/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Kamis, 03 Oktober 2013

The Lost Crown Part 1

Happy reading,,, jangan lupa tinggalin jejak ya.. hargai karya penulis... trims .. love u all
:)

Danny berjalan menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah pelan menuju ke ruang makan utama, ia memakai kemeja putih yang dibalut dengan jas hitam yang terlihat cocok untuknya, raut wajahnya datar, ia terus berjalan melewati ruang tamu yang luas kemudian melewati ruang tengah dan masuk ke ruang makan utama.
Emely yang sedang duduk di kursi makan, bangkit ketika melihat danny dan menghampiri lelaki itu sambil tersenyum lembut.
“ayo kita sarapan” ajak emely sambil tersenyum manis.
                Danny menatap emely sambil mengernyit samar, sedetik kemudian ia kembali memasang wajah datar lalu melangkah melewati emely yang tersenyum pahit di belakangnya, duduk di kursi yang berada di kepala meja yang berbentuk tabung persegi panjang, emely menyusul danny sambil menghela napas panjang  dan duduk di sebelah kanan suaminya, danny menatap keluarganya dengan wajah datar, kakeknya duduk di kursi deretan pertama- tepatnya di sisi kirinya, di depannya duduk emely, dan disamping emely duduk ibunya lalu di depan ibunya duduk nenek danny.
Danny mulai menyantap pelan sarapannya tanpa suara, yang lain juga melakukan hal yang sama, menyantap sarapan pagi mereka dengan hening, beberapa saat ruang makan seperti pemakaman yang sunyi, tak satupun dari mereka yang mau memecahkan keheningan yang memang tercipta dari awal.
Lima belas menit kemudian, danny meletakkan sendok dan garpunya di samping kiri-kanan piring kaca lalu mengambil serbet putih yang terletak di samping sendok, mengelap mulutnya dengan pelan dan bangkit dari kursinya menuju teras rumah tanpa mengatakan sepatah katapun.

Emely kembali menghela napas, sudah hampir lima tahun mereka menikah, namun danny tetap saja bersikap seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Lima tahun yang lalu emely mengenal danny melalui perjodohan yang keluarga mereka siapkan, waktu itu emely bersama mikayla menjadi tunangan danny, cukup mengherankan memang, seorang laki-laki mempunyai dua orang tunangan, namun itulah yang terjadi, danny memilih mikayla untuk menjadi istrinya,  dan emely yang tersisihkan menaruh benci pada calon isti danny. Namun beberapa bulan kemudian keadaan berbalik, mikayla mengalami kecelakaan dan menghilang entah kemana, semenjak itu emely-lah yang menempati posisi mikayla menjadi calon isti danny hingga mereka menikah sampai saat ini.
Ditatapnya punggung danny yang semakin menjauh lalu menghilang di balik ruang tengah dengan tatapan sedih, emely mengalihkan pandangan ke arah sarapannya, diaduk-aduknya makanan di piring tanpa berniat untuk menyantapnya.

&&&

Danny emmanuelle, seorang pengusaha kaya raya berdarah italia, memiliki perusahaan induk dan anak cabang yang bergerak di bidang industri pertambangan, hampir lima puluh persen perusahaan pertambangan yang berada di indonesia dikuasai oleh danny, bahkan beberapa perusahaan pertambangan milik pemerintah. Dan karena hal itu, danny emmanuelle sangat disegani di kalangan atas, mulai dari kolega bisnis, bangsawan ningrat sampai pemerintah. Ia bahkan di juluki pangeran indonesia karena memiliki wajah tampan khas orang-orang itali, kekuasaan dan kedudukan yang tinggi, ia bahkan di nobatkan menjadi milyuner terkaya se-asia tenggara. Sangat mengesankan.
Danny berjalan di lobby perusahaan yang diikuti oleh orang-orang kepercayaannya, matanya menatap lurus ke depan tidak peduli pada karyawan yang membungkuk dalam padanya ketika melihat danny berjalan melewati mereka. Danny hanya memasang wajah dingin. Ia masuk ke lift berdiri tegak di deretan paling depan, lalu lift melaju naik ke tingkatan tujuh gedung perusahaan.

&&&

Seorang manajer bagian keuangan meletakkan berkas laporan keuangan perusahaan tahun berjalan diatas meja danny dengan langkah ragu. Lelaki itu memungut berkas itu dan mulai menganalisis pembukuan tersebut.
Sang manager berdiri di depan meja kerja danny dengan tatapan takut, keringat dingin mulai tampak di dahinya, ia takut karena laporan keuangan tahun ini sedikit bermasalah dan masalah itu sama sekali belum bisa dipahaminya.
Setelah beberapa saat, danny meletakkan kembali berkas ditangannya ke atas meja, lalu menatap sang manajer keuangan. Menunggu penjelasan tentang masalah yang terjadi pada laporan tersebut.
“maafkan saya presdir, saya sudah menganalisis berkali-kali. Tetapi saya tidak mendapatkan apa yang menjadi masalah pada laporan tahun ini” jelasnya terbata-bata.
Danny terus menatap manajer keuangan itu dengan tatapan mengintimidasi, “bagaimana mungkin kau memberikan jawaban seperti itu kepadaku, apa kau mulai bosan menjadi manajer di perusahaan ini?” tanya danny dengan suara rendahnya yang tajam.
Sang manajer menelan ludahnya dengan susah payah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pemimpinnya. “saya minta maaf presdir, namun kali ini saya tidak bisa meneliti masalah yang terjadi pada...”
“sebaiknya kau kemasi barang-barangmu, mulai hari ini kau dipecat” sela danny dengan suara pelan penuh intimidasi lalu membalikkan kursinya menatap ke luar jendela.
Manajer keuangan tersebut mematung mendengar nada tajam dari danny, matanya melebar, menatap tidak percaya pada sang pemimpin lalu menghela napas panjang, membungkuk memberi pernghormatan terakhirnya kepada presiden direktur dan melangkah keluar ruangan dengan langkah gontai.

&&&

Danny menatap keluar jendela tanpa benar-benar memandang sesuatu, ia memikirkan wanita yang dicintainya dengan sepenuh hati yang menghilang di tempat kecelakaan itu terjadi.
Waktu itu setelah acara pesta yang mengumumkan bahwa danny akan menikah dengan mikayla berlangsung, mikayla berpamitan padanya sambil tersenyum manis. Danny berniat mengantarkan mikayla namun ditolak gadis itu dengan lembut, mikayla mengatakan bahwa ia bisa pulang dengan selamat dan danny tidak perlu mengkhawatirkannya, lalu gadis itu memeluknya dengan erat kemudian melambaikan tangannya dari dalam mobil ke arah danny.
Danny menunggu telepon dari mikayla, sudah tengah malam namun mikayla belum juga menghubunginya. Ketika ponselnya berdering, danny langsung mengangkatnya pada deringan pertama. Namun yang didengarnya bukan kabar mikayla yang pulang dengan selamat tetapi kabar bahwa calon istrinya itu mengalami kecelakaan. Mobil mikayla terjatuh ke jurang dan terbakar. Polisi mengatakan tidak ada seorangpun di dalam mobil ketika mobil terbakar namun polisi itu tau pasti bahwa plat mobil itu milik mikayla. Danny melihat mobil mikayla yang ditarik dari jurang dengan pandangan nanar, baru saja ia melihat mikayla tersenyum padanya, baru saja ia mendekap mikayla dalam pelukannya. Namun sekarang mikayla menghilang, tidak bisa tersenyum lagi padanya, tidak bisa lagi ia peluk, ia tidak tau bahwa semua yang terjadi pada malam sebelum kecelakaan itu terjadi adalah kenangan terakhirnya bersama sang tercinta. Mulai saat itu danny terus menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan mikayla, karena ia yakin kalau calon istrinya itu masih hidup, walaupun ia tidak tau keberadaan mikayla, namun benaknya menyuruhnya untuk berbuat sesuatu, ia berusaha kuat untuk meyakini hal tersebut.

&&&

Danny turun dari mobil yang terparkir di parkiran teras rumahnya dan melihat emely yang berjalan sambil tersenyum ke arahnya, gadis itu mengapa selalu mengusik hidupnya. Ia cukup bersabar selama lima tahun terakhir membiarkan sang istri berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya, namun hatinya tidak, hatinya membenci emely, karena bukan emely yang seharusnya menjadi nyonya emmanuelle, bukan emely yang seharusnya menyambut kepulangannya, bukan emely yang seharusnya menemani tidur malamnya, berbagai kata ‘bukan emely yang seharusnya’ memenuhi benak danny, membuat danny bertambah muak menjalani hidup yang tidak ia inginkan.
“kau sudah pulang sayang?” kata emely sambil mengambil alih tas kerja danny ke tangannya.
Danny menatap dengan tatapan tajam ke arah emely namun ekspresi wajahnya tetap datar, dibiarkannya tas kerja miliknya teralihkan pada tangan emely, lalu tatapannya melewati bahu emely dan melihat ibunya serta beberapa pelayan yang melihat ke arah dirinya, ia melangkah mendekati emely sambil menyungging senyum tipis, senyuman yang tidak sampai ke matanya lalu memeluk gadis itu dengan satu rengkuhan tegas.
Emely terpaku pada perlakuan danny, baru kali ini ia dipeluk oleh suaminya selama hampir lima tahun mereka menikah, emely tersenyum bahagia, ia berpikir suaminya mulai menyadari kasih sayang yang ia berikan selama ini,  emely membalas pelukan danny dengan erat seraya tersenyum manis juga terharu, namun beberapa detik kemudian senyuman manis yang terpahat di wajah cantik emely menghilang ketika mendengar kata-kata danny.
“sampai kapan kau akan terus mengusik hidupku? Bukankah kau sudah mempunyai semuanya karena menjadi nyonya emmanuelle?, Jadi kuharap kau seharusnya tau diri, siapa sebenarnya dirimu dimataku” kata danny setengah berbisik kepada emely, setelah itu danny melepaskan rengkuhannya pada emely dan tersenyum datar pada gadis itu lalu melangkah meninggalkan emely yang mematung sambil menatap lurus ke depan dengan mata berkaca-kaca.
Danny menatap sekilas ke beberapa pelayan yang sedang menatapnya, mereka gelagapan dan buru-buru mohon diri untuk kembali mengerjakan tugas mereka, lelaki itu berjalan melewati  ibunya, menaiki anak tangga dan menghilang di balik pintu ruang pribadinya.
Emely mengalihkan pandangannya ke arah Rebecca emmanuelle – mertuanya, seorang wanita yang berusia hampir menuju setengah abad namun tetap terlihat cantik, wanita kedua yang sangat ia segani dalam hidupnya setelah ibu kandungnya. Emely tersenyum tipis ke arah Rebecca yang dibalas dengan tatapan mengernyit samar namun tetap tersenyum lembut padanya.

&&&

Amelia cornelius melangkah dengan langkah gontai, tangannya menggenggam berkas lamaran yang tersusun rapi di dalam amplop coklat, amelia menghela napas panjang. Sudah seharian ia berkeliling dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya, namun pekerjaan yang ia inginkan tidak berhasil ia temukan. Sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang ditawarkan kepadanya- misalnya pramusaji di sebuah tempat makan sederhana atau kasir di sebuah toko kecil tetapi ia menolaknya dengan halus. Ia sendiri tidak tau mengapa, namun dalam hati, ia yakin bahwa ada pekerjaan yang layak untuknya, seperti pekerjaan di kantoran misalnya atau bahkan menjadi pemimpin dari sebuah perusahaan kecil. Lagi-lagi ia menghela napas, ia tinggal di pedesaan yang berada di pinggiran kota. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan pekerjaan yang seperti ia inginkan disini?.
Amelia pernah mencoba meminta izin kepada alina cornelius-ibunya- untuk mencari pekerjaan di kota, namun ibunya dengan tegas melarang amelia bepergian meninggalkan pedesaan tanpa memberitahukan alasan yang jelas, ibunya hanya mengatakan bahwa kota tidak baik untuknya, orang-orang kota terkenal kejam, itulah alasan alina melarang keras amelia untuk pergi ke kota.
Pernah suatu hari, ia mencoba pergi ke kota tanpa sepengetahuan ibunya, namun ketika mendekati sebuah jalan yang dikelilingi jurang yang terjal, tiba-tiba tubuhnya bereaksi tanpa bisa ia cegah, tubuhnya bergetar dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya tanpa ia tau kenapa, ia memilih untuk tidak melewati jalan itu dan kembali ke desa dalam keadaan sakit. Sempat ia tanya mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu kepada ibunya, awalnya ibunya terkejut mendengar ceritanya namun dapat kembali mengendalikan diri dan mengatakan dengan tenang bahwa amelia pernah mengalami kecelakaan di lokasi tersebut, mungkin kejadian itu membekas di dasar relung hati amelia sehingga membuatnya trauma, dulu ia juga pernah menanyakan kenapa ia tidak mengingat apapun tentang hidupnya, siapa namanya, berapa usianya atau dimana tempat ia tinggal, ibunya hanya mengatakan bahwa hilang ingatan atau dalam ilmu medis mengistilahkan dengan amnesia permanen karena kecelakaan yang dulu pernah menimpanya, ia jadi mengerti mengapa ibunya melarang keras ia bepergian ke kota, dan  Semenjak itu, amelia memutuskan untuk tidak lagi mempertanyakan atau meminta izin untuk pergi ke kota.
Amelia berjalan menuju pekarangan rumahnya yang mungil namun tampak nyaman dimata, membuka pagar kayu lalu menghentikan langkahnya ketika ia sudah berdiri di depan pintu rumah, ia mengambil napas pelan dan menghembuskannya dengan perlahan lalu memutar gagang pintu yang berbentuk bulat dan masuk ke ruang tengah.
Tidak ada siapa-siapa di rumah, mungkin ibunya pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan, pikirnya. ia hanya tinggal bersama ibunya di rumah mungil tersebut, kata ibunya ayah sudah meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Ditatap bayangannya yang terpantul di cermin, wajah ovalnya terpahat dengan cantik dan disempurnakan oleh belahan dagu yang membuatnya semakin menawan dan mata coklat terangnya yang memberikan kehangatan bagi orang-orang yang memandanginya. Ia tersenyum tipis, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa kelelahan.

&&&

                Danny bersama anggota keluarga emmanuelle menyantap makan malam dengan hening, seperti biasanya, hanya suara dentingan sendok yang beradu di atas piring kaca yang terdengar lirih, tampak harmonis bagi orang luar yang menatapnya namun miris bagi orang dalam, orang-orang yang mengetahui bagaimana hubungan keluarga emmanuelle yang sebenarnya.
“bagaimana dengan perusahaan yang kau tangani sekarang? Apakah berjalan lancar? Aku dengar terdapat masalah dalam pembukuan” ujar darius sambil menatap cucunya dengan tenang penuh kewibawaan.
“semua berjalan lancar, tentang masalah pembukuan itu sudah aku tangani jadi tidak ada masalah” sahut danny pelan.
Pandangan darius beralih kearah emely yang sedang menyantap hidangan dengan pelan tanpa suara, beberapa detik kemudian emely menyadari tatapan darius dan membungkuk pelan ke arah kakeknya sambil tersenyum sopan.
“kalian sudah lima tahun menikah, mengapa belum juga mempunyai keturunan? Sampai kapan kau akan menunda momongan danny? Aku ingin ada cicitku yang akan meneruskan nama emmanuelle” kata darius sambil menatap kembali danny.
Danny hanya diam, ia kembali melanjutkan makannya dengan pelan, tetap memasang wajah datarnya. Emely yang mendapati suaminya hanya diam berniat mengambil alih pembicaraan. “maaf kakek, ini semua kesalahanku. Aku belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini, aku minta maaf” ujar emely pelan dengan nada penyesalan.
Darius tersenyum lembut, “bukan salah dirimu emely, mungkin memang belum waktunya kalian mempunyai anak” kata darius menghibur.
“danny, ada sebuah tambang di pinggiran kota yang belum di reservasi, suruh anak buahmu untuk mengeceknya” ujar darius memerintah dengan suara rendahnya yang dalam.
“baik kakek, biar aku saja yang mereservasi tambang itu” sahut danny pelan.
Suasana kembali hening, semua anggota memilih untuk tidak melanjutkan obrolan yang sempat terjadi dan kembali menyantap hidangan makan malam mereka.

&&&

                Danny menatap keluar kaca jendela mobilnya di jok belakang dengan pandangan menerawang, hanya beberapa bangunan kecil yang terdapat di jalan menuju pinggiran kota.
                Pandangan danny terpaku ketika melewati jalan yang dikelilingi oleh jurang yang dalam, ia menelan ludah pahit. Kenangan kecelakaan mikayla kembali menampar wajahnya membuat napasnya menjadi memberat, seperti ada beban besar yang tersangkut di tenggorokannya. Ia memilih untuk menatap ke depan sambil menghela napas panjang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
                Tiga puluh menit kemudian, ia sampai di depan sebuah bangunan pabrik yang mengelola hasil tambang perusahaannya. Danny turun dari mobil dan melihat beberapa orang yang tergepoh-gepoh menghampirinya dan membungkuk dalam. Danny melangkah memasuki pabrik dengan langkah tegas yang diikuti oleh orang-orang kepercayaannya serta beberapa orang pekerja pabrik.

&&&

                Amelia menghela napas keras, ia kembali membawa berkas untuk mencari pekerjaan yang kiranya cocok untuk dirinya. Namun sampai detik ini, ia belum juga menemukan pekerjaan tersebut. Bagaimana ia akan mampu membayar hutang keluarganya jika ia sendiri tidak berpenghasilan? Tidak mungkin ia mengizinkan ibunya yang bekerja, anak macam apa dia jika sampai melakukan hal tersebut. Amelia memutuskan untuk menerima pekerjaan sebagai kasir disebuah toko, karena gaji yang tertawarkan lumayan untuk amelia dan ibunya bertahan hidup.
                Langkah amelia terhenti ketika matanya menangkap beberapa orang yang biasanya menagih hutang padanya berjalan tidak jauh dari tempatnya berada, amelia langsung panik, ia langsung bersembunyi dibalik beberapa mobil yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Matanya terus mengawasi gerak-gerik beberapa penagih hutang berdiri seraya menatap ke sekitar lalu berjalan menjauh, setelah memastikan orang-orang penagih hutang tersebut tidak tampak lagi di penglihatannya, amelia baru keluar dari tempat persembunyiaannya.
“untung saja” guman amelia lirih.
Ia berjalan melewati mobil tersenyum, namun beberapa detik kemudian langkahnya kembali mundur dan melongok ke arah kaca jendela mobil sembari mengernyit pelan.
Ia melihat seorang lelaki itu yang memakai setelan jas rapi dengan mata yang terpejam di jok belakang mobil, kepala lelaki itu bersandar di kursi menghadap ke arahnya. Amelia mengerjap pelan, jantungnya tiba-tiba mulai berdetak kencang, ia sendiri tidak tau mengapa, dan karena hal itu amelia memilih untuk terus menatap lelaki berambut ikal tersebut seraya memikirkan apakah mereka pernah bertemu sebelumnya, karena amelia merasa familiar dengan lelaki yang sedang tertidur itu.
Tanpa sadar, tangan amelia bergerak ke arah lelaki itu tanpa bisa ia cegah, tangannya bergerak pelan menuju kepala lelaki itu untuk membenarkan anak rambut yang terjatuh di dahinya.
“apa yang kau lakukan?” teriakan dari balik punggungnya membuat amelia tersentak dan terkejut mendapati lelaki itu mulai membuka matanya pelan dan menatap ke arahnya.



Bersambung ke Part 2..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar