Amelia mencoba menjauh dari
mobil tersebut, namun beberapa orang mulai mencekalnya dengan kuat membuat
amelia mulai merasa ketakutan, ia menatap panik pada beberapa orang yang
memakai setelan, lalu pandangannya teralihkan kepada lelaki yang tertidur di
jok mobil belakang dan mulai membuka matanya, sedikit mengernyit karena
istirahatnya terusik, pandangan mereka bertemu, amelia melihat kilat
keterkejutan dalam mata lelaki itu dan menatap ke arahnya dengan pandangan yang
tidak bisa ia artikan.
&&&
Danny membuka matanya pelan
dan mengernyit ketika mendengar teriakan
raymond, lalu menatap ke arah depan, matanya terbelalak melihat pemandangan di
depannya.
Mikayla!
Danny terus menatap mikayla
yang sedang memberontak dalam cekalan raymond dan beberapa anak buahnya yang
lain. Ia terus memandang mikayla dengan tatapan yang bercampur aduk, senang,
terkejut dan tidak percaya pada pandangannya.
“presdir, wanita ini mencoba
mendekati anda, ia ingin mencelakakan anda presdir” ujaran raymond membuat
pandangan danny teralihkan, dan ketika menatap kembali ke arah mikayla, ia
melihat seorang gadis yang ketakutan, mencoba melepaskan dirinya dari cekalan
raymond.
“tidak, aku tidak berniat
jahat, aku hanya ingin melihatnya saja” sahut amelia dengan suara bergetar.
“aku tidak akan
mempercayaimu, alasanmu tidak masuk akal” kata raymond sambil tetap mencekal
tangan amelia ke belakang.
“lepaskan dia” nada
memerintah yang sangat kental berasal dari bibir danny.
Mendengar perintah tegas dari
presiden direkturnya, raymond langsung melepaskan cekalannya pada amelia namun
tetap waspada pada gadis itu.
Danny turun dari mobil,
mengancingkan jasnya dan menatap ke arah amelia dengan pandangan dingin, dalam
hati ia merasa sangat kecewa karena gadis itu bukan mikayla, namun beberapa
detik kemudian ia mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri, mengapa ketika
melihat gadis itu ia seperti melihat mikayla, ia sendiri tidak bisa mendapatkan
jawaban atas pertanyaannya. Mungkin ia sedang memikirkan mikayla sehingga
menyangka bahwa gadis itu adalah mikayla, ya, pasti begitu, pikir danny.
Danny sedikit melangkah
menatap amelia dari jarak yang lebih dekat, ia melihat amelia lalu tersenyum
tipis, senyuman yang tanpa ia sadari berasal dari dalam hatinya.
“siapa namamu?” tanya danny
dengan suara rendah yang dalam.
Amelia menelan ludahnya
dengan susah payah, “amelia cornelius” sahutnya pelan.
&&&
Danny menatap ke depan dengan
pandangan lurus, ia menatap ke arah jalan raya di depannya tanpa benar-benar
memandang sesuatu. Ia kembali memikirkan amelia, sang gadis yang ia temui di
depan pabrik. Keningnya berkerut memikirkan ia baru saja melepaskan seorang
wanita yang tidak jelas berasal dari mana, apa motifnya ketika ingin
mencelakainya, walaupun amelia berkata ia tidak bermaksud demikian namun danny
orang yang penuh dengan waspada jadi ia mengambil kesimpulan yang sama dengan
raymond. Namun sekarang ia begitu saja melepaskan amelia dan bahkan ia memberi
kartu namanya kepada gadis itu untuk menghubungi jika membutuhkan pekerjaan
atau sesuatu hal lainnya.
Danny menatap ke samping kaca
jendela untuk menyengah bayangan amelia yang terus berputar-putar di
pikirannya.
&&&
Amelia menatap kartu nama
danny di tangannya dengan pandangan tidak percaya, akhirnya ia mendapatkan
pekerjaan yang ia rasa pantas untuknya dan juga mendapatkan bayaran yang cukup
tinggi. Namun beberapa detik kemudian, ia mengerutkan dahinya ketika teringat
pada larangan ibunya. Tentu saja ibunya tidak akan memberikan izin kepadanya. Amelia
menghela napas, di masukkan kartu nama tersebut di saku celana panjangnya dan
memutar handle pintu.
“kau sudah pulang mel?
Bagaimana ada pekerjaan yang kau dapatkan?” tanya alina ketika melihat amelia
melangkah ke dapur dan tersenyum padanya.
Amelia tertegun sejenak lalu
buru-buru memasang wajah biasa kembali, “sudah ibu, aku sudah mendapatkan
pekerjaan, tetapi aku harus menginap selama beberapa hari untuk itu” sahut
amelia berusaha terdengar biasa dan ceria.
Alina hanya tersenyum lalu
kembali melanjutkan masaknya dengan perhatian penuh, amelia menghela napas
pelan dan segera meninggalkan dapur, tidak ingin ibunya kembali menanyakan
tentang apapun padanya.
Dihempas tubuhnya ke atas
tempat tidur single, ia menatap langit-langit kamar yang berwarna krem lembut
dengan pandangan menerawang, ia memikirkan laki-laki bernama danny yang temui
di depan pabrik tambang. Ia mengeryit samar, entah perasaannya atau ia memang
pernah bertemu dengan danny sebelumnya? Entahlah, yang jelas ketika melihat
danny, amelia langsung merasa familiar, hatinya yang merasakan seperti itu.
Lelah dengan pikiran dan
fisiknya, amelia memilih untuk memenjamkan matanya dengan perlahan, berusaha
menembus alam mimpi.
&&&
Amelia
menimbang-nimbang ponsel di tangannya sambil menatap kartu nama danny, ia masih
ragu untuk menerima tawaran danny, jelas ia memikirkan ibunya, apakah ibunya
akan marah jika ia pergi ke kota? Jawabannya tentu saja. Amelia menghela napas
seraya memikirkan kembali dari awal dan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Amelia
mengambil napas pelan dan mulai menekan nomor kontak yang ada di kartu nama
tersebut, terdengar nada sambung yang monoton dari balik telepon.
“halo” suara rendah dan dalam milik danny.
“selamat malam pak, maafkan saya
mengganggu waktu luang anda, saya menerima tawaran pekerjaan dari anda” ujar
amelia dengan ragu.
Tanpa sadar danny menyungging
senyum tipis. “baiklah, besok saya akan menyuruh anak buah saya untuk
menjemputmu, dimana anak buahku harus menjemputmu?” tanya danny tenang.
“bisakah saya di jemput di
depan pabrik yang waktu itu kita pernah bertemu? Saya akan menunggu disana”
sela amelia dengan cepat.
“baiklah”, setelah itu
terdengar nada putus dari telepon amelia, gadis itu mengernyit pelan ke arah
ponsel lalu mengangkat bahunya acuh.
&&&
Danny menyesap champagne dari
gelasnya dengan pelan, ia berada di ruang pribadinya, duduk di kursi balkon
yang menghadap ke kolam renang. Baru saja ia mendapat telepon dari amelia yang
mengatakan bahwa gadis itu menerima tawarannya.
Danny mengernyit pelan,
mengapa ia merasa senang setelah mendapatkan telepon dari amelia?, ini baru
pertama kalinya selama lima tahun setelah menghilang mikayla ia dapat sedikit
-hanya sangat sedikit- menikmati hidupnya di dunia. Danny tertegun, apa tempat
mikayla mulai tergantikan? Atau..., tidak, tidak mungkin, bantah danny dalam
hati. ia masih mencintai mikayla dengan sepenuh hatinya, tidak akan ada wanita
lainnya yang akan masuk ke dalam hidupnya, tidak akan ia biarkan. Danny kembali
menyesap champagne sambil menatap lurus ke depan.
&&&
Amelia melirik jam tangannya dengan sedikit gelisah, sudah lima
belas menit ia menunggu di depan pabrik tambang, namun belum ada mobil yang
menjemputnya, apakah danny lupa? Atau..., suara klakson mobil memotong pikiran
amelia.
Raymond turun dari mobil dan
tersenyum tipis kepada amelia, seraya mengulurkan tangannya ke depan.
“apa kabar? Kita belum
berkenalan dengan baik, namaku raymond” ujar raymond sambil tersenyum.
Amelia membalas jabat tangan
raymond juga dengan senyuman, “amelia cornelius” katanya singkat.
Raymond mempersilahkan amelia
masuk ke mobil, kemudian mobil melaju dengan mulus. Raymond melirik ke arah
kaca spion tengah dan melihat amelia yang sedang duduk gelisah di jok belakang.
Raymond mengangkat alisnya samar sembari terus mencoba fokus ke arah jalan raya.
Tangan amelia mulai gemetar,
melihat jalan semakin menuju tempat kecelakaannya dulu, ia menggigit bibirnya
pelan sambil terus menenangkan jantungnya yang berdetak keras, mobil terus
melaju ke arah tempat itu membuat amelia menjadi pucat pasi, Keringat dingin
muncul di dahinya menunjukkan betapa
besar ketakutannya sekarang, tiba-tiba mobil berhenti dan raymond turun
dari bangku kemudi menuju jok belakang.
“kau tidak apa-apa?” tanya raymond dengan
cemas.
Amelia menggelengkan
kepalanya, “bisakah kita meninggalkan tempat ini? aku mohon” kata amelia lirih.
Raymond segera melaju mobil
dengan kecepatan tinggi, dalam hati ia ingin sekali menanyakan mengapa amelia
pucat pasi ketika berada di tempat tadi? Mengapa gadis itu tampak seperti
ketakutan pada tempat itu? berbagai pertanyaan memenuhi benak raymond.
&&&
Emely
mengernyit dari balkon kamarnya melihat seorang gadis turun dari mobil danny
yang dikemudikan raymond, ia terus menatap gadis itu sambil menghilang di balik
teras rumah, siapa wanita itu? mengapa ia bisa naik mobil danny?, berbagai
pertanyaan memenuhi benak emely. Penasaran, emely bangkit dari kursi kayunya
melangkah keluar kamar.
Ketika
emely membuka pintu kamarnya, pemandangan pertama yang tangkapnya adalah gadis
yang ia lihat di halaman mansion masuk ke ruang pribadi danny yang
dipersilahkan oleh raymond, kerutan kening emely semakin berlipat, ia tau bahwa
danny tidak akan membiarkan siapapun bahkan dirinya memasuki ruang pribadinya,
namun mengapa gadis itu bisa masuk dengan mudah? Apakah danny yang menyuruhnya
masuk? Tapi bagaimana bisa, tidak. Tidak mungkin danny membiarkan gadis asing
itu masuk begitu saja, pasti ada kesalahan. Benak emely membantah
pikiran-pikiran yang mulai menyesakkan dadanya.
Emely
berjalan ke bar kecil yang berada di sudut dapur mansion untuk menenangkan
pikirannya yang sedang kalut, langkahnya sangat pelan, seakan terdapat beban
berat di kakinya.
&&&
Begitu
mendengar ketukan dari raymond, danny segera menyuruh amelia masuk, ia berdiri
menghadap jendela kaca dan menatap keluar tanpa benar-benar memandang sesuatu.
Terdengar suara pintu tertutup dan suara langkah yang sedikit mendekatinya.
Danny berputar menghadap amelia dan menatap gadis itu dengan wajah dingin, sang
gadis yang ditatap menyelipkan rambutnya di balik telinga seraya menatap ke
bawah sekilas, danny tau bahwa gadis itu risih dengan tatapannya, namun ia
tidak peduli.
“pekerjaan apa yang akan
bapak berikan kepada saya?” tanya amelia membuka pembicaraan.
“kau akan menjadi pelayan
pribadiku, dari pendidikanmu aku tidak bisa memberikan pekerjaan yang lebih
tinggi dari itu, aku harap kau mengerti” kata danny pelan.
Amelia menatapnya sekilas dan
kembali menatap ke lantai dengan kepala yang tidak menunduk, gadis itu tidak
berani menatapnya? Sepertinya gadis yang polos?, nilai danny dalam hati.
Amelia mengangguk kepala dan
mencoba menatap danny yang menatap intens kepadanya. “terima kasih pak, saya
berusaha melayani bapak sebaik mungkin” kata amelia dengan santun sambil
membungkukkan badannya sekilas.
“tentu saja” sahut danny
dengan nada geli, kata ‘melayani’ yang terucap dari mulut amelia membuatnya
memikirkan hal intim, amelia benar-benar gadis yang polos, bahkan ia tidak
menyadari raut wajah danny yang sedang menahan senyum geli kepadanya.
“baiklah, kau boleh keluar.
Raymond akan menjelaskan apa-apa saja yang perlu kau kerjakan” ujar danny
memberi perintah lalu membalikkan badannya ke arah jendela dan tersenyum tipis.
Amelia membungkukkan badannya
ke arah danny, walaupun laki-laki itu tidak melihat penghormatannya, lalu
langkah mendekati pintu dan keluar.
Suara pintu tertutup kembali
menggema di ruangan pribadinya yang berukuran luas untuk sebuah ruangan namun
danny tetap tidak memperdulikan suara tersebut, matanya kembali menatap keluar
jendela.
&&&
Setelah
menutup pintu amelia menghela napas, ia sedikit kecewa pada pekerjaan yang
diberikan oleh danny, namun mengingat jenjang pendidikannya yang hanya sampai
sekolah menengah atas membuatnya mengerti, bahwa pekerjaannya sebagai pelayan
pribadi danny sudah cukup lumayan untuk dirinya, ia menatap koridor mansion
dengan pandangan kagum, mulai dari lantai sampai dengan pilar dan pembatas
koridor terbuat dari marmer yang terlihat berkilauan dan menawan. Amelia
melangkah menyusuri koridor lantai dua dengan langkah pelan, ia mencari raymond
untuk menunjukkan dimana kamarnya dan apa-apa saja pekerjaannya di rumah yang
sebesar ini.
Amelia
melihat raymond yang melangkah menaiki tangga dan tersenyum tipis kepadanya,
hanya raymond yang ramah padanya, sepertinya hanya laki-laki itu. amelia
menuruni tangga menyusul raymond yang kembali turun dan melangkah melewati
ruang tamu, ruang tengah kemudian masuk ke dapur dan berbelok ke kiri dan
berhenti pada sebuah pintu kamar.
Amelia
terus berjalan di belakang raymond sambil mengingat ruangan-ruangan yang telah ia lewati, astaga, rumah ini benar-benar
sangat luas, ia bahkan berhenti sebanyak tiga kali untuk mengingat jalan yang
telah ia telusuri tadi. Raymond menatapnya dan mempersilahkan amelia untuk
masuk ke kamarnya.
“ini
kamarmu dan ini berkas berisi penjelasan apapun mengenai tuan danny emmanuelle,
apa yang ia sukai dan apa yang tidak disukainya, semuanya ada dalam berkas itu,
kau harus membacanya dengan teliti” kata raymond sambil menyodorkan beberapa
lembaran kertas kepadanya.
amelia mengambil
lembaran-lembaran tersebut dan mengangguk kepada raymond, meyakinkan laki-laki
itu bahwa ia akan membaca setiap kata yang ada di dalam lembaran itu.
raymond tersenyum tipis,
“semoga kau betah disini, permisi” kata raymond mohon diri lalu keluar dari kamarnya.
amelia menatap sekeliling
kamar lalu tersenyum, kamar yang cukup luas untuk seorang pembantu, benak
amelia. Pelayan pribadi juga dalam kategori pembantu bukan?, di dalam ruangan
terdapat sebuah lemari dua pintu yang terletak disamping pintu dan sebuah
tempat tidur single yang sebenarnya bisa dipakai untuk dua orang, lalu sebuah
meja rias yang menyatu dengan cermin dan sebuah kursi.
Amelia melangkah ke kamar
mandi, kamar mandi tersebut sangat bersih dan cukup luas bahkan ada bathup di
dalamnya, sedikit berlebihan untuk profesinya.
Amelia membuka lemari dan
mulai menyusun pakaian-pakaian yang dibawanya dari pedesaan, tidak banyak namun
cukup untuk amelia.
Lima belas menit berlalu,
amelia sudah menyelesaikan pakaian dan membersihkan tubuhnya, tatapannya
menangkap beberapa lembaran yang terletak di atas meja.
Lembar pertama tentang apa
yang harus ia lakukan, hanya tiga poin, membersihkan ruang pribadi dan ruang
kerja danny, membuatkan kopi setiap pagi dan malam dan poin terakhir harus
mengikuti perintah apapun yang diperintahkan danny. Amelia tersenyum membaca
poin terakhir, tanpa tertulis di lembar tersebut ia akan mengikuti apapun yang
dikatakan oleh majikannya, memang itu bukan yang harus dilakukan oleh setiap
pelayan? Mengikuti semua perintah majikan?.
Mata amelia beralih ke lembar
kedua yang berisi tentang larangan, amelia sedikit mengernyit keningnya ketika
membaca lembar tersebut, banyak sekali poin-poin yang harus ia hindari, jangan
menyela majikannya, tidak boleh mengikuti perintah apapun selain majikannya,
tidak boleh memindahkan apapun yang ada diruang pribadi dan ruang kerja
majikannya dan berbagai larangan lainnya yang harus amelia patuhi.
Setelah beberapa menit
membaca lembar kedua, amelia beralih ke lembar ketiga, hanya satu poin, jangan
memanggil majikannya dengan bapak tetapi harus tuan.
Amelia tersenyum, ia
memanggil danny dengan sebutan bapak, mungkin danny berpikir bahwa panggilannya
pada danny membuat laki-laki itu terasa tua. Amelia mengangguk seraya mengingat
semua hal yang tertulis di tiga lembar tersebut.
&&&
Amelia
menatap beberapa pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi, ia berdiri
di sudut dapur, kedua tangannya saling menggenggam pelan, ia sungguh bingung
dengan apa yang harus ia lakukan, pelayan-pelayan itu juga tidak berkata
apa-apa hanya sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang makan utama, sebenarnya
ia hanya perlu membuatkan kopi pagi untuk danny namun ia tidak tau bagaimana
menggunakan mesin kopi yang terdapat di meja dapur, di rumah ia hanya
menggunakan kopi yang sudah dibubukkan sehingga tidak perlu untuk di giling
lagi.
“raymond” panggil amelia
dengan suara yang sedikit ia tinggikan. Raymond melihatnya dan menghampiri
amelia. “ada apa?” tanya raymond sambil mengernyit samar.
“apa yang harus aku lakukan?” tanya amelia
pelan.
“bukankah sudah dijelaskan di
berkas yang aku berikan kemarin?” raymond berbalik tanya. Amelia mengangguk
membenarkan.
“tapi aku tidak tau cara menggunakan
mesin itu?” sahut amelia sambil menunjukkan ke arah mesin penggiling kopi.
Raymond tersenyum lalu
menghampiri mesin penggiling kopi, amelia menyusul raymond dengan cepat dan
mendengar bagaiman cara kerja mesin tersebut.
“kau mengerti?” tanya raymond
memastikan bahwa penjelasan sudah cukup baik untuk amelia.
Amelia mengangguk dan
berterima kasih kepada raymond, lalu ia melangkah mengambil cangkir kopi
keramik putih yang bermotif daun maple, dan mulai membuatkan kopi untuk danny.
Amelia membawa nampan yang
berisi secangkir kopi ke ruang makan utama, amelia kembali terkagum pada ruang
makan utama yang ia masuki, ia tersenyum pada seorang wanita yang sangat cantik
yang duduk di samping kursi danny, amelia langsung beranggapan bahwa wanita itu
adalah emely-istri danny.
Amelia meletakkan cangkir
kopi di atas meja, lalu membungkuk sekilas pada wanita di depannya dan berjalan
kembali ke dapur.
“buatkan juga untukku” kata
emely tanpa menatap amelia.
Amelia tersenyum tipis lalu
berjalan ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi lagi untuk emely, walaupun ia
tau bahwa ia tidak boleh mengikuti
perintah siapapun selain danny, namun apa yang bisa ia katakan? Ia hanya
pelayan, lagi pula tidak berat, hanya membuatkan secangkir kopi.
&&&
Emely
tersenyum sinis ke arah punggung amelia yang berjalan ke arah dapur, ia terus
menatap sinis pada amelia sampai gadis itu menghilang di balik dinding dapur.
Aku akan membuatmu tidak betah berada disini, guman emely dalam hati. ia menyeringai samar.
Semenit
penuh kemudian emely melihat amelia berjalan kembali ke arahnya lalu meletakkan
cangkir kopi pesanannya di atas meja, tepat di depanya, dengan sengaja emely
menyenggol kasar cangkir kopi yang ada ditangan amelia.
Amelia
mengerang menahan rasa panas yang mengenai pergelangan tangannya, tangan
kirinya langsung membekap tangannya kanan sambil meringis.
“apa yang kau lakukan?
Mengapa meletakkan cangkir kopi saja tidak bisa kau lakukan?” seru emely dengan
suara tinggi.
Amelia membungkuk badannya
meminta maaf sambi meringis menahan sakit dipergelangan tangannya yang mulai
merah melepuh.
“apa yang kau lakukan emely?
Dia pelayan pribadiku jadi kau tidak berhak membentaknya” seru danny yang
sedang berjalan menghampiri amelia.
Emely tersentak mendengar
suara danny di belakangnya dan langsung menoleh ke arah danny yang sedang
berjalan ke arahnya, emely hanya diam. Ia takut berkomentar jika danny sudah
berbicara dengan nada dingin meninggi kepadanya.
Danny langsung menarik tangan
kiri amelia dan berjalan meninggalkan ruang makan utama, meninggalkan emely
yang terpaku pada perlakuan suaminya, danny bahkan lebih membela gadis miskin
itu daripada dirinya, emely mengepal tangannya menahan amarah pada amelia.
Danny terus melangkah menuju
ruang tengah, tidak memperdulikan tatapan kakek dan ibunya yang dilewatinya,
lalu masuk ke ruang pribadinya.
&&&
Danny
langsung mengompres pergelangan tangan amelia dengan es yang diberikan raymond,
ia melihat amelia menggigit bibirnya menahan rasa sakit, danny terus mengompres
lalu memberikan obat salap di pergelangan tangan amelia dengan hati-hati dan
penuh kelembutan.
Ingin
rasanya amelia menarik tangannya dan mengatakan bahwa ia bisa mengobati
tangannya sendiri, namun ketika melihat rahang danny yang mengeras seperti
menahan marah, amelia hanya diam sambil menatap danny dengan pandangan
bersalah, gara-gara dirinya danny bertengkar dengan istrinya.
“kata-kata ‘jangan ikuti
perintah siapapun kecuali aku’ yang mana yang tidak kau mengerti?” tanya danny
dengan suara rendah.
Amelia menelan ludahnya
dengan susah payah, nada dingin dan tatapan intimidasi itu membuatnya takut.
“maaf tuan, istri tuan juga majikan saya, jadi...”
“jangan pernah mengikuti
perintah selain dariku lagi, kau mengerti?” ujar danny dengan tegas.
Amelia mengangguk cepat.
“kau boleh pergi”
Mendengar
nada perintah, amelia langsung mohon diri, membungkuk badannya ke arah danny
lalu melangkah keluar, namun ketika tangannya sudah memegang gagang pintu,
amelia kembali berputar ke arah danny yang langsung bertemu pandang dengan mata
hitam kelam milik danny
“terima kasih tuan” ucap
amelia tulus sambil tersenyum sopan ke arah danny lalu melangkah keluar
ruangan.
Desiran
halus mengetuk hati danny, jantungnya mulai berpacu, berdetak diluar yang
seharusnya. ia tidak tau apakah karena kata terima kasih dari amelia atau
karena senyuman gadis itu yang membuatnya seperti ini. namun yang jelas ini pertama
kalinya setelah lima tahun jantungnya kembali berdetak kencang, namun kali ini
bukan untuk mikayla tetapi untuk amelia. Danny mengernyit dan menepis
perasaannya yang mulai tidak bisa ia kendalikan.
NB seperti biasa,, jangan lupa tinggalin jejak ya... terima kasih telah berkunjung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar