Happy reading,,, jangan lupa tinggalin jejak ya.. hargai karya penulis... trims .. love u all
:)
Danny berjalan menuruni anak
tangga satu persatu dengan langkah pelan menuju ke ruang makan utama, ia
memakai kemeja putih yang dibalut dengan jas hitam yang terlihat cocok
untuknya, raut wajahnya datar, ia terus berjalan melewati ruang tamu yang luas
kemudian melewati ruang tengah dan masuk ke ruang makan utama.
Emely yang sedang duduk di
kursi makan, bangkit ketika melihat danny dan menghampiri lelaki itu sambil
tersenyum lembut.
“ayo kita sarapan” ajak emely sambil tersenyum
manis.
Danny
menatap emely sambil mengernyit samar, sedetik kemudian ia kembali memasang
wajah datar lalu melangkah melewati emely yang tersenyum pahit di belakangnya, duduk
di kursi yang berada di kepala meja yang berbentuk tabung persegi panjang, emely
menyusul danny sambil menghela napas panjang
dan duduk di sebelah kanan suaminya, danny menatap keluarganya dengan
wajah datar, kakeknya duduk di kursi deretan pertama- tepatnya di sisi kirinya,
di depannya duduk emely, dan disamping emely duduk ibunya lalu di depan ibunya
duduk nenek danny.
Danny mulai menyantap pelan
sarapannya tanpa suara, yang lain juga melakukan hal yang sama, menyantap
sarapan pagi mereka dengan hening, beberapa saat ruang makan seperti pemakaman
yang sunyi, tak satupun dari mereka yang mau memecahkan keheningan yang memang
tercipta dari awal.
Lima belas menit kemudian,
danny meletakkan sendok dan garpunya di samping kiri-kanan piring kaca lalu
mengambil serbet putih yang terletak di samping sendok, mengelap mulutnya
dengan pelan dan bangkit dari kursinya menuju teras rumah tanpa mengatakan
sepatah katapun.
Emely kembali menghela napas,
sudah hampir lima tahun mereka menikah, namun danny tetap saja bersikap
seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Lima tahun yang lalu emely mengenal
danny melalui perjodohan yang keluarga mereka siapkan, waktu itu emely bersama mikayla
menjadi tunangan danny, cukup mengherankan memang, seorang laki-laki mempunyai
dua orang tunangan, namun itulah yang terjadi, danny memilih mikayla untuk
menjadi istrinya, dan emely yang
tersisihkan menaruh benci pada calon isti danny. Namun beberapa bulan kemudian
keadaan berbalik, mikayla mengalami kecelakaan dan menghilang entah kemana,
semenjak itu emely-lah yang menempati posisi mikayla menjadi calon isti danny
hingga mereka menikah sampai saat ini.
Ditatapnya punggung danny
yang semakin menjauh lalu menghilang di balik ruang tengah dengan tatapan sedih,
emely mengalihkan pandangan ke arah sarapannya, diaduk-aduknya makanan di
piring tanpa berniat untuk menyantapnya.
&&&
Danny emmanuelle, seorang
pengusaha kaya raya berdarah italia, memiliki perusahaan induk dan anak cabang yang
bergerak di bidang industri pertambangan, hampir lima puluh persen perusahaan
pertambangan yang berada di indonesia dikuasai oleh danny, bahkan beberapa
perusahaan pertambangan milik pemerintah. Dan karena hal itu, danny emmanuelle
sangat disegani di kalangan atas, mulai dari kolega bisnis, bangsawan ningrat
sampai pemerintah. Ia bahkan di juluki pangeran indonesia karena memiliki wajah
tampan khas orang-orang itali, kekuasaan dan kedudukan yang tinggi, ia bahkan
di nobatkan menjadi milyuner terkaya se-asia tenggara. Sangat mengesankan.
Danny berjalan di lobby
perusahaan yang diikuti oleh orang-orang kepercayaannya, matanya menatap lurus
ke depan tidak peduli pada karyawan yang membungkuk dalam padanya ketika
melihat danny berjalan melewati mereka. Danny hanya memasang wajah dingin. Ia
masuk ke lift berdiri tegak di deretan paling depan, lalu lift melaju naik ke
tingkatan tujuh gedung perusahaan.
&&&
Seorang manajer bagian
keuangan meletakkan berkas laporan keuangan perusahaan tahun berjalan diatas
meja danny dengan langkah ragu. Lelaki itu memungut berkas itu dan mulai
menganalisis pembukuan tersebut.
Sang manager berdiri di depan
meja kerja danny dengan tatapan takut, keringat dingin mulai tampak di dahinya,
ia takut karena laporan keuangan tahun ini sedikit bermasalah dan masalah itu
sama sekali belum bisa dipahaminya.
Setelah beberapa saat, danny
meletakkan kembali berkas ditangannya ke atas meja, lalu menatap sang manajer
keuangan. Menunggu penjelasan tentang masalah yang terjadi pada laporan
tersebut.
“maafkan saya presdir, saya
sudah menganalisis berkali-kali. Tetapi saya tidak mendapatkan apa yang menjadi
masalah pada laporan tahun ini” jelasnya terbata-bata.
Danny terus menatap manajer
keuangan itu dengan tatapan mengintimidasi, “bagaimana mungkin kau memberikan
jawaban seperti itu kepadaku, apa kau mulai bosan menjadi manajer di perusahaan
ini?” tanya danny dengan suara rendahnya yang tajam.
Sang manajer menelan ludahnya
dengan susah payah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pemimpinnya.
“saya minta maaf presdir, namun kali ini saya tidak bisa meneliti masalah yang
terjadi pada...”
“sebaiknya kau kemasi
barang-barangmu, mulai hari ini kau dipecat” sela danny dengan suara pelan
penuh intimidasi lalu membalikkan kursinya menatap ke luar jendela.
Manajer keuangan tersebut
mematung mendengar nada tajam dari danny, matanya melebar, menatap tidak
percaya pada sang pemimpin lalu menghela napas panjang, membungkuk memberi
pernghormatan terakhirnya kepada presiden direktur dan melangkah keluar ruangan
dengan langkah gontai.
&&&
Danny menatap keluar jendela
tanpa benar-benar memandang sesuatu, ia memikirkan wanita yang dicintainya
dengan sepenuh hati yang menghilang di tempat kecelakaan itu terjadi.
Waktu itu setelah acara pesta
yang mengumumkan bahwa danny akan menikah dengan mikayla berlangsung, mikayla
berpamitan padanya sambil tersenyum manis. Danny berniat mengantarkan mikayla
namun ditolak gadis itu dengan lembut, mikayla mengatakan bahwa ia bisa pulang
dengan selamat dan danny tidak perlu mengkhawatirkannya, lalu gadis itu
memeluknya dengan erat kemudian melambaikan tangannya dari dalam mobil ke arah
danny.
Danny menunggu telepon dari mikayla,
sudah tengah malam namun mikayla belum juga menghubunginya. Ketika ponselnya
berdering, danny langsung mengangkatnya pada deringan pertama. Namun yang
didengarnya bukan kabar mikayla yang pulang dengan selamat tetapi kabar bahwa
calon istrinya itu mengalami kecelakaan. Mobil mikayla terjatuh ke jurang dan
terbakar. Polisi mengatakan tidak ada seorangpun di dalam mobil ketika mobil
terbakar namun polisi itu tau pasti bahwa plat mobil itu milik mikayla. Danny
melihat mobil mikayla yang ditarik dari jurang dengan pandangan nanar, baru
saja ia melihat mikayla tersenyum padanya, baru saja ia mendekap mikayla dalam
pelukannya. Namun sekarang mikayla menghilang, tidak bisa tersenyum lagi
padanya, tidak bisa lagi ia peluk, ia tidak tau bahwa semua yang terjadi pada
malam sebelum kecelakaan itu terjadi adalah kenangan terakhirnya bersama sang
tercinta. Mulai saat itu danny terus menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk
mencari keberadaan mikayla, karena ia yakin kalau calon istrinya itu masih
hidup, walaupun ia tidak tau keberadaan mikayla, namun benaknya menyuruhnya
untuk berbuat sesuatu, ia berusaha kuat untuk meyakini hal tersebut.
&&&
Danny turun dari mobil yang
terparkir di parkiran teras rumahnya dan melihat emely yang berjalan sambil
tersenyum ke arahnya, gadis itu mengapa selalu mengusik hidupnya. Ia cukup
bersabar selama lima tahun terakhir membiarkan sang istri berusaha untuk
menjadi istri yang baik untuknya, namun hatinya tidak, hatinya membenci emely,
karena bukan emely yang seharusnya menjadi nyonya emmanuelle, bukan emely yang
seharusnya menyambut kepulangannya, bukan emely yang seharusnya menemani tidur
malamnya, berbagai kata ‘bukan emely yang seharusnya’ memenuhi benak danny,
membuat danny bertambah muak menjalani hidup yang tidak ia inginkan.
“kau sudah pulang sayang?” kata
emely sambil mengambil alih tas kerja danny ke tangannya.
Danny menatap dengan tatapan
tajam ke arah emely namun ekspresi wajahnya tetap datar, dibiarkannya tas kerja
miliknya teralihkan pada tangan emely, lalu tatapannya melewati bahu emely dan
melihat ibunya serta beberapa pelayan yang melihat ke arah dirinya, ia
melangkah mendekati emely sambil menyungging senyum tipis, senyuman yang tidak
sampai ke matanya lalu memeluk gadis itu dengan satu rengkuhan tegas.
Emely terpaku pada perlakuan
danny, baru kali ini ia dipeluk oleh suaminya selama hampir lima tahun mereka
menikah, emely tersenyum bahagia, ia berpikir suaminya mulai menyadari kasih
sayang yang ia berikan selama ini, emely
membalas pelukan danny dengan erat seraya tersenyum manis juga terharu, namun
beberapa detik kemudian senyuman manis yang terpahat di wajah cantik emely
menghilang ketika mendengar kata-kata danny.
“sampai kapan kau akan terus
mengusik hidupku? Bukankah kau sudah mempunyai semuanya karena menjadi nyonya emmanuelle?,
Jadi kuharap kau seharusnya tau diri, siapa sebenarnya dirimu dimataku” kata
danny setengah berbisik kepada emely, setelah itu danny melepaskan rengkuhannya
pada emely dan tersenyum datar pada gadis itu lalu melangkah meninggalkan emely
yang mematung sambil menatap lurus ke depan dengan mata berkaca-kaca.
Danny menatap sekilas ke
beberapa pelayan yang sedang menatapnya, mereka gelagapan dan buru-buru mohon
diri untuk kembali mengerjakan tugas mereka, lelaki itu berjalan melewati ibunya, menaiki anak tangga dan menghilang di
balik pintu ruang pribadinya.
Emely mengalihkan
pandangannya ke arah Rebecca emmanuelle – mertuanya, seorang wanita yang berusia
hampir menuju setengah abad namun tetap terlihat cantik, wanita kedua yang
sangat ia segani dalam hidupnya setelah ibu kandungnya. Emely tersenyum tipis
ke arah Rebecca yang dibalas dengan tatapan mengernyit samar namun tetap
tersenyum lembut padanya.
&&&
Amelia cornelius melangkah
dengan langkah gontai, tangannya menggenggam berkas lamaran yang tersusun rapi
di dalam amplop coklat, amelia menghela napas panjang. Sudah seharian ia
berkeliling dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya, namun pekerjaan
yang ia inginkan tidak berhasil ia temukan. Sebenarnya ada beberapa pekerjaan
yang ditawarkan kepadanya- misalnya pramusaji di sebuah tempat makan sederhana
atau kasir di sebuah toko kecil tetapi ia menolaknya dengan halus. Ia sendiri
tidak tau mengapa, namun dalam hati, ia yakin bahwa ada pekerjaan yang layak
untuknya, seperti pekerjaan di kantoran misalnya atau bahkan menjadi pemimpin
dari sebuah perusahaan kecil. Lagi-lagi ia menghela napas, ia tinggal di
pedesaan yang berada di pinggiran kota. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan
pekerjaan yang seperti ia inginkan disini?.
Amelia pernah mencoba meminta
izin kepada alina cornelius-ibunya- untuk mencari pekerjaan di kota, namun
ibunya dengan tegas melarang amelia bepergian meninggalkan pedesaan tanpa
memberitahukan alasan yang jelas, ibunya hanya mengatakan bahwa kota tidak baik
untuknya, orang-orang kota terkenal kejam, itulah alasan alina melarang keras
amelia untuk pergi ke kota.
Pernah suatu hari, ia mencoba
pergi ke kota tanpa sepengetahuan ibunya, namun ketika mendekati sebuah jalan
yang dikelilingi jurang yang terjal, tiba-tiba tubuhnya bereaksi tanpa bisa ia
cegah, tubuhnya bergetar dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya tanpa
ia tau kenapa, ia memilih untuk tidak melewati jalan itu dan kembali ke desa
dalam keadaan sakit. Sempat ia tanya mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu
kepada ibunya, awalnya ibunya terkejut mendengar ceritanya namun dapat kembali
mengendalikan diri dan mengatakan dengan tenang bahwa amelia pernah mengalami
kecelakaan di lokasi tersebut, mungkin kejadian itu membekas di dasar relung
hati amelia sehingga membuatnya trauma, dulu ia juga pernah menanyakan kenapa
ia tidak mengingat apapun tentang hidupnya, siapa namanya, berapa usianya atau
dimana tempat ia tinggal, ibunya hanya mengatakan bahwa hilang ingatan atau
dalam ilmu medis mengistilahkan dengan amnesia permanen karena kecelakaan yang
dulu pernah menimpanya, ia jadi mengerti mengapa ibunya melarang keras ia
bepergian ke kota, dan Semenjak itu,
amelia memutuskan untuk tidak lagi mempertanyakan atau meminta izin untuk pergi
ke kota.
Amelia berjalan menuju
pekarangan rumahnya yang mungil namun tampak nyaman dimata, membuka pagar kayu
lalu menghentikan langkahnya ketika ia sudah berdiri di depan pintu rumah, ia
mengambil napas pelan dan menghembuskannya dengan perlahan lalu memutar gagang
pintu yang berbentuk bulat dan masuk ke ruang tengah.
Tidak ada siapa-siapa di
rumah, mungkin ibunya pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan,
pikirnya. ia hanya tinggal bersama ibunya di rumah mungil tersebut, kata ibunya
ayah sudah meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Ditatap bayangannya yang
terpantul di cermin, wajah ovalnya terpahat dengan cantik dan disempurnakan
oleh belahan dagu yang membuatnya semakin menawan dan mata coklat terangnya
yang memberikan kehangatan bagi orang-orang yang memandanginya. Ia tersenyum
tipis, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari
sisa-sisa kelelahan.
&&&
Danny
bersama anggota keluarga emmanuelle menyantap makan malam dengan hening,
seperti biasanya, hanya suara dentingan sendok yang beradu di atas piring kaca
yang terdengar lirih, tampak harmonis bagi orang luar yang menatapnya namun
miris bagi orang dalam, orang-orang yang mengetahui bagaimana hubungan keluarga
emmanuelle yang sebenarnya.
“bagaimana dengan perusahaan
yang kau tangani sekarang? Apakah berjalan lancar? Aku dengar terdapat masalah
dalam pembukuan” ujar darius sambil menatap cucunya dengan tenang penuh
kewibawaan.
“semua berjalan lancar,
tentang masalah pembukuan itu sudah aku tangani jadi tidak ada masalah” sahut
danny pelan.
Pandangan darius beralih
kearah emely yang sedang menyantap hidangan dengan pelan tanpa suara, beberapa
detik kemudian emely menyadari tatapan darius dan membungkuk pelan ke arah
kakeknya sambil tersenyum sopan.
“kalian sudah lima tahun
menikah, mengapa belum juga mempunyai keturunan? Sampai kapan kau akan menunda
momongan danny? Aku ingin ada cicitku yang akan meneruskan nama emmanuelle”
kata darius sambil menatap kembali danny.
Danny hanya diam, ia kembali
melanjutkan makannya dengan pelan, tetap memasang wajah datarnya. Emely yang
mendapati suaminya hanya diam berniat mengambil alih pembicaraan. “maaf kakek,
ini semua kesalahanku. Aku belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini,
aku minta maaf” ujar emely pelan dengan nada penyesalan.
Darius tersenyum lembut,
“bukan salah dirimu emely, mungkin memang belum waktunya kalian mempunyai anak”
kata darius menghibur.
“danny, ada sebuah tambang di
pinggiran kota yang belum di reservasi, suruh anak buahmu untuk mengeceknya”
ujar darius memerintah dengan suara rendahnya yang dalam.
“baik kakek, biar aku saja
yang mereservasi tambang itu” sahut danny pelan.
Suasana kembali hening, semua
anggota memilih untuk tidak melanjutkan obrolan yang sempat terjadi dan kembali
menyantap hidangan makan malam mereka.
&&&
Danny
menatap keluar kaca jendela mobilnya di jok belakang dengan pandangan
menerawang, hanya beberapa bangunan kecil yang terdapat di jalan menuju
pinggiran kota.
Pandangan
danny terpaku ketika melewati jalan yang dikelilingi oleh jurang yang dalam, ia
menelan ludah pahit. Kenangan kecelakaan mikayla kembali menampar wajahnya
membuat napasnya menjadi memberat, seperti ada beban besar yang tersangkut di
tenggorokannya. Ia memilih untuk menatap ke depan sambil menghela napas
panjang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Tiga
puluh menit kemudian, ia sampai di depan sebuah bangunan pabrik yang mengelola
hasil tambang perusahaannya. Danny turun dari mobil dan melihat beberapa orang
yang tergepoh-gepoh menghampirinya dan membungkuk dalam. Danny melangkah
memasuki pabrik dengan langkah tegas yang diikuti oleh orang-orang
kepercayaannya serta beberapa orang pekerja pabrik.
&&&
Amelia
menghela napas keras, ia kembali membawa berkas untuk mencari pekerjaan yang
kiranya cocok untuk dirinya. Namun sampai detik ini, ia belum juga menemukan
pekerjaan tersebut. Bagaimana ia akan mampu membayar hutang keluarganya jika ia
sendiri tidak berpenghasilan? Tidak mungkin ia mengizinkan ibunya yang bekerja,
anak macam apa dia jika sampai melakukan hal tersebut. Amelia memutuskan untuk
menerima pekerjaan sebagai kasir disebuah toko, karena gaji yang tertawarkan
lumayan untuk amelia dan ibunya bertahan hidup.
Langkah
amelia terhenti ketika matanya menangkap beberapa orang yang biasanya menagih
hutang padanya berjalan tidak jauh dari tempatnya berada, amelia langsung
panik, ia langsung bersembunyi dibalik beberapa mobil yang tidak jauh dari
tempatnya berdiri. Matanya terus mengawasi gerak-gerik beberapa penagih hutang
berdiri seraya menatap ke sekitar lalu berjalan menjauh, setelah memastikan
orang-orang penagih hutang tersebut tidak tampak lagi di penglihatannya, amelia
baru keluar dari tempat persembunyiaannya.
“untung saja” guman amelia lirih.
Ia berjalan melewati mobil
tersenyum, namun beberapa detik kemudian langkahnya kembali mundur dan melongok
ke arah kaca jendela mobil sembari mengernyit pelan.
Ia melihat seorang lelaki itu
yang memakai setelan jas rapi dengan mata yang terpejam di jok belakang mobil,
kepala lelaki itu bersandar di kursi menghadap ke arahnya. Amelia mengerjap
pelan, jantungnya tiba-tiba mulai berdetak kencang, ia sendiri tidak tau
mengapa, dan karena hal itu amelia memilih untuk terus menatap lelaki berambut
ikal tersebut seraya memikirkan apakah mereka pernah bertemu sebelumnya, karena
amelia merasa familiar dengan lelaki yang sedang tertidur itu.
Tanpa sadar, tangan amelia
bergerak ke arah lelaki itu tanpa bisa ia cegah, tangannya bergerak pelan
menuju kepala lelaki itu untuk membenarkan anak rambut yang terjatuh di
dahinya.
“apa yang kau lakukan?”
teriakan dari balik punggungnya membuat amelia tersentak dan terkejut mendapati
lelaki itu mulai membuka matanya pelan dan menatap ke arahnya.
Bersambung ke Part 2..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar