/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Rabu, 09 Oktober 2013

The Lost Crown Part 4

Alina terduduk di lantai setelah membaca surat dari amelia, matanya menatap kedepan dengan tatapan tidak percaya, tersirat akan ketakutan yang dalam, tangannya bergetar di dada, menggenggam erat lembaran surat amelia, bagaimana mungkin amelia bekerja pada keluarga emmanuelle? Mengapa ini bisa terjadi? Berbagai pertanyaan berkecamuk di hatinya.
Alina bangun dengan cepat melangkah setengah berlari keluar rumah namun beberapa saat kemudian langkahnya terhenti, tidak, aku tidak mungkin kesana, pikirnya alina dalam hati.
Pikirannya berkecamuk hebat, ia bahkan tidak beranjak dari berdiri di depan pintu rumah, memandang ke depan dengan tatapan menerawang yang menyedihkan.
Karena tidak berhasil memikirkan apapun, alina kembali terjatuh ke lantai teras, airmatanya mengalir deras, dalam hati berulang kali ia menyebutkan nama putrinya, seakan-akan putrinya adalah hal terakhir yang bisa ia ucapkan.


&&&

                Emely menatap amelia yang sedang menyiapkan makan malam dengan sinis, sudah tiga minggu gadis itu di mansion ini, dan itu membuat emely harap-harap cemas, emely tidak akan pernah mau membagikan posisinya sebagai nyonya emmanuelle dengan seorang gadis miskin seperti amelia, ia tau persis danny mulai menyukai gadis itu, karena mata itu juga menampakkan hal yang sama ketika bersama mikayla walaupun seperti ditahan untuk tidak terlalu menampakkannya.
                Emely melangkah menjauhi ruang tengah sambil memikirkan cara untuk melenyapkan amelia, ketika melangkah ke ruang tamu ia bertemu dengan danny yang sedang melangkah ke arahnya, dan saat itu juga senyum emely mengembang.
                Danny mengernyit mendapati senyum emely, bukankah sudah ia bilang jangan memasang wajah seperti itu lagi dihadapannya, apakah emely tetap bertahan dengannya? Hah, gadis bodoh, pikir danny.
                Danny memasang senyum palsunya, ia tidak ingin membenarkan gosip yang beredar tentang dirinya di mansion ini, gosip yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mencintai istrinya bahkan belum menyentuh istrinya selama mereka menikah, ia hanya tidak ingin kabar itu sampai keluar mansion dan pesaing-pesaingnya akan menggunakan kabar itu untuk memojokkannya.
“kau sudah pulang?” ujar emely dengan senyum lembut.
“kau sangat memperhatikanku” sahut danny dengan senyum palsunya.
Dan entah disengaja atau tidak, emely terjatuh, danny dengan sigap menangkap tubuh emely ke pelukannya.
“apa kau masih berusaha merayuku?” tanya danny sambil memiringkan wajahnya ke telinga emely.
Emely tersenyum, “aku masih tetap bertahan” sahutnya ringkas, dan emely melepaskan pelukannya pada danny, tersenyum manis pada suaminya kemudian pergi ke kamarnya.
Danny melangkah menuju tangga, ia menoleh ke arah ruang tengah dan bertemu pandang dengan mata amelia, beberapa detik kemudian, amelia membungkukkan kepalanya dan pergi dari ruang tengah, danny tertegun. Mestinya ia bersikap biasa saja karena memang amelia hanya pelayan pribadinya, namun matanya menampakkan kilat kaget ketika mengetahui amelia melihat ia berpelukan dengan emely, danny menggelengkan kepalanya mengusir perasaan yang membuatnya menjadi seperti itu.
Amelia melangkah ke arah kamarnya, membuka pintu dengan cepat dan langsung menguncinya. Di balik pintu ia memegangi dadanya dan mengernyit. Jantungnya berdetak keras dan terasa seperti berdenyut nyeri, tidak. Tidak boleh. Ia tidak boleh merasakan ini, bagaimana mungkin ia jatuh cinta kepada majikannya?, amelia menggelengkan kepalanya mengusir perasaan yang membuatnya seperti itu.

&&&

                Amelia mengetuk pintu ruang pribadi danny, dan masuk sambil membawa nampan yang berisi kopi untuk majikannya, melangkah dengan pelan, menatap ke lantai karena tidak berani menatap sepasang mata yang menatap intens di depannya.
                “besok pagi datanglah ke taman belakang” perintah danny sambil mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya pelan.
                Amelia mengernyit samar, untuk apa danny menyuruhnya ke taman belakang?, namun amelia memilih untuk membungkukkan kepalanya sekilas dan pergi keluar ruangan, ia tidak berani menanyakannya, lagi pula bukankah amelia memang tidak harus menanyakannya, itu perintah! Dan perintah wajib dilaksanakan. Itu salah satu poin yang ada dalam lembaran yang amelia baca.
Selepas amelia keluar kamar, danny mengangkat alisnya. Baru menyadari kalimat – atau lebih tepatnya perintah yang ia katakan pada amelia. Untuk apa ia mengajak amelia ke taman belakang?, ia sendiri bingung. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya tanpa sempat diproses, ia hanya berpikir bahwa pelukannya dengan emely bukan seperti yang amelia pikirkan, ia harus menjelaskan.
Tunggu!
Untuk apa ia menjelaskan?, bahkan ia tidak ada hubungan apapun dengan amelia, hanya hubungan antara pembantu dan majikan. Jadi untuk apa ia repot-repot ingin menjelaskan tentang pelukan itu?. danny menggelengkan kepalanya sambil menekan hidung atasnya. Lelah dengan pikirannya, danny melangkah masuk ke pintu sebelah kiri dan menghilang di balik pintu.

&&&

                Amelia melangkah menuju taman belakang, tidak jauh dari kamarnya, ia hanya keluar dari pintu belakang dapur menuju koridor kemudian berbelok ke kanan, amelia tersenyum melihat suasana taman belakang, tidak banyak bunga ataupun tanaman yang biasanya menghiasi sebuah taman, taman yang ia lihat lebih seperti lapangan luas yang dilapisi dengan rumput-rumput kecil dan rapi, hanya ada jalan setapak yang berukuran kecil dan beberapa pohon cemara di sini kanan dan kiri taman.
                Danny sedang mengayuhkan stik golfnya, memukul bola kecil di atas tanah berumput dan menatap lajur bola yang melayang tinggi dan jatuh di beberapa puluh meter kedepannya. Kemudian mulai berjalan menuju ke arah bola terjatuh.
                Amelia mengikuti danny tanpa berniat untuk menyapa tuannya, ia terus mengikuti dibelakangnya namun tiba-tiba langkah danny terhenti dan amelia hampir menabrak punggung lebar danny.
                Danny berbalik dan menatap langsung ke arah mata amelia, tangannya bersedekap di dada, muka amelia memerah karena ia seperti ketahuan memakan kue yang melebihi  jatahnya.
“selamat pagi tuan”, hanya itu yang dapat amelia keluarkan dari bibirnya, kepalanya menunduk.
“angkat kepalamu” perintah danny dengan tenang.
Berlahan-lahan amelia mengangkat kepalanya dan matanya langsung bertemu pandang dengan mata hitam milik danny.
“sudah pernah main golf sebelumnya?” tanya danny pelan dengan suaranya yang khas, rendah dan dalam.
Amelia menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar, ia bahkan baru mengetahuinya dari danny.
Danny menyodorkan stik golfnya kearah amelia, menyuruh amelia untuk mengambil alih stik golf tersebut kemudian melangkah mendekati bola dan menyuruh amelia memukul bola tersebut dengan isyarat kepalanya.
Amelia mengerutkan kening cemas, ia bahkan tidak tau cara memegang stik golf apalagi untuk memukul bola, namun amelia tetap mencoba, dipegangnya stik golf dengan kuat, posisinya tetap berdiri. Amelia berhenti sejenak, bukan seperti ini caranya, batin amelia dalam hati.
Danny tersenyum tipis melihat gaya amelia bermain golf, ia melangkah satu langkah, tangannya memenjarakan amelia dari belakang.
“lebarkan kakimu kemudian membungkuk sedikit, lemaskan otot bahumu dan jangan memegang stik terlalu kuat” kata danny menjelaskan tata cara memegang stik golf dengan benar.
amelia membatu ketika lengannya disentuh dengan lembut oleh danny, namun hatinya hangat, seperti merindukan sentuhan tersebut. Ia mengikuti instruksi danny dengan perlahan dan memukul bola tersebut.
“lumayan untuk pemula” komentar danny ketika melihat bola tersebut terjatuh hampir dengan dekat lubang tanah.
Amelia menatap danny dan sedetik kemudian mengalihkan pandangan pada objek lain, jantungnya mulai berdetak kencang kembali. Bahkan sekarang ia hampir bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“lihat saja kalau kau ingin melihatku” ujar danny santai.
Namun tidak terdengar santai untuk amelia, wajah amelia memerah sampai ke telinganya, tangannya bergerak untuk menyingkap rambut ke belakang telinga, tanda bahwa ia sedang menahan malu.
Danny mengernyit, apakah ini suatu kebetulan atau memang mereka mempunyai pribadi yang sama?, mikayla juga melakukan hal yang sama ketika sedang merona akibat rayuannya.
Danny melangkah mendekati amelia mencoba menarik lengan gadis itu supaya berjarak lebih dekat dengannya, namun ketika pandangannya melewati bahu amelia, danny menatap emely yang menatapnya dengan pandangan menyala-nyala, tampak menahan marah. Sebenarnya ia tidak memperdulikan tatapan emely tetapi mengingat hubungan suami-istri antara dirinya dengan perempuan itu mau tidak mau membuat danny menahan diri untuk tidak menyentuh lengan amelia.
“kau boleh pergi” kata danny pelan
Amelia menatap kembali pada danny, dan mengernyit samar, baru tadi ia mendengar suara danny yang lembut, menggodanya. Namun sekarang berubah dingan seperti biasa. Emelia mengangguk kepalanya dan mohon diri.

&&&

Kurang ajar, kurang ajar. Kalimat tersebut terus dilafal emely dalam hati, tangannya terkepal kuat menahan amarah yang bergelora dihatinya. Ia bahkan sedikit kesusahan menghirup napas gara-gara jantungnya yang berdetak kencang dan terasa nyeri. Ia mondar-mandir di dalam kamar utamanya. Memikirkan cara untuk menyingkirkan pelayan busuk itu dari rumah ini.
Beberapa saat kemudian ia berhenti dan berdiri menghadap balkon dengan mata penuh pertimbangan. Ya, ia sudah mendapatkan cara bagaimana menyingkirkan amelia, namun ia masih memikirkan langkah apa yang tepat yang akan ia lakukan. Langkah dimana ia sama sekali tidak perlu turun tangan dalam melakukannya.

&&&

Danny berjalan menuju dapur, ia bermaksud mencari amelia, hanya sekadar menatapnya dan kemudian kembali ke ruang pribadi, sudah dua minggu ia hampir tidak pernah melihat amelia dikarenakan jadwal padat yang menghimpit dari waktu ke waktu. tur dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya mengharuskannya bepergian ke luar kota.
Ketika sampai di kamar amelia, danny berdiri sejenak. Ragu dengan keputusannya mendatangi amelia larut malam seperti ini, tangannya bergerak ke arah pintu, ingin mengetuk pelan namun diurungkannya. Dan ketika membuka handle pintu, ia sedikit terkejut mengetahui bahwa pintu kamar amelia tidak dikunci.
“dasar ceroboh”, kata danny pelan.
Ia memasuki kamar amelia dengan pelan tanpa bersuara, ia melihat amelia berbaring miring meringkuk, seperti janin dalam kandungan, terlihat sangat rapuh, hal itu membuat danny ingin memeluk amelia dan memberikan kehangatan yang lembut pada gadis itu. Tangan danny bergerak menyentuh anak rambut yang terjatuh di dahi amelia lalu membelai lembut pipi amelia. Tanpa sadar danny tersenyum lembut, sebuah senyuman yang sangat jarang ia lakukan.
Setelah puas menatap amelia, danny melangkah keluar kamar amelia dan ketika pintu tertutup kembali amelia membuka matanya, menatap ke depan tanpa benar-benar memandang sesuatu.
&&&

Seperti biasa yang terjadi di pagi hari, para pelayan sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga emmanuelle dan menghidangkannya ke atas meja, tidak ada satu yang mencoba bersantai pada waktu itu, tidak terkecuali amelia, gadis itu juga sibuk membuat kopi untuk danny dan membantu pelayan lain jika meminta pertolongannya.
Entah kenapa, pagi ini amelia menjalani dengan perasaan riang, bangun dengan perasaan cerah dan memperlihatkan senyumannya yang manis pada semua pelayan.
Emely melangkah dan duduk di kursi makan, sedikit melirik ke arah amelia dan menyeringai tipis, pagi ini akan menjadi pagi terakhir gadis itu menyiapkan kopi untuk danny, ia yakin akan hal itu, dan itu membuatnya tersenyum senang.
Tidak lama kemudian semua keluarga emmanuelle berkumpul dan menyantap sarapan pagi mereka dengan penuh hikmat, semula tidak ada yang janggal pada pagi itu, namun ketika danny meminum kopinya, tidak lama kemudian ia memuntahkannya kembali.
Ia menatap cangkir kopi di tangan dengan perasaan tidak menentu, ia tau bahwa di kopi tersebut sudah tercampur racun karena rasa kopi yang tidak biasanya dan beberapa saat kemudian perutnya terasa nyeri bahka ia harus memegangi ujung meja untuk membuatnya tetap terduduk dengan benar.
“apa yang terjadi?” teriak emely dan segera menahan lengan danny yang ingin terjatuh.
“danny, kau baik-baik saja?” tanya navaeh sambil memegangi danny yang mengerang kesakitan.
“panggil dokter” teriak emely histeris.
Raymond segera berjalan ke ruang makan utama dan segera membopong danny menuju kamar utama, ia tidak mungkin membawa danny ke ruang pribadi tuannya karena akan banyak orang yang akan masuk untuk memeriksa danny nantinya.
Tidak lama kemudian Desas-desus kejadian tersebut sampai ke amelia yang duduk di kamarnya, ketika mendengarnya, hal pertama yang ia tanyakan adalah bagaimana keadaan danny?, ia bahkan pucat pasi, berbagai kemungkinan buruk berputar-putar di benaknya.
Ia segera berlari ke ruang makan utama dan melihat danny yang sedang dibopong raymond, bibirnya bergetar menahan tangis. Ia menatap danny yang mengerang kesakitan yang pandangan yang tidak bisa diartikan, cemas, khawatir dan takut bercampur menjadi satu.

&&&

“kondisi tuan muda baik-baik saja, ia keracunan. Tetapi racun tersebut tidak mematikan, setelah beristirahat ia akan baik-baik saja”, jelas dokter tersebut dengan pelan.
Emely menatap danny yang berbaring lemah diatas tempat tidur dengan perasaan bersalah, sebenarnya ia tidak ingin mengorbankan danny seperti ini, namun ia tidak bisa memikirkan cara lain, hanya ini satu-satu cara agar amelia pergi dari keluarga emmanuelle dan lebih baiknya lagi, jika gadis itu mati.
Raymond mengangguk mohon diri kepada emely duduk di samping tempat tidur danny untuk mengantar dokter tersebut keluar mansion, ia tidak mengerti mengapa terjadi hal seperti ini?, sangat tidak dipercaya kopi yang disuguhkan oleh amelia mempunyai racun di dalamnya. Setelah mengantarkan dokter sampai ke pintu depan, hal pertama yang raymond lakukan adalah segera menuju kamar amelia.
“bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?” tanya amelia dengan perasaan yang sangat cemas.
Raymond mengernyit, “apakah ia baik-baik saja? Bukankah kau ingin membunuhnya, kenapa kau malah bertanya seperti itu?” raymond berbalik tanya.
Amelia tertegun oleh pertanyaan raymond, membunuh danny? Ia tidak mengerti arah pembicaraan raymond.
“apa maksudmu?” tanya amelia memastikan.
“di dalam kopi yang kau suguhkan terdapat racun, bagaimana kau akan menjelaskan itu?”tanya raymond dengan tatapan menyelidik, walaupun sebenarnya ia tidak percaya bahwa amelia akan melakukan hal seperti itu, namun kenyataan dihadapannya membuatnya bersikap siaga.
“racun? Racun apa? Apa yang kau bicarakan raymond?” tanya amelia kembali, kali ini dengan suara sedikit bergetar.
“ku harap setelah ini, kau tidak pergi kemana-mana, aku akan segera kembali” setelah mengatakan itu raymond keluar kamar amelia, meninggalkan amelia yang tertegun oleh fakta yang dikatakan raymond.
“t-tunggu dulu, kau belum menjelaskan apapun padaku” kata amelia sambil berlari menyusul raymond yang sudah berada di dapur. Namun raymond tidak menghentikan langkah cepatnya, ia tetap melangkah tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.  

&&&

“apa yang terjadi sebenarnya?”
Darius menatap raymond, menunggu penjelasan dari orang kepercayaan danny. Kejadian tadi pagi tidak pernah terjadi sebelumnya karena raymond selalu sigap mengatasi masalah yang terjadi atau masalah yang akan terjadi pada danny.
“tuan muda diracuni” sahut raymond ringkas. Ia tidak mengatakannya dengan jelas karena ia ingin menyelidiki terlebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“aku tau itu, tapi bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?” tanya darius kembali.
“kopi yang tuan minum terdapat racun dan... dan amelia yang meracuni tuan muda” ujar raymond pelan
Darius menatap lurus ke depan, entah yang ia pikirkan, ia terus menatap ke depan tanpa berniat mengusir raymond pergi, lalu tak lama kemudian ia sedikit mendongak menatap raymond dengan mata yang wibawa.
“bereskan dia” perintah darius dengan mata penuh keyakinan.
Raymond terkejut dengan pernyataan tuan besarnya, namun sebisa mungkin ia menunjukkan sikap biasa di hadapan majikannya.
“bereskan dia secepat yang kau bisa” sebuah ultimatum tak terbantahkan membuat raymond mengganggukkan kepala dan mohon diri dari hadapan darius kemudian menghilang dibalik pintu.
Darius terus menatap lurus ke depan dalam waktu yang cukup lama, memikirkan sesuatu yang sangat menyita pikirannya.

&&&

Amelia duduk gelisah di ujung tempat tidur, tangannya menggenggam satu sama lain, memperlihatkan betapa cemasnya ia sekarang, ia melirik ke pintu, menunggu kabar dari raymond. Ia tidak menyangka kopi yang ia suguhkan sudah diberi racun sebelumnya, kopi itu adalah kopi yang sama dengan hari-hari sebelumnya, mengapa sekarang  danny keracunan? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak amelia.
Suara gebrakan pintu membuat amelia terlonjak kaget, ia melihat beberapa orang berotot mendekatinya dan langsung membekapnya bersamaan.
“apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku”,
Amelia meronta-ronta sekuat tenaga, namun dibandingkan beberapa orang yang mempenyai otot tersebut kekuatannya tidak ada apa-apanya.
Amelia di seret dari dapur menuju ruang samping, para pelayan menatap amelia, berbisik-bisik tanpa bisa melakukan apapun, mereka menatap amelia dengan tatapan kasihan.
“masukkan dia ke bagasi” perintah salah satu pria.
“apa salahku? Mengapa kalian melakukan ini padaku” teriakan amelia seperti angin berlalu, tidak ada yang memperdulikan gadis itu. bagasi ditutup dengan keras menyebabkan telinga amelia berdengung dan mobil melaju keluar dari mansion emmanuelle.
                Emely melihat kejadian tersebut dari balkon kamarnya, bibirnya mengembang. Ia tersenyum menyeringai. Bagus, memang seharusnya kau berada di tempat itu, dan enyahlah.

&&&

Amelia terhenyak keras ketika guyuran air membasahi tubuhnya, matanya berkunang-kunang, ia berusaha melihat sekitarnya dan ketika matanya mulai fokus. Ia terkejut, ia duduk di sebuah kursi, kaki dan tangannya di ikat kuat, ia melihat sekeliling, sebuah tempat kumuh dan beraroma amis yang menyengat, membuat kepala amelia pusing.
“dia sudah bangun”
Sebuah suara membuat amelia mencari dimana sumbernya, dan terkejut ketika melihat ada beberapa orang yang menatapnya penuh arti.
“dimana aku?” tanya amelia dengan suara bergetar.
Bukannya menjawab, orang-orang tersebut malah tertawa mengejek ketakutan amelia yang sangat kontras terlihat.
Pintu terbuka dan raymond masuk dengan tatapan yang tajam, ia menyuruh orang-orang itu untuk keluar dari ruangan karena ia sendiri yang akan menjalan tugas itu.
“menjalankan apa? Apa yang ingin kau lakukan?” tanya amelia sambil menatap takut pada raymond.
“aku diperintahkan untuk melihat langsung kematian gadis itu” kata salah satu pria yang mempunyai badan yang paling besar.
Tanpa kata raymond mulai mendekati amelia yang terlihat sangat ketakutan, lelaki itu mengeluarkan pisau yang berkilat-kilat, seperti menunjukkan betapa tajamnya pisau itu.
“aku mohon, jangan membunuhku” cicit amelia parau, sangking ketakutan ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya dengan benar. Ia berusaha untuk menjauh dari raymond, namun karena ikatan yang ada di tubuhnya membuatnya tidak bisa bergerak.
Raymond menatap tajam pada amelia, sama sekali tidak terkecoh dengan ketakutan amelia, pisau itu bermain di wajah amelia membuat amelia bertambah takut, seluruh tubuhnya bergetar ia bahkan hampir tidak bisa bernapas dengan benar.
Dan kejadian itu berlangsung dengan cepat, amelia melihat ke perutnya yang tertancap pisau dan mengeluarkan banyak darah dan melihat raymond dengan pandangan tidak percaya, apakah ini sisi lainnya dari raymond? Membunuh tanpa pandang bulu?
Raymond mendekati amelia lebih dekat, posisi mereka seperti berpelukan, kepala raymond berada di samping kepala amelia yang mengerang kesakitan.
“maafkan aku dan tetaplah bertahan” bisik raymond sepelan mungkin.
Mata amelia berlahan mulai mengabur, ia melihat raymond berbalik dan mengatakan pada orang-orang itu bahwa ia yang akan membereskan semuanya. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar