatangan luar negeri. Matanya mencari sosok rama yang belum muncul sedari tadi. Alyssa tidak salah jadwal. Karena ia sudah mengeceknya di FIDS[1]. Seharusnya rama sudah tiba 15 menit yang lalu. Alyssa kembali melirik jamnya.
Mungkinkah pesawatnya delay? Guman alyssa dalam hati
Ia memutuskan untuk tetap menunggu. Membayangkan apa yang akan dikatakan rama membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Mungkinkah rama akan mengakui perasaannya? Atau...?
“sudah lama menunggu?” suara rama membuyarkan lamunan alyssa. dengan cepat alyssa menoleh dan segera berhambur ke dalam pelukan rama. alyssa sangat merindukan rama. walaupun rama pergi hanya sepekan, tetap saja alyssa rindu. Terbiasa akan kehadiran rama membuat alyssa merasakan perasaan rindu yang menggebu-gebu.
“kau baik-baik saja?” tanya rama
Setelah melepaskan pelukan, alyssa menganggukkan kepala. Rama. pemuda yang dicintai oleh alyssa dengan sepenuh hati kini tersenyum manis. Satu hal yang alyssa sadari ketinggal rama pergi ke amerika. Bahwa ia tidak bisa jauh dari pemuda itu. Salah- lebih tepatnya tidak bisa hidup tanpa pemuda itu.
Alyssa terus tersenyum menatap rama. rama yang  ditatap seperti itu hanya tersenyum heran.
“kau kenapa?” tanya rama sambil tersenyum geli
                Alyssa melangkah mendekati rama, kemudian memeluk lagi pemuda bermata coklat terang tersebut. Membuat rama sempat mematung lalu membalas pelukan alyssa.
“aku merindukanmu”
Ucapan alyssa membuat bibir rama menyunggingkan senyuman yang lebar. Perempuan ini merindukannya?
“aku juga merindukanmu” ujar rama pelan. Suaranya sarat akan kasih sayang.
Rama melepaskan pelukan. Kemudian menatap alyssa dengan tatapan penuh kelembutan. Mulai hari ini, rama bertekad akan berterus terang kepada dirinya sendiri. Berterus terang mengatakan pada diri sendiri bahwa ia mencintai alyssa. mulai sekarang ia tidak akan lagi mencoba menutup hatinya. Tekadnya begitu kuat.
“apa yang kau lakukan selama aku di amerika?” tanya rama. meskipun ia sudah tau aktifitas alyssa. karena ia memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi alyssa dari jarak yang tidak di sadari oleh alyssa sendiri.
“aku... yang runitas biasa. Membersihkan apartemenmu, bertemu dengan anna dan menyapa beberapa tetangga” jelas alyssa. namun teringat sesuatu.
“ah, ia. Aku bertemu teman baru, sebenarnya bukan teman baru, karena ia mengenalku. Namanya ryan. Ryan patterson. Dia pemuda yang baik, enak di ajak bicara dan humoris seperti anna” ujar alyssa, terus berjalan dan tidak sadar jika rama sudah tertinggal di belakangnya, lelaki itu menghentikan begitu menangkap nama yang disebutkan alyssa.
Ryan patterson!
Tangan rama mengepal kuat, bagaimana mungkin ia melewatkan yang satu ini, rama sengaja menempatkan anak buahnya untuk mengawasi alyssa. untuk menjaga alyssa tepatnya. Tapi informasi ini begitu penting dan anak buahnya melewatkannya begitu saja.
“dan...” alyssa menatap kesamping, tidak mendapati sosok rama, lalu segera menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap rama yang terus berdiri dengan pandangan menerawang.
“rama” panggil alyssa seraya kembali ke tempat rama berada
Lamuyan rama buyar, dan segera tersenyum. Menggenggam tangan alyssa.
“aku lapar, Ayo kita makan” ajak khas rama – memerintah – membuat alyssa tersenyum. Mereka keluar bandara sambil bergenggaman tangan.




[1] Flight Information Display System adalah suatu sistem yang berfungsi untuk menampilkan informasi jadwal penerbangan baik kedatangan pesawat (arrival) maupun keberangkatan pesawat (departure) di suatu bandar udara

Bersambung ke Part 8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar