Amelia melihat pergelangan yang sudah diobati
danny dengan perasaan yang tidak bisa ia kenali, jantungnya berdetak keras
ketika tangan danny menarik lengan kirinya dan dua kali lebih keras ketika
danny mengobati pergelangan tangan kanannya dengan perlakuan yang sangat
lembut.
Amelia memegangi dadanya dan
mulai menelaah, perasaan apa yang ia rasakan? Sepertinya ia pernah mengalami
ini sebelumnya? Sepertinya jantungnya pernah berdetak sekencang dan sekeras
ini? tetapi kapan? Dimana?, amelia tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan
yang bergelayut manja di benaknya.
Amelia menghela napas,
berusaha mengenyahkan perasaan janggal dalam hatinya, diliriknya jam dinding di
kamarnya, sudah waktunya untuk membersihkan ruang pribadi dan ruangan kerja
danny.
&&&
Danny
mengernyit mendengar suara ketukan dari balik pintu ruang kerjanya. “masuk”
perintah danny dengan suara tenang.
“permisi
tuan” ujar amelia sambil membungkuk sekilas ke arah danny yang sedang duduk di
balik meja kerjanya, memegangi berkas-berkas yang sedang dianalisisnya.
“bukankah
aku menyuruhmu untuk istirahat?”pernyataan bukan pertanyaan.
“saya
tidak apa-apa tuan” ujar amelia sambil mengangkat tangan kanannya meyakinkan
danny bahwa ia memang tidak apa-apa.
Melihat danny ingin membuka
mulut untuk membantah, buru-buru amelia mengibaskan tangannya, “sungguh, saya
tidak apa-apa” kata amelia meyakinkan.
Danny memilih untuk diam lalu
kembali terhanyut ke berkas-berkas ditangannya.
Amelia mulai membersihkan
ruang kerja danny dengan alat penghisap debu, merapikan buku-buku di rak
dinding di sudut ruangan, ia melakukannya dengan hati-hati dan tidak
memindahkan barang apapun yang terdapat di ruang tersebut, sesuai dengan apa
yang dibacanya.
Danny mencoba berkonsentrasi
pada berkas ditangannya namun tidak dengan matanya, matanya tergelitik untuk
terus melirik sekilas ke arah amelia yang sedang sibuk membersihkan ruang
kerjanya. Danny melihat punggung amelia dengan perasaan yang bercampur aduk,
postur tubuh amelia sama persis dengan mikayla. Mulai dari kakinya yang
jenjang, lekukan-lekukan ditubuh gadis itu, ia mencoba mengedarkan pandangannya
ke arah lain namun hanya sebentar, matanya kembali menatap amelia dengan
pandangan intens. Tidak tahan dengan perasaannya danny beranjak dari kursi
kerjanya melangkah ke arah amelia dan memeluk gadis itu dari belakang.
Amelia berjengit ketika
tubuhnya dipeluk seseorang dari belakang, ia memalingkan wajahnya dan melihat
danny di balik bahunya.
“tuan, apa yang anda lakukan?
Aku mohon lepaskan” kata amelia berusaha untuk terdengar sesopan mungkin,
tubuhnya mulai bergetar pelan, ia tidak tau apakah pernah ia dipeluk oleh
lelaki selama hidupnya, namun yang diingat amelia, ini pertama kalinya terjadi.
Mendengar suara amelia yang
sarat akan ketakutan dan merasakan tubuh gadis itu bergetar pelan di
pelukannya, kesadaran danny mulai menyentaknya dengan keras, ia langsung
melepaskan pelukannya dengan mendorong sedikit keras amelia ke depan, gadis itu
sempoyongan gara-gara dorongannya dan menatap danny dengan perasaan takut dan
ragu.
“keluar dari ruanganku” desis
danny, gairahnya bergejolak, napasnya mulai memburu dan suara terdengar serak.
Amelia langsung mohon diri
dan keluar ruangan secepat yang ia bisa, di balik pintu ia mengepalkan
tangannya dan mulai meletakkan di dadanya. Astaga, jantungnya mulai berdetak
keras kembali, perasaan apa ini? tanya amelia bingung dalam hati.
Amelia berjalan pelan sambil
menyeret alat penghisap debu, melangkah pelan ke dapur, meletakkan alat
penghisap debu di ruang kecil sudut dapur lalu masuk ke kamarnya.
Amelia kembali memegang
dadanya, ia benar-benar terkejut dengan pelukan danny, namun entah mengapa ia
menikmati pelukan majikannya? Astaga, apakah ia mempunyai sifat agresif dan
gairah yang sebelumnya tidak pernah keluar dari benaknya. Apakah ia punya sifat
seperti itu?, amelia menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran buruk
tentang dirinya sendiri.
&&&
Danny duduk di kursi paling
depan menghadap para pemegang saham di ruangan rapat perusahaannya, ia membahas
mengenai pemberian dividen atas saham yang dimiliki oleh orang-orang menanamkan
dananya di perusahaan danny.
“perusahaan ini akan
mengeluarkan dua kebijakan mengenai pemberian dividen bagi para pemegang,
pertama. Berupa uang yang diberikan seperti biasa, dan kedua, berupa pemberian
saham, perusahaan ini kembali mengeluarkan lima ribu lembar saham biasa dan dua
ribu saham preferen pada tahun ini” danny berhenti sejenak menatap para direksi
satu persatu.
“keputusan ada ditangan
kalian semua, setelah rapat ini, aku ingin berkas keputusan kalian ada di meja
ruanganku, rapat dibubarkan” kata danny lalu beranjak dari kursinya melangkah
keluar ruangan.
“bagaimana perkembangannya?”
tanya danny sambil berjalan pelan di koridor perusahaan.
Beberapa karyawan berpapasan
dengan mereka dan langsung membungkuk kearah danny namun tidak diperdulikan
oleh lelaki itu, ia terus melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai
basement perusahaan.
“belum ada perkembangan
apapun tuan, kejadian itu sudah lima tahun terjadi, jadi kami semakin sulit
menemukan kejanggalan apa yang terjadi pada saat itu” sahut raymond di
belakangnya.
“terus mencari, aku tidak
ingin mendengar kegagalan” perintah danny dengan suara pelan dan tenang.
Sesampainya di basement ia
melangkah keluar perusahan dan menunggu mobil yang akan membawanya pulang,
tidak biasanya ia pulang lebih awal dari biasanya, namun ketika mengingat
amelia, hanya itu yang terpikirkan oleh danny, pulang dan menatap amelia.
&&&
Amelia
berjalan menuju meja dapur, membalikkan gelas di atas nampan dan menuangkan air
putih ke dalamnya lalu meneguknya sampai habis, ia baru membersihkan ruang
kerja dan ruang pribadi danny.
“kau pelayan baru?”
Suara
elegan mengalihkan perhatian amelia, gadis berputar cepat dan langsung
membungkuk melihat rebecca berjalan dengan anggun ke arahnya sambil mengernyit
pelan.
“apa kabar nyonya? Nama saya
amelia” kata amelia dengan santun.
“mengapa mama ada disini?”
sela emely sambil berjalan ke arah rebecca, ibu mertuanya tersenyum lembut ke
arah emely lalu senyuman lembutnya berganti menjadi seringaian ketika kembali
menatap amelia.
“jadi ini, pelayan yang
mengganggu pikiranmu? Sangat mustahil, membandingkan kau dengan pelayan miskin
seperti dia” kata rebecca dengan nada mencemooh.
Amelia berusaha untuk tidak
bergerak mendengar nada tajam rebecca yang diarahkan kepadanya.
Emely tertawa pelan, “tentu
saja tidak mungkin” sahut emely sambil menatap sinis ke arah amelia.
Amelia mengambil napas pelan
untuk menguatkan batinnya mendengar cemoohan demi cemoohan dari dua majikannya.
Ia merasa sangat terpojok dan ia kesal karena ia tidak bisa membantah, ia hanya
pelayan, bisa apa dia?.
“aku harap kalian tidak
membuang waktu kalian dengan membicarakan hal yang tidak penting seperti itu”
kata nevaeh emmanuelle yang berjalan menghampiri rebecca dan emely.
Ketiga wanita itu menoleh ke
arah nevaeh dan langsung membungkuk ke arah wanita yang sudah berumur lebih
dari setengah abad.
“amelia jauh lebih baik
daripada kalian, apa kegiatan kalian hanya mencemooh orang lain?” tanya nevaeh
tajam.
Baik rebecca maupun emely
tidak berusaha membantah, mereka tidak ingin bertengkar dengan navaeh demi
menjaga martabat mereka di keluarga emmanuelle, rebecca tersenyum tipis dan
membungkuk ke arah nevaeh lalu berjalan menjauhi dapur, emely melakukan hal
yang sama dan menyusul sang mertua menjauhi dapur.
Amelia tidak tau apa yang
harus ia lakukan, tetap berdiri disini? Atau ia juga harus mohon diri, ia
menatap navaeh yang tersenyum kepadanya.
“jangan dengarkan mereka,
namaku navaeh, neneknya danny, senang berkenalan denganmu amelia” kata nevaeh
dengan anggun dan tenang.
“kau mirip dengan seseorang,
semuanya kecuali wajahmu, mungkin itu yang membuat danny memilihmu” ucap nevaeh
sambil tersenyum lalu melangkah keluar dapur dengan langkah pelan.
Amelia membungkuk memberi
hormat kepada nevaeh sambil mengernyit pelan, tidak mengerti dengan ucapan yang
nevaeh ucapkan . amelia tersenyum, ada
dua orang yang ramah padanya di mansion ini, setidaknya itu membuatnya menjadi
lebih nyaman lagi tinggal dan bekerja di keluarga emmanuelle.
&&&
Amelia
masuk ke ruang pribadi danny seraya membawa nampan yang berisi secangkir kopi,
meletakkannya di meja yang tidak jauh dari rak buku lalu membungkuk ke arah
danny yang sedang membaca buku dan mulai melangkah keluar.
“mengenai
kejadian tadi pagi...” langkah amelia terhenti mendengar suara danny lalu
berputar menghadap majikannya.
“anggap saja tidak terjadi apa-apa” kata danny
sambil terus memandangi amelia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Amelia
yang ditatap seperti itu hanya diam, ia sebenarnya tidak tau bagaimana
berkomentar, karena jauh dalam lubuk hatinya ia sama sekali tidak
mempermasalahkan tentang kejadian tadi pagi, setelah mendengar kata-kata nevaeh
tentunya, amelia sedikit mengerti jika danny sangat merindukan wanita yang
dicintainya dan mengganggap amelia sebagai wanita itu.
“kau
mirip dengan seseorang, seseorang yang aku cintai, aku melihatnya dalam dirimu”
kata danny kembali.
Amelia
hanya mendengarkan, setelah itu suasana menjadi hening, beberapa saat tidak ada
suara di dalam ruangan. Amelia memutuskan untuk mohon diri dari ruang pribadi
danny dengan mengganggukkan kepala lalu berjalan keluar ruangan.
Langkah
amelia sedikit tergesa-gesa, setelah danny juga mengatakan hal yang sama,
amelia segera berniat untuk bertemu dengan raymond, sepertinya laki-laki itu
tau banyak tentang keluarga emmanuelle.
Amelia
bertanya pada salah satu pelayan yang kebetulan melewatinya, setelah mengetahui
keberadaan raymond, amelia terus melangkah menuju ruang tengah berbelok ke
samping kanan dan membuka pintu menuju taman samping mansion yang di keliling
oleh koridor mansion.
“hai”
sapa amelia sambil duduk di kursi yang menghadap ke kolam ikan.
Raymond
menoleh kesamping dan tersenyum mendapati amelia duduk disampingnya, tatapannya
kembali menatap kolam ikan.
“sedang
apa disini?” tanya amelia sambil menatap sekeliling taman. Sebuah taman yang
mungil namun tampak nyaman dan asri di penglihatan. Disamping kiri-kanannya
terdapat pohon yang berukuran sedang yang membuat taman menjadi lebih homey.
“tidak
ada” sahut raymond ringkas.
Amelia
tersenyum, laki-laki disampingnya merupakan laki-laki yang payah dalam hal
komunikasi namun senyum yang ramah tidak membuat lawan bicaranya menjadi bosan
ataupun merasa seperti diacuhkan. Mata yang memberikan kenyamanan. Sama seperti
mata hitam kelam milik danny.
Danny?,
kening amelia berkerut mengingat majikannya, dan entah mengapa jantungnya
kembali berpacu berlahan-lahan menjadi cepat dan memusat pada pipinya, amelia menarik
napas untuk menenangkan jantungnya.
Raymond
tidak mendengar lagi suara amelia, membuatnya menoleh kesamping kembali,
menatap amelia dengan alis yang terangkat.
“ada
apa kau mencariku?” tanya raymond sambil terus menatap amelia.
“boleh
aku bertanya sesuatu?” tanya amelia. Laki-laki disampingnya hanya mengangguk.
“apa
aku mirip dengan seseorang? Maksudku, seseorang yang kau kenal, mungkin
keluarga emmanuelle?” tanya amelia pelan, tatapan gadis itu menunjukkan kilatan
penasaran.
“bagaimana
kau tau?” tanya raymond balik.
“nyonya
besar yang memberitahukannya padaku, tuan danny juga mengatakan hal yang sama,
bisa kau jelaskan mengapa mereka mengatakan aku mirip dengan seseorang?” pinta
amelia dengan sopan.
Raymond
tersenyum sambil menatap kembali kolam ikan di depannya. “dulu tuan hampir
menikah dengan nona mikayla, seorang gadis yang sangat mirip denganmu, mata,
senyuman dan cara kalian berjalan sama persis, tapi kecelakaan lalu lintas
membuat nona mikayla menghilang, sampai sekarang tidak ada yang tau, apakah
nona mikayla masih hidup atau tidak. Dan setelah kecelakaan itu, tuan danny
menikah dengan nona emely sampai sekarang” jelas raymond sambil terus menatap
ke depan.
Amelia
hanya diam mendengarkan, ia mendengar semua yang diucapkan raymond dan menyimpan
dalam hatinya lalu menganggukkan kepalanya. ia mengerti sekarang.
Raymond
mengingat sesuatu dan menoleh ke arah amelia, “aku boleh bertanya sesuatu?”
“silahkan” sahut amelia sambil tersenyum.
“waktu kita pergi dari desa,
didalam mobil kau kelihatan seperti gugup atau bahkan takut pada sesuatu,
apalagi ketika aku memberhentikan mobilku, apa kau mempunyai trauma atau kau
takut pada jurang itu?” tanya raymond dengan pandangan ingin tau, baru sekarang
ia bisa bertanya mengapa gadis itu bereaksi seperti itu.
Amelia
sedikit tersentak, ternyata raymond memerhatikannya waktu itu. “aku trauma pada
jurang itu, kata ibuku, aku pernah mengalami kecelakaan di tempat itu” jelas
amelia secara umum, ia tidak mau mengingat bagaimana perasaannya sewaktu ingin
melewati jalan yang dikelilingi jurang itu.
Raymond
hanya tersenyum tipis bersimpati, lalu tangannya terulur dan memengang tangan
amelia dengan lembut, menenangkan gadis itu.
&&&
Danny
melihat semua itu di balik ruang tengah ketika ia ingin melangkah ke dapur
menuju kamar amelia, ia mengerutkan keningnya dengan tatapan tidak suka, ia
tidak bisa mendengar apa yang amelia dan raymond bicarakan karena dibatasi oleh
pintu kaca, namun melihat raymond memegang tangan amelia membuat danny
memicingkan tidak suka, ia memilih untuk kembali ke ruang pribadinya.
Tidak
lama kemudian, pintu ruang terbuka dan raymond melangkah masuk lalu
membungkukkan kepalanya.
“satu
jam lagi akan ada rapat dengan para manager tuan, anda harus siap-siap” ujar
raymond dengan nada sopan.
“apa
yang kau bicarakan dengan amelia? Kalian terlihat akrab” kata danny berusaha
untuk terdengar biasa.
Raymond
tersenyum geli yang ditahan, tatapannya lurus ke arah danny yang sedang melihat
ke arah lain, tidak mau memandangnya. Ia tau persis bagaimana sifat majikannya,
satu dekade bekerja untuk keluarga emmanuelle membuatnya mengenal danny lebih
dari orang lain dan sekarang tuannya sedang cemburu kepadanya.
“kau
tau bukan itu maksudku, jangan melihatku dengan senyummu yang menjijikkan” kata
danny dengan tatapan yang dipicingkan.
Bukannya
tersinggung, raymond malah semakin menunjukkan senyum gelinya. “ia bertanya
kepadaku, apa ia mirip dengan seseorang? Karena nyonya nevaeh mengatakan bahwa
ia mirip dengan seseorang, hanya itu” jelas raymond setelah berhasil senyum
gelinya.
Danny
diam mendengarkan, nenek juga mengatakan hal yang sama, hal itu membuat danny
bertambah yakin memang ada kemiripan antara amelia dengan mikayla, bukan hanya
halusinasinya saja.
Danny
kembali menatap raymond dengan alis yang terangkat, apakah ia akan memperingati
raymond untuk menjauhi amelia? Tetapi bagaimana mengatakannya?
“saya
tahu tuan, harus menjaga jarak dengannya kan?” tanya raymond yang sebenarnya
adalah jawaban yang danny tanyakan dalam hati.
Danny
berdeham lalu bangkit dari kursinya dan melangkah melewati raymond yang
tersenyum geli dibelakangnya.
&&&
Amelia menatap jendela
kamarnya dengan pandangan nanar, ia merindukan ibunya, kemarin ia sudah
mengirim surat kepada alina dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan amelia
menceritakan semuanya. Apa pekerjaannya? Dimana ia bekerja? dan dikeluarga apa
ia bekerja?. amelia tidak mampu lagi menahan kebohongan kepada ibunya.
amelia melirik jam dinding,
sudah menunjukkan pukul lima sore, ia menghela napas. Walaupun pekerjaannya
tidak berat bahkan tergolong ringan untuk gaji yang diterimanya, tetapi ia
berat tinggal disini, ia tidak bisa menghadapi nona emely dan nyonya rebecca,
mereka memojokkan amelia dengan kata-kata yang kasar dan tajam, membuat amelia
menarik napas dalam dan menghembuskan dengan perlahan, mengumpulkan kesabaran
agar bisa menghadapi kedua majikannya dengan tenang.
Amelia melangkah keluar
ruangan, ia tidak ada kerjaan apa-apa lagi selain membuat kopi malam untuk
danny, jadi ia berinisiatif membantu pelayan-pelayan didapur untuk membuatkan
makan malam untuk keluarga emmanuelle.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar