Rama
memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal, mengutuk sepanjang jalan. Beberapa lama
menempuh perjalanan, rama sampai dikediaman alyssa langsung mengetuk pintu
dengan keras.
“mau
apa kau kemari?” tanya mama alyssa setelah membuka pintu, ia yakin, menangisnya
alyssa pasti berhubungan dengan rama.
“maaf
tante, aku.. bolehkah aku menemui alyssa? dia salah paham” jelas rama seraya
meyakinkan mama alyssa dengan tatapannya yang memelas.
“aku
tidak tau, apa yang telah kau lakukan terhadap alyssa, tapi sekarang alyssa
sedang tidak bisa diganggu” ujar mama alyssa ketus.
“aku
mohon tante, alyssa hanya salah paham, aku hanya memintanya mendengar
penjelasanku, jika alyssa tetap tidak mau mamaafkanku, aku janji aku akan
pergi” tatapan rama membuat mama alyssa merasa kasihan. Keadaan rama tidak jauh
berbeda dengan alyssa.
Setelah
menghela napas. Mama alyssa membukakan pintu, mempersilahkan rama untuk masuk.
“alyssa
ada dikamar, lantai dua sebelah kiri, pintu yang berwarna pink”. Setelah
mengatakan demikian mama alyssa pergi. Rama langsung menuju ke tempat yang
ditunjuk mama alyssa. Kemudian mematung tepat di depan pintu yang berwarna
pink. Kamar alyssa.
“alyssa” panggil rama
pelan
Alyssa
tersentak ketika mendengar suara rama. Mengapa rama disini?
“aku
tau kau di dalam, aku hanya ingin menjelaskan semuanya, namaku rama, itu namaku yang sebenarnya. Nama itu pemberian
orangtuaku, ketika di amerika aku memakai nama ethan sampai sekarang, Aku
dulu... aku dulu seorang pembunuh bayaran,... karena itulah aku mengganti
namaku”. Rama mengambil napasnya dengan tersendat-sendat.
Tangisan
alyssa seketika berhenti ketika mendengar penjelasan rama.
Pembunuh bayaran?,
alyssa cukup tertegun mendengar penjelasan rama. bagaimana mungkin?
“nama
rama hanya beberapa orang yang tau, seperti david, keluargamu dan kau, maaf
jika aku tidak berterus terang dari awal, aku hanya bingung harus mengatakan
apa... kau hanya mengingatku dengan nama rama, jika aku jelaskan ini dari awal,
kau pasti akan ketakutan”. Melihat tidak ada respon dari alyssa. rama terdiam
menghela napas.
“aku...aku
hanya tidak mau mengingat masa laluku lagi. kuharap kau bisa mengerti
keadaanku,. dan jaga dirimu baik-baik”.
Mata
alyssa melebar, jaga dirimu baik-baik? Apa maksudnya? . alyssa bangun dengan
tergesa-gesa kemudian membuka pintu kamar dan mematung melihat rama masih di
depan kamarnya.
“alyssa” panggil rama.
Penampilan
rama sungguh kacau, dengan rambut acak-acakan, kemeja yang kusut dan tangan
yang berdarah. Alyssa terkejut melihat tangan rama. Tanpa sadar langsung
memegang tangan kanan rama dan memeriksanya.
“kau... kenapa dengan
tanganmu?” tanya alyssa panik.
Rama
hanya tersenyum, kelegaan memenuhi hatinya, alyssa membawa rama masuk ke
kamarnya. dan langsung membersihkan serpihan kaca sambil meringis pelan. Rama
tersenyum, perempuannya adalah perempuan yang lembut dan manja, rama tidak tahu
mengapa alyssa yang meringis padahal tangannya yang terluka.
Dengan
telaten alyssa mengobati tangan,
kemudian memperbannya dengan kain kasa.
“apa
kau sudah gila? Mengapa kau melukai dirimu sendiri? Ah. Ia.. kurasa kau sudah
gila, kau bahkan tidak meringis sedikitpun, demi tuhan rama, apa yang ada
dipikiranmu hah?” alyssa terus memarahi rama dengan omelan dan keluhan lainnya.
Rama
tersenyum, dan merengkuh alysa ke dalam pelukannya, seketika itu suara alyssa
menghilang, terkejut tepatnya. Degup jantungnya tidak bisa ditolerir.
“syukurlah
kau tidak marah padaku” guman rama di bahu alyssa.
Tidak
ada yang berusaha untuk memecahkan keheningan dalam ruangan tersebut, mereka
menikmati kebersamaan mereka.
@@@
Alyssa
bangun dengan mata yang berat, beberapa hari ini ia tidak bisa tidur nyenyak,
entah kenapa ia tiba-tiba menjadi insomer.
Setelah melihat jam weker yang terletak di meja. Ia beringsut dari tempat tidur menuju kamar
mandi dengan mata yang agak terpejam. Beberapa kali kepalanya terantuk, baik
itu pintu, bath up sampai lemari, namun matanya masih berat, setelah berusaha
membuka matanya lebar-lebar dengan cara melotot. Akhirnya alyssa menuju ke
ruang makan.
Menatap
sekeliling apartemen, mencari rama, namun tidak ditemukan sosok tersebut
dimanapun. Alyssa melangkah ke meja makan, duduk kemudian menuangkan teh
paginya. Mencomot roti bakar buatan rama dengan kunyahan yang pelan. Matanya
menatap kearah depan sambil mengoyangkan kakinya kedepan dan belakang, semua
itu dilakukan secara tidak sadar.
Tiba-tiba kepala
alyssa merasa berdenyut.
Sekelabat bayangan
memenuhi pikiran alyssa.
“kau
cantik anak manis, tapi sayang, kau terlalu banyak tau, dan itu membuatku tidak
senang” ujar seorang pria yang berusia hampir setengah baya dengan tenang.
Alyssa
mengernyit matanya sambil menggelengkan kepala, mengusir bayangan yang memenuhi
pikirannya.
“tapi
kau tidak usah khawatir, aku pilih yang paling cepat, mati karena tertembak?
Sepertinya menyenangkan bukan?” ujar sosok itu lagi dengan mata yang menatap
dengan tajam.
Tangan
alyssa bergetar, sakit yang tak tertahankan menyerang kepala alyssa, alyssa
mencoba berdiri dari kursinya namun malah terjatuh ke lantai, tangan kirinya
memegang kepalanya yang sakit, membuat kesadarannya semakin melemah, sedangkan
tangan kanannya mencoba mengambil telepon genggamnya dari saku baju walaupun
dengan tangan bergetar.
Setelah
berhasil mengeluarkan telepon genggamnya, alyssa langsung memencet nomor kontak
rama. Kesadarannya semakin melemah, mata alyssa mengerjap berkali-kali untuk
mempertahankan kesadarannya.
“halo”
“halo alys, ada apa?” suara rama terdengar di telepon genggamnya.
Tanpa berhasil menjawab, alyssa ambruk di lantai ruang makan.
@@@
Alyssa
mengerjap matanya dengan pelan, bau rumah sakit langsung menusuk indra
penciuman alyssa. rama yang melihatnya langsung mendekat. Dan langsung
menggenggam tangan alyssa.
“kau baik-baik saja?”
tanya rama cemas.
Sambil
menahan sakit yang menyerang kepalanya, alyssa mencoba untuk duduk yang
langsung di larang oleh rama.
“kau istirahat saja,
jangan banyak bergerak dulu” ujar rama
“apa yang terjadi?”
tanya alyssa sambil mengernyit dahinya.
“kau
pingsan di ruang makan, kata dokter kau hanya kurang tidur dan anemiamu kambuh”
jelas rama pelan.
Mata
alyssa terpejam, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya.
“rama” panggil alyssa
pelan
Rama
hanya meremas pelan tangan alyssa tanda ia mendengarkan.
“aku... apa aku pernah
diculik sebelumnya?”
Pertanyaan
alyssa membuat tubuh rama kaku, alyssa yang merasakan tangan rama yang
tiba-tiba kaku membuka mata dan menoleh ke arah rama. Dengan cepat rama
mengubah ekspresi wajahnya.
“apa
maksudmu?”tanya Rama terkejut. “kenapa
kau tiba-tiba menanyakan itu? Apa kau ingat sesuatu?” tanya rama sambil
berusaha keras untuk bereskpresi biasa.
“ada
satu orang yang memenuhi pikiranku, aku merasa itu bukan ingatan mimpi, sosok
pria yang hampir paruh baya, memakai setelan jas, tangannya memegang pistol...”
“sudah,
jangan di ingat lagi, kau harus istirahat yang banyak” rama langsung
menghentikan penjelasan alyssa ketika merasakan tangan alyssa yang bergetar di
dalam genggamannya.
Tanpa
alyssa jelasin, rama sudah tau apa yang sebenarnya alyssa rasakan. Pertanyaan
alyssa saja sudah membuat napas rama tercekat.
Apakah
ia sudah ingat semuanya? Batin rama
Rama
menyelimutkan alyssa. walaupun mendapatkan protes dari tatapan alyssa, rama
tetap menyelimutkan alyssa sampai ke leher. Mata alyssa mencoba terpejam.
Pikirannya membuat tubuh alyssa menjadi lebih berat.
@@@
Rama
keluar ruangan pasien dan melihat orangtua alyssa yang berjalan ke arahnya
dengan terburu-buru.
“apa yang terjadi?”
tanya mama alyssa cemas
“alys
hanya kurang tidur, anemia kambuh. Tapi sekarang ia tidak apa-apa” jelas rama.
Kemudian membungkuk badannya ke arah papa alyssa.
Mama
alyssa langsung masuk ke ruangan tempat alyssa dirawat yang disusul oleh papa
alyssa.
Rama
hanya berdiri mematung sesaat. Kemudian melangkah menuju ruang dokter yang
menangani alyssa.
“masuk”
ujar dokter ketika mendengar ketukan di balik pintu ruangannya.
Rama
masuk dan langsung duduk di kursi depan dokter tersebut.
“ada yang bisa
dibantu?” tanya dokter ramah.
“aku
hanya ingin bertanya, dokter bilang kalau alyssa amnesia permanen, tapi kenapa
ia bisa mengingat kejadian waktu ia diculik?” tanya rama tajam.
Sang
dokter hanya menghela napas. Kemudian bangkit menuju lemari brankas, mengambil
sesuatu, kemudian menyerahkannya kepada rama.
Rama
mengambilnya kemudian langsung membuka file tersebut.
“itu
diagnosis lanjutanya yang saya periksa. Diagnosis pertama kurang tepat, saya
melewatkan sesuatu waktu itu, alyssa hilang ingatan kemungkinan karena trauma,
secara tidak langsung otaknya tidak mau mengingat kejadian yang mungkin sangat
sakit untuk diingat.” Jelas dokter
“tapi
kalau hanya kejadian tetentu yang tidak ingin alyssa ingat? Mengapa ingatan
alyssa hilang secara keseluruhan?” tanya rama kembali.
“itu di luar prediksi
kami, saya minta maaf” ujar dokter.
Rama
mendengar penjelasan dokter dengan serius. Kemudian memutuskan untuk kembali ke
ruangan alyssa, meraih gagang pintu namun berbalik ke arah dokter.
“saya
mohon, jangan beritahukan dulu orangtua alyssa, sampai semuanya menjadi jelas”.
pinta rama. Itu permintaan rama yang pertama yang ia lakukan.
Dokter hanya
mengangguk kepalanya.
@@@
Rama
memasuki ruang pasien tempat alyssa di rawat kemudian tersenyum kepada alyssa.
alyssa menepuk tempat disampingnya menyuruh rama untuk duduk.
“lihat,
ini foto-fotoku sewaktu kecil sampai beberapa bulan sebelum aku hilang ingatan,
sepertinya aku memang manja” ucap alyssa seraya membolak balikkan album yang
sedang dipegangnya. Rama hanya mengacak-acak rambut alyssa dengan gemas.
“tentu saja, kau
begitu kekanakan” cibir rama sambil tersenyum.
“cerita
lebih banyak lagi, sepertinya aku akan ingat dalam waktu dekat”. Kata-kata
alyssa membuat senyuman rama hilang, yang tentu saja tidak dilihat oleh alyssa.
Setelah
berdeham, rama mulai menceritakan semua yang ia tau tentang alyssa, tanggal
lahir, kesukaan, kebiasaan dan lainnya. Ada yang berbentuk pujian yang membuat
rona di wajah alyssa, dan ada yang berbentuk cibiran ringan yang membuat alyssa
mengerucutkan bibirnya. Mereka tertawa bersama.
@@@
Rama
dan alyssa mengelilingi supermarket untuk belanja bulanan. Alyssa memilah-milah
buah ataupun sayur yang akan mereka beli, sedangkan rama yang mendorong
trolinya. Layaknya seperti pasangan suami istri sedang berbelanja.
“jangan
sayur alys, aku kurang menyukainya” keluh rama dibelakang alyssa
“aku
tau” jawab alyssa seraya memasukkan beberapa jenis sayuran ke dalam troli.
“kau tau, tapi masih
ingin membelinya?” tanya rama heran.
Alyssa
membalikkan badannya dan menatap rama sambil tersenyum manis. Senyuman alyssa
memang manis tetapi jika diiringi dengan kerjapan mata berkali-kali, pasti
alyssa akan merengek, pikir rama
“makanlah
walaupun sedikit ya, ku mohon. Apa kau tidak lihat kulitmu putih pucat karena
jarang makan sayur” ujar alyssa sedikit merengek ke arah rama.
Rama
tetap menggelengkan kepalanya. alyssa tidak mau kalah, terbukti dengan memasang
wajah yang memelas, seakan-akan ia merengek untuk dirinya sendiri dan itu
membuat rama mengalah. Gadis ini
benar-benar keras kepala, batin rama jengkel.
“baiklah,
baiklah. Berhenti memasang wajah seperti itu” ujar rama sambil tersenyum tipis.
Alyssa hanya tersenyum dan tanpa sadar mengamit lengan rama dengan mesra.
Beberapa
orang yang mereka lalui tersenyum melihat kemesraan mereka. Mungkin pasangan yang baru menikah? Pikir
mereka.
Setelah
selesai memilih semua persediaan, mereka menuju tempat kasir untuk membayar.
“Kalian
pasangan yang sangat serasi” ujar sang kasir sambil tersenyum.
Wajah
alyssa merona, pujian sang kasir membuat alyssa salah tingkah, sedangkan rama
hanya berdeham.
“terima kasih” hanya
itu respon rama.
Setelah
membayar mereka pulang ke apartemen. Dan alyssa langsung mengeluarkan
bahan-bahan yang mereka beli kemudian menyusunnya di kulkas seraya berdendang
lagu dengan suara lirih. Rama yang melihatnya tersenyum bahagia. Kata-kata sang
kasir kembali ia ingat yang membuat senyumannya menjadi lebih lebar.
Tanpa
kata rama mendekat ke arah alyssa dan langsung menyusup tangannya dipinggang
alyssa. memeluk alyssa dari belakang. Alyssa memekik ringan, ketika mendapati
wajah rama di bahunya. Jantungnya kembali berdetak dengan keras, wajahnya
memerah dan kegiatan memilah belanjaan menjadi terhenti. Mereka terdiam
beberapa saat.
“rama”panggil alyssa.
rama hanya berguman menjawabnya.
“aku sedang melakukan
pekerjaan rumah, bisa kau lepaskan pelukanmu?” tanya alyssa dengan sedikit
enggan. Alyssa juga menikmati pelukan rama. Mulai berharap bahwa rama mempunyai
perasaan yang sama dengannya.
Rama
hanya menggelangkan kepalanya dan mempererat pelukan.
“biarkan seperti ini
beberapa waktu” pinta rama
Alyssa
terdiam, kemudian mulai membalas pelukan rama. “aku senang kau memelukku
seperti ini” ujar alyssa sambil menoleh ke samping. Ke arah rama.
Rama
hanya diam. Tak ingin melewatkan momen ini sedetikpun.
“alys”
panggil rama seraya merenggangkan pelukan dan membalik badan alyssa. rama
menatap alyssa dalam membuat alyssa hanyut ke dalam mata coklat terang rama.
Perlahan tapi pasti rama mulai memajukan wajahnya, mendekati bibir alyssa.
alyssa mengerjap matanya kemudian mulai memenjamkan matanya. Rama mulai
memiringkan wajahnya dan semakin dekat dengan wajah alyssa. napas hangat rama
menerpa wajah alyssa dan ketika ingin mengecup bibir tipis alyssa, kegiatan
rama terhenti kala mendengar suara bel interkom dari depan apartemen mereka.
Mereka
menjadi salah tingkah, rona wajah alyssa semakin memerah. Dan kemudian beranjak
untuk membukakan pintu, sepanjang berjalan dari dapur ke arah ruang tamu,
alyssa mengutuk siapapun yang mengganggu momen ia bersama. Sedikit lagi semua
akan jelas, siapa orang yang....? omelan alyssa dalam hati terhenti ketika
melihat pemuda tampan tersenyum manis ke arahnya. Pemuda yang mempunyai tinggi
semampai, berkulit putih langsat dan mata biru yang sangat cantik. Mata yang
akan membuat siapa saja yang melihatnya terhanyut didalamnya.
“hai
manis” sapa pemuda tersebut sambil mengedipkan matanya. Alyssa merona.
“maaf, kau mencari
siapa?” tanya alyssa
“tentu
saja mencarimu sayang, alyssa brown” ujar pemuda tersebut sambil tersenyum
tampan.
Rona
diwajah alyssa menghilang ketika mendengar jawaban pemuda tersebut. Untuk apa pemuda ini mencarinya?
“tapi..”
“ada
apa david?” tanya rama sambil berjalan ke arah alyssa kemudian dengan protektif
menggenggam tangan alyssa dan membawanya ke belakang punggungnya.
David
– sang pemuda. Hanya terkekeh. Tidak menyangka kalau sahabatnya akan
seprotektif ini. mungkin wajar jika rama melakukannya. Karena melihat
penampilan david yang santai tetapi sangat tampan. Apalagi mata biru yang dalam
itu.
“boleh
aku masuk?” tanya david sambil memasuki apartemen rama tanpa merasa bersalah.
Ternyata
dia temannya rama, guman alyssa dalam hati
“mau
minum apa?” tanya alyssa sopan. Teman rama berarti ia temannya juga. Pikir
alyssa
“kopi,
jangan pakai gula” jawab david ringan, tidak lupa mengedipkan matanya. Bukannya
merona. Wajah alyssa memasang tampang bingung. Kopi pahit? Gimana rasanya?
Tanyanya dalam hati
Alyssa hanya
mengganggukkan kepalanya.
“jangan mengganggunya”
ujar rama sambil tersenyum.
David
kembali terkekeh. Menyenangkan mengganggu milik rama. Karena ia tidak pernah
melihat rama seprotektif ini terhadap wanita.
“jadi
alyssa yang telah membuatmu beberapa bulan terakhir ini menjadi bos yang ramah”
guman david kepada dirinya sendiri.
David menoleh ke arah
rama dengan wajah serius.
“kau sudah mengatakan
semuanya?” tanya david
Rama menggelengkan
kepalanya.
“kenapa?” tanya david
kembali
“aku
takut. Takut jika ia tidak bisa memahami semua yang kukatakan” ujar rama pelan.
David hanya menganggukkan
kepalanya. ia mengerti. keadaannya memang rumit. Tidak lama kemudian alyssa
membawa nampan yang berisi kopi pahit dan kopi manis serta beberapa cemilan
ringan ke ruang tamu. Kemudian duduk disamping rama sambil memeluk nampan yang
ia pegang.
“oa, kenalkan ini
temanku, david, dan ini alyssa” kata rama
David mengulurkan
tangan sembari tersenyum.
“aku
david, david williams” .Alyssa menjabat tangan hangat david seraya tersenyum
sopan. “alyssa brown” ucap alyssa sopan.
Bersambung ke Part 7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar