pernikahan segera
dirancang, rama mengundang wedding planner dan desainer ternama baju pengantin
untuk membuat acara sakral itu menjadi sempurna.
Orangtua
alyssa terkejut ketika mendengar alyssa ingin menikah. Anak manja mereka
benar-benar sudah dewasa. Mereka pun merestui alyssa dan rama. mama alyssa
mulai percaya kepada rama, ketika melihat lelaki itu bersungguh-sungguh ingin
menjaga alyssa dengan baik.
Bel
interkom berbunyi ketika alyssa sedang membahas tema pernikahannya bersama
rama. alyssa beranjak membukakan pintu dan kembali bersama ryan patterson.
Rama
mendongak melihat siapa yang berkunjung dan terkejut melihat ryan di
apartemennya. Alyssa langsung memperkenalkan rama dengan ryan.
“senang bertemu
denganmu” ujar ryan sambil tersenyum misterius.
Rama
hanya tersenyum tipis, senyumannya tidak sampai ke mata. Kemudian
mempersilahkan ryan duduk. Alyssa melangkah ke dapur untuk menyiapkan minuman
dan beberapa cemilan.
“mau
apa kau kemari?” rama hampir tidak menggerakkan bibirnya. Nada desisan
terdengar mengerikan ketika rama mengucapkannya. Ryan hanya tersenyum sinis,
sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan rama.
“tentu
saja mengambil orderku”. Jawaban ryan langsung membangkitkan amarah yang
ditahan kuat oleh rama.
Rama
langsung menarik kerah baju ryan dengan kuat, menghujaninya dengan tatapan
dingin.
“berani
kau menyentuhnya, akan kubuat kau menyesal hidup di dunia ini” rama mengancam
dengan suara desisan. Kemudian melepaskan kerah baju ryan. Di saat itulah
alyssa kembali dengan membawa nampan dan sedikit heran dengan suasana yang
mendadak dingin.
Melihat
alyssa ryan kembali tersenyum manis. Sepanjang alyssa berbicara kepada ryan,
rama hanya terdiam seraya memandang dingin ke arah ryan yang sedang tersenyum
manis.
Beberapa
saat ryan pun berpamitan kepada alyssa, sedikit melirik ke arah rama.
mengucapkan selamat kepada mereka dan menghilang di balik pintu. Begitu
berbalik alyssa langsung menatap mata dingin rama.
“aku
minta, kau jauhi dia” ujar rama pelan. Tangannya terkepal menahan amarah yang
meluap-luap.
“kenapa
rama? aku tidak mengerti” ucap alyssa dengan kening yang berkerut.
“dia
bukan orang yang baik”. Rama menghela napas panjang.
“menurutku ryan orang
yang baik, menye...”
“kalau
kubilang jauhi dia, maka kau harus menjauhinya. Kau mengerti”. Rama berkata
dengan suara tinggi membuat alyssa beringsut mundur ketakutan.
Rama
masuk ke kamar tidur seraya membanting pintunya dengan kuat. Alyssa kembali
tersentak kaget. Kenapa rama berubah seperti itu? Sosok yang tidak pernah
dikenal alyssa.
Tanpa
sadar, airmata alyssa mengalir keluar. Perasaannya bercampur aduk, bingung,
ketakutan dan juga marah pada rama yang membentaknya tanpa sebab.
Alyssa masuk ke kamar,
berbaring miring dan mulai terisak pelan.
@@@
Rama
menyesali perbuatannya, membentak alyssa tidak membuahkan hasil apapun, malahan
akan membuat semua menjadi lebih kacau. Entah apa yang dipikirkan rama.
Rama
keluar kamar ketika hari mulai menjelang malam, memandangi sekeliling ruangan
yang kosong, kemudian melangkah menuju dapur yang juga tidak ada orang. Rama
menghela napas. Gadis itu pasti ketakutan sekarang kepadanya?
Rama
melangkah ke kamar alyssa, mengetuk pelan pintu dan berinisiatif untuk
membukanya. Pintu kamar alyssa tidak terkunci. Masuk dan menatap alyssa yang
sedang berbaring miring menghadap jendela.
Rama
mengusap lembut rambut alyssa dan tersenyum perih ketika melihat bekas airmata
alyssa yang mengering dipipinya.
“maafkan aku” ujar
rama perih
Rama
membetulkan tidur alyssa, menyelimutinya dan mengecup dahi alyssa kemudian
melangkah keluar kamar.
@@@
Mata
alyssa mengernyit ketika cahaya matahari pagi menerobos jendela, beringsut ke
ujung tempat tidur dan menatap dirinya di cermin hias. Penampilannya
berantakan, mata yang sembab dan rambut yang acak-acakan.
Ketika
melangkah keluar kamar, alyssa menatap rama yang sedang berjalan ke arahnya
seraya membawa nampan berisi sarapan.
“kau
sudah bangun, aku membawa sarapan untukmu, makanlah” ujar rama sambil membawa
nampan ke ruang tamu.
Walaupun
masih kesal pada rama, alyssa tetap mengikuti rama ke ruang tamu, duduk diam
seraya menatap rama.
Rama menghela napas.
“aku
kenal ryan sebelumnya. Dia sepertiku, pembunuh bayaran. Makanya aku menyuruhmu
menjauhinya” jelas rama dengan suara pelan
Alyssa
tersentak. Ryan pembunuh bayaran. Kenyataan tersebut membuat tubuh alyssa
gemetar.
“
dia hanya mengincarku, jadi kau tidak usah cemas”. Rama menggenggam jemari
alyssa seraya meremasnya lembut.
Alyssa menggelengkan
kepala
“justru
aku takut karena dia mengincarmu. Bagaimana jika sesuatu terjadi kepadamu rama.
aku .. aku tidak membayangkannya. Aku...” jemari alyssa mulai gemetar.
“ssstt,
kau tidak usah cemas. Aku dulu juga sama sepertinya. Jadi aku punya pertahanan
kuat, semua baik-baik saja”. Rama merengkuh alyssa ke pelukannya, menenangkan
gadis yang dicintai itu dengan mengusap pelan punggung alyssa.
Sejak
tau bahwa ryan seorang pembunuh bayaran. Alyssa benar-benar menjauhi ryan. Panggilan
dan kedatangan ryan diabaikan oleh alyssa. gadis itu sungguh takut jika ia
dijadikan umpan untuk mencelakai rama, yang alyssa tau ia tidak akan membiarkan
siapapun melukai kekasihnya, walaupun dalam hati ia begitu ketakutan.
Hari
ini mereka- rama dan alyssa- pergi ke salah satu hotel yang rama reservasi
untuk pernikahannya bersama alyssa. begitu sampai ditempat mereka disambut
dengan hangat oleh pemilik hotel dan mengatakan bahwa sang wedding planner
sudah terlebih dahulu datang dan menunggu mereka.
Rama
menggenggam jemari alyssa memasuki tempat mereka berlangsungkan pernikahannya
nanti. Alyssa sedang mengamati ke sekeliling ruangan, sesekali berkomentar atau
menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan acara yang diadakan.
Mereka
memutuskan untuk menikah pada awal bulan september tepatnya di hari ulang tahun
alyssa, jadi akan ada dua kebahagian sekaligus. 2 bulan lagi mereka akan
menjadi pasangan suam istri.
Selama
di hotel tersebut, rama mencoba beberapa minuman yang nantinya akan dihidangkan
dalam acara, dan berkomentar tentang beberapa hal kepada wedding planner untuk
mengubah tatanan interior pesta.
Setelah
beberapa lama mereka mengurus reservasi tempat. Dengan lelah rama dan alyssa
pulang dan singgah di restoran sederhana untuk mengganjal perut mereka.
@@@
Hari
minggu, biasanya orang-orang akan menghabiskan waktu mereka seharian di rumah,
sekedar berkumpul dengan keluarga tercinta atau istirahat melepaskan penat dari
kerjaan dan kembali mengumpulkan tenaga dan semangat untuk menanti hari senin.
Begitu
juga dengan rama, ia berada seharian dengan alyssa. membantu gadis itu
mengerjakan pekerjaan rumah atau iseng-iseng mengerjai sang kekasih yang
akhirnya merajuk. Begitu bahagia hari-hari yang di lalui oleh rama, itu semua karena
alyssa.
“kau sedang apa?”.
Suara rama membuat alyssa terkejut.
“rama.. berhenti
mengejutkanku sayang” ujar alyssa merengek.
Rama
memeluk alyssa dari belakang seraya meletakkan dagunya di bahu alyssa dan
tersenyum.
“aku tidak
mengejutkanmu” hanya itu respon dari rama.
“apa
kau lapar? Sebentar lagi masakannya akan matang” ujar alyssa sambil menoleh ke
samping, kepada rama.
Rama
mengecup lembut bahu alyssa dan menggangguk lemah dan mempererat pelukannya
pada tubuh alyssa.
“beberapa
hari ini ryan terus menerus menelponku sayang”. Kata-kata alyssa membuat rama
mendongak cepat.
“apa yang kau katakan padanya?” tanya rama cepat
“aku
bahkan tidak mengangkatnya”. Alyssa menganggak bahunya dengan acuh.
Rama
menghela napas tenang, hanya sesaat karena keningnya mulai berkerut memikirkan
alasan ryan yang masih ingin bertemu dengan alyssa. jelas-jelas ia yakin ryan
sudah mengetahui bahwa alyssa sudah mengenalnya dengan baik.
Ketika
memikirkan semua kemungkinan, deringan telepon membuyarkan pikiran rama. lelaki
itu melepaskan pelukannya pada sang kekasih kemudian beranjak menuju ruang tamu
kemudian mengangkat telepon.
“ethan” , suara
christy terdengar cemas.
“ada
apa?” tanya rama heran, tidak biasanya christy menelpon malam-malam.
“sepertinya
kau harus ke sini, mereka membunuh darlan dan meninggalkan surat peringatan”.
Ujaran christy membuat rama terkejut.
“ada apa sayang?”
tanya alyssa heran
“aku
harus pergi, ada urusan mendadak” ujar rama sambil mengecup dahi alyssa sekilas
kemudian menyambar jaketnya dan melangkah ke arah pintu.
Ketika
berada dipintu apartemen, rama membalikkan tubuhnya menatap alyssa yang
tersenyum padanya. Gadis itu sangat pengertian, tidak menanyakan apapun bahkan
tidak marah karena makan malam mereka tertunda.
“aku
sudah menempatkan anak buahku di sini. Hanya untuk menghindari dari kejadian
yang tidak diinginkan, jangan membukakan pintu dari siapapun. Kau mengerti”
ucap rama sambil menatap alyssa
Alyssa
mengganggukkan kepala lalu melangkah mendekati rama dan memeluk rama.
“hati-hati”.
Kata-kata alyssa membuat hati rama tenang. Rama mengangguk dan melangkah keluar
apartemen.
@@@
Alyssa
sangat merasa khawatir ketika melihat perubahan pada wajah rama. lelaki itu
kembali memasang dingin. Apakah sesuatu telah terjadi?
Alyssa
duduk sambil menonton tv, makanan yang sudah siap ia hidangkan diacuhkannya.
Selera makan alyssa menguap begitu saja.
Sesekali
mengganti channel tv dan menghela napas. Perasaannya sangat tidak enak.
Walaupun sudah berkali-kali dia menenangkan diri tapi perasaannya tetap tidak
berubah.
Diliriknya
jam dinding, sudah pukul setengah sembilan. Akhirnya alyssa memutuskan ke
balkon kamarnya untuk menenangkan pikirannya yang mulai berpikir yang
tidak-tidak.
Ketika
hendak beranjak, bel interkom berbunyi. Kening alyssa berkerut, siapa yang bertamu
malam-malam. Alyssa hanya melihat siapa yang datang dari layar interkomnya.
Seorang wanita.
Alyssa
masih ragu akan keputusannya, rama melarangnya membukakan pintu apartemen untuk
siapapun.
“maaf,
ada orangkah di dalam, saya hanya ingin mengabarkan jika amanda brown dan joey
brown kecelakaan pesawat dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit” ujar
wanita itu menghadap audio interkom.
Alyssa
tersentak dan segera membukakan pintu apartemen, wanita itu tersenyum yang
pandangan penuh arti. Alyssa mengikuti wanita itu menuju lift apartemen dan
terkejut melihat dua orang lelaki terbaring kaku di lorong apartemen dan ketika
melihat ke arah wanita itu, sebuah jarum ditusukkan ke leher alyssa dari
belakang membuat pandangan alyssa menggelap.
@@@
Rama
langsung menuju tempat yang disebutkan chisty dan menemukan darlan terbaring
kaku dengan mata yang melotot, sepertinya pria itu dibunuh dengan cara
menyuntikkan racun ke leher.
Christy
menyerahkan sepucuk surat yang ia temukan di dekat mayat darlan, membacanya perlahan
dan rama tersentak. Jantung rama berdegup kencang, mengambil telepon genggamnya
dan mulai menghubungi alyssa.
Tangan
kanan rama yang menganggur terkepal kuat sampai bergetar pelan. Deringan demi
deringan terus terdengar tetapi tidak ada tanda-tanda telepon tersebut akan di
angkat.
Tanpa
kata rama langsung memacu mobil dengan kecepatan maksimum. Alyssa. gadis itu
dalam bahaya. Betapa bodohnya ia begitu saja meninggalkan alyssa.
Sepanjang
perjalanan rama mencoba menelpon anak buahnya yang ia tugaskan untuk menjaga
alyssa. tidak dijawab, membuat pikiran dipenuhi dengan amarah.
Rama
memandang tidak percaya, di depannya terdapat dua orang anak buahnya sudah
terbujur kaku, seorang wanita yang sedang keluar lift sontak berteriak melihat
dua orang mayat di apartemennya.
Pikiran
rama langsung menuju alyssa, rama memasuki apartemennya dengan berlari dan
mencari alyssa di seluruh penjuru ruangan. Alyssa tidak ada membuat napas rama
menjadi sesak.
Tangan
rama yang terkepal kuat memukul dinding ruang tamu berkali-kali, mengutuki
kebodohannya, dadanya naik turun menahan amarah.
Rama
bersumpah akan membunuh siapa pun yang menyentuh alyssa.
Siapapun!
Diraihnya telepon
genggamnya dan menelpon david.
“ada apa rama?” tanya
david pada deringan ketiga
“aku butuh bantuanmu,
aku mohon” ucap rama lirih
@@@
Alyssa
membuka matanya berlahan-lahan, menyesuaikan kornea matanya dengan cahaya,
sebuah ruangan kosong. Alyssa langsung tersentak ketika tangan dan kaki diikat.
Kejadian
semalam terjadi begitu cepat, alyssa pingsan tanpa tau siapa yang menyuntik
obat bius ke lehernya.
Mata alyssa bergerak
gelisah, ia benar-benar takut.
Sekelabat
ingatan memenuhi pikiran alyssa, samar-samar alyssa mengingat jika ia pernah
disekap seperti ini. rasa sakit menyergap alyssa ketika mencoba keras untuk
mengingat hal lainnya.
Pintu
terbuka membuat mata alyssa menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya yang
tersenyum padanya.
Laki-laki
itu!
“sepertinya
kau sudah mengingatku”ujar pria itu dengan suara penuh wibawa.
“siapa
kau sebenarnya?”, meskipun takut alyssa tetap menatap pria dihadapannya.
“ah,
ia. Rasanya tidak sopan kalau kita belum berkenalan, namaku robert, robert
patterson. Kau sudah berkenalan dengan anakku bukan?” tanya robert sambil
tersenyum penuh wibawa.
Tangannya
alyssa yang diikat kebelakang bergetar ketakutan menatap mata robert. Mata itu
penuh dengan aura intimidasi.
“sangat disayangkan,
kau lolos waktu itu” ujar robert kembali
Robert
duduk dengan tenang disebuah kursi di depan alyssa dan menyalakan cerutunya
kemudian kembali menatap alyssa.
“apa ingatanmu sudah
kembali?” tanya robert
Alyssa hanya diam.
“kekasihmu
begitu bodoh, dengan mudah masuk ke jebakanku”. Ucap robert sambil
menggelengkan kepala dengan raut muka kasihan dan tertawa pelan.
“apa kau tau masa lalu
kekasihmu?” tanya robert
Alyssa hanya diam. Ia
sangat ketakutan.
“sepertinya
kau tau” ucap robert ketika tidak melihat adanya reaksi apapun.
“kekasihmu
seorang pembunuh bayaran yang sangat dingin, bahkan ketika aku menawarkan order
untuk membunuhmu dengan tenang ia menerimanya, penculikan yang kau alami
sebelum kecelakaan adalah hasil kerja kekasih, ethan hirano. ah.. mungkin lebih
pantas disebut rama hirano”
Alyssa
tersentak kuat ketika mendengar hal tersebut. Rama yang berniat membunuhnya
waktu itu? Bagaimana mungkin?
Tidak!
Tidak mungkin!
“rama tidak mungkin
melakukan itu” teriak alyssa keras
Robert tersenyum menyeringai.
“dia tidak
mengatakannya padamu?” tanya robert
Mata alyssa mengalir
membasahi pipinya.
Perasaannya
berkata ia tidak mungkin, tapi logikanya berkata bahwa ia bisa saja terjadi.
Alyysa
menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan perasaan sakit yang tiba-tiba
menjalari hatinya.
Tidak mungkin rama yang
melakukannya, batin alyssa berteriak putus asa
Robert
bangkit dari kursinya melangkah dengan tenang keluar ruangan.
pernikahan segera
dirancang, rama mengundang wedding planner dan desainer ternama baju pengantin
untuk membuat acara sakral itu menjadi sempurna.
Orangtua
alyssa terkejut ketika mendengar alyssa ingin menikah. Anak manja mereka
benar-benar sudah dewasa. Mereka pun merestui alyssa dan rama. mama alyssa
mulai percaya kepada rama, ketika melihat lelaki itu bersungguh-sungguh ingin
menjaga alyssa dengan baik.
Bel
interkom berbunyi ketika alyssa sedang membahas tema pernikahannya bersama
rama. alyssa beranjak membukakan pintu dan kembali bersama ryan patterson.
Rama
mendongak melihat siapa yang berkunjung dan terkejut melihat ryan di
apartemennya. Alyssa langsung memperkenalkan rama dengan ryan.
“senang bertemu
denganmu” ujar ryan sambil tersenyum misterius.
Rama
hanya tersenyum tipis, senyumannya tidak sampai ke mata. Kemudian
mempersilahkan ryan duduk. Alyssa melangkah ke dapur untuk menyiapkan minuman
dan beberapa cemilan.
“mau
apa kau kemari?” rama hampir tidak menggerakkan bibirnya. Nada desisan
terdengar mengerikan ketika rama mengucapkannya. Ryan hanya tersenyum sinis,
sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan rama.
“tentu
saja mengambil orderku”. Jawaban ryan langsung membangkitkan amarah yang
ditahan kuat oleh rama.
Rama
langsung menarik kerah baju ryan dengan kuat, menghujaninya dengan tatapan
dingin.
“berani
kau menyentuhnya, akan kubuat kau menyesal hidup di dunia ini” rama mengancam
dengan suara desisan. Kemudian melepaskan kerah baju ryan. Di saat itulah
alyssa kembali dengan membawa nampan dan sedikit heran dengan suasana yang
mendadak dingin.
Melihat
alyssa ryan kembali tersenyum manis. Sepanjang alyssa berbicara kepada ryan,
rama hanya terdiam seraya memandang dingin ke arah ryan yang sedang tersenyum
manis.
Beberapa
saat ryan pun berpamitan kepada alyssa, sedikit melirik ke arah rama.
mengucapkan selamat kepada mereka dan menghilang di balik pintu. Begitu
berbalik alyssa langsung menatap mata dingin rama.
“aku
minta, kau jauhi dia” ujar rama pelan. Tangannya terkepal menahan amarah yang
meluap-luap.
“kenapa
rama? aku tidak mengerti” ucap alyssa dengan kening yang berkerut.
“dia
bukan orang yang baik”. Rama menghela napas panjang.
“menurutku ryan orang
yang baik, menye...”
“kalau
kubilang jauhi dia, maka kau harus menjauhinya. Kau mengerti”. Rama berkata
dengan suara tinggi membuat alyssa beringsut mundur ketakutan.
Rama
masuk ke kamar tidur seraya membanting pintunya dengan kuat. Alyssa kembali
tersentak kaget. Kenapa rama berubah seperti itu? Sosok yang tidak pernah
dikenal alyssa.
Tanpa
sadar, airmata alyssa mengalir keluar. Perasaannya bercampur aduk, bingung,
ketakutan dan juga marah pada rama yang membentaknya tanpa sebab.
Alyssa masuk ke kamar,
berbaring miring dan mulai terisak pelan.
@@@
Rama
menyesali perbuatannya, membentak alyssa tidak membuahkan hasil apapun, malahan
akan membuat semua menjadi lebih kacau. Entah apa yang dipikirkan rama.
Rama
keluar kamar ketika hari mulai menjelang malam, memandangi sekeliling ruangan
yang kosong, kemudian melangkah menuju dapur yang juga tidak ada orang. Rama
menghela napas. Gadis itu pasti ketakutan sekarang kepadanya?
Rama
melangkah ke kamar alyssa, mengetuk pelan pintu dan berinisiatif untuk
membukanya. Pintu kamar alyssa tidak terkunci. Masuk dan menatap alyssa yang
sedang berbaring miring menghadap jendela.
Rama
mengusap lembut rambut alyssa dan tersenyum perih ketika melihat bekas airmata
alyssa yang mengering dipipinya.
“maafkan aku” ujar
rama perih
Rama
membetulkan tidur alyssa, menyelimutinya dan mengecup dahi alyssa kemudian
melangkah keluar kamar.
@@@
Mata
alyssa mengernyit ketika cahaya matahari pagi menerobos jendela, beringsut ke
ujung tempat tidur dan menatap dirinya di cermin hias. Penampilannya
berantakan, mata yang sembab dan rambut yang acak-acakan.
Ketika
melangkah keluar kamar, alyssa menatap rama yang sedang berjalan ke arahnya
seraya membawa nampan berisi sarapan.
“kau
sudah bangun, aku membawa sarapan untukmu, makanlah” ujar rama sambil membawa
nampan ke ruang tamu.
Walaupun
masih kesal pada rama, alyssa tetap mengikuti rama ke ruang tamu, duduk diam
seraya menatap rama.
Rama menghela napas.
“aku
kenal ryan sebelumnya. Dia sepertiku, pembunuh bayaran. Makanya aku menyuruhmu
menjauhinya” jelas rama dengan suara pelan
Alyssa
tersentak. Ryan pembunuh bayaran. Kenyataan tersebut membuat tubuh alyssa
gemetar.
“
dia hanya mengincarku, jadi kau tidak usah cemas”. Rama menggenggam jemari
alyssa seraya meremasnya lembut.
Alyssa menggelengkan
kepala
“justru
aku takut karena dia mengincarmu. Bagaimana jika sesuatu terjadi kepadamu rama.
aku .. aku tidak membayangkannya. Aku...” jemari alyssa mulai gemetar.
“ssstt,
kau tidak usah cemas. Aku dulu juga sama sepertinya. Jadi aku punya pertahanan
kuat, semua baik-baik saja”. Rama merengkuh alyssa ke pelukannya, menenangkan
gadis yang dicintai itu dengan mengusap pelan punggung alyssa.
Sejak
tau bahwa ryan seorang pembunuh bayaran. Alyssa benar-benar menjauhi ryan. Panggilan
dan kedatangan ryan diabaikan oleh alyssa. gadis itu sungguh takut jika ia
dijadikan umpan untuk mencelakai rama, yang alyssa tau ia tidak akan membiarkan
siapapun melukai kekasihnya, walaupun dalam hati ia begitu ketakutan.
Hari
ini mereka- rama dan alyssa- pergi ke salah satu hotel yang rama reservasi
untuk pernikahannya bersama alyssa. begitu sampai ditempat mereka disambut
dengan hangat oleh pemilik hotel dan mengatakan bahwa sang wedding planner
sudah terlebih dahulu datang dan menunggu mereka.
Rama
menggenggam jemari alyssa memasuki tempat mereka berlangsungkan pernikahannya
nanti. Alyssa sedang mengamati ke sekeliling ruangan, sesekali berkomentar atau
menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan acara yang diadakan.
Mereka
memutuskan untuk menikah pada awal bulan september tepatnya di hari ulang tahun
alyssa, jadi akan ada dua kebahagian sekaligus. 2 bulan lagi mereka akan
menjadi pasangan suam istri.
Selama
di hotel tersebut, rama mencoba beberapa minuman yang nantinya akan dihidangkan
dalam acara, dan berkomentar tentang beberapa hal kepada wedding planner untuk
mengubah tatanan interior pesta.
Setelah
beberapa lama mereka mengurus reservasi tempat. Dengan lelah rama dan alyssa
pulang dan singgah di restoran sederhana untuk mengganjal perut mereka.
@@@
Hari
minggu, biasanya orang-orang akan menghabiskan waktu mereka seharian di rumah,
sekedar berkumpul dengan keluarga tercinta atau istirahat melepaskan penat dari
kerjaan dan kembali mengumpulkan tenaga dan semangat untuk menanti hari senin.
Begitu
juga dengan rama, ia berada seharian dengan alyssa. membantu gadis itu
mengerjakan pekerjaan rumah atau iseng-iseng mengerjai sang kekasih yang
akhirnya merajuk. Begitu bahagia hari-hari yang di lalui oleh rama, itu semua karena
alyssa.
“kau sedang apa?”.
Suara rama membuat alyssa terkejut.
“rama.. berhenti
mengejutkanku sayang” ujar alyssa merengek.
Rama
memeluk alyssa dari belakang seraya meletakkan dagunya di bahu alyssa dan
tersenyum.
“aku tidak
mengejutkanmu” hanya itu respon dari rama.
“apa
kau lapar? Sebentar lagi masakannya akan matang” ujar alyssa sambil menoleh ke
samping, kepada rama.
Rama
mengecup lembut bahu alyssa dan menggangguk lemah dan mempererat pelukannya
pada tubuh alyssa.
“beberapa
hari ini ryan terus menerus menelponku sayang”. Kata-kata alyssa membuat rama
mendongak cepat.
“apa yang kau katakan padanya?” tanya rama cepat
“aku
bahkan tidak mengangkatnya”. Alyssa menganggak bahunya dengan acuh.
Rama
menghela napas tenang, hanya sesaat karena keningnya mulai berkerut memikirkan
alasan ryan yang masih ingin bertemu dengan alyssa. jelas-jelas ia yakin ryan
sudah mengetahui bahwa alyssa sudah mengenalnya dengan baik.
Ketika
memikirkan semua kemungkinan, deringan telepon membuyarkan pikiran rama. lelaki
itu melepaskan pelukannya pada sang kekasih kemudian beranjak menuju ruang tamu
kemudian mengangkat telepon.
“ethan” , suara
christy terdengar cemas.
“ada
apa?” tanya rama heran, tidak biasanya christy menelpon malam-malam.
“sepertinya
kau harus ke sini, mereka membunuh darlan dan meninggalkan surat peringatan”.
Ujaran christy membuat rama terkejut.
“ada apa sayang?”
tanya alyssa heran
“aku
harus pergi, ada urusan mendadak” ujar rama sambil mengecup dahi alyssa sekilas
kemudian menyambar jaketnya dan melangkah ke arah pintu.
Ketika
berada dipintu apartemen, rama membalikkan tubuhnya menatap alyssa yang
tersenyum padanya. Gadis itu sangat pengertian, tidak menanyakan apapun bahkan
tidak marah karena makan malam mereka tertunda.
“aku
sudah menempatkan anak buahku di sini. Hanya untuk menghindari dari kejadian
yang tidak diinginkan, jangan membukakan pintu dari siapapun. Kau mengerti”
ucap rama sambil menatap alyssa
Alyssa
mengganggukkan kepala lalu melangkah mendekati rama dan memeluk rama.
“hati-hati”.
Kata-kata alyssa membuat hati rama tenang. Rama mengangguk dan melangkah keluar
apartemen.
@@@
Alyssa
sangat merasa khawatir ketika melihat perubahan pada wajah rama. lelaki itu
kembali memasang dingin. Apakah sesuatu telah terjadi?
Alyssa
duduk sambil menonton tv, makanan yang sudah siap ia hidangkan diacuhkannya.
Selera makan alyssa menguap begitu saja.
Sesekali
mengganti channel tv dan menghela napas. Perasaannya sangat tidak enak.
Walaupun sudah berkali-kali dia menenangkan diri tapi perasaannya tetap tidak
berubah.
Diliriknya
jam dinding, sudah pukul setengah sembilan. Akhirnya alyssa memutuskan ke
balkon kamarnya untuk menenangkan pikirannya yang mulai berpikir yang
tidak-tidak.
Ketika
hendak beranjak, bel interkom berbunyi. Kening alyssa berkerut, siapa yang bertamu
malam-malam. Alyssa hanya melihat siapa yang datang dari layar interkomnya.
Seorang wanita.
Alyssa
masih ragu akan keputusannya, rama melarangnya membukakan pintu apartemen untuk
siapapun.
“maaf,
ada orangkah di dalam, saya hanya ingin mengabarkan jika amanda brown dan joey
brown kecelakaan pesawat dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit” ujar
wanita itu menghadap audio interkom.
Alyssa
tersentak dan segera membukakan pintu apartemen, wanita itu tersenyum yang
pandangan penuh arti. Alyssa mengikuti wanita itu menuju lift apartemen dan
terkejut melihat dua orang lelaki terbaring kaku di lorong apartemen dan ketika
melihat ke arah wanita itu, sebuah jarum ditusukkan ke leher alyssa dari
belakang membuat pandangan alyssa menggelap.
@@@
Rama
langsung menuju tempat yang disebutkan chisty dan menemukan darlan terbaring
kaku dengan mata yang melotot, sepertinya pria itu dibunuh dengan cara
menyuntikkan racun ke leher.
Christy
menyerahkan sepucuk surat yang ia temukan di dekat mayat darlan, membacanya perlahan
dan rama tersentak. Jantung rama berdegup kencang, mengambil telepon genggamnya
dan mulai menghubungi alyssa.
Tangan
kanan rama yang menganggur terkepal kuat sampai bergetar pelan. Deringan demi
deringan terus terdengar tetapi tidak ada tanda-tanda telepon tersebut akan di
angkat.
Tanpa
kata rama langsung memacu mobil dengan kecepatan maksimum. Alyssa. gadis itu
dalam bahaya. Betapa bodohnya ia begitu saja meninggalkan alyssa.
Sepanjang
perjalanan rama mencoba menelpon anak buahnya yang ia tugaskan untuk menjaga
alyssa. tidak dijawab, membuat pikiran dipenuhi dengan amarah.
Rama
memandang tidak percaya, di depannya terdapat dua orang anak buahnya sudah
terbujur kaku, seorang wanita yang sedang keluar lift sontak berteriak melihat
dua orang mayat di apartemennya.
Pikiran
rama langsung menuju alyssa, rama memasuki apartemennya dengan berlari dan
mencari alyssa di seluruh penjuru ruangan. Alyssa tidak ada membuat napas rama
menjadi sesak.
Tangan
rama yang terkepal kuat memukul dinding ruang tamu berkali-kali, mengutuki
kebodohannya, dadanya naik turun menahan amarah.
Rama
bersumpah akan membunuh siapa pun yang menyentuh alyssa.
Siapapun!
Diraihnya telepon
genggamnya dan menelpon david.
“ada apa rama?” tanya
david pada deringan ketiga
“aku butuh bantuanmu,
aku mohon” ucap rama lirih
@@@
Alyssa
membuka matanya berlahan-lahan, menyesuaikan kornea matanya dengan cahaya,
sebuah ruangan kosong. Alyssa langsung tersentak ketika tangan dan kaki diikat.
Kejadian
semalam terjadi begitu cepat, alyssa pingsan tanpa tau siapa yang menyuntik
obat bius ke lehernya.
Mata alyssa bergerak
gelisah, ia benar-benar takut.
Sekelabat
ingatan memenuhi pikiran alyssa, samar-samar alyssa mengingat jika ia pernah
disekap seperti ini. rasa sakit menyergap alyssa ketika mencoba keras untuk
mengingat hal lainnya.
Pintu
terbuka membuat mata alyssa menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya yang
tersenyum padanya.
Laki-laki
itu!
“sepertinya
kau sudah mengingatku”ujar pria itu dengan suara penuh wibawa.
“siapa
kau sebenarnya?”, meskipun takut alyssa tetap menatap pria dihadapannya.
“ah,
ia. Rasanya tidak sopan kalau kita belum berkenalan, namaku robert, robert
patterson. Kau sudah berkenalan dengan anakku bukan?” tanya robert sambil
tersenyum penuh wibawa.
Tangannya
alyssa yang diikat kebelakang bergetar ketakutan menatap mata robert. Mata itu
penuh dengan aura intimidasi.
“sangat disayangkan,
kau lolos waktu itu” ujar robert kembali
Robert
duduk dengan tenang disebuah kursi di depan alyssa dan menyalakan cerutunya
kemudian kembali menatap alyssa.
“apa ingatanmu sudah
kembali?” tanya robert
Alyssa hanya diam.
“kekasihmu
begitu bodoh, dengan mudah masuk ke jebakanku”. Ucap robert sambil
menggelengkan kepala dengan raut muka kasihan dan tertawa pelan.
“apa kau tau masa lalu
kekasihmu?” tanya robert
Alyssa hanya diam. Ia
sangat ketakutan.
“sepertinya
kau tau” ucap robert ketika tidak melihat adanya reaksi apapun.
“kekasihmu
seorang pembunuh bayaran yang sangat dingin, bahkan ketika aku menawarkan order
untuk membunuhmu dengan tenang ia menerimanya, penculikan yang kau alami
sebelum kecelakaan adalah hasil kerja kekasih, ethan hirano. ah.. mungkin lebih
pantas disebut rama hirano”
Alyssa
tersentak kuat ketika mendengar hal tersebut. Rama yang berniat membunuhnya
waktu itu? Bagaimana mungkin?
Tidak!
Tidak mungkin!
“rama tidak mungkin
melakukan itu” teriak alyssa keras
Robert tersenyum menyeringai.
“dia tidak
mengatakannya padamu?” tanya robert
Mata alyssa mengalir
membasahi pipinya.
Perasaannya
berkata ia tidak mungkin, tapi logikanya berkata bahwa ia bisa saja terjadi.
Alyysa
menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan perasaan sakit yang tiba-tiba
menjalari hatinya.
Tidak mungkin rama yang
melakukannya, batin alyssa berteriak putus asa
Robert
bangkit dari kursinya melangkah dengan tenang keluar ruangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar