/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 08 Oktober 2013

The Lost Crown Part 2

Amelia mencoba menjauh dari mobil tersebut, namun beberapa orang mulai mencekalnya dengan kuat membuat amelia mulai merasa ketakutan, ia menatap panik pada beberapa orang yang memakai setelan, lalu pandangannya teralihkan kepada lelaki yang tertidur di jok mobil belakang dan mulai membuka matanya, sedikit mengernyit karena istirahatnya terusik, pandangan mereka bertemu, amelia melihat kilat keterkejutan dalam mata lelaki itu dan menatap ke arahnya dengan pandangan yang tidak bisa ia artikan.

&&&

Danny membuka matanya pelan dan  mengernyit ketika mendengar teriakan raymond, lalu menatap ke arah depan, matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya.
Mikayla!
Danny terus menatap mikayla yang sedang memberontak dalam cekalan raymond dan beberapa anak buahnya yang lain. Ia terus memandang mikayla dengan tatapan yang bercampur aduk, senang, terkejut dan tidak percaya pada pandangannya.

“presdir, wanita ini mencoba mendekati anda, ia ingin mencelakakan anda presdir” ujaran raymond membuat pandangan danny teralihkan, dan ketika menatap kembali ke arah mikayla, ia melihat seorang gadis yang ketakutan, mencoba melepaskan dirinya dari cekalan raymond.
“tidak, aku tidak berniat jahat, aku hanya ingin melihatnya saja” sahut amelia dengan suara bergetar.
“aku tidak akan mempercayaimu, alasanmu tidak masuk akal” kata raymond sambil tetap mencekal tangan amelia ke belakang.
“lepaskan dia” nada memerintah yang sangat kental berasal dari bibir danny.
Mendengar perintah tegas dari presiden direkturnya, raymond langsung melepaskan cekalannya pada amelia namun tetap waspada pada gadis itu.
Danny turun dari mobil, mengancingkan jasnya dan menatap ke arah amelia dengan pandangan dingin, dalam hati ia merasa sangat kecewa karena gadis itu bukan mikayla, namun beberapa detik kemudian ia mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri, mengapa ketika melihat gadis itu ia seperti melihat mikayla, ia sendiri tidak bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Mungkin ia sedang memikirkan mikayla sehingga menyangka bahwa gadis itu adalah mikayla, ya, pasti begitu, pikir danny.
Danny sedikit melangkah menatap amelia dari jarak yang lebih dekat, ia melihat amelia lalu tersenyum tipis, senyuman yang tanpa ia sadari berasal dari dalam hatinya.
“siapa namamu?” tanya danny dengan suara rendah yang dalam.
Amelia menelan ludahnya dengan susah payah, “amelia cornelius” sahutnya pelan.

&&&

Danny menatap ke depan dengan pandangan lurus, ia menatap ke arah jalan raya di depannya tanpa benar-benar memandang sesuatu. Ia kembali memikirkan amelia, sang gadis yang ia temui di depan pabrik. Keningnya berkerut memikirkan ia baru saja melepaskan seorang wanita yang tidak jelas berasal dari mana, apa motifnya ketika ingin mencelakainya, walaupun amelia berkata ia tidak bermaksud demikian namun danny orang yang penuh dengan waspada jadi ia mengambil kesimpulan yang sama dengan raymond. Namun sekarang ia begitu saja melepaskan amelia dan bahkan ia memberi kartu namanya kepada gadis itu untuk menghubungi jika membutuhkan pekerjaan atau sesuatu hal lainnya.
Danny menatap ke samping kaca jendela untuk menyengah bayangan amelia yang terus berputar-putar di pikirannya.

&&&

Amelia menatap kartu nama danny di tangannya dengan pandangan tidak percaya, akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang ia rasa pantas untuknya dan juga mendapatkan bayaran yang cukup tinggi. Namun beberapa detik kemudian, ia mengerutkan dahinya ketika teringat pada larangan ibunya. Tentu saja ibunya tidak akan memberikan izin kepadanya. Amelia menghela napas, di masukkan kartu nama tersebut di saku celana panjangnya dan memutar handle pintu.
“kau sudah pulang mel? Bagaimana ada pekerjaan yang kau dapatkan?” tanya alina ketika melihat amelia melangkah ke dapur dan tersenyum padanya.
Amelia tertegun sejenak lalu buru-buru memasang wajah biasa kembali, “sudah ibu, aku sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi aku harus menginap selama beberapa hari untuk itu” sahut amelia berusaha terdengar biasa dan ceria.
Alina hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan masaknya dengan perhatian penuh, amelia menghela napas pelan dan segera meninggalkan dapur, tidak ingin ibunya kembali menanyakan tentang apapun padanya.
Dihempas tubuhnya ke atas tempat tidur single, ia menatap langit-langit kamar yang berwarna krem lembut dengan pandangan menerawang, ia memikirkan laki-laki bernama danny yang temui di depan pabrik tambang. Ia mengeryit samar, entah perasaannya atau ia memang pernah bertemu dengan danny sebelumnya? Entahlah, yang jelas ketika melihat danny, amelia langsung merasa familiar, hatinya yang merasakan seperti itu.
Lelah dengan pikiran dan fisiknya, amelia memilih untuk memenjamkan matanya dengan perlahan, berusaha menembus alam mimpi.

&&&

                Amelia menimbang-nimbang ponsel di tangannya sambil menatap kartu nama danny, ia masih ragu untuk menerima tawaran danny, jelas ia memikirkan ibunya, apakah ibunya akan marah jika ia pergi ke kota? Jawabannya tentu saja. Amelia menghela napas seraya memikirkan kembali dari awal dan segala kemungkinan yang akan terjadi.
                Amelia mengambil napas pelan dan mulai menekan nomor kontak yang ada di kartu nama tersebut, terdengar nada sambung yang monoton dari balik telepon.
“halo” suara rendah dan dalam milik danny.
“selamat malam pak, maafkan saya mengganggu waktu luang anda, saya menerima tawaran pekerjaan dari anda” ujar amelia dengan ragu.
Tanpa sadar danny menyungging senyum tipis. “baiklah, besok saya akan menyuruh anak buah saya untuk menjemputmu, dimana anak buahku harus menjemputmu?” tanya danny tenang.
“bisakah saya di jemput di depan pabrik yang waktu itu kita pernah bertemu? Saya akan menunggu disana” sela amelia dengan cepat.
“baiklah”, setelah itu terdengar nada putus dari telepon amelia, gadis itu mengernyit pelan ke arah ponsel lalu mengangkat bahunya acuh.

&&&

Danny menyesap champagne dari gelasnya dengan pelan, ia berada di ruang pribadinya, duduk di kursi balkon yang menghadap ke kolam renang. Baru saja ia mendapat telepon dari amelia yang mengatakan bahwa gadis itu menerima tawarannya.
Danny mengernyit pelan, mengapa ia merasa senang setelah mendapatkan telepon dari amelia?, ini baru pertama kalinya selama lima tahun setelah menghilang mikayla ia dapat sedikit -hanya sangat sedikit- menikmati hidupnya di dunia. Danny tertegun, apa tempat mikayla mulai tergantikan? Atau..., tidak, tidak mungkin, bantah danny dalam hati. ia masih mencintai mikayla dengan sepenuh hatinya, tidak akan ada wanita lainnya yang akan masuk ke dalam hidupnya, tidak akan ia biarkan. Danny kembali menyesap champagne sambil menatap lurus ke depan.

&&&

Amelia melirik jam  tangannya dengan sedikit gelisah, sudah lima belas menit ia menunggu di depan pabrik tambang, namun belum ada mobil yang menjemputnya, apakah danny lupa? Atau..., suara klakson mobil memotong pikiran amelia.
Raymond turun dari mobil dan tersenyum tipis kepada amelia, seraya mengulurkan tangannya ke depan.
“apa kabar? Kita belum berkenalan dengan baik, namaku raymond” ujar raymond sambil tersenyum.
Amelia membalas jabat tangan raymond juga dengan senyuman, “amelia cornelius” katanya singkat.
Raymond mempersilahkan amelia masuk ke mobil, kemudian mobil melaju dengan mulus. Raymond melirik ke arah kaca spion tengah dan melihat amelia yang sedang duduk gelisah di jok belakang. Raymond mengangkat alisnya samar sembari terus mencoba fokus ke arah  jalan raya.
Tangan amelia mulai gemetar, melihat jalan semakin menuju tempat kecelakaannya dulu, ia menggigit bibirnya pelan sambil terus menenangkan jantungnya yang berdetak keras, mobil terus melaju ke arah tempat itu membuat amelia menjadi pucat pasi, Keringat dingin muncul di dahinya menunjukkan betapa  besar ketakutannya sekarang, tiba-tiba mobil berhenti dan raymond turun dari bangku kemudi menuju jok belakang.
“kau tidak apa-apa?” tanya raymond dengan cemas.
Amelia menggelengkan kepalanya, “bisakah kita meninggalkan tempat ini? aku mohon” kata amelia lirih.
Raymond segera melaju mobil dengan kecepatan tinggi, dalam hati ia ingin sekali menanyakan mengapa amelia pucat pasi ketika berada di tempat tadi? Mengapa gadis itu tampak seperti ketakutan pada tempat itu? berbagai pertanyaan memenuhi benak raymond.

&&&

                Emely mengernyit dari balkon kamarnya melihat seorang gadis turun dari mobil danny yang dikemudikan raymond, ia terus menatap gadis itu sambil menghilang di balik teras rumah, siapa wanita itu? mengapa ia bisa naik mobil danny?, berbagai pertanyaan memenuhi benak emely. Penasaran, emely bangkit dari kursi kayunya melangkah keluar kamar.
                Ketika emely membuka pintu kamarnya, pemandangan pertama yang tangkapnya adalah gadis yang ia lihat di halaman mansion masuk ke ruang pribadi danny yang dipersilahkan oleh raymond, kerutan kening emely semakin berlipat, ia tau bahwa danny tidak akan membiarkan siapapun bahkan dirinya memasuki ruang pribadinya, namun mengapa gadis itu bisa masuk dengan mudah? Apakah danny yang menyuruhnya masuk? Tapi bagaimana bisa, tidak. Tidak mungkin danny membiarkan gadis asing itu masuk begitu saja, pasti ada kesalahan. Benak emely membantah pikiran-pikiran yang mulai menyesakkan dadanya.
                Emely berjalan ke bar kecil yang berada di sudut dapur mansion untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut, langkahnya sangat pelan, seakan terdapat beban berat di kakinya.

&&&

                Begitu mendengar ketukan dari raymond, danny segera menyuruh amelia masuk, ia berdiri menghadap jendela kaca dan menatap keluar tanpa benar-benar memandang sesuatu. Terdengar suara pintu tertutup dan suara langkah yang sedikit mendekatinya. Danny berputar menghadap amelia dan menatap gadis itu dengan wajah dingin, sang gadis yang ditatap menyelipkan rambutnya di balik telinga seraya menatap ke bawah sekilas, danny tau bahwa gadis itu risih dengan tatapannya, namun ia tidak peduli.
“pekerjaan apa yang akan bapak berikan kepada saya?” tanya amelia membuka pembicaraan.
“kau akan menjadi pelayan pribadiku, dari pendidikanmu aku tidak bisa memberikan pekerjaan yang lebih tinggi dari itu, aku harap kau mengerti” kata danny pelan.
Amelia menatapnya sekilas dan kembali menatap ke lantai dengan kepala yang tidak menunduk, gadis itu tidak berani menatapnya? Sepertinya gadis yang polos?, nilai danny dalam hati.
Amelia mengangguk kepala dan mencoba menatap danny yang menatap intens kepadanya. “terima kasih pak, saya berusaha melayani bapak sebaik mungkin” kata amelia dengan santun sambil membungkukkan badannya sekilas.
“tentu saja” sahut danny dengan nada geli, kata ‘melayani’ yang terucap dari mulut amelia membuatnya memikirkan hal intim, amelia benar-benar gadis yang polos, bahkan ia tidak menyadari raut wajah danny yang sedang menahan senyum geli kepadanya.
“baiklah, kau boleh keluar. Raymond akan menjelaskan apa-apa saja yang perlu kau kerjakan” ujar danny memberi perintah lalu membalikkan badannya ke arah jendela dan tersenyum tipis.
Amelia membungkukkan badannya ke arah danny, walaupun laki-laki itu tidak melihat penghormatannya, lalu langkah mendekati pintu dan keluar.
Suara pintu tertutup kembali menggema di ruangan pribadinya yang berukuran luas untuk sebuah ruangan namun danny tetap tidak memperdulikan suara tersebut, matanya kembali menatap keluar jendela.

&&&

                Setelah menutup pintu amelia menghela napas, ia sedikit kecewa pada pekerjaan yang diberikan oleh danny, namun mengingat jenjang pendidikannya yang hanya sampai sekolah menengah atas membuatnya mengerti, bahwa pekerjaannya sebagai pelayan pribadi danny sudah cukup lumayan untuk dirinya, ia menatap koridor mansion dengan pandangan kagum, mulai dari lantai sampai dengan pilar dan pembatas koridor terbuat dari marmer yang terlihat berkilauan dan menawan. Amelia melangkah menyusuri koridor lantai dua dengan langkah pelan, ia mencari raymond untuk menunjukkan dimana kamarnya dan apa-apa saja pekerjaannya di rumah yang sebesar ini.
                Amelia melihat raymond yang melangkah menaiki tangga dan tersenyum tipis kepadanya, hanya raymond yang ramah padanya, sepertinya hanya laki-laki itu. amelia menuruni tangga menyusul raymond yang kembali turun dan melangkah melewati ruang tamu, ruang tengah kemudian masuk ke dapur dan berbelok ke kiri dan berhenti pada sebuah pintu kamar.
                Amelia terus berjalan di belakang raymond sambil mengingat ruangan-ruangan yang telah  ia lewati, astaga, rumah ini benar-benar sangat luas, ia bahkan berhenti sebanyak tiga kali untuk mengingat jalan yang telah ia telusuri tadi. Raymond menatapnya dan mempersilahkan amelia untuk masuk ke kamarnya.
                “ini kamarmu dan ini berkas berisi penjelasan apapun mengenai tuan danny emmanuelle, apa yang ia sukai dan apa yang tidak disukainya, semuanya ada dalam berkas itu, kau harus membacanya dengan teliti” kata raymond sambil menyodorkan beberapa lembaran kertas kepadanya.
amelia mengambil lembaran-lembaran tersebut dan mengangguk kepada raymond, meyakinkan laki-laki itu bahwa ia akan membaca setiap kata yang ada di dalam lembaran itu.
raymond tersenyum tipis, “semoga kau betah disini, permisi” kata raymond mohon diri lalu keluar dari kamarnya.
amelia menatap sekeliling kamar lalu tersenyum, kamar yang cukup luas untuk seorang pembantu, benak amelia. Pelayan pribadi juga dalam kategori pembantu bukan?, di dalam ruangan terdapat sebuah lemari dua pintu yang terletak disamping pintu dan sebuah tempat tidur single yang sebenarnya bisa dipakai untuk dua orang, lalu sebuah meja rias yang menyatu dengan cermin dan sebuah kursi.
Amelia melangkah ke kamar mandi, kamar mandi tersebut sangat bersih dan cukup luas bahkan ada bathup di dalamnya, sedikit berlebihan untuk profesinya.
Amelia membuka lemari dan mulai menyusun pakaian-pakaian yang dibawanya dari pedesaan, tidak banyak namun cukup untuk amelia.
Lima belas menit berlalu, amelia sudah menyelesaikan pakaian dan membersihkan tubuhnya, tatapannya menangkap beberapa lembaran yang terletak di atas meja.
Lembar pertama tentang apa yang harus ia lakukan, hanya tiga poin, membersihkan ruang pribadi dan ruang kerja danny, membuatkan kopi setiap pagi dan malam dan poin terakhir harus mengikuti perintah apapun yang diperintahkan danny. Amelia tersenyum membaca poin terakhir, tanpa tertulis di lembar tersebut ia akan mengikuti apapun yang dikatakan oleh majikannya, memang itu bukan yang harus dilakukan oleh setiap pelayan? Mengikuti semua perintah majikan?.
Mata amelia beralih ke lembar kedua yang berisi tentang larangan, amelia sedikit mengernyit keningnya ketika membaca lembar tersebut, banyak sekali poin-poin yang harus ia hindari, jangan menyela majikannya, tidak boleh mengikuti perintah apapun selain majikannya, tidak boleh memindahkan apapun yang ada diruang pribadi dan ruang kerja majikannya dan berbagai larangan lainnya yang harus amelia patuhi.
Setelah beberapa menit membaca lembar kedua, amelia beralih ke lembar ketiga, hanya satu poin, jangan memanggil majikannya dengan bapak tetapi harus tuan.
Amelia tersenyum, ia memanggil danny dengan sebutan bapak, mungkin danny berpikir bahwa panggilannya pada danny membuat laki-laki itu terasa tua. Amelia mengangguk seraya mengingat semua hal yang tertulis di tiga lembar tersebut.

&&&

                Amelia menatap beberapa pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi, ia berdiri di sudut dapur, kedua tangannya saling menggenggam pelan, ia sungguh bingung dengan apa yang harus ia lakukan, pelayan-pelayan itu juga tidak berkata apa-apa hanya sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang makan utama, sebenarnya ia hanya perlu membuatkan kopi pagi untuk danny namun ia tidak tau bagaimana menggunakan mesin kopi yang terdapat di meja dapur, di rumah ia hanya menggunakan kopi yang sudah dibubukkan sehingga tidak perlu untuk di giling lagi.
“raymond” panggil amelia dengan suara yang sedikit ia tinggikan. Raymond melihatnya dan menghampiri amelia. “ada apa?” tanya raymond sambil mengernyit samar.
“apa yang harus aku lakukan?” tanya amelia pelan.
“bukankah sudah dijelaskan di berkas yang aku berikan kemarin?” raymond berbalik tanya. Amelia mengangguk membenarkan.
“tapi aku tidak tau cara menggunakan mesin itu?” sahut amelia sambil menunjukkan ke arah mesin penggiling kopi.
Raymond tersenyum lalu menghampiri mesin penggiling kopi, amelia menyusul raymond dengan cepat dan mendengar bagaiman cara kerja mesin tersebut.
“kau mengerti?” tanya raymond memastikan bahwa penjelasan sudah cukup baik untuk amelia.
Amelia mengangguk dan berterima kasih kepada raymond, lalu ia melangkah mengambil cangkir kopi keramik putih yang bermotif daun maple, dan mulai membuatkan kopi untuk danny.
Amelia membawa nampan yang berisi secangkir kopi ke ruang makan utama, amelia kembali terkagum pada ruang makan utama yang ia masuki, ia tersenyum pada seorang wanita yang sangat cantik yang duduk di samping kursi danny, amelia langsung beranggapan bahwa wanita itu adalah emely-istri danny.
Amelia meletakkan cangkir kopi di atas meja, lalu membungkuk sekilas pada wanita di depannya dan berjalan kembali ke dapur.
“buatkan juga untukku” kata emely tanpa menatap amelia.
Amelia tersenyum tipis lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi lagi untuk emely, walaupun ia tau bahwa ia tidak  boleh mengikuti perintah siapapun selain danny, namun apa yang bisa ia katakan? Ia hanya pelayan, lagi pula tidak berat, hanya membuatkan secangkir kopi.

&&&

                Emely tersenyum sinis ke arah punggung amelia yang berjalan ke arah dapur, ia terus menatap sinis pada amelia sampai gadis itu menghilang di balik dinding dapur.
Aku akan membuatmu tidak betah berada disini, guman emely dalam hati. ia menyeringai samar.
                Semenit penuh kemudian emely melihat amelia berjalan kembali ke arahnya lalu meletakkan cangkir kopi pesanannya di atas meja, tepat di depanya, dengan sengaja emely menyenggol kasar cangkir kopi yang ada ditangan amelia.
                Amelia mengerang menahan rasa panas yang mengenai pergelangan tangannya, tangan kirinya langsung membekap tangannya kanan sambil meringis.
“apa yang kau lakukan? Mengapa meletakkan cangkir kopi saja tidak bisa kau lakukan?” seru emely dengan suara tinggi.
Amelia membungkuk badannya meminta maaf sambi meringis menahan sakit dipergelangan tangannya yang mulai merah melepuh.
“apa yang kau lakukan emely? Dia pelayan pribadiku jadi kau tidak berhak membentaknya” seru danny yang sedang berjalan menghampiri amelia.
Emely tersentak mendengar suara danny di belakangnya dan langsung menoleh ke arah danny yang sedang berjalan ke arahnya, emely hanya diam. Ia takut berkomentar jika danny sudah berbicara dengan nada dingin meninggi kepadanya.
Danny langsung menarik tangan kiri amelia dan berjalan meninggalkan ruang makan utama, meninggalkan emely yang terpaku pada perlakuan suaminya, danny bahkan lebih membela gadis miskin itu daripada dirinya, emely mengepal tangannya menahan amarah pada amelia.
Danny terus melangkah menuju ruang tengah, tidak memperdulikan tatapan kakek dan ibunya yang dilewatinya, lalu masuk ke ruang pribadinya.

&&&

                Danny langsung mengompres pergelangan tangan amelia dengan es yang diberikan raymond, ia melihat amelia menggigit bibirnya menahan rasa sakit, danny terus mengompres lalu memberikan obat salap di pergelangan tangan amelia dengan hati-hati dan penuh kelembutan.
                Ingin rasanya amelia menarik tangannya dan mengatakan bahwa ia bisa mengobati tangannya sendiri, namun ketika melihat rahang danny yang mengeras seperti menahan marah, amelia hanya diam sambil menatap danny dengan pandangan bersalah, gara-gara dirinya danny bertengkar dengan istrinya.
“kata-kata ‘jangan ikuti perintah siapapun kecuali aku’ yang mana yang tidak kau mengerti?” tanya danny dengan suara rendah.
Amelia menelan ludahnya dengan susah payah, nada dingin dan tatapan intimidasi itu membuatnya takut. “maaf tuan, istri tuan juga majikan saya, jadi...”
“jangan pernah mengikuti perintah selain dariku lagi, kau mengerti?” ujar danny dengan tegas.
Amelia mengangguk cepat.
“kau boleh pergi”
                Mendengar nada perintah, amelia langsung mohon diri, membungkuk badannya ke arah danny lalu melangkah keluar, namun ketika tangannya sudah memegang gagang pintu, amelia kembali berputar ke arah danny yang langsung bertemu pandang dengan mata hitam kelam milik danny
“terima kasih tuan” ucap amelia tulus sambil tersenyum sopan ke arah danny lalu melangkah keluar ruangan.
                Desiran halus mengetuk hati danny, jantungnya mulai berpacu, berdetak diluar yang seharusnya. ia tidak tau apakah karena kata terima kasih dari amelia atau karena senyuman gadis itu yang membuatnya seperti ini. namun yang jelas ini pertama kalinya setelah lima tahun jantungnya kembali berdetak kencang, namun kali ini bukan untuk mikayla tetapi untuk amelia. Danny mengernyit dan menepis perasaannya yang mulai tidak bisa ia kendalikan.


NB seperti biasa,, jangan lupa tinggalin jejak ya... terima kasih telah berkunjung.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar