/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Rabu, 09 Oktober 2013

The Lost Crown Part 3

Amelia melihat pergelangan yang sudah diobati danny dengan perasaan yang tidak bisa ia kenali, jantungnya berdetak keras ketika tangan danny menarik lengan kirinya dan dua kali lebih keras ketika danny mengobati pergelangan tangan kanannya dengan perlakuan yang sangat lembut.
Amelia memegangi dadanya dan mulai menelaah, perasaan apa yang ia rasakan? Sepertinya ia pernah mengalami ini sebelumnya? Sepertinya jantungnya pernah berdetak sekencang dan sekeras ini? tetapi kapan? Dimana?, amelia tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang bergelayut manja di benaknya.
Amelia menghela napas, berusaha mengenyahkan perasaan janggal dalam hatinya, diliriknya jam dinding di kamarnya, sudah waktunya untuk membersihkan ruang pribadi dan ruangan kerja danny.


&&&

                Danny mengernyit mendengar suara ketukan dari balik pintu ruang kerjanya. “masuk” perintah danny dengan suara tenang.
                “permisi tuan” ujar amelia sambil membungkuk sekilas ke arah danny yang sedang duduk di balik meja kerjanya, memegangi berkas-berkas yang sedang dianalisisnya.
                “bukankah aku menyuruhmu untuk istirahat?”pernyataan bukan pertanyaan.
                “saya tidak apa-apa tuan” ujar amelia sambil mengangkat tangan kanannya meyakinkan danny bahwa ia memang tidak apa-apa.
Melihat danny ingin membuka mulut untuk membantah, buru-buru amelia mengibaskan tangannya, “sungguh, saya tidak apa-apa” kata amelia meyakinkan.
Danny memilih untuk diam lalu kembali terhanyut ke berkas-berkas ditangannya.
Amelia mulai membersihkan ruang kerja danny dengan alat penghisap debu, merapikan buku-buku di rak dinding di sudut ruangan, ia melakukannya dengan hati-hati dan tidak memindahkan barang apapun yang terdapat di ruang tersebut, sesuai dengan apa yang dibacanya.
Danny mencoba berkonsentrasi pada berkas ditangannya namun tidak dengan matanya, matanya tergelitik untuk terus melirik sekilas ke arah amelia yang sedang sibuk membersihkan ruang kerjanya. Danny melihat punggung amelia dengan perasaan yang bercampur aduk, postur tubuh amelia sama persis dengan mikayla. Mulai dari kakinya yang jenjang, lekukan-lekukan ditubuh gadis itu, ia mencoba mengedarkan pandangannya ke arah lain namun hanya sebentar, matanya kembali menatap amelia dengan pandangan intens. Tidak tahan dengan perasaannya danny beranjak dari kursi kerjanya melangkah ke arah amelia dan memeluk gadis itu dari belakang.
Amelia berjengit ketika tubuhnya dipeluk seseorang dari belakang, ia memalingkan wajahnya dan melihat danny di balik bahunya.
“tuan, apa yang anda lakukan? Aku mohon lepaskan” kata amelia berusaha untuk terdengar sesopan mungkin, tubuhnya mulai bergetar pelan, ia tidak tau apakah pernah ia dipeluk oleh lelaki selama hidupnya, namun yang diingat amelia, ini pertama kalinya terjadi.
Mendengar suara amelia yang sarat akan ketakutan dan merasakan tubuh gadis itu bergetar pelan di pelukannya, kesadaran danny mulai menyentaknya dengan keras, ia langsung melepaskan pelukannya dengan mendorong sedikit keras amelia ke depan, gadis itu sempoyongan gara-gara dorongannya dan menatap danny dengan perasaan takut dan ragu.
“keluar dari ruanganku” desis danny, gairahnya bergejolak, napasnya mulai memburu dan suara terdengar serak.
Amelia langsung mohon diri dan keluar ruangan secepat yang ia bisa, di balik pintu ia mengepalkan tangannya dan mulai meletakkan di dadanya. Astaga, jantungnya mulai berdetak keras kembali, perasaan apa ini? tanya amelia bingung dalam hati.
Amelia berjalan pelan sambil menyeret alat penghisap debu, melangkah pelan ke dapur, meletakkan alat penghisap debu di ruang kecil sudut dapur lalu masuk ke kamarnya.
Amelia kembali memegang dadanya, ia benar-benar terkejut dengan pelukan danny, namun entah mengapa ia menikmati pelukan majikannya? Astaga, apakah ia mempunyai sifat agresif dan gairah yang sebelumnya tidak pernah keluar dari benaknya. Apakah ia punya sifat seperti itu?, amelia menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran buruk tentang dirinya sendiri.

&&&

Danny duduk di kursi paling depan menghadap para pemegang saham di ruangan rapat perusahaannya, ia membahas mengenai pemberian dividen atas saham yang dimiliki oleh orang-orang menanamkan dananya di perusahaan danny.
“perusahaan ini akan mengeluarkan dua kebijakan mengenai pemberian dividen bagi para pemegang, pertama. Berupa uang yang diberikan seperti biasa, dan kedua, berupa pemberian saham, perusahaan ini kembali mengeluarkan lima ribu lembar saham biasa dan dua ribu saham preferen pada tahun ini” danny berhenti sejenak menatap para direksi satu persatu.
“keputusan ada ditangan kalian semua, setelah rapat ini, aku ingin berkas keputusan kalian ada di meja ruanganku, rapat dibubarkan” kata danny lalu beranjak dari kursinya melangkah keluar ruangan.
“bagaimana perkembangannya?” tanya danny sambil berjalan pelan di koridor perusahaan.
Beberapa karyawan berpapasan dengan mereka dan langsung membungkuk kearah danny namun tidak diperdulikan oleh lelaki itu, ia terus melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai basement perusahaan.
“belum ada perkembangan apapun tuan, kejadian itu sudah lima tahun terjadi, jadi kami semakin sulit menemukan kejanggalan apa yang terjadi pada saat itu” sahut raymond di belakangnya.
“terus mencari, aku tidak ingin mendengar kegagalan” perintah danny dengan suara pelan dan tenang.
Sesampainya di basement ia melangkah keluar perusahan dan menunggu mobil yang akan membawanya pulang, tidak biasanya ia pulang lebih awal dari biasanya, namun ketika mengingat amelia, hanya itu yang terpikirkan oleh danny, pulang dan menatap amelia.

&&&

                Amelia berjalan menuju meja dapur, membalikkan gelas di atas nampan dan menuangkan air putih ke dalamnya lalu meneguknya sampai habis, ia baru membersihkan ruang kerja dan ruang pribadi danny.
“kau pelayan baru?”
                Suara elegan mengalihkan perhatian amelia, gadis berputar cepat dan langsung membungkuk melihat rebecca berjalan dengan anggun ke arahnya sambil mengernyit pelan.
“apa kabar nyonya? Nama saya amelia” kata amelia dengan santun.
“mengapa mama ada disini?” sela emely sambil berjalan ke arah rebecca, ibu mertuanya tersenyum lembut ke arah emely lalu senyuman lembutnya berganti menjadi seringaian ketika kembali menatap amelia.
“jadi ini, pelayan yang mengganggu pikiranmu? Sangat mustahil, membandingkan kau dengan pelayan miskin seperti dia” kata rebecca dengan nada mencemooh.
Amelia berusaha untuk tidak bergerak mendengar nada tajam rebecca yang diarahkan kepadanya.
Emely tertawa pelan, “tentu saja tidak mungkin” sahut emely sambil menatap sinis ke arah amelia.
Amelia mengambil napas pelan untuk menguatkan batinnya mendengar cemoohan demi cemoohan dari dua majikannya. Ia merasa sangat terpojok dan ia kesal karena ia tidak bisa membantah, ia hanya pelayan, bisa apa dia?.
“aku harap kalian tidak membuang waktu kalian dengan membicarakan hal yang tidak penting seperti itu” kata nevaeh emmanuelle yang berjalan menghampiri rebecca dan emely.
Ketiga wanita itu menoleh ke arah nevaeh dan langsung membungkuk ke arah wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad.
“amelia jauh lebih baik daripada kalian, apa kegiatan kalian hanya mencemooh orang lain?” tanya nevaeh tajam.
Baik rebecca maupun emely tidak berusaha membantah, mereka tidak ingin bertengkar dengan navaeh demi menjaga martabat mereka di keluarga emmanuelle, rebecca tersenyum tipis dan membungkuk ke arah nevaeh lalu berjalan menjauhi dapur, emely melakukan hal yang sama dan menyusul sang mertua menjauhi dapur.
Amelia tidak tau apa yang harus ia lakukan, tetap berdiri disini? Atau ia juga harus mohon diri, ia menatap navaeh yang tersenyum kepadanya.
“jangan dengarkan mereka, namaku navaeh, neneknya danny, senang berkenalan denganmu amelia” kata nevaeh dengan anggun dan tenang.
“kau mirip dengan seseorang, semuanya kecuali wajahmu, mungkin itu yang membuat danny memilihmu” ucap nevaeh sambil tersenyum lalu melangkah keluar dapur dengan langkah pelan.
Amelia membungkuk memberi hormat kepada nevaeh sambil mengernyit pelan, tidak mengerti dengan ucapan yang nevaeh ucapkan . amelia tersenyum,  ada dua orang yang ramah padanya di mansion ini, setidaknya itu membuatnya menjadi lebih nyaman lagi tinggal dan bekerja di keluarga emmanuelle.

&&&

                Amelia masuk ke ruang pribadi danny seraya membawa nampan yang berisi secangkir kopi, meletakkannya di meja yang tidak jauh dari rak buku lalu membungkuk ke arah danny yang sedang membaca buku dan mulai melangkah keluar.
                “mengenai kejadian tadi pagi...” langkah amelia terhenti mendengar suara danny lalu berputar menghadap majikannya.
“anggap saja tidak terjadi apa-apa” kata danny sambil terus memandangi amelia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
                Amelia yang ditatap seperti itu hanya diam, ia sebenarnya tidak tau bagaimana berkomentar, karena jauh dalam lubuk hatinya ia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang kejadian tadi pagi, setelah mendengar kata-kata nevaeh tentunya, amelia sedikit mengerti jika danny sangat merindukan wanita yang dicintainya dan mengganggap amelia sebagai wanita itu.
                “kau mirip dengan seseorang, seseorang yang aku cintai, aku melihatnya dalam dirimu” kata danny kembali.
                Amelia hanya mendengarkan, setelah itu suasana menjadi hening, beberapa saat tidak ada suara di dalam ruangan. Amelia memutuskan untuk mohon diri dari ruang pribadi danny dengan mengganggukkan kepala lalu berjalan keluar ruangan.
                Langkah amelia sedikit tergesa-gesa, setelah danny juga mengatakan hal yang sama, amelia segera berniat untuk bertemu dengan raymond, sepertinya laki-laki itu tau banyak tentang keluarga emmanuelle.
                Amelia bertanya pada salah satu pelayan yang kebetulan melewatinya, setelah mengetahui keberadaan raymond, amelia terus melangkah menuju ruang tengah berbelok ke samping kanan dan membuka pintu menuju taman samping mansion yang di keliling oleh koridor mansion.
                “hai” sapa amelia sambil duduk di kursi yang menghadap ke kolam ikan.
                Raymond menoleh kesamping dan tersenyum mendapati amelia duduk disampingnya, tatapannya kembali menatap kolam ikan.
                “sedang apa disini?” tanya amelia sambil menatap sekeliling taman. Sebuah taman yang mungil namun tampak nyaman dan asri di penglihatan. Disamping kiri-kanannya terdapat pohon yang berukuran sedang yang membuat taman menjadi lebih homey.
                “tidak ada” sahut raymond ringkas.
                Amelia tersenyum, laki-laki disampingnya merupakan laki-laki yang payah dalam hal komunikasi namun senyum yang ramah tidak membuat lawan bicaranya menjadi bosan ataupun merasa seperti diacuhkan. Mata yang memberikan kenyamanan. Sama seperti mata hitam kelam milik danny.
                Danny?, kening amelia berkerut mengingat majikannya, dan entah mengapa jantungnya kembali berpacu berlahan-lahan menjadi cepat dan memusat pada pipinya, amelia menarik napas untuk menenangkan jantungnya.
                Raymond tidak mendengar lagi suara amelia, membuatnya menoleh kesamping kembali, menatap amelia dengan alis yang terangkat.
                “ada apa kau mencariku?” tanya raymond sambil terus menatap amelia.
                “boleh aku bertanya sesuatu?” tanya amelia. Laki-laki disampingnya hanya mengangguk.
                “apa aku mirip dengan seseorang? Maksudku, seseorang yang kau kenal, mungkin keluarga emmanuelle?” tanya amelia pelan, tatapan gadis itu menunjukkan kilatan penasaran.
                “bagaimana kau tau?” tanya raymond balik.
                “nyonya besar yang memberitahukannya padaku, tuan danny juga mengatakan hal yang sama, bisa kau jelaskan mengapa mereka mengatakan aku mirip dengan seseorang?” pinta amelia dengan sopan.
                Raymond tersenyum sambil menatap kembali kolam ikan di depannya. “dulu tuan hampir menikah dengan nona mikayla, seorang gadis yang sangat mirip denganmu, mata, senyuman dan cara kalian berjalan sama persis, tapi kecelakaan lalu lintas membuat nona mikayla menghilang, sampai sekarang tidak ada yang tau, apakah nona mikayla masih hidup atau tidak. Dan setelah kecelakaan itu, tuan danny menikah dengan nona emely sampai sekarang” jelas raymond sambil terus menatap ke depan.
                Amelia hanya diam mendengarkan, ia mendengar semua yang diucapkan raymond dan menyimpan dalam hatinya lalu menganggukkan kepalanya. ia mengerti sekarang.
                Raymond mengingat sesuatu dan menoleh ke arah amelia, “aku boleh bertanya sesuatu?”
“silahkan” sahut amelia sambil tersenyum.
“waktu kita pergi dari desa, didalam mobil kau kelihatan seperti gugup atau bahkan takut pada sesuatu, apalagi ketika aku memberhentikan mobilku, apa kau mempunyai trauma atau kau takut pada jurang itu?” tanya raymond dengan pandangan ingin tau, baru sekarang ia bisa bertanya mengapa gadis itu bereaksi seperti itu.
                Amelia sedikit tersentak, ternyata raymond memerhatikannya waktu itu. “aku trauma pada jurang itu, kata ibuku, aku pernah mengalami kecelakaan di tempat itu” jelas amelia secara umum, ia tidak mau mengingat bagaimana perasaannya sewaktu ingin melewati jalan yang dikelilingi jurang itu.
                Raymond hanya tersenyum tipis bersimpati, lalu tangannya terulur dan memengang tangan amelia dengan lembut, menenangkan gadis itu.

&&&

                Danny melihat semua itu di balik ruang tengah ketika ia ingin melangkah ke dapur menuju kamar amelia, ia mengerutkan keningnya dengan tatapan tidak suka, ia tidak bisa mendengar apa yang amelia dan raymond bicarakan karena dibatasi oleh pintu kaca, namun melihat raymond memegang tangan amelia membuat danny memicingkan tidak suka, ia memilih untuk kembali ke ruang pribadinya.
                Tidak lama kemudian, pintu ruang terbuka dan raymond melangkah masuk lalu membungkukkan kepalanya.
                “satu jam lagi akan ada rapat dengan para manager tuan, anda harus siap-siap” ujar raymond dengan nada sopan.
                “apa yang kau bicarakan dengan amelia? Kalian terlihat akrab” kata danny berusaha untuk terdengar biasa.
                Raymond tersenyum geli yang ditahan, tatapannya lurus ke arah danny yang sedang melihat ke arah lain, tidak mau memandangnya. Ia tau persis bagaimana sifat majikannya, satu dekade bekerja untuk keluarga emmanuelle membuatnya mengenal danny lebih dari orang lain dan sekarang tuannya sedang cemburu kepadanya.
                “kau tau bukan itu maksudku, jangan melihatku dengan senyummu yang menjijikkan” kata danny dengan tatapan yang dipicingkan.
                Bukannya tersinggung, raymond malah semakin menunjukkan senyum gelinya. “ia bertanya kepadaku, apa ia mirip dengan seseorang? Karena nyonya nevaeh mengatakan bahwa ia mirip dengan seseorang, hanya itu” jelas raymond setelah berhasil senyum gelinya.
                Danny diam mendengarkan, nenek juga mengatakan hal yang sama, hal itu membuat danny bertambah yakin memang ada kemiripan antara amelia dengan mikayla, bukan hanya halusinasinya saja.
                Danny kembali menatap raymond dengan alis yang terangkat, apakah ia akan memperingati raymond untuk menjauhi amelia? Tetapi bagaimana mengatakannya?
                “saya tahu tuan, harus menjaga jarak dengannya kan?” tanya raymond yang sebenarnya adalah jawaban yang danny tanyakan dalam hati.
                Danny berdeham lalu bangkit dari kursinya dan melangkah melewati raymond yang tersenyum geli dibelakangnya.

&&&

Amelia menatap jendela kamarnya dengan pandangan nanar, ia merindukan ibunya, kemarin ia sudah mengirim surat kepada alina dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan amelia menceritakan semuanya. Apa pekerjaannya? Dimana ia bekerja? dan dikeluarga apa ia bekerja?. amelia tidak mampu lagi menahan kebohongan kepada ibunya.
amelia melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul lima sore, ia menghela napas. Walaupun pekerjaannya tidak berat bahkan tergolong ringan untuk gaji yang diterimanya, tetapi ia berat tinggal disini, ia tidak bisa menghadapi nona emely dan nyonya rebecca, mereka memojokkan amelia dengan kata-kata yang kasar dan tajam, membuat amelia menarik napas dalam dan menghembuskan dengan perlahan, mengumpulkan kesabaran agar bisa menghadapi kedua majikannya dengan tenang.
Amelia melangkah keluar ruangan, ia tidak ada kerjaan apa-apa lagi selain membuat kopi malam untuk danny, jadi ia berinisiatif membantu pelayan-pelayan didapur untuk membuatkan makan malam untuk keluarga emmanuelle.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar