/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 03 September 2013

Name In My Heart Part 9

pernikahan segera dirancang, rama mengundang wedding planner dan desainer ternama baju pengantin untuk membuat acara sakral itu menjadi sempurna.
Orangtua alyssa terkejut ketika mendengar alyssa ingin menikah. Anak manja mereka benar-benar sudah dewasa. Mereka pun merestui alyssa dan rama. mama alyssa mulai percaya kepada rama, ketika melihat lelaki itu bersungguh-sungguh ingin menjaga alyssa dengan baik.
Bel interkom berbunyi ketika alyssa sedang membahas tema pernikahannya bersama rama. alyssa beranjak membukakan pintu dan kembali bersama ryan patterson.
Rama mendongak melihat siapa yang berkunjung dan terkejut melihat ryan di apartemennya. Alyssa langsung memperkenalkan rama dengan ryan.
“senang bertemu denganmu” ujar ryan sambil tersenyum misterius.

Rama hanya tersenyum tipis, senyumannya tidak sampai ke mata. Kemudian mempersilahkan ryan duduk. Alyssa melangkah ke dapur untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.
“mau apa kau kemari?” rama hampir tidak menggerakkan bibirnya. Nada desisan terdengar mengerikan ketika rama mengucapkannya. Ryan hanya tersenyum sinis, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan rama.
“tentu saja mengambil orderku”. Jawaban ryan langsung membangkitkan amarah yang ditahan kuat oleh rama.
Rama langsung menarik kerah baju ryan dengan kuat, menghujaninya dengan tatapan dingin.
“berani kau menyentuhnya, akan kubuat kau menyesal hidup di dunia ini” rama mengancam dengan suara desisan. Kemudian melepaskan kerah baju ryan. Di saat itulah alyssa kembali dengan membawa nampan dan sedikit heran dengan suasana yang mendadak dingin.
Melihat alyssa ryan kembali tersenyum manis. Sepanjang alyssa berbicara kepada ryan, rama hanya terdiam seraya memandang dingin ke arah ryan yang sedang tersenyum manis.
Beberapa saat ryan pun berpamitan kepada alyssa, sedikit melirik ke arah rama. mengucapkan selamat kepada mereka dan menghilang di balik pintu. Begitu berbalik alyssa langsung menatap mata dingin rama.
“aku minta, kau jauhi dia” ujar rama pelan. Tangannya terkepal menahan amarah yang meluap-luap.
“kenapa rama? aku tidak mengerti” ucap alyssa dengan kening yang berkerut.
“dia bukan orang yang baik”. Rama menghela napas panjang.
“menurutku ryan orang yang baik, menye...”
“kalau kubilang jauhi dia, maka kau harus menjauhinya. Kau mengerti”. Rama berkata dengan suara tinggi membuat alyssa beringsut mundur ketakutan.
Rama masuk ke kamar tidur seraya membanting pintunya dengan kuat. Alyssa kembali tersentak kaget. Kenapa rama berubah seperti itu? Sosok yang tidak pernah dikenal alyssa.
Tanpa sadar, airmata alyssa mengalir keluar. Perasaannya bercampur aduk, bingung, ketakutan dan juga marah pada rama yang membentaknya tanpa sebab.
Alyssa masuk ke kamar, berbaring miring dan mulai terisak pelan.

@@@

Rama menyesali perbuatannya, membentak alyssa tidak membuahkan hasil apapun, malahan akan membuat semua menjadi lebih kacau. Entah apa yang dipikirkan rama.
Rama keluar kamar ketika hari mulai menjelang malam, memandangi sekeliling ruangan yang kosong, kemudian melangkah menuju dapur yang juga tidak ada orang. Rama menghela napas. Gadis itu pasti ketakutan sekarang kepadanya?
Rama melangkah ke kamar alyssa, mengetuk pelan pintu dan berinisiatif untuk membukanya. Pintu kamar alyssa tidak terkunci. Masuk dan menatap alyssa yang sedang berbaring miring menghadap jendela.
Rama mengusap lembut rambut alyssa dan tersenyum perih ketika melihat bekas airmata alyssa yang mengering dipipinya.
“maafkan aku” ujar rama perih
Rama membetulkan tidur alyssa, menyelimutinya dan mengecup dahi alyssa kemudian melangkah keluar kamar.

@@@

Mata alyssa mengernyit ketika cahaya matahari pagi menerobos jendela, beringsut ke ujung tempat tidur dan menatap dirinya di cermin hias. Penampilannya berantakan, mata yang sembab dan rambut yang acak-acakan.
Ketika melangkah keluar kamar, alyssa menatap rama yang sedang berjalan ke arahnya seraya membawa nampan berisi sarapan.
“kau sudah bangun, aku membawa sarapan untukmu, makanlah” ujar rama sambil membawa nampan ke ruang tamu.
Walaupun masih kesal pada rama, alyssa tetap mengikuti rama ke ruang tamu, duduk diam seraya menatap rama.
Rama menghela napas.
“aku kenal ryan sebelumnya. Dia sepertiku, pembunuh bayaran. Makanya aku menyuruhmu menjauhinya” jelas rama dengan suara pelan
Alyssa tersentak. Ryan pembunuh bayaran. Kenyataan tersebut membuat tubuh alyssa gemetar.
“ dia hanya mengincarku, jadi kau tidak usah cemas”. Rama menggenggam jemari alyssa seraya meremasnya lembut.
Alyssa menggelengkan kepala
“justru aku takut karena dia mengincarmu. Bagaimana jika sesuatu terjadi kepadamu rama. aku .. aku tidak membayangkannya. Aku...” jemari alyssa mulai gemetar.
“ssstt, kau tidak usah cemas. Aku dulu juga sama sepertinya. Jadi aku punya pertahanan kuat, semua baik-baik saja”. Rama merengkuh alyssa ke pelukannya, menenangkan gadis yang dicintai itu dengan mengusap pelan punggung alyssa.
Sejak tau bahwa ryan seorang pembunuh bayaran. Alyssa benar-benar menjauhi ryan. Panggilan dan kedatangan ryan diabaikan oleh alyssa. gadis itu sungguh takut jika ia dijadikan umpan untuk mencelakai rama, yang alyssa tau ia tidak akan membiarkan siapapun melukai kekasihnya, walaupun dalam hati ia begitu ketakutan.
Hari ini mereka- rama dan alyssa- pergi ke salah satu hotel yang rama reservasi untuk pernikahannya bersama alyssa. begitu sampai ditempat mereka disambut dengan hangat oleh pemilik hotel dan mengatakan bahwa sang wedding planner sudah terlebih dahulu datang dan menunggu mereka.
Rama menggenggam jemari alyssa memasuki tempat mereka berlangsungkan pernikahannya nanti. Alyssa sedang mengamati ke sekeliling ruangan, sesekali berkomentar atau menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan acara yang diadakan.
Mereka memutuskan untuk menikah pada awal bulan september tepatnya di hari ulang tahun alyssa, jadi akan ada dua kebahagian sekaligus. 2 bulan lagi mereka akan menjadi pasangan suam istri.
Selama di hotel tersebut, rama mencoba beberapa minuman yang nantinya akan dihidangkan dalam acara, dan berkomentar tentang beberapa hal kepada wedding planner untuk mengubah tatanan interior pesta.
Setelah beberapa lama mereka mengurus reservasi tempat. Dengan lelah rama dan alyssa pulang dan singgah di restoran sederhana untuk mengganjal perut mereka.

@@@

Hari minggu, biasanya orang-orang akan menghabiskan waktu mereka seharian di rumah, sekedar berkumpul dengan keluarga tercinta atau istirahat melepaskan penat dari kerjaan dan kembali mengumpulkan tenaga dan semangat untuk menanti hari senin.
Begitu juga dengan rama, ia berada seharian dengan alyssa. membantu gadis itu mengerjakan pekerjaan rumah atau iseng-iseng mengerjai sang kekasih yang akhirnya merajuk. Begitu bahagia hari-hari yang di lalui oleh rama, itu semua karena alyssa.
“kau sedang apa?”. Suara rama membuat alyssa terkejut.
“rama.. berhenti mengejutkanku sayang” ujar alyssa merengek.
Rama memeluk alyssa dari belakang seraya meletakkan dagunya di bahu alyssa dan tersenyum.
“aku tidak mengejutkanmu” hanya itu respon dari rama.
“apa kau lapar? Sebentar lagi masakannya akan matang” ujar alyssa sambil menoleh ke samping, kepada rama.
Rama mengecup lembut bahu alyssa dan menggangguk lemah dan mempererat pelukannya pada tubuh alyssa.
“beberapa hari ini ryan terus menerus menelponku sayang”. Kata-kata alyssa membuat rama mendongak cepat.
“apa yang kau  katakan padanya?” tanya rama cepat
“aku bahkan tidak mengangkatnya”. Alyssa menganggak bahunya dengan acuh.
Rama menghela napas tenang, hanya sesaat karena keningnya mulai berkerut memikirkan alasan ryan yang masih ingin bertemu dengan alyssa. jelas-jelas ia yakin ryan sudah mengetahui bahwa alyssa sudah mengenalnya dengan baik.
Ketika memikirkan semua kemungkinan, deringan telepon membuyarkan pikiran rama. lelaki itu melepaskan pelukannya pada sang kekasih kemudian beranjak menuju ruang tamu kemudian mengangkat telepon.
“ethan” , suara christy terdengar cemas.
“ada apa?” tanya rama heran, tidak biasanya christy menelpon malam-malam.
“sepertinya kau harus ke sini, mereka membunuh darlan dan meninggalkan surat peringatan”. Ujaran christy membuat rama terkejut.
“ada apa sayang?” tanya alyssa heran
“aku harus pergi, ada urusan mendadak” ujar rama sambil mengecup dahi alyssa sekilas kemudian menyambar jaketnya dan melangkah ke arah pintu.
Ketika berada dipintu apartemen, rama membalikkan tubuhnya menatap alyssa yang tersenyum padanya. Gadis itu sangat pengertian, tidak menanyakan apapun bahkan tidak marah karena makan malam mereka tertunda.
“aku sudah menempatkan anak buahku di sini. Hanya untuk menghindari dari kejadian yang tidak diinginkan, jangan membukakan pintu dari siapapun. Kau mengerti” ucap rama sambil menatap alyssa
Alyssa mengganggukkan kepala lalu melangkah mendekati rama dan memeluk rama.
“hati-hati”. Kata-kata alyssa membuat hati rama tenang. Rama mengangguk dan melangkah keluar apartemen.

@@@

Alyssa sangat merasa khawatir ketika melihat perubahan pada wajah rama. lelaki itu kembali memasang dingin. Apakah sesuatu telah terjadi?
Alyssa duduk sambil menonton tv, makanan yang sudah siap ia hidangkan diacuhkannya. Selera makan alyssa menguap begitu saja.
Sesekali mengganti channel tv dan menghela napas. Perasaannya sangat tidak enak. Walaupun sudah berkali-kali dia menenangkan diri tapi perasaannya tetap tidak berubah.
Diliriknya jam dinding, sudah pukul setengah sembilan. Akhirnya alyssa memutuskan ke balkon kamarnya untuk menenangkan pikirannya yang mulai berpikir yang tidak-tidak.
Ketika hendak beranjak, bel interkom berbunyi. Kening alyssa berkerut, siapa yang bertamu malam-malam. Alyssa hanya melihat siapa yang datang dari layar interkomnya. Seorang wanita.
Alyssa masih ragu akan keputusannya, rama melarangnya membukakan pintu apartemen untuk siapapun.
“maaf, ada orangkah di dalam, saya hanya ingin mengabarkan jika amanda brown dan joey brown kecelakaan pesawat dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit” ujar wanita itu menghadap audio interkom.
Alyssa tersentak dan segera membukakan pintu apartemen, wanita itu tersenyum yang pandangan penuh arti. Alyssa mengikuti wanita itu menuju lift apartemen dan terkejut melihat dua orang lelaki terbaring kaku di lorong apartemen dan ketika melihat ke arah wanita itu, sebuah jarum ditusukkan ke leher alyssa dari belakang membuat pandangan alyssa menggelap.

@@@

Rama langsung menuju tempat yang disebutkan chisty dan menemukan darlan terbaring kaku dengan mata yang melotot, sepertinya pria itu dibunuh dengan cara menyuntikkan racun ke leher.
Christy menyerahkan sepucuk surat yang ia temukan di dekat mayat darlan, membacanya perlahan dan rama tersentak. Jantung rama berdegup kencang, mengambil telepon genggamnya dan mulai menghubungi alyssa.
Tangan kanan rama yang menganggur terkepal kuat sampai bergetar pelan. Deringan demi deringan terus terdengar tetapi tidak ada tanda-tanda telepon tersebut akan di angkat.
Tanpa kata rama langsung memacu mobil dengan kecepatan maksimum. Alyssa. gadis itu dalam bahaya. Betapa bodohnya ia begitu saja meninggalkan alyssa.
Sepanjang perjalanan rama mencoba menelpon anak buahnya yang ia tugaskan untuk menjaga alyssa. tidak dijawab, membuat pikiran dipenuhi dengan amarah.
Rama memandang tidak percaya, di depannya terdapat dua orang anak buahnya sudah terbujur kaku, seorang wanita yang sedang keluar lift sontak berteriak melihat dua orang mayat di apartemennya.
Pikiran rama langsung menuju alyssa, rama memasuki apartemennya dengan berlari dan mencari alyssa di seluruh penjuru ruangan. Alyssa tidak ada membuat napas rama menjadi sesak.
Tangan rama yang terkepal kuat memukul dinding ruang tamu berkali-kali, mengutuki kebodohannya, dadanya naik turun menahan amarah.
Rama bersumpah akan membunuh siapa pun yang menyentuh alyssa.
Siapapun!
Diraihnya telepon genggamnya dan menelpon david.
“ada apa rama?” tanya david pada deringan ketiga
“aku butuh bantuanmu, aku mohon” ucap rama lirih

@@@

Alyssa membuka matanya berlahan-lahan, menyesuaikan kornea matanya dengan cahaya, sebuah ruangan kosong. Alyssa langsung tersentak ketika tangan dan kaki diikat.
Kejadian semalam terjadi begitu cepat, alyssa pingsan tanpa tau siapa yang menyuntik obat bius ke lehernya.
Mata alyssa bergerak gelisah, ia benar-benar takut.
Sekelabat ingatan memenuhi pikiran alyssa, samar-samar alyssa mengingat jika ia pernah disekap seperti ini. rasa sakit menyergap alyssa ketika mencoba keras untuk mengingat hal lainnya.               
Pintu terbuka membuat mata alyssa menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya yang tersenyum padanya.
Laki-laki itu!
“sepertinya kau sudah mengingatku”ujar pria itu dengan suara penuh wibawa.
“siapa kau sebenarnya?”, meskipun takut alyssa tetap menatap pria dihadapannya.
“ah, ia. Rasanya tidak sopan kalau kita belum berkenalan, namaku robert, robert patterson. Kau sudah berkenalan dengan anakku bukan?” tanya robert sambil tersenyum penuh wibawa.
Tangannya alyssa yang diikat kebelakang bergetar ketakutan menatap mata robert. Mata itu penuh dengan aura intimidasi.
“sangat disayangkan, kau lolos waktu itu” ujar robert kembali
Robert duduk dengan tenang disebuah kursi di depan alyssa dan menyalakan cerutunya kemudian kembali menatap alyssa.
“apa ingatanmu sudah kembali?” tanya robert
Alyssa hanya diam.
“kekasihmu begitu bodoh, dengan mudah masuk ke jebakanku”. Ucap robert sambil menggelengkan kepala dengan raut muka kasihan dan tertawa pelan.
“apa kau tau masa lalu kekasihmu?” tanya robert
Alyssa hanya diam. Ia sangat ketakutan.
“sepertinya kau tau” ucap robert ketika tidak melihat adanya reaksi apapun.
“kekasihmu seorang pembunuh bayaran yang sangat dingin, bahkan ketika aku menawarkan order untuk membunuhmu dengan tenang ia menerimanya, penculikan yang kau alami sebelum kecelakaan adalah hasil kerja kekasih, ethan hirano. ah.. mungkin lebih pantas disebut rama hirano”
Alyssa tersentak kuat ketika mendengar hal tersebut. Rama yang berniat membunuhnya waktu itu? Bagaimana mungkin?
Tidak! Tidak mungkin!
“rama tidak mungkin melakukan itu” teriak alyssa keras
Robert  tersenyum menyeringai.
“dia tidak mengatakannya padamu?” tanya robert
Mata alyssa mengalir membasahi pipinya.
Perasaannya berkata ia tidak mungkin, tapi logikanya berkata bahwa ia bisa saja terjadi.
Alyysa menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan perasaan sakit yang tiba-tiba menjalari hatinya.
Tidak mungkin rama yang melakukannya, batin alyssa berteriak putus asa

Robert bangkit dari kursinya melangkah dengan tenang keluar ruangan.

pernikahan segera dirancang, rama mengundang wedding planner dan desainer ternama baju pengantin untuk membuat acara sakral itu menjadi sempurna.
Orangtua alyssa terkejut ketika mendengar alyssa ingin menikah. Anak manja mereka benar-benar sudah dewasa. Mereka pun merestui alyssa dan rama. mama alyssa mulai percaya kepada rama, ketika melihat lelaki itu bersungguh-sungguh ingin menjaga alyssa dengan baik.
Bel interkom berbunyi ketika alyssa sedang membahas tema pernikahannya bersama rama. alyssa beranjak membukakan pintu dan kembali bersama ryan patterson.
Rama mendongak melihat siapa yang berkunjung dan terkejut melihat ryan di apartemennya. Alyssa langsung memperkenalkan rama dengan ryan.
“senang bertemu denganmu” ujar ryan sambil tersenyum misterius.
Rama hanya tersenyum tipis, senyumannya tidak sampai ke mata. Kemudian mempersilahkan ryan duduk. Alyssa melangkah ke dapur untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.
“mau apa kau kemari?” rama hampir tidak menggerakkan bibirnya. Nada desisan terdengar mengerikan ketika rama mengucapkannya. Ryan hanya tersenyum sinis, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan rama.
“tentu saja mengambil orderku”. Jawaban ryan langsung membangkitkan amarah yang ditahan kuat oleh rama.
Rama langsung menarik kerah baju ryan dengan kuat, menghujaninya dengan tatapan dingin.
“berani kau menyentuhnya, akan kubuat kau menyesal hidup di dunia ini” rama mengancam dengan suara desisan. Kemudian melepaskan kerah baju ryan. Di saat itulah alyssa kembali dengan membawa nampan dan sedikit heran dengan suasana yang mendadak dingin.
Melihat alyssa ryan kembali tersenyum manis. Sepanjang alyssa berbicara kepada ryan, rama hanya terdiam seraya memandang dingin ke arah ryan yang sedang tersenyum manis.
Beberapa saat ryan pun berpamitan kepada alyssa, sedikit melirik ke arah rama. mengucapkan selamat kepada mereka dan menghilang di balik pintu. Begitu berbalik alyssa langsung menatap mata dingin rama.
“aku minta, kau jauhi dia” ujar rama pelan. Tangannya terkepal menahan amarah yang meluap-luap.
“kenapa rama? aku tidak mengerti” ucap alyssa dengan kening yang berkerut.
“dia bukan orang yang baik”. Rama menghela napas panjang.
“menurutku ryan orang yang baik, menye...”
“kalau kubilang jauhi dia, maka kau harus menjauhinya. Kau mengerti”. Rama berkata dengan suara tinggi membuat alyssa beringsut mundur ketakutan.
Rama masuk ke kamar tidur seraya membanting pintunya dengan kuat. Alyssa kembali tersentak kaget. Kenapa rama berubah seperti itu? Sosok yang tidak pernah dikenal alyssa.
Tanpa sadar, airmata alyssa mengalir keluar. Perasaannya bercampur aduk, bingung, ketakutan dan juga marah pada rama yang membentaknya tanpa sebab.
Alyssa masuk ke kamar, berbaring miring dan mulai terisak pelan.

@@@

Rama menyesali perbuatannya, membentak alyssa tidak membuahkan hasil apapun, malahan akan membuat semua menjadi lebih kacau. Entah apa yang dipikirkan rama.
Rama keluar kamar ketika hari mulai menjelang malam, memandangi sekeliling ruangan yang kosong, kemudian melangkah menuju dapur yang juga tidak ada orang. Rama menghela napas. Gadis itu pasti ketakutan sekarang kepadanya?
Rama melangkah ke kamar alyssa, mengetuk pelan pintu dan berinisiatif untuk membukanya. Pintu kamar alyssa tidak terkunci. Masuk dan menatap alyssa yang sedang berbaring miring menghadap jendela.
Rama mengusap lembut rambut alyssa dan tersenyum perih ketika melihat bekas airmata alyssa yang mengering dipipinya.
“maafkan aku” ujar rama perih
Rama membetulkan tidur alyssa, menyelimutinya dan mengecup dahi alyssa kemudian melangkah keluar kamar.

@@@

Mata alyssa mengernyit ketika cahaya matahari pagi menerobos jendela, beringsut ke ujung tempat tidur dan menatap dirinya di cermin hias. Penampilannya berantakan, mata yang sembab dan rambut yang acak-acakan.
Ketika melangkah keluar kamar, alyssa menatap rama yang sedang berjalan ke arahnya seraya membawa nampan berisi sarapan.
“kau sudah bangun, aku membawa sarapan untukmu, makanlah” ujar rama sambil membawa nampan ke ruang tamu.
Walaupun masih kesal pada rama, alyssa tetap mengikuti rama ke ruang tamu, duduk diam seraya menatap rama.
Rama menghela napas.
“aku kenal ryan sebelumnya. Dia sepertiku, pembunuh bayaran. Makanya aku menyuruhmu menjauhinya” jelas rama dengan suara pelan
Alyssa tersentak. Ryan pembunuh bayaran. Kenyataan tersebut membuat tubuh alyssa gemetar.
“ dia hanya mengincarku, jadi kau tidak usah cemas”. Rama menggenggam jemari alyssa seraya meremasnya lembut.
Alyssa menggelengkan kepala
“justru aku takut karena dia mengincarmu. Bagaimana jika sesuatu terjadi kepadamu rama. aku .. aku tidak membayangkannya. Aku...” jemari alyssa mulai gemetar.
“ssstt, kau tidak usah cemas. Aku dulu juga sama sepertinya. Jadi aku punya pertahanan kuat, semua baik-baik saja”. Rama merengkuh alyssa ke pelukannya, menenangkan gadis yang dicintai itu dengan mengusap pelan punggung alyssa.
Sejak tau bahwa ryan seorang pembunuh bayaran. Alyssa benar-benar menjauhi ryan. Panggilan dan kedatangan ryan diabaikan oleh alyssa. gadis itu sungguh takut jika ia dijadikan umpan untuk mencelakai rama, yang alyssa tau ia tidak akan membiarkan siapapun melukai kekasihnya, walaupun dalam hati ia begitu ketakutan.
Hari ini mereka- rama dan alyssa- pergi ke salah satu hotel yang rama reservasi untuk pernikahannya bersama alyssa. begitu sampai ditempat mereka disambut dengan hangat oleh pemilik hotel dan mengatakan bahwa sang wedding planner sudah terlebih dahulu datang dan menunggu mereka.
Rama menggenggam jemari alyssa memasuki tempat mereka berlangsungkan pernikahannya nanti. Alyssa sedang mengamati ke sekeliling ruangan, sesekali berkomentar atau menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan acara yang diadakan.
Mereka memutuskan untuk menikah pada awal bulan september tepatnya di hari ulang tahun alyssa, jadi akan ada dua kebahagian sekaligus. 2 bulan lagi mereka akan menjadi pasangan suam istri.
Selama di hotel tersebut, rama mencoba beberapa minuman yang nantinya akan dihidangkan dalam acara, dan berkomentar tentang beberapa hal kepada wedding planner untuk mengubah tatanan interior pesta.
Setelah beberapa lama mereka mengurus reservasi tempat. Dengan lelah rama dan alyssa pulang dan singgah di restoran sederhana untuk mengganjal perut mereka.

@@@

Hari minggu, biasanya orang-orang akan menghabiskan waktu mereka seharian di rumah, sekedar berkumpul dengan keluarga tercinta atau istirahat melepaskan penat dari kerjaan dan kembali mengumpulkan tenaga dan semangat untuk menanti hari senin.
Begitu juga dengan rama, ia berada seharian dengan alyssa. membantu gadis itu mengerjakan pekerjaan rumah atau iseng-iseng mengerjai sang kekasih yang akhirnya merajuk. Begitu bahagia hari-hari yang di lalui oleh rama, itu semua karena alyssa.
“kau sedang apa?”. Suara rama membuat alyssa terkejut.
“rama.. berhenti mengejutkanku sayang” ujar alyssa merengek.
Rama memeluk alyssa dari belakang seraya meletakkan dagunya di bahu alyssa dan tersenyum.
“aku tidak mengejutkanmu” hanya itu respon dari rama.
“apa kau lapar? Sebentar lagi masakannya akan matang” ujar alyssa sambil menoleh ke samping, kepada rama.
Rama mengecup lembut bahu alyssa dan menggangguk lemah dan mempererat pelukannya pada tubuh alyssa.
“beberapa hari ini ryan terus menerus menelponku sayang”. Kata-kata alyssa membuat rama mendongak cepat.
“apa yang kau  katakan padanya?” tanya rama cepat
“aku bahkan tidak mengangkatnya”. Alyssa menganggak bahunya dengan acuh.
Rama menghela napas tenang, hanya sesaat karena keningnya mulai berkerut memikirkan alasan ryan yang masih ingin bertemu dengan alyssa. jelas-jelas ia yakin ryan sudah mengetahui bahwa alyssa sudah mengenalnya dengan baik.
Ketika memikirkan semua kemungkinan, deringan telepon membuyarkan pikiran rama. lelaki itu melepaskan pelukannya pada sang kekasih kemudian beranjak menuju ruang tamu kemudian mengangkat telepon.
“ethan” , suara christy terdengar cemas.
“ada apa?” tanya rama heran, tidak biasanya christy menelpon malam-malam.
“sepertinya kau harus ke sini, mereka membunuh darlan dan meninggalkan surat peringatan”. Ujaran christy membuat rama terkejut.
“ada apa sayang?” tanya alyssa heran
“aku harus pergi, ada urusan mendadak” ujar rama sambil mengecup dahi alyssa sekilas kemudian menyambar jaketnya dan melangkah ke arah pintu.
Ketika berada dipintu apartemen, rama membalikkan tubuhnya menatap alyssa yang tersenyum padanya. Gadis itu sangat pengertian, tidak menanyakan apapun bahkan tidak marah karena makan malam mereka tertunda.
“aku sudah menempatkan anak buahku di sini. Hanya untuk menghindari dari kejadian yang tidak diinginkan, jangan membukakan pintu dari siapapun. Kau mengerti” ucap rama sambil menatap alyssa
Alyssa mengganggukkan kepala lalu melangkah mendekati rama dan memeluk rama.
“hati-hati”. Kata-kata alyssa membuat hati rama tenang. Rama mengangguk dan melangkah keluar apartemen.

@@@

Alyssa sangat merasa khawatir ketika melihat perubahan pada wajah rama. lelaki itu kembali memasang dingin. Apakah sesuatu telah terjadi?
Alyssa duduk sambil menonton tv, makanan yang sudah siap ia hidangkan diacuhkannya. Selera makan alyssa menguap begitu saja.
Sesekali mengganti channel tv dan menghela napas. Perasaannya sangat tidak enak. Walaupun sudah berkali-kali dia menenangkan diri tapi perasaannya tetap tidak berubah.
Diliriknya jam dinding, sudah pukul setengah sembilan. Akhirnya alyssa memutuskan ke balkon kamarnya untuk menenangkan pikirannya yang mulai berpikir yang tidak-tidak.
Ketika hendak beranjak, bel interkom berbunyi. Kening alyssa berkerut, siapa yang bertamu malam-malam. Alyssa hanya melihat siapa yang datang dari layar interkomnya. Seorang wanita.
Alyssa masih ragu akan keputusannya, rama melarangnya membukakan pintu apartemen untuk siapapun.
“maaf, ada orangkah di dalam, saya hanya ingin mengabarkan jika amanda brown dan joey brown kecelakaan pesawat dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit” ujar wanita itu menghadap audio interkom.
Alyssa tersentak dan segera membukakan pintu apartemen, wanita itu tersenyum yang pandangan penuh arti. Alyssa mengikuti wanita itu menuju lift apartemen dan terkejut melihat dua orang lelaki terbaring kaku di lorong apartemen dan ketika melihat ke arah wanita itu, sebuah jarum ditusukkan ke leher alyssa dari belakang membuat pandangan alyssa menggelap.

@@@

Rama langsung menuju tempat yang disebutkan chisty dan menemukan darlan terbaring kaku dengan mata yang melotot, sepertinya pria itu dibunuh dengan cara menyuntikkan racun ke leher.
Christy menyerahkan sepucuk surat yang ia temukan di dekat mayat darlan, membacanya perlahan dan rama tersentak. Jantung rama berdegup kencang, mengambil telepon genggamnya dan mulai menghubungi alyssa.
Tangan kanan rama yang menganggur terkepal kuat sampai bergetar pelan. Deringan demi deringan terus terdengar tetapi tidak ada tanda-tanda telepon tersebut akan di angkat.
Tanpa kata rama langsung memacu mobil dengan kecepatan maksimum. Alyssa. gadis itu dalam bahaya. Betapa bodohnya ia begitu saja meninggalkan alyssa.
Sepanjang perjalanan rama mencoba menelpon anak buahnya yang ia tugaskan untuk menjaga alyssa. tidak dijawab, membuat pikiran dipenuhi dengan amarah.
Rama memandang tidak percaya, di depannya terdapat dua orang anak buahnya sudah terbujur kaku, seorang wanita yang sedang keluar lift sontak berteriak melihat dua orang mayat di apartemennya.
Pikiran rama langsung menuju alyssa, rama memasuki apartemennya dengan berlari dan mencari alyssa di seluruh penjuru ruangan. Alyssa tidak ada membuat napas rama menjadi sesak.
Tangan rama yang terkepal kuat memukul dinding ruang tamu berkali-kali, mengutuki kebodohannya, dadanya naik turun menahan amarah.
Rama bersumpah akan membunuh siapa pun yang menyentuh alyssa.
Siapapun!
Diraihnya telepon genggamnya dan menelpon david.
“ada apa rama?” tanya david pada deringan ketiga
“aku butuh bantuanmu, aku mohon” ucap rama lirih

@@@

Alyssa membuka matanya berlahan-lahan, menyesuaikan kornea matanya dengan cahaya, sebuah ruangan kosong. Alyssa langsung tersentak ketika tangan dan kaki diikat.
Kejadian semalam terjadi begitu cepat, alyssa pingsan tanpa tau siapa yang menyuntik obat bius ke lehernya.
Mata alyssa bergerak gelisah, ia benar-benar takut.
Sekelabat ingatan memenuhi pikiran alyssa, samar-samar alyssa mengingat jika ia pernah disekap seperti ini. rasa sakit menyergap alyssa ketika mencoba keras untuk mengingat hal lainnya.               
Pintu terbuka membuat mata alyssa menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya yang tersenyum padanya.
Laki-laki itu!
“sepertinya kau sudah mengingatku”ujar pria itu dengan suara penuh wibawa.
“siapa kau sebenarnya?”, meskipun takut alyssa tetap menatap pria dihadapannya.
“ah, ia. Rasanya tidak sopan kalau kita belum berkenalan, namaku robert, robert patterson. Kau sudah berkenalan dengan anakku bukan?” tanya robert sambil tersenyum penuh wibawa.
Tangannya alyssa yang diikat kebelakang bergetar ketakutan menatap mata robert. Mata itu penuh dengan aura intimidasi.
“sangat disayangkan, kau lolos waktu itu” ujar robert kembali
Robert duduk dengan tenang disebuah kursi di depan alyssa dan menyalakan cerutunya kemudian kembali menatap alyssa.
“apa ingatanmu sudah kembali?” tanya robert
Alyssa hanya diam.
“kekasihmu begitu bodoh, dengan mudah masuk ke jebakanku”. Ucap robert sambil menggelengkan kepala dengan raut muka kasihan dan tertawa pelan.
“apa kau tau masa lalu kekasihmu?” tanya robert
Alyssa hanya diam. Ia sangat ketakutan.
“sepertinya kau tau” ucap robert ketika tidak melihat adanya reaksi apapun.
“kekasihmu seorang pembunuh bayaran yang sangat dingin, bahkan ketika aku menawarkan order untuk membunuhmu dengan tenang ia menerimanya, penculikan yang kau alami sebelum kecelakaan adalah hasil kerja kekasih, ethan hirano. ah.. mungkin lebih pantas disebut rama hirano”
Alyssa tersentak kuat ketika mendengar hal tersebut. Rama yang berniat membunuhnya waktu itu? Bagaimana mungkin?
Tidak! Tidak mungkin!
“rama tidak mungkin melakukan itu” teriak alyssa keras
Robert  tersenyum menyeringai.
“dia tidak mengatakannya padamu?” tanya robert
Mata alyssa mengalir membasahi pipinya.
Perasaannya berkata ia tidak mungkin, tapi logikanya berkata bahwa ia bisa saja terjadi.
Alyysa menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan perasaan sakit yang tiba-tiba menjalari hatinya.
Tidak mungkin rama yang melakukannya, batin alyssa berteriak putus asa
Robert bangkit dari kursinya melangkah dengan tenang keluar ruangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar