/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Minggu, 18 Agustus 2013

Name In My Heart Part 6

Rama memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal, mengutuk sepanjang jalan. Beberapa lama menempuh perjalanan, rama sampai dikediaman alyssa langsung mengetuk pintu dengan keras.
“mau apa kau kemari?” tanya mama alyssa setelah membuka pintu, ia yakin, menangisnya alyssa pasti berhubungan dengan rama.
“maaf tante, aku.. bolehkah aku menemui alyssa? dia salah paham” jelas rama seraya meyakinkan mama alyssa dengan tatapannya yang memelas.
“aku tidak tau, apa yang telah kau lakukan terhadap alyssa, tapi sekarang alyssa sedang tidak bisa diganggu” ujar mama alyssa ketus.
“aku mohon tante, alyssa hanya salah paham, aku hanya memintanya mendengar penjelasanku, jika alyssa tetap tidak mau mamaafkanku, aku janji aku akan pergi” tatapan rama membuat mama alyssa merasa kasihan. Keadaan rama tidak jauh berbeda dengan alyssa.

Setelah menghela napas. Mama alyssa membukakan pintu, mempersilahkan rama untuk masuk.
“alyssa ada dikamar, lantai dua sebelah kiri, pintu yang berwarna pink”. Setelah mengatakan demikian mama alyssa pergi. Rama langsung menuju ke tempat yang ditunjuk mama alyssa. Kemudian mematung tepat di depan pintu yang berwarna pink. Kamar alyssa.
“alyssa” panggil rama pelan
Alyssa tersentak ketika mendengar suara rama. Mengapa rama disini?
“aku tau kau di dalam, aku hanya ingin menjelaskan semuanya, namaku rama,  itu namaku yang sebenarnya. Nama itu pemberian orangtuaku, ketika di amerika aku memakai nama ethan sampai sekarang, Aku dulu... aku dulu seorang pembunuh bayaran,... karena itulah aku mengganti namaku”. Rama mengambil napasnya dengan tersendat-sendat.
Tangisan alyssa seketika berhenti ketika mendengar penjelasan rama.
Pembunuh bayaran?, alyssa cukup tertegun mendengar penjelasan rama. bagaimana mungkin?
“nama rama hanya beberapa orang yang tau, seperti david, keluargamu dan kau, maaf jika aku tidak berterus terang dari awal, aku hanya bingung harus mengatakan apa... kau hanya mengingatku dengan nama rama, jika aku jelaskan ini dari awal, kau pasti akan ketakutan”. Melihat tidak ada respon dari alyssa. rama terdiam menghela napas.
“aku...aku hanya tidak mau mengingat masa laluku lagi. kuharap kau bisa mengerti keadaanku,. dan jaga dirimu baik-baik”.
Mata alyssa melebar, jaga dirimu baik-baik? Apa maksudnya? . alyssa bangun dengan tergesa-gesa kemudian membuka pintu kamar dan mematung melihat rama masih di depan kamarnya.
“alyssa” panggil rama.
Penampilan rama sungguh kacau, dengan rambut acak-acakan, kemeja yang kusut dan tangan yang berdarah. Alyssa terkejut melihat tangan rama. Tanpa sadar langsung memegang tangan kanan rama dan memeriksanya.
“kau... kenapa dengan tanganmu?” tanya alyssa panik.
Rama hanya tersenyum, kelegaan memenuhi hatinya, alyssa membawa rama masuk ke kamarnya. dan langsung membersihkan serpihan kaca sambil meringis pelan. Rama tersenyum, perempuannya adalah perempuan yang lembut dan manja, rama tidak tahu mengapa alyssa yang meringis padahal tangannya yang terluka.
Dengan telaten alyssa  mengobati tangan, kemudian memperbannya dengan kain kasa.
“apa kau sudah gila? Mengapa kau melukai dirimu sendiri? Ah. Ia.. kurasa kau sudah gila, kau bahkan tidak meringis sedikitpun, demi tuhan rama, apa yang ada dipikiranmu hah?” alyssa terus memarahi rama dengan omelan dan keluhan lainnya.
Rama tersenyum, dan merengkuh alysa ke dalam pelukannya, seketika itu suara alyssa menghilang, terkejut tepatnya. Degup jantungnya tidak bisa ditolerir.
“syukurlah kau tidak marah padaku” guman rama di bahu alyssa.
Tidak ada yang berusaha untuk memecahkan keheningan dalam ruangan tersebut, mereka menikmati kebersamaan mereka.

@@@

Alyssa bangun dengan mata yang berat, beberapa hari ini ia tidak bisa tidur nyenyak, entah kenapa ia tiba-tiba menjadi insomer.  Setelah melihat jam weker yang terletak di meja.  Ia beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan mata yang agak terpejam. Beberapa kali kepalanya terantuk, baik itu pintu, bath up sampai lemari, namun matanya masih berat, setelah berusaha membuka matanya lebar-lebar dengan cara melotot. Akhirnya alyssa menuju ke ruang makan.
Menatap sekeliling apartemen, mencari rama, namun tidak ditemukan sosok tersebut dimanapun. Alyssa melangkah ke meja makan, duduk kemudian menuangkan teh paginya. Mencomot roti bakar buatan rama dengan kunyahan yang pelan. Matanya menatap kearah depan sambil mengoyangkan kakinya kedepan dan belakang, semua itu dilakukan secara tidak sadar.
Tiba-tiba kepala alyssa merasa berdenyut.
Sekelabat bayangan memenuhi pikiran alyssa.
“kau cantik anak manis, tapi sayang, kau terlalu banyak tau, dan itu membuatku tidak senang” ujar seorang pria yang berusia hampir setengah baya dengan tenang.
Alyssa mengernyit matanya sambil menggelengkan kepala, mengusir bayangan yang memenuhi pikirannya.
“tapi kau tidak usah khawatir, aku pilih yang paling cepat, mati karena tertembak? Sepertinya menyenangkan bukan?” ujar sosok itu lagi dengan mata yang menatap dengan tajam.
Tangan alyssa bergetar, sakit yang tak tertahankan menyerang kepala alyssa, alyssa mencoba berdiri dari kursinya namun malah terjatuh ke lantai, tangan kirinya memegang kepalanya yang sakit, membuat kesadarannya semakin melemah, sedangkan tangan kanannya mencoba mengambil telepon genggamnya dari saku baju walaupun dengan tangan bergetar.
Setelah berhasil mengeluarkan telepon genggamnya, alyssa langsung memencet nomor kontak rama. Kesadarannya semakin melemah, mata alyssa mengerjap berkali-kali untuk mempertahankan kesadarannya.
“halo”
halo alys, ada apa?” suara rama terdengar di telepon genggamnya. Tanpa berhasil menjawab, alyssa ambruk di lantai ruang makan.

@@@

Alyssa mengerjap matanya dengan pelan, bau rumah sakit langsung menusuk indra penciuman alyssa. rama yang melihatnya langsung mendekat. Dan langsung menggenggam tangan alyssa.
“kau baik-baik saja?” tanya rama cemas.
Sambil menahan sakit yang menyerang kepalanya, alyssa mencoba untuk duduk yang langsung di larang oleh rama.
“kau istirahat saja, jangan banyak bergerak dulu” ujar rama
“apa yang terjadi?” tanya alyssa sambil mengernyit dahinya.
“kau pingsan di ruang makan, kata dokter kau hanya kurang tidur dan anemiamu kambuh” jelas rama pelan.
Mata alyssa terpejam, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya.
“rama” panggil alyssa pelan
Rama hanya meremas pelan tangan alyssa tanda ia mendengarkan.
“aku... apa aku pernah diculik sebelumnya?”
Pertanyaan alyssa membuat tubuh rama kaku, alyssa yang merasakan tangan rama yang tiba-tiba kaku membuka mata dan menoleh ke arah rama. Dengan cepat rama mengubah ekspresi wajahnya.
“apa maksudmu?”tanya  Rama terkejut. “kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu? Apa kau ingat sesuatu?” tanya rama sambil berusaha keras untuk bereskpresi biasa.
“ada satu orang yang memenuhi pikiranku, aku merasa itu bukan ingatan mimpi, sosok pria yang hampir paruh baya, memakai setelan jas, tangannya memegang pistol...”
“sudah, jangan di ingat lagi, kau harus istirahat yang banyak” rama langsung menghentikan penjelasan alyssa ketika merasakan tangan alyssa yang bergetar di dalam genggamannya.
Tanpa alyssa jelasin, rama sudah tau apa yang sebenarnya alyssa rasakan. Pertanyaan alyssa saja sudah membuat napas rama tercekat.
Apakah ia sudah ingat semuanya? Batin rama
Rama menyelimutkan alyssa. walaupun mendapatkan protes dari tatapan alyssa, rama tetap menyelimutkan alyssa sampai ke leher. Mata alyssa mencoba terpejam. Pikirannya membuat tubuh alyssa menjadi lebih berat.

@@@

Rama keluar ruangan pasien dan melihat orangtua alyssa yang berjalan ke arahnya dengan terburu-buru.
“apa yang terjadi?” tanya mama alyssa cemas
“alys hanya kurang tidur, anemia kambuh. Tapi sekarang ia tidak apa-apa” jelas rama. Kemudian membungkuk badannya ke arah papa alyssa.
Mama alyssa langsung masuk ke ruangan tempat alyssa dirawat yang disusul oleh papa alyssa.
Rama hanya berdiri mematung sesaat. Kemudian melangkah menuju ruang dokter yang menangani alyssa.
“masuk” ujar dokter ketika mendengar ketukan di balik pintu ruangannya.
Rama masuk dan langsung duduk di kursi depan dokter tersebut.
“ada yang bisa dibantu?” tanya dokter ramah.
“aku hanya ingin bertanya, dokter bilang kalau alyssa amnesia permanen, tapi kenapa ia bisa mengingat kejadian waktu ia diculik?” tanya rama tajam.
Sang dokter hanya menghela napas. Kemudian bangkit menuju lemari brankas, mengambil sesuatu, kemudian menyerahkannya kepada rama.
Rama mengambilnya kemudian langsung membuka file tersebut.
“itu diagnosis lanjutanya yang saya periksa. Diagnosis pertama kurang tepat, saya melewatkan sesuatu waktu itu, alyssa hilang ingatan kemungkinan karena trauma, secara tidak langsung otaknya tidak mau mengingat kejadian yang mungkin sangat sakit untuk diingat.” Jelas dokter
“tapi kalau hanya kejadian tetentu yang tidak ingin alyssa ingat? Mengapa ingatan alyssa hilang secara keseluruhan?” tanya rama kembali.
“itu di luar prediksi kami, saya minta maaf” ujar dokter.
Rama mendengar penjelasan dokter dengan serius. Kemudian memutuskan untuk kembali ke ruangan alyssa, meraih gagang pintu namun berbalik ke arah dokter.
“saya mohon, jangan beritahukan dulu orangtua alyssa, sampai semuanya menjadi jelas”. pinta rama. Itu permintaan rama yang pertama yang ia lakukan.
Dokter hanya mengangguk kepalanya.

@@@

Rama memasuki ruang pasien tempat alyssa di rawat kemudian tersenyum kepada alyssa. alyssa menepuk tempat disampingnya menyuruh rama untuk duduk.
“lihat, ini foto-fotoku sewaktu kecil sampai beberapa bulan sebelum aku hilang ingatan, sepertinya aku memang manja” ucap alyssa seraya membolak balikkan album yang sedang dipegangnya. Rama hanya mengacak-acak rambut alyssa dengan gemas.
“tentu saja, kau begitu kekanakan” cibir rama sambil tersenyum.
“cerita lebih banyak lagi, sepertinya aku akan ingat dalam waktu dekat”. Kata-kata alyssa membuat senyuman rama hilang, yang tentu saja tidak dilihat oleh alyssa.
Setelah berdeham, rama mulai menceritakan semua yang ia tau tentang alyssa, tanggal lahir, kesukaan, kebiasaan dan lainnya. Ada yang berbentuk pujian yang membuat rona di wajah alyssa, dan ada yang berbentuk cibiran ringan yang membuat alyssa mengerucutkan bibirnya. Mereka tertawa bersama.

@@@
Rama dan alyssa mengelilingi supermarket untuk belanja bulanan. Alyssa memilah-milah buah ataupun sayur yang akan mereka beli, sedangkan rama yang mendorong trolinya. Layaknya seperti pasangan suami istri sedang berbelanja.
“jangan sayur alys, aku kurang menyukainya” keluh rama dibelakang alyssa
“aku tau” jawab alyssa seraya memasukkan beberapa jenis sayuran ke dalam troli.
“kau tau, tapi masih ingin membelinya?” tanya rama heran.
Alyssa membalikkan badannya dan menatap rama sambil tersenyum manis. Senyuman alyssa memang manis tetapi jika diiringi dengan kerjapan mata berkali-kali, pasti alyssa akan merengek, pikir rama
“makanlah walaupun sedikit ya, ku mohon. Apa kau tidak lihat kulitmu putih pucat karena jarang makan sayur” ujar alyssa sedikit merengek ke arah rama.
Rama tetap menggelengkan kepalanya. alyssa tidak mau kalah, terbukti dengan memasang wajah yang memelas, seakan-akan ia merengek untuk dirinya sendiri dan itu membuat rama mengalah. Gadis ini benar-benar keras kepala, batin rama jengkel.
“baiklah, baiklah. Berhenti memasang wajah seperti itu” ujar rama sambil tersenyum tipis. Alyssa hanya tersenyum dan tanpa sadar mengamit lengan rama dengan mesra.
Beberapa orang yang mereka lalui tersenyum melihat kemesraan mereka. Mungkin pasangan yang baru menikah? Pikir mereka.
Setelah selesai memilih semua persediaan, mereka menuju tempat kasir untuk membayar.
“Kalian pasangan yang sangat serasi” ujar sang kasir sambil tersenyum.
Wajah alyssa merona, pujian sang kasir membuat alyssa salah tingkah, sedangkan rama hanya berdeham.
“terima kasih” hanya itu respon rama.
Setelah membayar mereka pulang ke apartemen. Dan alyssa langsung mengeluarkan bahan-bahan yang mereka beli kemudian menyusunnya di kulkas seraya berdendang lagu dengan suara lirih. Rama yang melihatnya tersenyum bahagia. Kata-kata sang kasir kembali ia ingat yang membuat senyumannya menjadi lebih lebar.
Tanpa kata rama mendekat ke arah alyssa dan langsung menyusup tangannya dipinggang alyssa. memeluk alyssa dari belakang. Alyssa memekik ringan, ketika mendapati wajah rama di bahunya. Jantungnya kembali berdetak dengan keras, wajahnya memerah dan kegiatan memilah belanjaan menjadi terhenti. Mereka terdiam beberapa saat.
“rama”panggil alyssa. rama hanya berguman menjawabnya.
“aku sedang melakukan pekerjaan rumah, bisa kau lepaskan pelukanmu?” tanya alyssa dengan sedikit enggan. Alyssa juga menikmati pelukan rama. Mulai berharap bahwa rama mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Rama hanya menggelangkan kepalanya dan mempererat pelukan.
“biarkan seperti ini beberapa waktu” pinta rama
Alyssa terdiam, kemudian mulai membalas pelukan rama. “aku senang kau memelukku seperti ini” ujar alyssa sambil menoleh ke samping. Ke arah rama.
Rama hanya diam. Tak ingin melewatkan momen ini sedetikpun.
“alys” panggil rama seraya merenggangkan pelukan dan membalik badan alyssa. rama menatap alyssa dalam membuat alyssa hanyut ke dalam mata coklat terang rama. Perlahan tapi pasti rama mulai memajukan wajahnya, mendekati bibir alyssa. alyssa mengerjap matanya kemudian mulai memenjamkan matanya. Rama mulai memiringkan wajahnya dan semakin dekat dengan wajah alyssa. napas hangat rama menerpa wajah alyssa dan ketika ingin mengecup bibir tipis alyssa, kegiatan rama terhenti kala mendengar suara bel interkom dari depan apartemen mereka.
Mereka menjadi salah tingkah, rona wajah alyssa semakin memerah. Dan kemudian beranjak untuk membukakan pintu, sepanjang berjalan dari dapur ke arah ruang tamu, alyssa mengutuk siapapun yang mengganggu momen ia bersama. Sedikit lagi semua akan jelas, siapa orang yang....? omelan alyssa dalam hati terhenti ketika melihat pemuda tampan tersenyum manis ke arahnya. Pemuda yang mempunyai tinggi semampai, berkulit putih langsat dan mata biru yang sangat cantik. Mata yang akan membuat siapa saja yang melihatnya terhanyut didalamnya.
“hai manis” sapa pemuda tersebut sambil mengedipkan matanya. Alyssa merona.
“maaf, kau mencari siapa?” tanya alyssa
“tentu saja mencarimu sayang, alyssa brown” ujar pemuda tersebut sambil tersenyum tampan.
Rona diwajah alyssa menghilang ketika mendengar jawaban pemuda tersebut. Untuk apa pemuda ini mencarinya?
“tapi..”
“ada apa david?” tanya rama sambil berjalan ke arah alyssa kemudian dengan protektif menggenggam tangan alyssa dan membawanya ke belakang punggungnya.
David – sang pemuda. Hanya terkekeh. Tidak menyangka kalau sahabatnya akan seprotektif ini. mungkin wajar jika rama melakukannya. Karena melihat penampilan david yang santai tetapi sangat tampan. Apalagi mata biru yang dalam itu.
“boleh aku masuk?” tanya david sambil memasuki apartemen rama tanpa merasa bersalah.
Ternyata dia temannya rama, guman alyssa dalam hati
“mau minum apa?” tanya alyssa sopan. Teman rama berarti ia temannya juga. Pikir alyssa
“kopi, jangan pakai gula” jawab david ringan, tidak lupa mengedipkan matanya. Bukannya merona. Wajah alyssa memasang tampang bingung. Kopi pahit? Gimana rasanya? Tanyanya dalam hati
Alyssa hanya mengganggukkan kepalanya.
“jangan mengganggunya” ujar rama sambil tersenyum.
David kembali terkekeh. Menyenangkan mengganggu milik rama. Karena ia tidak pernah melihat rama seprotektif ini terhadap wanita.
“jadi alyssa yang telah membuatmu beberapa bulan terakhir ini menjadi bos yang ramah” guman david kepada dirinya sendiri.
David menoleh ke arah rama dengan wajah serius.
“kau sudah mengatakan semuanya?” tanya david
Rama menggelengkan kepalanya.
“kenapa?” tanya david kembali
“aku takut. Takut jika ia tidak bisa memahami semua yang kukatakan” ujar rama pelan.
                David hanya menganggukkan kepalanya. ia mengerti. keadaannya memang rumit. Tidak lama kemudian alyssa membawa nampan yang berisi kopi pahit dan kopi manis serta beberapa cemilan ringan ke ruang tamu. Kemudian duduk disamping rama sambil memeluk nampan yang ia pegang.
“oa, kenalkan ini temanku, david, dan ini alyssa” kata rama
David mengulurkan tangan sembari tersenyum.

“aku david, david williams” .Alyssa menjabat tangan hangat david seraya tersenyum sopan. “alyssa brown” ucap alyssa sopan.

Bersambung ke Part 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar