Alina terduduk di lantai setelah membaca surat
dari amelia, matanya menatap kedepan dengan tatapan tidak percaya, tersirat
akan ketakutan yang dalam, tangannya bergetar di dada, menggenggam erat
lembaran surat amelia, bagaimana mungkin amelia bekerja pada keluarga
emmanuelle? Mengapa ini bisa terjadi? Berbagai pertanyaan berkecamuk di
hatinya.
Alina bangun dengan cepat melangkah setengah berlari
keluar rumah namun beberapa saat kemudian langkahnya terhenti, tidak, aku tidak
mungkin kesana, pikirnya alina dalam hati.
Pikirannya berkecamuk hebat, ia bahkan tidak
beranjak dari berdiri di depan pintu rumah, memandang ke depan dengan tatapan
menerawang yang menyedihkan.
Karena tidak berhasil memikirkan apapun, alina
kembali terjatuh ke lantai teras, airmatanya mengalir deras, dalam hati
berulang kali ia menyebutkan nama putrinya, seakan-akan putrinya adalah hal
terakhir yang bisa ia ucapkan.
&&&
Emely
menatap amelia yang sedang menyiapkan makan malam dengan sinis, sudah tiga
minggu gadis itu di mansion ini, dan itu membuat emely harap-harap cemas, emely
tidak akan pernah mau membagikan posisinya sebagai nyonya emmanuelle dengan
seorang gadis miskin seperti amelia, ia tau persis danny mulai menyukai gadis
itu, karena mata itu juga menampakkan hal yang sama ketika bersama mikayla walaupun
seperti ditahan untuk tidak terlalu menampakkannya.
Emely
melangkah menjauhi ruang tengah sambil memikirkan cara untuk melenyapkan
amelia, ketika melangkah ke ruang tamu ia bertemu dengan danny yang sedang
melangkah ke arahnya, dan saat itu juga senyum emely mengembang.
Danny
mengernyit mendapati senyum emely, bukankah sudah ia bilang jangan memasang
wajah seperti itu lagi dihadapannya, apakah emely tetap bertahan dengannya?
Hah, gadis bodoh, pikir danny.
Danny
memasang senyum palsunya, ia tidak ingin membenarkan gosip yang beredar tentang
dirinya di mansion ini, gosip yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mencintai
istrinya bahkan belum menyentuh istrinya selama mereka menikah, ia hanya tidak
ingin kabar itu sampai keluar mansion dan pesaing-pesaingnya akan menggunakan
kabar itu untuk memojokkannya.
“kau sudah pulang?” ujar emely dengan senyum
lembut.
“kau sangat memperhatikanku” sahut danny dengan
senyum palsunya.
Dan entah disengaja atau
tidak, emely terjatuh, danny dengan sigap menangkap tubuh emely ke pelukannya.
“apa kau masih berusaha
merayuku?” tanya danny sambil memiringkan wajahnya ke telinga emely.
Emely tersenyum, “aku masih
tetap bertahan” sahutnya ringkas, dan emely melepaskan pelukannya pada danny,
tersenyum manis pada suaminya kemudian pergi ke kamarnya.
Danny melangkah menuju
tangga, ia menoleh ke arah ruang tengah dan bertemu pandang dengan mata amelia,
beberapa detik kemudian, amelia membungkukkan kepalanya dan pergi dari ruang
tengah, danny tertegun. Mestinya ia bersikap biasa saja karena memang amelia
hanya pelayan pribadinya, namun matanya menampakkan kilat kaget ketika
mengetahui amelia melihat ia berpelukan dengan emely, danny menggelengkan
kepalanya mengusir perasaan yang membuatnya menjadi seperti itu.
Amelia melangkah ke arah
kamarnya, membuka pintu dengan cepat dan langsung menguncinya. Di balik pintu
ia memegangi dadanya dan mengernyit. Jantungnya berdetak keras dan terasa
seperti berdenyut nyeri, tidak. Tidak boleh. Ia tidak boleh merasakan ini, bagaimana
mungkin ia jatuh cinta kepada majikannya?, amelia menggelengkan kepalanya
mengusir perasaan yang membuatnya seperti itu.
&&&
Amelia
mengetuk pintu ruang pribadi danny, dan masuk sambil membawa nampan yang berisi
kopi untuk majikannya, melangkah dengan pelan, menatap ke lantai karena tidak
berani menatap sepasang mata yang menatap intens di depannya.
“besok
pagi datanglah ke taman belakang” perintah danny sambil mengambil cangkir
kopinya dan menyesapnya pelan.
Amelia
mengernyit samar, untuk apa danny menyuruhnya ke taman belakang?, namun amelia
memilih untuk membungkukkan kepalanya sekilas dan pergi keluar ruangan, ia
tidak berani menanyakannya, lagi pula bukankah amelia memang tidak harus
menanyakannya, itu perintah! Dan perintah wajib dilaksanakan. Itu salah satu
poin yang ada dalam lembaran yang amelia baca.
Selepas amelia keluar kamar,
danny mengangkat alisnya. Baru menyadari kalimat – atau lebih tepatnya perintah
yang ia katakan pada amelia. Untuk apa ia mengajak amelia ke taman belakang?,
ia sendiri bingung. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya tanpa sempat
diproses, ia hanya berpikir bahwa pelukannya dengan emely bukan seperti yang
amelia pikirkan, ia harus menjelaskan.
Tunggu!
Untuk apa ia menjelaskan?, bahkan ia tidak ada
hubungan apapun dengan amelia, hanya hubungan antara pembantu dan majikan. Jadi
untuk apa ia repot-repot ingin menjelaskan tentang pelukan itu?. danny
menggelengkan kepalanya sambil menekan hidung atasnya. Lelah dengan pikirannya,
danny melangkah masuk ke pintu sebelah kiri dan menghilang di balik pintu.
&&&
Amelia
melangkah menuju taman belakang, tidak jauh dari kamarnya, ia hanya keluar dari
pintu belakang dapur menuju koridor kemudian berbelok ke kanan, amelia
tersenyum melihat suasana taman belakang, tidak banyak bunga ataupun tanaman
yang biasanya menghiasi sebuah taman, taman yang ia lihat lebih seperti
lapangan luas yang dilapisi dengan rumput-rumput kecil dan rapi, hanya ada
jalan setapak yang berukuran kecil dan beberapa pohon cemara di sini kanan dan kiri
taman.
Danny
sedang mengayuhkan stik golfnya, memukul bola kecil di atas tanah berumput dan menatap
lajur bola yang melayang tinggi dan jatuh di beberapa puluh meter kedepannya.
Kemudian mulai berjalan menuju ke arah bola terjatuh.
Amelia
mengikuti danny tanpa berniat untuk menyapa tuannya, ia terus mengikuti
dibelakangnya namun tiba-tiba langkah danny terhenti dan amelia hampir menabrak
punggung lebar danny.
Danny
berbalik dan menatap langsung ke arah mata amelia, tangannya bersedekap di
dada, muka amelia memerah karena ia seperti ketahuan memakan kue yang
melebihi jatahnya.
“selamat pagi tuan”, hanya itu yang dapat
amelia keluarkan dari bibirnya, kepalanya menunduk.
“angkat kepalamu” perintah danny dengan tenang.
Berlahan-lahan amelia
mengangkat kepalanya dan matanya langsung bertemu pandang dengan mata hitam
milik danny.
“sudah pernah main golf
sebelumnya?” tanya danny pelan dengan suaranya yang khas, rendah dan dalam.
Amelia menggelengkan
kepalanya dan tersenyum samar, ia bahkan baru mengetahuinya dari danny.
Danny menyodorkan stik
golfnya kearah amelia, menyuruh amelia untuk mengambil alih stik golf tersebut
kemudian melangkah mendekati bola dan menyuruh amelia memukul bola tersebut
dengan isyarat kepalanya.
Amelia mengerutkan kening
cemas, ia bahkan tidak tau cara memegang stik golf apalagi untuk memukul bola,
namun amelia tetap mencoba, dipegangnya stik golf dengan kuat, posisinya tetap
berdiri. Amelia berhenti sejenak, bukan seperti ini caranya, batin amelia dalam
hati.
Danny tersenyum tipis melihat
gaya amelia bermain golf, ia melangkah satu langkah, tangannya memenjarakan
amelia dari belakang.
“lebarkan kakimu kemudian
membungkuk sedikit, lemaskan otot bahumu dan jangan memegang stik terlalu kuat”
kata danny menjelaskan tata cara memegang stik golf dengan benar.
amelia membatu ketika lengannya
disentuh dengan lembut oleh danny, namun hatinya hangat, seperti merindukan
sentuhan tersebut. Ia mengikuti instruksi danny dengan perlahan dan memukul
bola tersebut.
“lumayan untuk pemula”
komentar danny ketika melihat bola tersebut terjatuh hampir dengan dekat lubang
tanah.
Amelia menatap danny dan
sedetik kemudian mengalihkan pandangan pada objek lain, jantungnya mulai
berdetak kencang kembali. Bahkan sekarang ia hampir bisa mendengar detak
jantungnya sendiri.
“lihat saja kalau kau ingin
melihatku” ujar danny santai.
Namun tidak terdengar santai
untuk amelia, wajah amelia memerah sampai ke telinganya, tangannya bergerak
untuk menyingkap rambut ke belakang telinga, tanda bahwa ia sedang menahan
malu.
Danny mengernyit, apakah ini
suatu kebetulan atau memang mereka mempunyai pribadi yang sama?, mikayla juga
melakukan hal yang sama ketika sedang merona akibat rayuannya.
Danny melangkah mendekati
amelia mencoba menarik lengan gadis itu supaya berjarak lebih dekat dengannya,
namun ketika pandangannya melewati bahu amelia, danny menatap emely yang
menatapnya dengan pandangan menyala-nyala, tampak menahan marah. Sebenarnya ia
tidak memperdulikan tatapan emely tetapi mengingat hubungan suami-istri antara
dirinya dengan perempuan itu mau tidak mau membuat danny menahan diri untuk
tidak menyentuh lengan amelia.
“kau boleh pergi” kata danny
pelan
Amelia menatap kembali pada
danny, dan mengernyit samar, baru tadi ia mendengar suara danny yang lembut,
menggodanya. Namun sekarang berubah dingan seperti biasa. Emelia mengangguk
kepalanya dan mohon diri.
&&&
Kurang ajar, kurang ajar. Kalimat
tersebut terus dilafal emely dalam hati, tangannya terkepal kuat menahan amarah
yang bergelora dihatinya. Ia bahkan sedikit kesusahan menghirup napas gara-gara
jantungnya yang berdetak kencang dan terasa nyeri. Ia mondar-mandir di dalam
kamar utamanya. Memikirkan cara untuk menyingkirkan pelayan busuk itu dari
rumah ini.
Beberapa saat kemudian ia
berhenti dan berdiri menghadap balkon dengan mata penuh pertimbangan. Ya, ia
sudah mendapatkan cara bagaimana menyingkirkan amelia, namun ia masih
memikirkan langkah apa yang tepat yang akan ia lakukan. Langkah dimana ia sama
sekali tidak perlu turun tangan dalam melakukannya.
&&&
Danny berjalan menuju dapur,
ia bermaksud mencari amelia, hanya sekadar menatapnya dan kemudian kembali ke
ruang pribadi, sudah dua minggu ia hampir tidak pernah melihat amelia
dikarenakan jadwal padat yang menghimpit dari waktu ke waktu. tur dari satu
perusahaan ke perusahaan lainnya mengharuskannya bepergian ke luar kota.
Ketika sampai di kamar
amelia, danny berdiri sejenak. Ragu dengan keputusannya mendatangi amelia larut
malam seperti ini, tangannya bergerak ke arah pintu, ingin mengetuk pelan namun
diurungkannya. Dan ketika membuka handle pintu, ia sedikit terkejut mengetahui
bahwa pintu kamar amelia tidak dikunci.
“dasar ceroboh”, kata danny pelan.
Ia memasuki kamar amelia
dengan pelan tanpa bersuara, ia melihat amelia berbaring miring meringkuk,
seperti janin dalam kandungan, terlihat sangat rapuh, hal itu membuat danny
ingin memeluk amelia dan memberikan kehangatan yang lembut pada gadis itu.
Tangan danny bergerak menyentuh anak rambut yang terjatuh di dahi amelia lalu
membelai lembut pipi amelia. Tanpa sadar danny tersenyum lembut, sebuah
senyuman yang sangat jarang ia lakukan.
Setelah puas menatap amelia,
danny melangkah keluar kamar amelia dan ketika pintu tertutup kembali amelia
membuka matanya, menatap ke depan tanpa benar-benar memandang sesuatu.
&&&
Seperti biasa yang terjadi di
pagi hari, para pelayan sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga emmanuelle dan
menghidangkannya ke atas meja, tidak ada satu yang mencoba bersantai pada waktu
itu, tidak terkecuali amelia, gadis itu juga sibuk membuat kopi untuk danny dan
membantu pelayan lain jika meminta pertolongannya.
Entah kenapa, pagi ini amelia
menjalani dengan perasaan riang, bangun dengan perasaan cerah dan
memperlihatkan senyumannya yang manis pada semua pelayan.
Emely melangkah dan duduk di
kursi makan, sedikit melirik ke arah amelia dan menyeringai tipis, pagi ini
akan menjadi pagi terakhir gadis itu menyiapkan kopi untuk danny, ia yakin akan
hal itu, dan itu membuatnya tersenyum senang.
Tidak lama kemudian semua
keluarga emmanuelle berkumpul dan menyantap sarapan pagi mereka dengan penuh
hikmat, semula tidak ada yang janggal pada pagi itu, namun ketika danny meminum
kopinya, tidak lama kemudian ia memuntahkannya kembali.
Ia menatap cangkir kopi di
tangan dengan perasaan tidak menentu, ia tau bahwa di kopi tersebut sudah
tercampur racun karena rasa kopi yang tidak biasanya dan beberapa saat kemudian
perutnya terasa nyeri bahka ia harus memegangi ujung meja untuk membuatnya
tetap terduduk dengan benar.
“apa yang terjadi?” teriak
emely dan segera menahan lengan danny yang ingin terjatuh.
“danny, kau baik-baik saja?”
tanya navaeh sambil memegangi danny yang mengerang kesakitan.
“panggil dokter” teriak emely
histeris.
Raymond segera berjalan ke
ruang makan utama dan segera membopong danny menuju kamar utama, ia tidak
mungkin membawa danny ke ruang pribadi tuannya karena akan banyak orang yang
akan masuk untuk memeriksa danny nantinya.
Tidak lama kemudian
Desas-desus kejadian tersebut sampai ke amelia yang duduk di kamarnya, ketika
mendengarnya, hal pertama yang ia tanyakan adalah bagaimana keadaan danny?, ia
bahkan pucat pasi, berbagai kemungkinan buruk berputar-putar di benaknya.
Ia segera berlari ke ruang
makan utama dan melihat danny yang sedang dibopong raymond, bibirnya bergetar
menahan tangis. Ia menatap danny yang mengerang kesakitan yang pandangan yang
tidak bisa diartikan, cemas, khawatir dan takut bercampur menjadi satu.
&&&
“kondisi tuan muda baik-baik
saja, ia keracunan. Tetapi racun tersebut tidak mematikan, setelah beristirahat
ia akan baik-baik saja”, jelas dokter tersebut dengan pelan.
Emely menatap danny yang
berbaring lemah diatas tempat tidur dengan perasaan bersalah, sebenarnya ia
tidak ingin mengorbankan danny seperti ini, namun ia tidak bisa memikirkan cara
lain, hanya ini satu-satu cara agar amelia pergi dari keluarga emmanuelle dan
lebih baiknya lagi, jika gadis itu mati.
Raymond mengangguk mohon diri
kepada emely duduk di samping tempat tidur danny untuk mengantar dokter
tersebut keluar mansion, ia tidak mengerti mengapa terjadi hal seperti ini?,
sangat tidak dipercaya kopi yang disuguhkan oleh amelia mempunyai racun di
dalamnya. Setelah mengantarkan dokter sampai ke pintu depan, hal pertama yang
raymond lakukan adalah segera menuju kamar amelia.
“bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik
saja?” tanya amelia dengan perasaan yang sangat cemas.
Raymond mengernyit, “apakah ia baik-baik saja?
Bukankah kau ingin membunuhnya, kenapa kau malah bertanya seperti itu?” raymond
berbalik tanya.
Amelia tertegun oleh
pertanyaan raymond, membunuh danny? Ia tidak mengerti arah pembicaraan raymond.
“apa maksudmu?” tanya amelia memastikan.
“di dalam kopi yang kau suguhkan terdapat
racun, bagaimana kau akan menjelaskan itu?”tanya raymond dengan tatapan
menyelidik, walaupun sebenarnya ia tidak percaya bahwa amelia akan melakukan
hal seperti itu, namun kenyataan dihadapannya membuatnya bersikap siaga.
“racun? Racun apa? Apa yang kau bicarakan
raymond?” tanya amelia kembali, kali ini dengan suara sedikit bergetar.
“ku harap setelah ini, kau tidak pergi
kemana-mana, aku akan segera kembali” setelah mengatakan itu raymond keluar
kamar amelia, meninggalkan amelia yang tertegun oleh fakta yang dikatakan
raymond.
“t-tunggu dulu, kau belum menjelaskan apapun
padaku” kata amelia sambil berlari menyusul raymond yang sudah berada di dapur.
Namun raymond tidak menghentikan langkah cepatnya, ia tetap melangkah tanpa
menoleh ke belakang sedikit pun.
&&&
“apa yang terjadi sebenarnya?”
Darius menatap raymond, menunggu penjelasan
dari orang kepercayaan danny. Kejadian tadi pagi tidak pernah terjadi
sebelumnya karena raymond selalu sigap mengatasi masalah yang terjadi atau
masalah yang akan terjadi pada danny.
“tuan muda diracuni” sahut raymond ringkas. Ia
tidak mengatakannya dengan jelas karena ia ingin menyelidiki terlebih jauh
tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“aku tau itu, tapi bagaimana bisa? Siapa yang
melakukannya?” tanya darius kembali.
“kopi yang tuan minum terdapat racun dan... dan
amelia yang meracuni tuan muda” ujar raymond pelan
Darius menatap lurus ke
depan, entah yang ia pikirkan, ia terus menatap ke depan tanpa berniat mengusir
raymond pergi, lalu tak lama kemudian ia sedikit mendongak menatap raymond
dengan mata yang wibawa.
“bereskan dia” perintah darius dengan mata
penuh keyakinan.
Raymond terkejut dengan pernyataan tuan
besarnya, namun sebisa mungkin ia menunjukkan sikap biasa di hadapan
majikannya.
“bereskan dia secepat yang kau bisa” sebuah
ultimatum tak terbantahkan membuat raymond mengganggukkan kepala dan mohon diri
dari hadapan darius kemudian menghilang dibalik pintu.
Darius terus menatap lurus ke
depan dalam waktu yang cukup lama, memikirkan sesuatu yang sangat menyita
pikirannya.
&&&
Amelia duduk gelisah di ujung
tempat tidur, tangannya menggenggam satu sama lain, memperlihatkan betapa
cemasnya ia sekarang, ia melirik ke pintu, menunggu kabar dari raymond. Ia
tidak menyangka kopi yang ia suguhkan sudah diberi racun sebelumnya, kopi itu
adalah kopi yang sama dengan hari-hari sebelumnya, mengapa sekarang danny keracunan? Berbagai pertanyaan
berkecamuk dalam benak amelia.
Suara gebrakan pintu membuat
amelia terlonjak kaget, ia melihat beberapa orang berotot mendekatinya dan
langsung membekapnya bersamaan.
“apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku”,
Amelia meronta-ronta sekuat
tenaga, namun dibandingkan beberapa orang yang mempenyai otot tersebut
kekuatannya tidak ada apa-apanya.
Amelia di seret dari dapur
menuju ruang samping, para pelayan menatap amelia, berbisik-bisik tanpa bisa
melakukan apapun, mereka menatap amelia dengan tatapan kasihan.
“masukkan dia ke bagasi” perintah salah satu
pria.
“apa salahku? Mengapa kalian melakukan ini
padaku” teriakan amelia seperti angin berlalu, tidak ada yang memperdulikan
gadis itu. bagasi ditutup dengan keras menyebabkan telinga amelia berdengung dan
mobil melaju keluar dari mansion emmanuelle.
Emely
melihat kejadian tersebut dari balkon kamarnya, bibirnya mengembang. Ia
tersenyum menyeringai. Bagus, memang seharusnya kau berada di tempat itu, dan
enyahlah.
&&&
Amelia terhenyak keras ketika
guyuran air membasahi tubuhnya, matanya berkunang-kunang, ia berusaha melihat
sekitarnya dan ketika matanya mulai fokus. Ia terkejut, ia duduk di sebuah
kursi, kaki dan tangannya di ikat kuat, ia melihat sekeliling, sebuah tempat
kumuh dan beraroma amis yang menyengat, membuat kepala amelia pusing.
“dia sudah bangun”
Sebuah suara membuat amelia
mencari dimana sumbernya, dan terkejut ketika melihat ada beberapa orang yang
menatapnya penuh arti.
“dimana aku?” tanya amelia dengan suara
bergetar.
Bukannya menjawab,
orang-orang tersebut malah tertawa mengejek ketakutan amelia yang sangat
kontras terlihat.
Pintu terbuka dan raymond
masuk dengan tatapan yang tajam, ia menyuruh orang-orang itu untuk keluar dari
ruangan karena ia sendiri yang akan menjalan tugas itu.
“menjalankan apa? Apa yang ingin kau lakukan?”
tanya amelia sambil menatap takut pada raymond.
“aku diperintahkan untuk melihat langsung
kematian gadis itu” kata salah satu pria yang mempunyai badan yang paling
besar.
Tanpa kata raymond mulai
mendekati amelia yang terlihat sangat ketakutan, lelaki itu mengeluarkan pisau
yang berkilat-kilat, seperti menunjukkan betapa tajamnya pisau itu.
“aku mohon, jangan membunuhku” cicit amelia
parau, sangking ketakutan ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya dengan
benar. Ia berusaha untuk menjauh dari raymond, namun karena ikatan yang ada di
tubuhnya membuatnya tidak bisa bergerak.
Raymond menatap tajam pada
amelia, sama sekali tidak terkecoh dengan ketakutan amelia, pisau itu bermain
di wajah amelia membuat amelia bertambah takut, seluruh tubuhnya bergetar ia
bahkan hampir tidak bisa bernapas dengan benar.
Dan kejadian itu berlangsung
dengan cepat, amelia melihat ke perutnya yang tertancap pisau dan mengeluarkan
banyak darah dan melihat raymond dengan pandangan tidak percaya, apakah ini
sisi lainnya dari raymond? Membunuh tanpa pandang bulu?
Raymond mendekati amelia
lebih dekat, posisi mereka seperti berpelukan, kepala raymond berada di samping
kepala amelia yang mengerang kesakitan.
“maafkan aku dan tetaplah bertahan” bisik
raymond sepelan mungkin.
Mata amelia berlahan mulai
mengabur, ia melihat raymond berbalik dan mengatakan pada orang-orang itu bahwa
ia yang akan membereskan semuanya. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar