Rama
membawa alyssa ke daerah pinggiran kota, ke sebuah taman yang luas
ditengah-tengahnya terdapat kolam yang air mancur bertingkat tiga, sangat
indah... alyssa bahkan tidak pernah melihat itu sebelumnya. Setidaknya
begitulah benaknya merasakan. Bukankah jika kita pernah ke suatu tempat kita akan
merasa familiar dengan suasana tersebut. Alyssa menghampiri kolam mancur dengan
langkah lebar sambil tersenyum manis.
Rama
yang mengikutinya di belakang hanya tersenyum, ia pernah melihat alyssa
tersenyum kenakak-kanakan seperti itu, seperti seorang remaja yang sedang jatuh
cinta.
Alyssa
memandang kolam mancur dengan perasaan takjub. Bagaimana mungkin ada taman
seindah ini tetapi ia tidak penah tahu sebelumnya.
“apakah
aku pernah kesini sebelumnya?” tanya alyssa seraya menoleh kebelakang menatap
rama dengan mata yang berbinar-binar.
Rama
hanya mengangkat bahunya seraya melangkah mendekati alyssa. lama mereka duduk
di taman tersebut. Memandangi sekeliling dan kemudian makan di resto sederhana
yang berada tidak jauh dari taman.
Setelah
memenuhi kebutuhan perut mereka, kini rama mengajak alyssa ke taman hiburan
yang berada tidak jauh dari taman yang mereka kunjungi. Melihat taman hiburan, alyssa
memekik kegirangan. Walaupun ia tidak ingat pernah pergi ke sana sebelumnya,
tapi hatinya mengatakan kalau ia pernah kesana.
Tanpa
menunggu rama yang sedang memarkirkan mobil, alyssa berjalan, mungkin lebih
bisa dikatakan setengah berlari memasuki taman hiburan. Alyssa sudah tidak
sabar ingin mencoba semua wahana yang ada di taman hiburan tersebut, mulai dari
yang ringan sampai yang menguji adrenalin. Keadaan taman hiburan sangat ramai
karena hari ini weekend jadi banyak keluarga menghabiskan waktu mereka ke taman
hiburan tersebut. Apakah untuk melihat keadaan wahana atau karena ajakan dari
sang anak.
Mereka
menaiki rollcoster dengan perasaan senang, sebenarnya hanya alyssa yang senang
tepatnya, sedangkan rama senang terlebih melihat alyssa yang bahagia. Setelah
dari rollcoster alyssa ingin menaiki wahana halilintar, tentu saja rama menolak
untuk naik juga, membayangkan ia diputar tiga ratus enam puluh derajat dengan
cepat membuat rama ingin muntah apalagi merasakan langsung. Itu sebuah mimpi
buruk baginya. Ketika alyssa menaiki wahana tersebut rama hanya menunggunya
dibawah sambil duduk dibangku taman tersebut seraya menyesap cuppucinonya.
Tersenyum melihat alyssa yang berteriak kegirangan diatas sana.
Setelah
beberapa lama, alyssa turun dari wahana halilintar dengan tampak lelah tetapi
bahagia, ia berjalan dengan sedikit melompat menghampiri rama yang tersenyum
kearahnya. Rama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat gadis itu.
“kau
senang?” tanya rama, sebenarnya ia sudah tau jawaban yang akan dilontarkan oleh
alyssa, tapi ia ingin mendengar langsung dari bibir tipis alyssa.
Alyssa
mengganguk dengan cepat, “senang sekali, benar-benar senang” sambil melompat ke
bangku yang diduduki oleh rama.
Matanya
menjelajah ke seluruh penjuru taman, “terima kasih, aku benar-benar senang”
kata alyssa tanpa memandang rama, matanya sibuk berjelajah ria. Rama menoleh ke
arah alyssa seraya tersenyum.
Mata
alyssa tiba-tiba menangkap sesuatu yang membuat matanya berbinar-binar.
Kemudian bangkit. Rama mendongak, ketika hendak melangkah tangan alyssa dicegat lembut oleh rama.
“mau kemana?” tanya
rama lembut
Alyssa hanya menunjuk
ke arah depan, rama mengikuti tunjukan alyssa dan melihat penjual kembang gula yang
berada tidak jauh dari tempat duduk mereka.
“biar aku saja”. Ujar
rama tenang.
Dengan
langkah lebar rama mendatangi penjual kembang gula tersebut. Setelah menunggu
cukup lama, kini giliran rama yang membeli, setelah membeli kembang gula
langsung kembali ke tempat alyssa. namun tidak ada siapa-siapa disana.
Rama
mematung, ia tidak salah tempat, tetapi kemana alyssa? benaknya bertanya-tanya.
Matanya menatap ke sekeliling taman mencari sosok alyssa. Nihil. Pikirannya
mulai panik. Ia berlari sambil memanggil alyssa dengan keras.
Tidak ada, mungkin ke parkiran?
Guman rama dalam hati, segera rama berlari ke arah parkiran mencari alyssa.
tetap nihil. Pikirannya berkecamuk. Mungkinkah...? berbagai pikiran buruk mulai
memenuhi benak rama. Ia kembali masuk ke taman hiburan mencari dan terus
mencari alyssamkemudian mematung di tempat awal mereka duduk. Tangannya
bergetar, kepala rama tertunduk.
Seandainya
ia tidak meninggalkan alyssa sendiri? alyssa mungkin tidak akan hilang..
pikiran rama berkecamuk
“bodoh...
kenapa aku meninggalkannya sendirian” guman rama pelan
“bagaimana kalau ...”
“rama”
suara alyssa langsung membuyarkan pikiran buruk rama, menoleh dengan cepat dan
mendapati alyssa yang sedang menatap bingung ke arahnya, tanpa kata rama
langsung merengkuh alyssa ke dalam pelukannya.
Tubuh alyssa menegang
kaku.
Rama
memeluknya...?
Alyssa
tidak mampu menenangkan jantungnya yang bekerja cukup keras akibat pelukan
rama. Ketika alyssa membalas pelukan rama, ia merasakan tubuh rama bergetar
pelan. Hal itu membuat alyssa semakin bingung.
“jangan
pernah mengulanginya lagi” kata rama dengan suara serak.
“aku
minta maaf, aku tadi ke kamar mandi karena melihat kau sedang mengantri, jadi
aku pergi sendiri, maaf” ucap alyssa menyesal. Ia tidak tau bahwa rama akan
sekhawatir ini terhadap dirinya.
“jangan
pernah mengulanginya lagi, kau mengerti?” ujar rama kembali.
Alyssa mengganguk
dalam pelukan rama meskipun kebingungan.
@@@
Semenjak
kejadian di taman hiburan, rama menjadi sedikit protektif terhadap alyssa,
menelpon alyssa 3 jam sekali dan melarang alyssa bepergian sendirian, namun alyssa memakluminya. Merasakan tubuh
rama yang bergetar dalam pelukannya membuat alyssa bertanya-tanya. Mengapa
begitu khawatir? Apa yang sebenarnya terjadi?
Namun
alyssa lebih memilih untuk menyimpannya. Mungkin akan ditanyakan pada rama
suatu hari nanti. Tidak sekarang.
Rama sedang berkutat dengan laptopnya, mengerjakan
beberapa pekerjaan kantor yang belum terselesaikan. Sedangkan alyssa hanya
memandangi rama dengan pandangan kesal. Sedari tadi rama mengacuhkan dirinya
dan lebih memilih berkutat dengan laptop itu ketimbang berbicara kepadanya.
“kau masih lama?”
tanya alyssa sambil menahan kekesalannya.
Rama
tersenyum tipis namun tidak menjawab pertanyaan alyssa. tidak ada jawaban. Membuat
Kekesalan alyssa yang sedari tadi ditahannya mencapai puncak. Alyssa berkacak
pinggang dan menatap rama dengan pandangan kesal seraya mengerucutkan bibirnya.
“ya..
aku berbicara denganmu” suara alyssa naik beberapa oktaf.
“sebenarnya
ada apa denganmu hari ini? kau seperti orang yang gila kerja, tidak lihat aku
bosan memandangimu terus-terusan” alyssa terus mengoceh akan kekesalannya.
“ya
tuhan.. pria ini benar-benar menyebalkan” alyssa mengguman pelan ketika tidak
ada reaksi apapun dari rama. Ketika hendak menarik rama untuk tidak berkutat
lagi dengan laptopnya, suara bel menghentikan niat alyssa. Kemudian berjalan
membuka pintu apartemen.
Beberapa
lama alyssa tidak kembali, rama mengeryit, kemudian memilih untuk menyusul
alyssa. ketika berada di ruang tamu, ia melihat alyssa mematung di pintu dan
melihat christy berada diluar apartemen.
Christy
yang sedari tadi berdiri di depan pintu menunggu alyssa untuk mempersilahkan
masuk. Tetapi alyssa hanya menatap ke arahnya.
“pacarmu
tidak membolehkanku masuk” guman christy ke arah rama.
Alyssa
tersadar dari lamunannya dan menyuruh christy untuk masuk. Diam-diam alyssa
mengutuk dirinya yang bodoh.
“mau
aku buatkan minuman?” tanya alyssa ingin mencairkan suasana.
“tidak usah” kata rama
datar
Kemudian
menoleh ke arah alyssa masih dengan muka datarnya. “kau masuklah ke kamar” nada
perintah yang kental terdengar jelas dari suara rama.
Alyssa
melangkah ke kamarnya dengan perasaan bigung. Wajah itu kembali menunjukkan
perasaan dingin. Mengapa berubah begitu cepat seperti itu?
Setelah
memastikan alyssa masuk ke kamar. Rama menatap christy dengan datar.
“Bagaimana perkembangannya?”
tanya rama
Christy menyodorkan
amplop ke arah rama.
“itu
adalah berkas-berkas yang kau minta, ethan” kata christy terdengar biasa.
Rama
mempelajari berkas-berkas tersebut dengan kening yang berkerut. Beberapa saat
kemudian menutup berkas tersebut dan memasukkan kembali ke amplop.
“kau tidak menemukan
pembunuh berikutnya?” tanya rama
Christy
menggelengkan kepalanya. “sejauh ini belum, tetapi aku menemukan informasi yang
menyatakan bahwa musuh mulai bergerak. Mereka sedikit curiga kepadamu ketika
kau menolak tawaran mereka. Kau harus lebih waspada karena mereka menggunakan
banyak cara untuk bisa mencapai tujuan” jelas christy secara rinci
Rama
mengangguk kepala. “terima kasih atas informasinya. Aku akan menghubungimu jika
ada masalah”
Setelah
itu christy meninggalkan apartemen tersebut dengan langkah pelan tetapi seksi.
Ketika mendengar suara pintu, alyssa keluar kamar dan langsung menghampiri
rama. Tatapan rama masih sama datar dan dingin. Mungkin membiarkan rama
menenangkan diri baru akan bertanya. Putus alyssa kemudian memasuki kamarnya
kembali.
Alyssa
ketiduran sewaktu mencoba memikirkan hubungan antara rama dengan wanita yang
tadi siang datang. Kemudian beranjak ke kamar mandi. Setelah menyegarkan
tubuhnya alyssa menuju ke dapur dan membuka lemari pendingin untuk minum.
Ketika menutupnya matanya menangkap memo dari rama.
Aku
pergi sebentar, jangan biarkan orang asing masuk, kau mengerti?
Alyssa
mengerucutkan bibirnya. “selalu memerintah” cibirnya pelan.
Ketika
alyssa hendak minum, tiba-tiba mati lampu, apartemen sepenuhnya gelap. Membuat
tubuh alyssa tiba-tiba menjadi kaku.
Bersambung ke Part 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar