/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Minggu, 18 Agustus 2013

Name In My Heart Part 5

P.S: Maaf ya.. aku telat banget posting.. karena ada beberapa hal.. maafkan ya.. love u all. ^,~

Mati lampu...!
Tubuh alyssa bergetar hebat. Gelas yang sedang digenggamnya jatuh dan pecah ketika mengenai lantai. Pupil alyssa membesar berharap dapat menemukan cahaya walaupun redup. Namun nihil. Keringat dingin mulai membanjiri tubuh alyssa. matanya bergerak-gerak gelisah. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya merespon sampai sejauh ini.
Suara alyssa tercekat, tidak kuat menopang tubuhnya. Alyssa terduduk diantara pecahan kaca yang melukai kaki dan tangannya. Ia mendengar beberapa orang berteriak dan tertawa, tidak bisa memastikan apakah itu mimpi atau nyata? Namun sebelum pandangannya menggelap alyssa mendengar rama memanggil-manggil namanya.


@@@

Rama duduk disamping tempat tidur alyssa, menunggu dokter memeriksa keadaan alyssa dan membersihkan pecahan kaca gelas di tangan dan kaki alyssa.
“ia tidak apa-apa, tubuh hanya tergores, walaupun sedikit dalam. Selebih itu tidak apa-apa. Ia mengalami shok yang parah, lebih kepada trauma, apakah anda tau penyebabnya?” tanya dokter sambil memasukkan kembali peralatan medis kedalam tas jinjing.
Rama menggelengkan kepalanya.
“sebaiknya ia istirahat dengan cukup, dan jika anda tau penyebab ia trauma, anda harus menjauhinya dengan keadaan tersebut, karena itu dapat mempengaruhi spikisnya” setelah menjelaskan beberapa keadaan dan memberi resep obat untuk ditebus di apotik. Dokter berpamitan.
Rama menggenggam tangan alyssa dengan lembut. Menatap alyssa dengan pandangan nanar. Mengernyitkan kening. Mengapa alyssa tiba-tiba seperti ini? apakah karena kejadian itu membuatnya trauma?
Rama terus menggenggam tangan sepanjang malam.

@@@

Alyssa membuka matanya dan mengernyit ketika mencoba menyesuaikan kornea matanya dengan cahaya matahari yang menembus jendela kamar. Ketika hendak bangun tangannya tertahan oleh tangan rama yang sedang tertidur dengan kepala di tempat tidur. Rama menunggu dirinya semalaman?
Alyssa mengingat kejadian semalam. Apartemen tiba-tiba mati lampu, karena gelap tubuhnya menegangkan kaku kemudian terjatuh dilantai. Mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu?, lama berpikir keras, alyssa tetap tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya.
Alyssa melepaskan genggaman rama perlahan kemudian beringsut dari tempat tidur, tetapi tertahan oleh rasa sakit yang menyengat kakinya. Tanpa sadar alyssa menggenggam tangan rama kembali membuat rama yang sedang tertidur pulas terbangun. Dan langsung duduk tegak.
“kau baik-baik saja?” tanya rama cemas.
Alyssa menggangguk sambil mengernyit menahan sakit di kakinya. Mengapa kakinya terluka?
“kau terkena pecahan gelas di dapur ketika pingsan. Kata dokter akan sembuh setelah beberapa hari. Kau baik-baik saja kan?”. Kekhawatiran rama nampak jelas dari tatapannya.
Alyssa mencoba tersenyum kemudian mengganggukkan kepalanya. Rama masih menunggu kata-kata alyssa.
“aku baik-baik saja, kau tidak usah cemas rama” kata alyssa berusaha meyakinkan rama bahwa ia memang baik-baik saja.
Alyssa kembali menggerakkan kakinya untuk berdiri namun rasa sakit itu tidak bisa ditahannya lama-lama.
“kau mau ke kamar mandi?” tanya rama. Alyssa mendongak dan menggangguk.
Tanpa kata rama langsung membopong alyssa ala bridal style membuat alyssa memekik pelan dan merona. Ia bahkan tidak menyiapkan jantungnya terlebih dahulu. Al hasil jantung berdetak tidak karuan.
Rama mendorong pintu kamar mandi dengan kakinya dan mendudukkan alyssa di bath up. Kemudian menunggu sambil menatap alyssa. rona diwajah alyssa semakin memerah ketika melihat rama tidak segera keluar dari kamar mandi. Bagaimana ia akan mandi jika rama masih disini?. Suasana menghening tiba-tiba. Rama tetap tidak bergeming. Akhirnya dengan keberanian yang ada alyssa menatap rama dengan wajah yang merona hebat.
“rama.. aku.. aku mau mandi” ujar alyssa pelan namun masih terdengar oleh telinga rama.
Rama baru menyadari hal tersebut, dan wajahnya merona. Mengutuk cara kerja otaknya yang entah mengapa menjadi lambat.
“ah.. ia”. Rama langsung keluar kamar mandi membuat alyssa mendesah lega.

@@@

Mereka sedang menikmati makan malam, rama menatap alyssa yang sedang menguyah pelan. Menunggu alyssa selesai makan. Alyssa juga merasakan tatapan rama. Ia berusaha untuk mengabaikan tatapan tersebut. Setelah beberapa saat. Alyssa meletakkan sendok dan garpunya di piring dan mengusap mulutnya dengan serbet yang sudah disediakan oleh rama.
Rama tetap memandang alyssa. masih menunggu.
“aku tidak mengapa...” alyssa mulai menjelaskan kejadian kemarin malam.
“ketika aku ingin minum, lampu apartemen tiba-tiba mati, dan itu membuat tubuhku menegang, pikiranku kacau dan kemudian terduduk di lantai. Aku mendengar beberapa teriakan dan tertawa dalam waktu bersamaan, aku tidak tahu itu nyata atau hanya mimpiku saja, namun sebelum aku pingsan, aku mendengarmu meneriakkan namaku” alyssa menjelaskan semua yang dirasakannya. Tidak ada satupun yang ditutupi alyssa.
Mendengar penjelasan alyssa, tanpa sadar rama mengepalkan tangannya. Dorongan untuk menyakiti dirinya sendiri begitu kuat, namun tetap menahannya dan berekspresi datar.
“tapi aku tidak apa-apa” cepat-cepat alyssa tersenyum ke arah rama.
“mungkin itu hanya mimpi burukku” ujar alyssa pelan. Kemudian terdiam.

@@@

Rama termenung dikamarnya seraya memandang ke arah taman disamping apartemen, ia duduk di balkon kamarnya. Tatapannya menerawang jauh. Kemudian mengambil handphone di saku celananya. Memencet nomor namun diurungkan. Dan memilih untuk kembali tenggelam dengan pikirannya. Entah apa yang dipikirkannya.

@@@

Telepon alyssa berdering, anna menelponnya.
“apa kabar ann?” tanya alyssa sambil tersenyum
“kau ada waktu, aku ingin bicara sesuatu terhadapmu” ujar anna di telepon
“tentu, kita ketemu di cafe dekat apartemenku saja ya”
Alyssa menutup pembicaraan dan kembali memencet nomor.
“halo”
“halo rama, aku pergi sebentar ya, ingin bertemu anna... tidak, tidak jauh dari apartemen, baiklah”
Alyssa menutup telepon dan bergegas menuju ke cafe dekat apartemennya.

@@@

Anna mengangkat tangannya ke arah alyssa. alyssa tersenyum dan menghampiri meja anna kemudian duduk dikursi depan anna.
“kau terlihat kurus ann?” tanya alyssa cemas
“aku tidak apa-apa, dan... kau terlihat lebih cantik dari terakhir kita bertemu”.
Alyssa hanya menanggapi candaan anna dengan tersenyum. Kemudian teringat sesuatu
“apa yang kau bicarakan?” tanya alyssa mulai serius
“hm.. ini.. bagaimana mengatakannya ya?” guman anna pelan.
“ini tentang pacarmu” ujar anna.
“rama? Dia bukan pacarku” bantah alyssa walaupun wajahnya merona.
“tapi aku melihat sebaliknya” ucap anna sambil mengerling mata kearah alyssa.
“baiklah-baiklah. Terserah kau saja. Lanjutkan”. Alyssa lebih memilih mengalah. Ia tidak mau berdebat dengan anna. Sepertinya susah untuk menang, pikir alyssa.
Tatapan anna kembali serius.
“apa kau yakin namanya rama hirano?” tanya anna memastikan.
“tentu saja” jawab alyssa
Mengapa anna mempertanyakan nama rama?benak alyssa dalam hati
“tapi yang ku tahu namanya bukan rama hirano, tetapi ethan hirano”. Jawaban anna membuat kening alyssa berkerut.
“apa maksudmu?” tanya alyssa dengan tatapan bingung.
“aku semula juga tidak yakin dengan penglihatanku, tetapi foto rama hirano yang kau tunjukkan beberapa waktu yang lalu adalah ethan hirano. direktur di perusahaan Ethan Corporation. Kau sudah berkunjung ke tempat kerja rama?” tanya anna.
“kau becanda bukan?” tanya alyssa memastikan.
Anna hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang serius. Kemudian menyerahkan kartu nama. Ethan Hirano pemilik perusahaan tekstil Ethan Corporation. Benak alyssa berkecamuk. Nama rama hirano sebenarnya adalah ethan hirano, kenyataan tersebut membuat alyssa mengernyitkan keningnya. Kemudian menghela napas.
“mungkin aku akan memastikan perkataanmu, dan menunjukkan bahwa kau mungkin salah orang” ujar alyssa tenang sambil memasukkan kartu nama tersebut ke dalam tasnya. Berbanding terbalik dengan hatinya.
Anna hanya mengangguk.
“kau mau pesan? Hari ini aku yang traktir”. Anna mengalihkan pembicaraan. Alyssa tersenyum walaupun benaknya masih dipenuhi oleh beberapa kemungkinan.
Setelah berbincang-bincang ringan dengan anna. Alyssa pulang dengan membawa pertanyaan yang membuatnya susah bernapas. Ethan hirano.. nama itu terdengar asing di telinga alyssa. perlahan alyssa menghela napas. Kemudian masuk ke apartemen dan mendapati rama duduk di sofa menatap lembut ke arahnya.
Tiba-tiba semuanya terasa berbeda.
Alyssa membalas senyuman rama kemudian melangkah pelan masuk ke kamar tanpa sepatah katapun. Hal itu membuat rama mengerutkan keningnya. Kemudian menghela napas dan mengangkat bahunya pelan.
Alyssa memandang langit-langit kamarnya dengan perasaan bingung. Rama hirano, ethan hirano, dua nama tersebut memenuhi benaknya. Kemudian berusaha menghilangkan perasaan anehnya dan mencoba memejamkan matanya. Namun setelah beberapa saat matanya tetap tidak mau terpejam. Alyssa kembali menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang bercampur aduk.
@@@

Rama melihat alyssa sedang menyiapkan kopi dan sarapan untuk mereka. Tersenyum bahagia. Perlahan tapi pasti rama mulai terbiasa dengan kehadiran alyssa. perasaan yang telah lama ia kubur.
“sedang apa?” pertanyaan rama membuat alyssa terkejut, hanya beberapa saat dan kembali memasang wajah biasa.
“memasak, kau lapar?” tanya alyssa tanpa memandang rama.
Rama menaikkan alisnya, pagi ini alyssa nampak berbeda, tidak seperti biasanya.
Rama duduk di kursi makan memilih diam dan menunggu alyssa berbicara. Setelah semua sudah tersaji di meja makan. Alyssa mengambil sendok dan menyuapkan sarapannya ke mulut, mengunyah pelan, dan menelan makanan, kemudian kembali menyuapkan sarapan ke mulutnya dan begitu selanjutnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut alyssa.
“kau kenapa?”. Tanya rama  dengan tatapan menyelidik.
Alyssa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
“tidak apa-apa” ujarnya pelan.
“apa kau sakit?” tanya rama kembali
Mau tidak mau alyssa mencoba tersenyum ramah dan menggelengkan kepalanya.

@@@
Rama menerawang jauh. Menatap pemandangan dari lantai 7 kantornya. Ia tidak sedang melihat pemandangan. Pikirannya berkecamuk membayangkan kembali kegiatan sarapan yang ia lakukan bersama alyssa. jelas ada apa-apa. Namun ia tidak bisa menebak tatapan alyssa. Pintu ruangan terbuka. David langsung duduk di sofa yang berada di tengah-tengah ruangan. Rama menghela napas.
“ada apa denganmu teman?” tanya david sedikit bingung dengan ekspresi rama.
Rama memilih diam, kemudian beranjak keluar ruangan. “sebentar lagi kita ada rapat direksi” ucap rama sebelum meninggalkan ruangannya.
Alyssa menatap teleponnya dan kartu nama yang berada ditangannya. Ragu dengan keputusan yang sudah dibuatnya tadi pagi. Namun ia butuh kejelasan. Akankah ia menghubungi rama, dan mengatakan ia akan berkunjung ke kantor Ethan hirano. Namun logikanya mengatakan bahwa ia tidak perlu mengatakannya pada rama. Hanya pergi ke perusahaan tersebut dan memastikan kata-kata anna salah. Kemudian kembali pulang. Masalah selesai.
Ah,, ya! Hanya itu yang harus ia lakukan.
Alyssa keluar apartemen dan menyetop taksi, kemudian menyebutkan alamat kantor. Selama di perjalanan, alyssa berusaha meyakinkan hatinya bahwa ia melakukan ini supaya tidak ada perasaan ragu lagi di dalam benaknya. Dan ketika sedang asik melamun, sang supir membuyarkan lamunannya.
“sudah sampai nyonya” ujar sang sopir sambil tersenyum. Setelah membayar argo taksi. Alyssa melangkah keluar taksi dan memandangi gedung yang menjulang tinggi dihadapannya. Ethan Corporation.
Kemudian menghampiri meja resepsionis mengatakan bahwa ia sudah punya janji dengan direktur mereka. Ethan hirano. Seorang karyawan menuntunnya ke lantai tujuh dan menunjuk ke ruangan yang berada didepannya. Melihat ada yang datang, sang sekretaris langsung menanyakan keperluan alyssa.
“maaf, apakah anda sudah punya janji dengan Mr. Hirano?” tanya sang sekretaris. Alyssa hanya menggangguk kepala seraya tersenyum lembut.
Sang sekretaris memencet nomor dan tampak berbicara kepada atasannya. Beberapa saat ia bangkit dari kursi membuka ruangan, mempersilahkan alyssa masuk. Setelah mengucapkan terima kasih, Alyssa masuk ke ruangan tersebut. Mata berjelajah ke sekeliling ruangan. Ruangan yang besar.
Pintu ruangan terbuka membuat alyssa menoleh ke belakang dan terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Rama hirano tepat berdiri di depannya.
Napas rama tercekat ketika melihat alyssa ada dalam ruangannya. Menyesali kecerobohan yang telah ia lakukan. Menatap alyssa dengan pandangan gelisah. Alyssa memandangnya dengan perasaan datar.
“bagaimana kau... “
“siapa kau sebenarnya? Rama hirano atau ethan hirano?” dengan cepat alyssa memotong kata-kata rama.
Rama mematung di depan pintu. Ia tidak menyangka alyssa bakal berkunjung ke sini. Dari mana alyssa tau kantornya? Setahu rama ia tidak pernah mengungkit apapun tentang kantornya.
“aku rama hirano”. merasa tidak ada pilihan lain, rama memilih untuk berterus terang kepada alyssa.
Tatapan alyssa masih sama. Datar.
“oh ya? Terus kenapa dimejamu tertulis dengan nama ethan hirano, sang direktur Ethan corporation?” kata-kata alyssa penuh tekanan sambil menoleh ke arah tulisan yang ada di atas meja ruangan tersebut.
Rama menghampiri alyssa seraya berkata. “aku bisa menjelaskan semuanya” ujar rama pelan dan menggenggam tangan alyssa.
Alyssa menepisnya dengan kasar, “tidak perlu, aku sudah melihat semuanya. Permisi” setelah berkata demikian. Alyssa langsung melangkah keluar kantor. Sedikit berlari menuju lift. Rama langsung berlari menyusul alyssa. tapi terlambat. Lift yang berada alyssa di dalamnya sudah tertutup. Dan turun menuju lantai dasar.


@@@

Rama langsung menuju apartemennya dan mendapati apartemen dalam keadaan kosong. Kemana alyssa? rama mulai tidak bisa berpikir jernih. Ia sangat takut dengan kenyataan bahwa alyssa akan meninggalkan dirinya. Kembali meninggalkan dirinya.
Dengan pandangan kosong rama tertuduk di lantai apartemen. Memegang jantungnya yang berdetak keras. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Setelah beberapa saat ia perpikir. tetap tidak bisa menemukan keberadaan alyssa. kemudian berjalan menuju kamarnya dan menatap dirinya di cermin. Tampak merenung, tangannya terkepal kuat dan dengan satu pukulan. Cermin di depannya pecah, dan beberapa pecahan kaca menancap di tangan rama. Mengeluarkan darah merah perlahan.
Rama tersentak, orangtua alyssa. mengapa ia melupakan hal yang satu itu?, tanpa menghiraukan darah yang mengalir  di kepalan tangannya. Rama segera menuju kediaman orangtua alyssa.
Tujuannya hanya satu, menjelaskan semuanya, rama tidak peduli apakah alyssa akan mempercayai atau tidak, yang terpikir olehnya hanya satu. Alyssa tetap berada di sisinya.

@@@

Semenjak pulang dari kantor rama, alyssa langsung menuju ke rumah orangtuanya, rama telah berbohong kepadanya, mengapa? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati alyssa.
Begitu membuka pintu rumah, mama alyssa langsung menoleh ke arah alyssa dan terkejut, anaknya pulang ke rumah dalam keadaan kacau. mama alyssa langsung menghampiri alyssa.
“ya tuhan, ada apa alyssa? apa yang terjadi?” tanya mama alyssa cemas.
Alyssa hanya menggelengkan kepala, kemudian masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dan kemudian terduduk lemas dibalik pintu. Bahunya terguncang keras, alyssa terisak dalam, tangan kirinya mengatup mulutnya agar suara tangisannya tidak sampai terdengar keluar.


Bersambung ke Part 6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar